Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
220. Tidak Perlu Khawatir


__ADS_3

"Ngomong-ngomong, kapan kakak kembali ke negara ini?"tanya Rayyan seraya masih asyik menikmati makanannya.


"Beberapa jam yang lalu. Sebegitu tiba di bandara, aku langsung ke restoran Miti dan melihat dia berdiri di depan restorannya. Aku menghampiri dia saat dia hampir jatuh karena pingsan. Aku lalu membawa dia ke rumah sakit. Karena penasaran dia mengandung anakku atau tidak, aku memeriksakan dia ke dokter kandungan. Dari sana aku tahu, jika dia mengandung anakku. Aku sempat merasa kecewa karena dia tidak memberitahu aku kalau dia sedang mengandung. Tapi nyatanya aku salah paham. Ternyata dia tidak tahu kalau dia sedang mengandung, karena dia mengalami pendarahan implantasi,"jelas Hendrik.


"Pendarahan implantasi? Apa itu?"tanya Rayyan yang sebelumnya tidak pernah mendengar istilah itu dan Aurora juga tidak pernah mengalaminya.


Hendrik akhirnya menjelaskan apa yang diketahuinya dari dokter tadi mengenai pendarahan implantasi pada Rayyan. Andi pun nampak ikut mendengarkan apa yang dijelaskan oleh Hendrik.


"Aku bersyukur, Aurora tidak mengalami hal seperti itu. Sejak mengandung, Aurora tidak pernah ngidam yang aneh-aneh ataupun susah makan. Dia juga tidak mengalami morning sickness. Aurora tetap sehat dan energik seperti biasanya. Tapi memang lebih sensitif dari biasanya. Dia mengalami mood swing yang lumayan bikin aku kelabakan. Aku harus benar-benar menjaga sikap dan bicara ku, kalau tidak, dia bakalan ngambek. Dan kalau sudah ngambek bakalan susah untuk membujuknya. Dia juga nggak bisa tidur kalau nggak aku peluk. Sedikit manja, tapi aku suka,"ujar Rayyan tersenyum tipis,"Dan yang paling aku suka adalah lebih suka menggoda aku untuk mengunjungi anak kami,"lanjut Rayyan dalam hati seraya mengulum senyum.


Semenjak Aurora mengandung, Rayyan tidak takut lagi tidak mendapatkan jatah. Walaupun harus berhati-hati saat melakukan penyatuan, agar tidak menyakiti bayi mereka. Tapi Rayyan sangat senang karena selalu mendapatkan jatahnya.


"Ternyata orang hamil itu beda-beda, ya? Aku nggak tahu apa yang akan dialami Miti. Tapi yang pastinya, sekarang Miti jadi manis. Nggak galak kayak dulu. Aku jadi gemas padanya,"ujar Hendrik tersenyum tipis.


Mengingat kebersamaanya dengan Sumi hari ini membuat Hendrik bahagia. Karena hari ini Sumi bersikap manis padanya. Jauh berbeda dari sebelumnya yang acuh, ketus dan galak.


"Kalau begitu, pernikahan akan dilaksanakan setelah Nona Sumi sehat,"sahut Andi.


"Iya. Aku tidak ingin dia sakit lagi. Jadi, dia harus benar-benar sehat saat kami menikah, agar kondisinya tidak nge-drop,"sahut Hendrik


"Btw, memangnya Sumi sudah setuju untuk menikah dengan kakak?"tanya Rayyan memastikan.


"Iya, dia setuju,"sahut Hendrik.


"Kakak tidak memaksa dia untuk menikah dengan kakak, 'kan?"tanya Rayyan.


"Enggak. Malah dia sendiri yang ingin menikah dengan aku. Bahkan, dia mengatakan kalau dia mencintai aku dan ingin hidup bersama ku,"sahut Hendrik dengan seulas senyum di bibirnya. Mengingat saat Sumi mengatakan bahwa Sumi mencintai dirinya dan ingin hidup bersama dengan dirinya membuat Hendrik bahagia.


"Syukurlah kalau begitu. Aku harap, kakak bisa menjadi suami yang bertanggung jawab. Kakak harus lebih giat bekerja dan menata masa depan kakak. Karena mulai sekarang, tanggung jawab kakak bukan cuma Sumi, tapi juga anak kalian. Kakak harus memberi contoh yang baik untuk anak kakak. Jika kakak tidak serius memperbaiki diri, aku tidak akan segan-segan untuk bertindak tegas pada kakak,"ujar Rayyan yang berharap hidup kakaknya lebih baik dan tidak lagi merepotkan dirinya karena membuat masalah.


"Tenang saja! Aku sekarang sudah insyaf dan tidak akan kembali ke kehidupan ku yang dulu. Kamu tidak perlu khawatir dan mengancam aku seperti itu,"sahut Hendrik.


"Aku pegang kata-kata, kakak,"ujar Rayyan serius.

__ADS_1


"Iya. Kamu bisa pegang kata-kata ku. Kamu boleh menghukum aku sesuka hatimu jika aku kembali ke kehidupan ku yang dulu,"sahut Hendrik serius.


"Baguslah!"sahut Rayyan.


"Oh, ya, rencananya Tuan akan tinggal di mana? Di negara ini atau di luar negeri?"tanya Andi. Andi harus mengetahuinya karena dapat dipastikan bahwa dirinya lah yang harus mengurus semuanya.


"Aku belum bisa memastikan. Aku diskusikan dulu semuanya dengan Miti,"sahut Hendrik.


Sementara itu di kamar Rayyan, setelah bercinta dengan Rayyan tadi, Aurora langsung terlelap. Namun saat terbangun, Aurora tidak menemukan Rayyan di sampingnya.


"Ray!"panggil Aurora seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu, tapi tidak menemukan keberadaan Rayyan.


Aurora memakai pakaiannya kemudian mencari Rayyan. Karena tidak menemukan Rayyan di kamar itu, Aurora pun mencari Rayyan ke dapur. Dari luar ruangan makan, sayup-sayup Aurora mendengar suara dentingan sendok dan orang yang sedang mengobrol.


Aurora melangkah masuk ke ruangan makan itu dan melihat Rayyan sedang asyik mengobrol dan makan bersama dengan Andi dan Hendrik.


"Ray!"panggil Aurora membuat atensi semua orang yang ada di dalam ruangan makan itu teralihkan pada Aurora.


"Sayang, kamu terbangun?"tanya Rayyan seraya menghampiri Aurora.


"Aku baru saja selesai makan rujak. Kamu mau?"tanya Rayyan.


"Enggak,"sahut Aurora kemudian menguap beberapa kali seraya mengusap perutnya yang sudah membuncit.


"Kita kembali ke kamar. Aku akan mengambil air minum dulu untuk dibawa ke kamar,"ujar Rayyan bergegas mengambil teko air untuk di bawa ke dalam kamarnya.


"Ayo, kita kembali ke kamar,"ajak Rayyan setelah mengambil air minum dengan wadah teko, lalu merangkul pinggang Aurora yang tidak lagi ramping karena sedang hamil.


Hendrik dan Andi hanya menatap sepasang suami istri itu keluar dari ruangan itu.


"Aku pergi ke rumah sakit dulu,"ujar Hendrik kemudian meraih rantang yang sudah disiapkan oleh Mastuti.


"Jangan lupa menanyakan konsep pernikahan seperti apa yang diinginkan nona Sumi, Tuan,"ujar Andi mengingatkan.

__ADS_1


"Hum,"sahut Hendrik.


Andi menatap Hendrik yang pergi dengan penuh semangat. Jujur Andi juga merasa senang melihat perubahan Hendrik. Karena itu, Andi tidak lagi bersikap datar seperti dulu pada Hendrik.


"Begitu luar biasanya cinta hingga bisa merubah seseorang. Orang brengseek, malas, susah di atur dan susah dinasehati seperti Tuan Hendrik langsung berubah seratus delapan puluh derajat jadi penurut, mudah di ajak komunikasi dan menjadi pekerja keras,"gumam Andi tersenyum tipis.


Rayyan menutup pintu kamarnya setelah dirinya dan Aurora masuk ke dalam kamar. Setelah meletakkan teko yang dibawanya, pria itu melepaskan baju piyamanya, lalu naik ke atas ranjang menyusul Aurora yang sudah berbaring terlebih dahulu. Rayyan memeluk Aurora dari belakang. Tidak nyaman memeluk dari depan karena perut Aurora yang sudah membuncit.


"Tidurlah! Kamu harus beristirahat dengan cukup, agar kamu dan bayi kita sehat,"ujar Rayyan seraya mengusap perut Aurora dengan lembut.


"Ray, sejak kapan kakak, pulang?"


"Beberapa jam yang lalu. Memangnya kenapa?"


"Nggak apa-apa. Cuma... bukannya kakak akan menetap di luar negeri, ya?"


"Belum tentu. Karena kakak akan menikah dengan Sumi,"


"Hah?! Serius?"tanya Aurora nampak terkejut. Aurora sampai mengubah posisi tidurnya dari miring menjadi terlentang agar bisa menatap Rayyan.


"Hum. Sumi sedang mengandung anak kakak,"sahut Rayyan seraya mengusap perut Aurora, bahkan mengecup perut Aurora. Rayyan menempelkan telinganya di perut Aurora seraya mengusap perut Aurora.


"Jadi, Sumi sudah setuju mau menikah dengan kakak?"tanya Aurora seraya membelai rambut Rayyan dengan lembut.


"Kata kakak, sih, sudah. Bahkan Sumi mengatakan mencintai kakak dan ingin hidup bersama kakak. Begitu kata kakak tadi,"sahut Rayyan.


"Syukurlah kalau akhirnya Sumi mau mengakui perasaannya pada kakak. Aku ikut senang. Semoga mereka bahagia,"ucap Aurora tulus.


"Aku juga berharap begitu. Aku sudah capek mengawasi dan mengurusi kakak. Apalagi kalau kakak sedang membuat masalah. Semoga setelah menikah, kakak hidup dengan baik dan bertanggung jawab pada anak dan istrinya. Jika kakak tidak serius memperbaiki diri, aku tidak akan segan-segan untuk bertindak pada kakak. Ayo, tidur! Aku tidak mau kamu sakit karena kurang tidur,"ujar Rayyan kemudian mengecup lembut bibir Aurora.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2