Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
61. Waktu Yang Tidak Tepat


__ADS_3

Pagi mulai menyapa. Aurora perlahan membuka matanya dan mengamati tempatnya berada saat ini. Aurora jadi teringat jika semalam dirinya bersama dengan Rayyan. Aurora menoleh ke samping tempatnya berbaring dan tidak menemukan Rayyan di sebelahnya.


"Kenapa Rayyan selalu saja bangun lebih dulu dan selalu meninggalkan aku? Tidak bisakah saat aku terbangun aku melihat dia ada di sisiku?"gumam Aurora membuang napas kasar.


Terlihat jelas gurat kekecewaan di wajah Aurora karena saat terbangun tidak mendapati Rayyan ada di sampingnya.


"Ceklek"


Mendengar suara pintu yang terbuka, Aurora menoleh ke arah suara itu berasal. Aurora melihat Rayyan yang sudah rapi dengan pakaian kasual masuk ke dalam kamar itu.


"Selalu saja seperti ini. Dia sudah rapi, tapi aku malah belum mandi, bahkan baru bangun,"gerutu Aurora lirih.


"Kamu sudah bangun?"tanya Rayyan menghampiri Aurora yang masih berbaring di atas ranjang dengan wajah yang terlihat tidak senang.


"Ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu?"tanya Rayyan seraya duduk di tepi ranjang di samping Aurora.


Tanpa basa basi, Rayyan membungkukkan tubuhnya dan mencium bibir Aurora. Namun Aurora mendorong pelan dada Rayyan agar pria itu menjauh dari dirinya.


"Kenapa? Kamu tidak suka aku cium?"tanya Rayyan terlihat tidak suka saat Aurora mendorong dadanya.


"Aku belum mandi, Ray,"sahut Aurora yang memang tidak percaya diri saat Rayyan yang sudah rapi dan harum mencium dirinya yang baru saja bangun.


"Kenapa memang, kalau belum mandi?"tanya Rayyan yang malah menciumi leher Aurora, bahkan tangannya mulai masuk ke dalam selimut yang di pakai Aurora.


"Ray, kamu sudah mandi,"ujar Aurora memegang tangan Rayyan yang sudah mulai bergerilya.


"Aku bisa mandi lagi,"ucap Rayyan yang kali ini malah mencium bibir Aurora.


Pria itu memagut bibir Aurora dengan lembut, membuat Aurora terhanyut. Tanpa sadar melepaskan pegangannya di tangan Rayyan. Aurora semakin terhanyut saat tangan Rayyan mulai menyentuh bagian tubuhnya yang sensitif.


"Ray..."lenguh Aurora saat Rayyan mengungkung tubuhnya.

__ADS_1


Pria itu menenggelamkan wajahnya di dada Aurora. Aurora memejamkan matanya, menjambak rambut tembal Rayyan. Merasakan darahnya mengalir deras dan tubuhnya mulai gelisah di bawah kungkungan Rayyan.


"Tok! Tok! Tok!"


Suara ketukan pintu tidak membuat Rayyan menghentikan aktivitasnya. Pria itu malah kembali memagut bibir Aurora.


"Tok! Tok! Tok!"


Suara ketukan di pintu itu kembali terdengar. Membuat Aurora merasa terganggu. Namun Rayyan nampak tidak peduli. Aurora mendorong dada Rayyan pelan,"Ray!"ucap Aurora menatap Rayyan, kemudian menatap ke arah pintu.


"Tok! Tok! Tok!"


Suara ketukan pintu itu kembali terdengar.


"Shitt!"umpat Rayyan dengan wajah yang terlihat sangat kesal. Menatap penuh amarah ke arah pintu. Pria itu mencium bibir Aurora dan sedikit menarik bibir Aurora dengan bibirnya, seolah tidak rela menghentikan aktivitasnya. Rayyan beranjak dari atas tubuh Aurora, merapikan selimut yang menutupi tubuh polos Aurora, kemudian beranjak ke arah pintu dengan wajah kesal bercampur marah.


Aurora menghela napas lega,"Selamat.. selamat! Dasar mesum! Sudah mandi juga masih ingin bercinta lagi. Semalam sudah membuat aku kelelahan, tapi pagi ini malah masih ingin lagi,"gerutu Aurora membuang napas kasar.


"Ada apa?"tanya Rayyan datar dengan tatapan tajam setelah melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya.


"Aku akan segera turun,"ujar Rayyan mendengus kesal. Mengingat waktu tempuh antara kantor nya dan hotel tempatnya berada saat ini memerlukan waktu sekitar empat puluh menit. Tidak cukup jika harus bercinta dan mandi dalam waktu dua puluh menit.


"Baik, Tuan. Saya akan siapkan mobilnya,"sahut Andi bergegas meninggalkan Rayyan. Tidak ingin terkena amukan Rayyan yang telah di buatnya kesal dan marah.


"Aihh.. aku rasa, aku datang di waktu yang tidak tepat. Sepertinya Tuan sedang olahraga pagi di atas ranjang. Untung saja Tuan tidak mengamuk atau memberi aku hukuman,"gumam Andi sambil terus berjalan menuju lift.


Rayyan menutup kembali pintu kamar hotel itu dan berjalan menghampiri Aurora yang masih berada di posisinya semula.


"Aku akan memesan makanan untuk kamu. Sebaiknya kamu mandi dulu,"ujar Rayyan langsung menarik selimut yang menutupi tubuh Aurora dan menggendong Aurora.


"Ray, aku bisa sendiri,"pekik Aurora yang terkejut karena dengan cepat Rayyan menarik selimut yang menutupi tubuhnya dan langsung menggendongnya.

__ADS_1


Rayyan tidak menanggapi kata-kata Aurora. Pria itu terus berjalan ke arah kamar mandi dengan Aurora dalam gendongannya. Aurora pun tidak bisa apa-apa jika Rayyan sudah seperti itu.


"π˜Ώπ™žπ™– π™©π™žπ™™π™–π™  π™žπ™£π™œπ™žπ™£ π™—π™šπ™§π™˜π™žπ™£π™©π™– π™™π™šπ™£π™œπ™–π™£ 𝙖𝙠π™ͺ π™™π™ž 𝙠𝙖𝙒𝙖𝙧 π™’π™–π™£π™™π™ž, '𝙠𝙖𝙣?"gumam Aurora dalam hati. Menatap Rayyan penuh kecurigaan.


"Kenapa kamu menatap aku seperti itu? Baru sadar kalau aku tampan?"tanya Rayyan dengan nada narsistik.


"Narsis!"sahut Aurora seraya memalingkan wajahnya.


Rayyan mendudukkan tubuh Aurora yang polos tanpa sehelai benang di pinggir bathtub. Kemudian mengisi bathtub dengan air hangat.


"Aku harus pergi ke kantor. Nala akan menjaga dan menemani kamu pulang,"ucap Rayyan mengecup sekilas bibir Aurora, kemudian mengelus kepala Aurora,"Aku pergi!"pamit Rayyan melangkah keluar dari kamar mandi itu meninggalkan Aurora sendiri.


Aurora menghela napas panjang, kemudian beranjak masuk ke dalam bathtub,"Dia begitu sibuk. Dan hanya menghabiskan waktu dengan ku untuk bercinta saja. Eh, dia bilang tadi Nala akan menemani aku? Berarti Nala baik-baik saja. Syukurlah,"gumam Aurora bernapas lega.


Beberapa menit kemudian, Aurora sudah selesai membersihkan diri. Saat keluar dari dalam kamar mandi, ranjang tempatnya berbaring tadi sudah rapi. Rayyan pun sudah tidak ada di dalam kamar itu lagi. Sarapan pagi sudah tersedia di atas meja. Aurora menatap paper bag di atas ranjang lalu mengambil dan membuka isinya. Melihat gaun berwarna putih tulang di dalam paper bag itu lengkap dengan pakaian dalamnya.


Setelah selesai berpakaian, Aurora pun bergegas untuk sarapan. Perutnya sudah terasa keroncongan dari tadi. Melayani Rayyan semalam membuat tenaganya habis dan kelelahan.


"Kata Ray, Nala akan menemaniku pulang. Dimana dia? Aku tidak membawa apa-apa. Dengan apa aku akan pulang, jika tidak ada Nala? Aku coba keluar saja. Siapa tahu, Nala ada di luar,"gumam Aurora setelah selesai sarapan.


Aurora keluar dari kamar itu, dan benar saja, ada Nala di depan pintu,"Kamu baik-baik saja, 'kan, La?"tanya Aurora menelisik ke seluruh tubuh Nala, memastikan bodynya itu baik-baik saja.


"Saya baik-baik saja Nyonya,"sahut Nala dengan wajah khasnya yang datar.


"Syukurlah. Kemarin, aku sangat takut, La,"ujar Aurora yang jadi teringat kejadian kemarin.


"Nyonya tidak perlu takut! Tuan sudah membereskan Mami,"sahut Nala.


"Membereskan Mami?"


...🌸❀️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2