Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
337. Dengan Cinta


__ADS_3

Pesta pernikahan Neil dan Lana telah selesai. Para tamu undangan juga sudah pulang. Neil pun membawa Lana ke kamarnya. Ke kamar pribadi Neil.


Ya, walaupun Neil sudah menikah dengan Dila, tapi Neil memiliki kamar pribadi yang hanya dirinyalah yang masuk ke kamar itu.


Neil tidak pernah mengizinkan Dila masuk, apalagi tidur di kamar pribadinya itu. Walaupun Neil sendiri juga jarang tidur di kamar pribadinya itu. Neil lebih sering tidur di kamar yang di tempatnya bersama Dila.


Dila sangat penasaran dengan kamar pribadi Neil itu. Tapi Neil tidak pernah membiarkan Dila ataupun orang lain masuk ke kamar itu. Hanya pelayan kepercayaan Neil lah yang bisa masuk ke kamar pribadi Neil itu untuk membersihkan kamar itu.


Dila semakin penasaran karena Neil juga tidak meletakkan brankas dan barang-barang berharganya di kamar pribadinya itu, tapi meletakkannya di kamar yang mereka tempati bersama. Bertanya pada pelayan kepercayaan Neil tentang apa isi kamar itupun tidak membawakan hasil apapun. Pelayan itu tetap diam saat Dila bertanya tentang apa isi kamar pribadi Neil itu.


Sampai Neil dan Dila bercerai pun, Dila tidak pernah tahu, apa sebenarnya yang ada di dalam kamar pribadi Neil itu. Hingga hanya Neil dan pelayan kepercayaannya saja yang boleh masuk ke dalam kamar itu.


"Ceklek"


Neil membuka pintu kamar pribadinya, lalu menyalakan lampu kamar itu.


"Masuklah!"ucap Neil tersenyum lembut pada Lana. Sedangkan Lana nampak sangat terkejut saat melihat isi kamar pria yang sudah menjadi suaminya itu.


"Suamiku.. Ini..."Lana tidak dapat berkata-kata melihat isi kamar itu. Sedangkan Neil merasa sangat senang saat Lana memanggil dirinya dengan panggilan 'Suamiku'.


Hampir semua yang ada di dalam kamar itu adalah potret Lana. Dari masa kecil hingga saat Lana bertemu dengan Neil.


"Sudah aku bilang, aku mencintaimu. Aku mencintaimu sejak pertemuan pertama kita. Aku menyimpan semua ini untuk menghilangkan rasa rindu ku padamu. Karena nyatanya, walaupun wajah Dila mirip dengan wajah mu, tapi sifatnya sangat bertolak belakang dengan mu,"


"Walaupun aku sudah berusaha untuk mencintai Dila dan menerima segala kekurangannya, tapi sifat materialistis dan egoisnya yang hanya mencintai dirinya sendiri dan uang semata itu membuat aku benar-benar tidak bisa mencintai Dila,"jelas Neil jujur.


"Tapi, dari mana kamu bisa mendapatkan semua foto ini?"tanya Lana merasa heran.


Lana memiliki foto-foto yang sama dengan yang ada di kamar Neil itu. Tapi, foto-foto Lana yang di miliki Lana tidak sebagus milik Neil di kamar ini. Bahkan sudah banyak foto masa kecil Lana yang sudah rusak, seperti rusak seperempat, setengah, bahkan hampir rusak total. Dan Lana merasa tidak pernah memberikan semua foto-foto itu pada siapapun, termasuk pada Neil.


"Honey, apa kamu lupa? Aku ini adalah seorang mafia. Aku bisa melakukan apapun yang bagi orang awam tidak mungkin,"sahut Neil tersenyum lembut.


"Ah, iya..Aku lupa,'sahut Lana terkekeh kecil.


Lana menatap seisi kamar itu. Semua yang ada di kamar itu adalah semua hal yang di sukai Lana. Mata Lana kemudian tertuju pada ranjang. Ranjang itu sudah di hias layaknya kamar pengantin baru.


Taburan kelopak bunga mawar berbentuk hati, tirai tipis yang diikat rapi di tiang ranjang. Tirai yang bisa di tutup dan di buka. Bunga-bunga yang menghiasi ranjang itu membuat ranjang itu terlihat romantis. Semerbak wangi bunga mawar pun menyapa indera penciuman Lana.


"Greb"


Neil memeluk Lana dari belakang dan meletakkan dagunya di pundak Lana yang masih mengenakan baju pengantin dengan model pundak yang terbuka itu.


Lana merasa jantungnya berdetak kencang mendapatkan pelukan dari pria yang baru hari ini menjadi suaminya itu.


"Aku sangat mencintaimu. Aku tidak pernah menyangka jika suatu hari aku bisa memiliki mu. Rasanya ini seperti mimpi bagiku,"ucap Neil seraya memejamkan matanya, menghirup aroma tubuh Lana.

__ADS_1


"Aku tidak bisa berjanji untuk mencintai kamu. Tapi, aku akan berusaha memberi kamu tempat di hati ku,"ucap Lana yang tidak ingin memberikan harapan palsu pada Neil.


Neil membuka matanya dengan senyuman lembut di bibirnya. Pria itu memutar tubuh Lana hingga mereka berdiri berhadapan.


"Terimakasih. Itu sudah cukup bagiku,"ucap Neil kemudian mengecup lembut kening Lana,"Bersihkanlah dirimu agar tubuh mu menjadi lebih segar,"ucap Neil masih dengan senyuman lembut di bibirnya.


"Hum,"sahut Lana tersenyum tipis.


Lana pun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Mengambil baju tidur kimono yang sudah di siapkan di kamar itu. Ada senyuman tipis di bibir gadis itu.


"Neil terlalu lembut dan manis. Aku rasanya tidak percaya jika dia seorang mafia,"gumam Lana merasa tidak percaya.


Lana berendam di dalam bathtub yang di dalamnya bertaburkan kelompok bunga mawar. Merilekskan tubuhnya, menghilangkan rasa penat setelah seharian melakukan prosesi hingga pesta pernikahan.


Saat Lana keluar dari kamar mandi, gadis itu melihat Neil yang berdiri di balkon sedang berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon. Dari penampilannya yang terlihat lebih segar dan sudah berganti pakaian, Lana bisa menebak jika pria itu sudah membersihkan diri. Neil juga memakai baju tidur kimono yang warnanya senada dengan yang di kenakan oleh Lana.


"Kamu sudah selesai?"tanya Neil setelah selesai berbicara melalui sambungan telepon dan menutup pintu balkon, menatap Lana yang duduk di tepi ranjang.


"Hum,"sahut Lana tersenyum tipis.


"Kalau begitu, kita tidur. Malam sudah semakin larut dan kamu pasti sudah sangat lelah dengan semua kegiatan hari ini,"ujar Neil tersenyum tipis.


Neil naik ke atas ranjang di susul oleh Lana. Sepasang suami-isteri istri itu merebahkan tubuh mereka dengan mata yang menatap langit-langit kamar. Mereka sama-sama diam tanpa mengatakan apapun. Bingung harus bicara apa dan tiba-tiba merasa canggung setelah berbaring di atas ranjang.


Lana tidak ingin Neil menahan diri untuk tidak menyentuh dirinya karena mereka menikah bukan karena sama-sama saling mencintai. Lana takut Neil tidak meminta hak nya karena dirinya mengatakan belum bisa melupakan almarhum tunangannya.


Neil sempat terkejut mendengar pertanyaan Lana itu. Namun sesaat kemudian pria itu tersenyum lembut dan memiringkan tubuhnya menghadap Lana.


"Aku tidak akan meminta hak ku, jika kamu belum siap melayani aku. Aku bisa menunggu sampai kamu siap untuk melayani aku,"ucap Neil, kemudian mengecup kening Lana lembut untuk beberapa saat.


"Neil sudah sangat baik karena mau menerima aku apa adanya tanpa menuntut apapun dari ku. Tidak baik rasanya, jika aku menolak untuk menjalankan tugas ku sebagai seorang istri. Lagi pula, aku juga bukan gadis yang belum pernah melakukan hubungan intim dengan seorang pria. Aku sudah tidur dengan banyak pria yang tidak aku cintai dan mencintai aku. Apa salahnya, jika aku melayani pria yang sudah menjadi suamiku dan jelas-jelas tulus mencintai aku?"gumam Lana dalam hati.


"Greb"


...πŸ’ž Ehem.. Ehem.. Masih siang dan cuaca lumayan panas. Mending lanjut baca nanti malam aja, ya! Tapi, kalau nekat mau lanjut baca sekarang, tanggung sendiri resikonya.πŸ’ž...


Tiba-tiba Lana memeluk leher Neil setelah pria itu selesai mengecup keningnya dan berniat kembali berbaring di sebelah Lana.


"Ambillah hak mu. Aku siap melayani mu,"ucap Lana tersenyum lembut.


"Apa kamu yakin?"tanya Neil nampak terkejut sekaligus senang mendengar apa yang di katakan Lana.


Lana tidak menjawab, gadis itu hanya mengangguk kecil dengan senyuman lembut yang masih tersemat di bibir.


"Terimakasih,"ucap Neil kemudian kembali mengecup kening Lana.

__ADS_1


Lana memejamkan matanya saat Neil mengecup keningnya. Dengan lembut Neil mengecup kedua kelopak mata Lana yang terpejam secara bergantian. Bibir pria itu berpindah ke hidung, kedua pipi, kemudian berlabuh di bibir Lana yang masih memejamkan matanya.


Dengan lembut Neil memagut bibir Lana dan Lana pun membalasnya. Lana merasakan pagutan suaminya itu penuh dengan perasaan cinta, tidak seperti para pria yang pernah meniduri dirinya. Karena itulah Lana membalas pagutan Neil yang terasa nyaman baginya.


Dengan lembut Neil menyentuh tubuh Lana mengantarkan gelenyar-gelenyar yang membuat tubuh Lana meremang, degup jantungnya berdetak kencang dan darahnya mengalir deras.


Selama ini belum ada pria yang meniduri Lana dengan perasaan cinta. Hanya sebatas memenuhi kebutuhan biologis mereka saja. Hingga, kali ini Lana merasakan perasaan berbeda saat Neil yang mengaku mencintai dirinya itu mencumbuuii dirinya.


Entah sejak kapan helai demi helai kain yang menempel di tubuh mereka itu teronggok di lantai. Neil menelusuri tubuh Lana dengan jemari tangan, bibir dan lidahnya dengan lembut. Melukis di tubuh Lana yang putih mulus itu di manapun dirinya suka. Sama sekali tidak kasar seperti saat sedang bercinta dengan Dila. Rasa marah dan rasa kecewanya pada Dila lah yang membuat Neil meniduri Dila dengan kasar.


Lana mendesahh dan meremas rambut Neil saat pria itu sedang menyusu padanya dengan tangan yang meremas benda yang di sesap nya. Sedangkan tangan Neil yang satunya sibuk memainkan dan meremas benda yang berada di sebelah benda yang sedang di sesap dan di jilatnya itu.


"N.. Neil.. Ahh.."lenguuhh Lana merasakan kenikmatan yang belum pernah di rasakannya. Karena selama ini para pria yang menyentuh tubuhnya selalu menikmati tubuhnya tanpa rasa cinta seperti yang dilakukan Neil saat ini. Semata-mata hanya menjadikan Lana sebagai pemuas kebutuhan biologis mereka saja. Hingga saat tubuhnya di sentuh dan di nikmati dengan penuh cinta, Lana merasakan kenikmatan yang sesungguhnya.


Lana semakin tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara ero tiiss nya saat Neil menyatukan tubuh mereka dan membawanya mengarungi lautan kenikmatan.


Berkali-kali Lana meneriakkan nama Neil dengan tangan yang meremas rambut Neil, bahkan mencakar punggung pria yang sudah menjadi suaminya itu karena tidak bisa mengekspresikan rasa nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Akhh.. Lana..."


"Ughh.. Neil.."


Pekik sepasang suami-isteri itu saat mereka berhasil mencapai puncak kenikmatan yang membuat tubuh mereka berdenyut nikmat sekaligus tegang saat cairan hangat dari dalam tubuh mereka menyatu.


Bubar! Bubar! Bubar! Adegan sudah selesai. πŸ€­πŸ€­πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


...🌟🌟🌟...


..."Cinta itu memberi, bukan meminta. Cinta itu sebuah ketulusan, bukan suatu alasan, apalagi paksaan."...


..."Ketulusan adalah permata yang bersinar dari dalam hati."...


..."Ketulusan mengajarkan makna dari sebuah keikhlasan dalam kehidupan."...


..."Ketulusan cinta dan kasih sayang tidak dapat dilihat ataupun didengar, tetapi bisa dirasakan dengan hati."...


..."Cintailah orang yang mencintaimu, maka kamu akan mengerti akan indahnya ketulusan hidup dari kasih sayang."...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2