
Setelah mendengar keputusan Lana, Andi pun segera menghubungi anak buahnya. Andi yakin, jika mendengar nama Rayyan, ketua mafia itu pasti mau bertemu dengan Rayyan, hingga mereka bisa mempertemukan Neil dengan Lana. Dalam waktu singkat anak buah Andi pun berhasil menemukan anak buah Neil untuk menyampaikan pesan pada Neil, bahwa Rayyan ingin bertemu dengan Neil.
Di sebuah mansion, sebuah mobil berhenti di parkiran mansion itu. Seorang pria yang tidak lain adalah Troy keluar dari dalam mobil itu.
Troy berjalan cepat memasuki mansion itu untuk menemui Neil. Setelah bertanya pada pelayan di mana keberadaan Neil saat ini, Troy pun bergegas menuju ke tempat Neil berada. Neil terlihat sedang berdiri di depan dinding kaca dengan gelas yang berisi wine di tangan kirinya. Pria itu memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celananya. Matanya menatap jauh ke arah luar dinding kaca.
"Tuan, pebisnis terkenal yang merupakan mantan dari nyonya Dila itu mengirimkan pesan pada anak buah kita. Dia ingin bertemu dengan Tuan,"lapor Troy dengan wajah serius.
Neil mengernyitkan keningnya mendengar laporan dari orang kepercayaan nya itu. Pria itu membalikkan tubuhnya menatap Troy.
"Orang yang bernama Rayyan Nugroho itu?"tanya Neil memastikan dugaannya.
"Iya, Tuan. Orang yang ingin menemui Tuan itu adalah Rayyan Nugroho,"sahut Troy masih dengan ekspresi wajah serius.
"Untuk apa dia ingin bertemu dengan ku? Tidak mungkin karena Dila, 'kan? Apa karena perusahaanya di tekan oleh pejabat gila harta itu?"tanya Neil menduga-duga, namun matanya melirik ke suatu arah.
"Tapi, apa mungkin dia ingin bertemu dengan Tuan karena masalah itu? Apa alasannya hingga meminta bantuan dari Tuan?"tanya Troy yang juga tidak bisa menebak maksud Rayyan ingin bertemu dengan majikannya. Pria itu ikut melirik ke arah mana tuannya melirik.
"Aku juga tidak tahu. Karena selama ini kita tidak pernah berhubungan dengan dia. Kita hanya bertemu dengan dia saat kita membawa pulang Dila saja,"ujar Neil yang semakin penasaran dengan maksud Rayyan ingin menemui dirinya.
"Mungkinkah karena dia tahu bahwa Tuan akan bertindak pada pejabat dan juga pebisnis yang jahat. Mungkin dia ingin bekerja sama dengan kita untuk menghancurkan pejabat di kota ini yang mulai merajalela itu, Tuan,"sahut Troy berasumsi.
"Tapi dia tidak kekurangan akal dan orang untuk mengahadapi semua rintangan yang menghadangnya. Kamu dengar sendiri, 'kan, bagaimana sepak terjang orang itu. Walaupun dia bukan mafia, tapi dia bisa lebih kejam dari mafia, jika dia sudah di singgung. Dia tidak memasukkan lawannya ke dalam penjara. Dia juga tidak membunuh musuhnya secara langsung, tapi membuatnya jatuh miskin dan hidup menderita,"
"Kelompok mafia seperti kita pun belum tentu menang melawan dia. Asisten pribadi pria itu sangat licin dan cerdas seperti majikannya. Menghadapi pejabat di kota ini pun, aku rasa bukanlah hal yang sulit bagi dia,"ujar Neil yang dulu menyelidiki Rayyan lebih detail karena Dilla mengejar-ngejar Rayyan.
"Iya, Tuan. Anda benar. Apa karena itu, Tuan belum bertindak pada pejabat serakah itu?"tanya Troy penasaran.
"Benar. Aku ingin tahu bagaimana dia mengatasi pejabat serakah itu,"sahut Neil tersenyum penuh arti.
"Lalu, apa Tuan ingin menemui dia?"tanya Troy yang sebenarnya dalam hatinya ingin majikannya itu menemui Rayyan. Karena Troy sangat penasaran dengan maksud Rayyan ingin bertemu dengan majikannya.
__ADS_1
"Apa dia mengatakan ingin bertemu di mana?"tanya Neil kemudian meminum wine dari gelas yang dipegangnya. Pria itu tidak menjawab pertanyaan orang kepercayaannya itu.
"Dia ingin bertemu dengan anda di sebuah private room restoran terkenal di kota ini, Tuan,"sahut Troy sesuai yang disampaikan oleh anak buahnya tadi.
"Kita penuhi undangan pria itu,"sahut Neil tersenyum miring, kembali melirik ke suatu arah. Pria itu melihat bayangan seseorang yang sudah cukup lama menguping pembicaraan mereka.
Troy ikut tersenyum miring, karena pria itu juga menyadari ada yang menguping pembicaraan mereka cukup lama.
"Perempuan ini! Apalagi yang ingin dia cari tahu,"gumam Neil dalam hati. Neil sangat tahu jika orang yang sedang menguping pembicaraannya adalah Dila.
"Tuan, apa kita jadi mencoba senjata yang baru kita beli?"tanya Troy melirik sekilas ke tempat persembunyian Dila.
"Apa kita perlu mencobanya pada seseorang? Seberapa cepat senjata kita mencapai sasaran,"sahut Neil yang mengerti bahwa Troy hanya ingin membuat Dila pergi dari tempat itu. Dan benar saja, Dila benar-benar pergi dari tempat itu saat mereka berhenti membicarakan tentang Rayyan.
Troy mendekat ke arah Neil, lalu berbicara pelan,"Apa Tuan sengaja membiarkan nyonya tahu kemana kita akan pergi?"tanya Troy.
"Hum. Biarkan saja, jika dia ingin mengikuti kita,"ujar Neil acuh.
"Aku tidak menyangka jika Rayyan memiliki perusahaan di kota ini. Dia semakin kaya raya saja. Sayang sekali dia sangat sulit untuk di dekati. Apalagi mafia pelit itu sudah keburu membawaku kembali ke mansion ini. Sejak aku kabur kemarin, dia semakin kasar padaku. Aku menyesal meninggalkan Rayyan untuk bersama dengan Neil,"
"Dasar mafia pelit! Dulu dia mengurung aku di dalam mansion ini dan hanya mengizinkan aku keluar mansion seminggu sekali. Tapi, sekarang membebaskan aku keluar dengan memberikan uang yang yang jauh lebih sedikit dari pada dulu. Percuma aku di beri kebebasan jika hanya di beri uang sedikit,"
"Rayyan ada di sini. Tapi aku tidak akan bisa mendekati dia. Orang-orang Neil akan langsung melapor pada Neil jika aku mendekati Rayyan. Dan Nei akan semakin menyiksaku, jika dia tahu aku mendekati Rayyan lagi,"gerutu Dila yang merasa semakin stres hidup bersama dengan Neil yang kasar saat melakukan hubungan suami-istri dan semakin sedikit memberikan uang untuk Dila.
Di sisi lain, Rayyan, Andi dan Lana sudah sampai di restoran tempat mereka janjian bertemu dengan Neil. Lana nampak tidak sabar ingin bertemu dengan Neil yang kemungkinan adalah Neil yang di kenalnya. Sedangkan Andi dan Rayyan nampak sibuk dengan laptop mereka masing-masing.
Semua itu karena Rayyan ingin segera pulang agar bisa berkumpul dengan anak dan istrinya. Rayyan juga memiliki banyak pekerjaan di perusahaan induk miliknya. Karena itu Rayyan dan Andi berusaha menggunakan waktu sebaik mungkin untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.
Lana hanya bisa menghela napas panjang mengetahui atasan dan bawahan yang ternyata gila kerja itu. Karena seharian ini Lana terpaksa ikut kedua pria itu ke.kantor. Menghindari kemungkinan di tangkap ayah sambungnya jika berdiam diri di hotel sendirian.
"Tuan, saya permisi ke toilet,"pamit Lana.
__ADS_1
"Hemm,"sahut Rayyan tanpa mengalihkan tatapannya pada layar laptopnya, apalagi menghentikan pekerjaannya. Demikian pula dengan Andi yang juga tetap fokus pada layar laptopnya.
Lana berjalan menuju toilet seraya menghela napas berkali-kali,"Huff.. Kenapa aku jadi grogi begini, ya? Aku berharap orang yang akan aku temui ini benar-benar Neil yang aku kenal. Walaupun Tuan Rayyan bersedia membantu ku, tetap saja tidak mudah mencari pekerjaan, apalagi di negara lain,"gumam Lana dalam hati.
Tak lama setelah Lana pergi, Neil dan Troy pun datang. Rayyan dan Andi pun menghentikan pekerjaan mereka.
"Selamat malam, Tuan Rayyan!"sapa Neli tersenyum tipis,"Ada apa gerangan orang sesibuk anda ingin bertemu dengan saya?"tanya Neil to the point.
"Silahkan duduk!"ucap Rayyan setelah menjabat tangan Neil,"To the point saja. Sebenarnya saya hanya membantu seseorang yang ingin bertemu dengan orang yang bernama Neil. Dan saya merasa orang yang dia maksud adalah anda. Seandainya bukan anda orang yang dia maksud, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena telah menyita waktu berharga anda. Anggap saja seorang teman mengundang anda untuk makan malam bersama,"
"Saya hanya berusaha membantu orang itu karena merasa kasihan dengan jalan hidupnya yang di manfaatkan oleh orang lain,"jelas Rayyan yang malah membuat Neil mengernyitkan keningnya, demikian pula dengan Troy.
"Anda membuat saya penasaran,"ujar Neil jujur adanya.
Neil tidak menyangka, jika Rayyan ingin bertemu dengan dirinya hanya karena ingin membantu seseorang yang ingin bertemu dengan dirinya yang mungkin mengenal dirinya. Hal itu membuat Neil sangat penasaran dengan siapa orang yang sebenarnya ingin bertemu dengan dirinya itu.
"Orangnya masih ke toilet. Sambil menunggu dia kembali, silahkan melihat daftar menu dan memesan makanan!"ucap Rayyan ramah.
"Terimakasih,"sahut Neil seraya meraih buku menu untuk melihat pilihan menu.
Empat orang pria itu mulai memesan makanan. Rayyan meminta Andi memesankan makanan untuk Lana karena biasanya Andi tahu segala hal tentang kesukaan wanita termasuk apa yang mereka benci.
"Ceklek"
Suara pintu yang di buka dari luar itu membuat semua pria yang ada di ruangan itu menatap ke arah pintu.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1