Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
162. Menyesal


__ADS_3

"Jadi, aku boleh pulang, 'kan, sekarang? Aku ingin tidur di rumah. Badanku pegal-pegal semua karena harus tidur di sofa kecil ini,"celetuk Hendrik yang baru saja terbangun karena mendengar suara bariton Rayyan.


"Iya, tapi kakak harus kembali ke sini nanti sore untuk menjaga mama lagi,"sahut Rayyan.


"Sudah ada perawat yang menjaga mama. Kenapa aku harus menjaga mama juga, Ray?"tanya Hendrik yang lebih terdengar seperti protes.


"Yang anak mama itu perawat apa kakak? Walaupun ada perawat, kakak harus tetap menjaga mama. Aku bukannya tidak mau menjaga mama, tapi aku harus bekerja agar kita semua tetap bisa hidup berkecukupan. Tunjukkan sedikit saja bakti kakak pada mama! Mama menjaga kita dari dalam kandungan, melahirkan kita dengan taruhan nyawa. Bahkan tidak tidur karena menjaga kita saat kita sakit. Tidak bisakah kakak membalas sedikit saja pengorbanan yang diberikan mama? Apa kakak tidak ingin menjadi anak yang berbakti pada orang tua? Terutama pada wanita yang telah melahirkan kita? Kakak tidak ingin jadi anak durhaka, 'kan?"ujar Rayyan panjang lebar.


Naima begitu tersentuh dan terharu mendengar kata-kata Rayyan. Naima Tidak menyangka putranya yang selama ini selalu terlihat dingin, datar, dan kaku itu memiliki pemikiran yang begitu dalam seperti itu. Walaupun sejak kecil Rayyan tidak dekat dengan dirinya, namun semenjak suaminya meninggal, Rayyan lah yang menjadi tulang punggung keluarga mereka. Mengurus perusahaan dan mencukupi segala kebutuhan mereka tanpa mengeluh sedikitpun


Aurora juga terlihat tersentuh dengan kata-kata Rayyan. Tidak menyangkan jika suaminya begitu dewasa dan bijaksana.


Ya.. walaupun terkadang masih kurang peka. Bukankah wajar jika manusia memiliki kelebihan dan kekurangan?


Andi juga merasa tersentuh mendengar kata-kata Rayyan. Ternyata penilaiannya selama ini tidak salah. Dibalik sikap dingin, datar dan kaku majikannya itu, tersimpan hati yang lembut dan hangat. Ya.. walaupun sekarang, majikannya itu menjadi bucin akut tingkat dewa gara-gara nyonya -nya.


"Iya..iya.. jangan ceramah lagi! Aku akan melakukan seperti yang kamu mau. Semenjak punya istri, kata-kata kamu bak pisau belati. Tajam sekali,"sahut Hendrik yang tidak ingin lagi mendengar kata-kata Rayyan yang akan terngiang-ngiang di telinganya dan menyiksa dirinya.


"Ingat! Nanti sore, kakak harus kembali ke sini lagi! Bukan malam. Sekarang, Aurora yang akan menjaga mama,"ujar Rayyan.


"Iya,"sahut Hendrik pasrah.


"Saya akan memesan ranjang tambahan agar nyonya bisa berbaring jika kelelahan. Dan bisa tidur siang dengan nyaman,"ujar Andi beranjak keluar dari ruangan itu.


"Dasar asisten sialan! Kenapa nggak dari tadi malam memesan ranjang tambahan? Tubuhku pegal semua karena harus tidur di sofa kecil ini,"gerutu Hendrik.


"Itu, sih, derita Tuan. Makanya punya otak itu dipakai buat mikir yang bener! Jangan cuma dipakai untuk mencari cara agar bisa mendapatkan teman berbagi peluh di atas ranjang doang! Tuan, 'kan, bisa meminta ranjang tambahan sendiri, tidak perlu harus menunggu saya untuk memesannya. Memangnya Tuan tidak punya mulut apa?"sarkas Andi dengan wajah dan suara datarnya.


"Kau! Dasar asisten sialan!"geram Hendrik melempar bantal sofa ke arah Andi. Tapi Andi sudah keburu keluar dari ruangan itu. Selain kesal pada Andi, Hendrik juga merasa kesal pada dirinya sendiri karena dirinya memang bodoh. Kenapa semalam tidak memesan ranjang tambahan untuk beristirahat. Padahal ruangan rawat mamanya itu cukup luas dan masih muat jika ingin menambah satu ranjang lagi.


"Sudah! Kakak pulang sana! Ingat! Nanti sore ke sini lagi buat menjaga mama. Kalau tidak, aku tidak akan jadi membantu kakak,"ujar Rayyan memperingati.


"Iya, iya. Kamu tidak perlu mengulang-ulang nya lagi. Kamu selalu saja mengancam aku, seperti itu,"gerutu Hendrik kemudian menghampiri mamanya,"Mama cantik, aku pulang dulu, ya!"ucap Hendrik dengan senyuman manis, yang di balas Naima dengan memejamkan matanya sesaat, yang artinya iya.


Tak lama kemudian, Andi sudah kembali bersama dua orang perawat dan membawa ranjang tambahan untuk Aurora.


"Ma, aku tinggal ke kantor dulu, ya? Aurora akan menjaga mama,"ujar Rayyan kemudian menatap istrinya,"Sayang, aku ke kantor dulu, ya! Kalau capek istirahat!"ucap Rayyan kemudian mengecup bibir Aurora lembut. Setelah itu, Rayyan membungkuk mengecup perut Aurora. Kemudian, Rayyan pun keluar dari ruangan rawat inap mamanya itu.


Naima menatap perut rata Aurora,"Kenapa Rayyan mengecup perut Aurora? Apakah Aurora sedang mengandung?"gumam Naima dalam hati.


"Maaf, tubuh nyonya Naima belum di seka,"ucap seorang perawat yang masuk ke dalam ruangan itu setelah Rayyan pergi. Perawat itu membawa sebaskom air hangat.


"Biar saya saja, suster,"pinta Aurora.


Perawat itu akhirnya memberikan sebaskom air hangat itu pada Aurora. Aurora mengunci pintu ruangan itu, kemudian dengan telaten menyeka tubuh Naima sampai bersih. Naima yang merasa tubuhnya masih lemah pun hanya diam saja.


Setelah selesai menyeka tubuh Naima, Aurora menyuapi Naima dengan bubur dengan telaten.

__ADS_1


"Mama habiskan buburnya, ya? Biar keadaan mama cepat membaik, cepat pulih,"ujar Aurora lembut.


Setelah menyuapi bubur pada Naima sampai habis, Aurora pun meminumkan obat pada Naima.


Aurora mengurus Naima dengan baik dan sabar. Hingga setengah makan siang, wanita yang terbiasa tidur siang semenjak mengandung itu pun mulai mengantuk.


"Ma, aku mengantuk sekali. Aku tidur dulu, ya, ma! Kalau mama butuh apa-apa, mama bangunkan saja.aku,"


"Hum,"sahut Naima.


Aurora yang sudah mengantuk itu pun langsung merebahkan tubuhnya di ranjang tambahan yang tadi pagi disiapkan oleh Andi. Tak berapa lama, Aurora pun terlelap.


"Kenapa dia mau merawat aku? Padahal aku selalu menghinanya,"gumam Naima dalam hati. Menatap Aurora yang sudah terlelap di ranjang yang ada di sampingnya.


Satu jam kemudian, Aurora nampak terbangun. Wanita itu nampak menguap beberapa kali, lalu menghampiri Naima.


"Ma, apa mama membutuhkan sesuatu?"tanya Aurora kembali menguap.


"Minum,"ucap Naima.


Tanpa banyak kata, Aurora langsung mengambilkan air minum untuk Naima dan membantu Naima untuk minum.


"Aku tinggal ke toilet dulu, ya, ma,"pamit Aurora setelah Naima selesai minum, lalu bergegas ke kamar mandi.


Tak lama kemudian datang teman-teman sosialita Naima yang datang menjenguk Naima.


"Kami terkejut saat mendapatkan kabar bahwa nyonya mengalami kecelakaan,"


"Kami sangat mengkhawatirkannya keadaan nyonya,"


"Syukurlah, Nyon selamat,"


Ujar teman -teman Naima yang memang selalu peduli pada teman-teman mereka.


"Saya sudah baikkan. Terimakasih karena sudah menyempatkan diri menengok saya,"ucap Naima tulus dengan suara lemah.


"Kita semua, 'kan, teman, nyonya. Masa iya, ada teman yang sakit, kami diam saja tidak menengok,"sahut salah seorang teman Naima.


Iya, betul"sahut yang lainnya.


"Sepertinya, teman-teman mama pada datang,"gumam Aurora dalam kamar mandi. Aurora keluar dari dalam kamar mandi dan langsung menjadi pusat perhatian teman-teman sosialita Naima.


"Eh, ada Aurora,"ujar salah seorang teman Naima. Aurora pun tersenyum dan menyapa mereka semua.


"Kamu menjaga nyonya Naima?"tanya salah seorang teman Naima.


"Iya, Tan,"sahut Aurora.

__ADS_1


"Sejak kapan?"tanya teman Naima yang lain kemaks, alias kepo maksimal.


"Dari tadi pagi, Tan,"sahut Aurora jujur.


"Padahal toko kue dan kafe kamu ramai. Tapi kamu malah memilih menjaga nyonya Naima di sini. Nyonya Naima beruntung sekali punya menantu seperti kamu,"


"Iya, nyonya Naima sangat beruntung. Saya jadi iri. Saya punya menantu, tapi setiap saya sakit, menengok saya pun tidak. Apalagi merawat saya,"


"Iya, menantu saya juga. Kerjanya cuma minta uang buat shopping. Menjadikan anak saya ATM berjalan,"


"Menantu saya, kalau saya nasehati malah bilang saya ikut campur dalam rumah tangga mereka. Padahal saya cuma menasehati dia agar lebih banyak di rumah untuk mengurus cucu saya. Dari pada keluyuran di luar sana nggak jelas. Tapi dia malah mengadu pada anak saya kalau saya memarahi dia. Ujung-ujungnya, anak saya memarahi saya,"


Mendengar curhatan teman-temannya itu, Naima pun menjadi bersyukur memiliki menantu seperti Aurora. Aurora tidak pernah melawan dirinya dan juga tidak gila shopping seperti menantu teman-temannya.


Waktu terus beranjak dan akhirnya sore pun tiba. Rayyan menjemput Aurora di rumah sakit seraya melihat keadaan mamanya.


"Bagaimana keadaan mama?"tanya Rayyan seraya duduk di kursi yang ada di samping ranjang Naima.


"Sudah lebih baik,"sahut Naima.


"Sebentar lagi, kakak akan datang ke sini. Aku dan Aurora pulang dulu, ya, ma!"pamit Rayyan.


"Hum,"sahut Naima.


"Aku pulang dulu, ma. Besok aku akan ke sini lagi,"ucap Aurora.


"Hum,"sahut Naima.


Naima tidak menyangka jika wanita yang selalu di hina nya dan pernah diseretnya karena ingin di usirnya itu mau merawatnya. Bahkan selama ini Aurora selalu menghindar dirinya. Tapi di saat seperti ini, Aurora malah dengan sabar dan ikhlas merawat dirinya. Naima menjadi merasa bersalah pada Aurora. Menyesal karena tidak memperlakukan Aurora dengan baik selama ini.


...Ibumu...


...Ibumu mungkin tak secerdas kamu, tak sesukses kamu, tak sesempurna fisikmu....


...Tapi dia memiliki hati yang begitu ikhlas sehingga tak pernah memintamu untuk membayar kembali segala jasanya....


...Ibumu adalah sahabatmu, guru pertamamu dan pembimbingmu....


Apa pun kamu hari ini, adalah karena ibumu.


...Dan ketahuilah, lelah ibumu akan cepat tergantikan saat melihat kebahagiaan dan kesuksesanmu....


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2