
Andi dan Kanaya menatap bulan di pinggir pantai itu untuk beberapa menit. Sesekali Kanaya melirik Andi yang nampaknya masih menikmati hembusan angin di tepi pantai itu.
"Ayo, kita pulang! Jika terlalu lamadi sini, kamu bisa masuk angin,"ujar Andi seraya bangkit dari duduknya, kemudian mengulurkan tangannya pada Kanaya.
Kanaya menerima uluran tangan Andi untuk mempermudah dirinya bangkit dari duduknya. Terlihat sederhana perhatian yang diberikan oleh Andi, tapi sudah cukup membuat Kanaya merasa senang.
"Pakai ini! Agar kamu tidak kedinginan. Kalau masuk angin, nanti aku yang repot,"ujar Andi seraya melepas jas nya, hendak memakaikan jasnya pada Kanaya.
"Tidak perlu, bee! Aku duduk di belakang mu, jadi tidak kedinginan. Kamu yang di depan yang pasti kena angin. Kalau masuk angin, 'kan, aku yang repot,"tolak Kanaya secara halus sekaligus membalas perkataan Andi,"Si roller coaster ini, sekali kali harus di balas, bukan?"gumam Kanaya dalam hati.
"Baiklah. Peluk yang erat, agar kamu tidak kedinginan,"ujar Andi yang tidak jadi melepaskan jas nya. Andi menggandeng tangan Kanaya menuju ke tempat motornya di parkirkan.
Pemuda itu kembali melajukan motornya menuju apartemen barunya. Kali ini tanpa di minta, Kanaya langsung memeluk perut Andi, agar Andi tidak mengeluarkan kata-kata pedasnya lagi. Mengantisipasi. Sedia payung sebelum hujan. Itulah yang sedang Kanaya lakukan saat ini. Dan tentu saja hal itu membuat Andi merasa senang.
"Punya suami ternyata tidak buruk juga. Malah banyak untungnya. Aku tidak perlu lagi bekerja keras siang dan malam untuk membayar angsuran rumah. Bahkan sekarang rumah ku sedang di renovasi oleh si roller coaster ini. Aku tidak menyangka jika dia akan menebus sertifikat rumah kami, bahkan merenovasi rumah kami,"
"Jika dengan memeluknya bisa membuat hati nya merasa senang, maka akan aku lakukan. Lagipula, meluk suami sendiri tidak berdosa, 'kan?"gumam Kanaya dalam hati.
Persis dugaan Kanaya, Andi benar-benar merasa senang saat Kanaya memeluk dirinya tanpa di pintanya. Senyuman manis pun bertengger di bibir pemuda itu.
Beberapa menit kemudian, sepasang suami-isteri itu pun sudah tiba di apartemen mereka.
"Kamu bersihkan dirimu sana! Setelah itu istirahat. Mandi pakai air hangat! Agar tubuh kamu merasa lebih nyaman, rileks, dan merangsang rasa kantuk. Setelah mandi pakai air hangat, gunakan pelembap untuk mencegah kulit kering. Pakai semua skincare yang aku belikan! Mengerti!"cerocos Andi sudah seperti emak-emak.
"Iya,"sahut Kanaya yang sudah merasa tidak terlalu canggung lagi pada Andi. Gadis itu bergegas mengambil pakaiannya, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya,"Astagaa.. Suamiku cerewetnya melebihi ibuku. Tapi, semua itu untuk kebaikan ku, sih. Kenapa bisa ada orang yang begitu perhatian seperti itu? Aku tidak menyangka bisa memilki suami seperti dia,"gumam Kanaya setelah berada di dalam kamar mandi.
Andi tersenyum tipis melihat Kanaya yang menghilang di balik pintu kamar mandi itu. Andi pun keluar dari dalam kamar itu. Pemuda itu memilih mandi di kamar mandi lain dari pada harus menunggu Kanaya selesai mandi.
Lima belas menit kemudian, Kanaya masih belum selesai mandi. Sedangkan Andi sudah kembali masuk ke dalam kamar itu.
Lima menit kemudian, Kanaya baru keluar dari dalam kamar mandi itu dan sudah berpakaian lengkap.
"Astagaa!"pekik Kanaya yang langsung berbalik membelakangi Andi.
Kanaya melihat Andi duduk bersandar di headboard ranjang dengan bertelanjang dada. Pemuda itu hanya makai celana boxer-nya saja, sama seperti yang di lihat Kanaya tadi pagi. Sedangkan mata pemuda itu nampak fokus pada layar handphonenya.
__ADS_1
"Ada apa?"tanya Andi yang nampak terkejut mendengar suara pekikan Kanaya. Mata pemuda itu pun beralih menatap Kanaya.
"Bee, ke... kenapa kamu tidak memakai baju?"tanya Kanaya masih berdiri membelakangi Andi.
Andi tersenyum smirk melihat reaksi Kanaya itu. Pemuda itu meletakkan handphone nya di atas nakas, lalu pemuda itu turun dari ranjang untuk menghampiri Kanaya.
"Memangnya kenapa?"tanya Andi terus melangkah mendekati Kanaya yang masih berdiri membelakangi nya.
"A.. Apa kamu tidak malu?"tanya Kanaya yang sebenarnya merasa malu melihat Andi yang berpenampilan seperti itu, sekaligus juga penasaran melihat tubuh Andi. Jujur, saat tadi pagi Kanaya melihat nya, Kanaya sangat mengagumi bentuk tubuh pemuda itu.
"Greb"
Kanaya membulatkan matanya saat tiba-tiba Andi memeluknya dari belakang. Tiba-tiba saja detak jantung Kanaya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Kenapa harus malu? Di kamar ini, di unit apartemen ini, hanya ada aku dan kamu,"bisik Andi di telinga Kanaya.
Ulah Andi itu sontak saja membuat Kanaya merasa tubuhnya meremang. Bahkan Andi semakin mengeratkan pelukannya membuat tubuh mereka tanpa jarak selain kain yang menempel di tubuh mereka. Hembusan hangat napas pemuda itupun menyapu leher Kanaya, membuat tubuh Kanaya kaku dan bibirnya kelu.
"Astagaa.. A.. Apa yang akan di lakukan orang ini? Ya, Tuhan.. Jantung ku rasanya ingin melompat keluar,"gumam Kanaya dalam hati.
Kanaya menelan salivanya kasar saat tatapan matanya menangkap dada bidang Andi yang berotot. Kanaya menunduk untuk mengalihkan tatapan matanya. Namun sialnya, Kanaya malah melihat pemandangan lain yang lebih menggoda. Ada roti sobek di bawah sana yang tersusun sempurna.
"Astagaa.. Pemandangan ini... Benar-benar lebih indah dari pada iklan di televisi ataupun gambar di komik yang aku baca,"gumam Kanaya dalam hati yang semakin mengagumi bentuk tubuh pemuda yang sudah menjadi suaminya itu.
Sedangkan Andi.. pemuda itu menelan salivanya kasar saat tatapan matanya tertuju pada bibir Kanaya yang berwarna pink dan terlihat menggoda itu. Bibir atas yang tipis dan bibir bagian bawah yang bervolume.
Perlahan tangan Andi terangkat. Dengan jari telunjuk dan ibu jarinya, Andi memegang dagu kanaya, lalu mengangkat wajah Kanaya yang tertunduk itu. Mau tak mau, Kanaya pun menatap pemuda yang dengan cara licik menikahi dirinya itu. Untuk beberapa saat, sepasang suami-isteri itu saling menatap.
"Bibir mu indah,"ucap Andi tersenyum tipis dengan ibu jari yang mengusap lembut bagian bawah bibir Kanaya.
Merasakan sentuhan tangan dan melihat senyuman Andi, detak jantung Kanaya semakin berdetak kencang tidak karuan, tubuh gadis itu tiba-tiba terasa kaku bagai es balok.
"Aku ingin tahu, bagaimana rasanya bibir itu. Sepertinya sangat menggoda,"gumam Andi dalam hati dengan detak jantung yang mulai berdetak lebih cepat. Perlahan Andi memiringkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya pada wajah Kanaya.
Pemuda yang masih perjaka ting-ting itu merasa detak jantungnya semakin berdetak kencang saat wajahnya dan wajah Kanaya semakin dekat. Sedangkan Kanaya, tubuh gadis itu benar-benar tidak bisa bergerak, bahkan lidahnya kelu. Walaupun hanya untuk mengucapkan sepatah kata pun Kanaya tidak mampu.
__ADS_1
Perlahan mata gadis itu terpejam seolah pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh suaminya.
"Cup"
Untuk sesaat bibir Andi dan Kanaya saling menempel. Sepasang suami-isteri yang sama-sama belum pernah berciuman itu saling merasakan bibir mereka yang saling menempel itu.
Walaupun Kanaya sudah pernah berpacaran, tapi Kanaya belum pernah berciuman. Karena ibu Kanaya selalu mewanti-wanti Kanaya agar tidak melakukan kontak fisik lebih dari berpegangan tangan. Dan sebagai anak yang penurut, Kanaya pun selalu mengingat pesan ibunya itu.
Bagaimana tidak ingat, kalau sebelum jalan dengan pacarnya saja perempuan paruh baya itu sudah ceramah panjang kali lebar, kali tinggi, kali alas, kali sisi. Kurang-kurang, wanita itu dengan tega menyumpahi Kanaya bakalan sakit perut selama sehari semalam, jika Kanaya berani melanggar larangannya.
Dan bagaimana Kanaya tidak takut dengan ancaman wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya itu, jika Kanaya pernah merasakan akibat dari sumpah ibunya itu.
Waktu itu dirinya berbohong pada ibunya. Tapi, karena ibunya curiga bahwa Kanaya berbohong, wanita itu meminta Kanaya untuk berkata jujur. Namun Kanaya kukuh tidak mau mengaku jika dirinya berbohong. Hingga akhirnya ibunya menyumpahi Kanaya bakalan sakit perut jika Kanaya berbohong. Dan benar saja, beberapa jam kemudian, Kanaya sakit perut yang benar-benar sakit.
"Kamu sakit perut? Berarti kamu berbohong pada ibu, 'kan? Jika kamu tidak mengaku, kamu akan tetap sakit perut sampai besok,"ucap ibu Kanaya waktu itu penuh keyakinan.
Karena tidak bisa menahan sakit perutnya, akhirnya Kanaya pun menyerah dan mengaku pada ibunya jika dirinya memang berbohong. Dan anehnya, setelah Kanaya berkata jujur, sakit perut nya berangsur hilang. Karena itulah, Kanaya tidak berani melanggar apa yang dilarang oleh ibunya. Bahkan saat dirinya di jebak ibunya dinikahkan dengan Andi pun, Kanaya tidak berani menentang ibunya. Apalagi ibunya sudah menyumpahi dirinya menjadi batu, jika berani selingkuh dari Andi.
Kembali pada saat ini... Bibir Andi dan Kanaya masih saling menempel. Perlahan Andi menggerakkan bibirnya, menyesap bibir Kanaya. Bibir pemuda itu terus bergerak secara naluriah menikmati bibir Kanaya.
Tangan kiri Andi memegang tengkuk Kanaya, sedangkan tangan kanannya memeluk pinggang Kanaya. Sedangkan Kanaya, entah kenapa gadis itu membalas apa yang dilakukan oleh Andi. Entah sejak kapan kedua tangan gadis itu memeluk pinggang Andi.
Dua orang yang sama-sama amatiran itu saling mengecup, menyesap, melummat, bahkan saling menggigit kecil dengan perlahan. Andi yang baru merasakan nikmatnya berciuman itu semakin lama semakin agresif. Perlahan lidah pemuda itu menerobos masuk ke dalam mulut Kanaya. Mengeksplor semua yang ada di dalam mulut Kanaya, bahkan membelit lidah Kanaya. Semakin lama, ciuman pemuda itu semakin bertambah agresif dan membuat Kanaya kewalahan. Hingga akhirnya Kanaya menepuk-nepuk dada Andi saat dirinya sudah merasa kesulitan untuk bernapas.
Akhirnya Andi pun melepaskan pagutannya. Dua orang amatiran itu pun menghirup udara dengan serakah. Mata keduanya saling bertatapan.
"Aku ingin lagi,"ucap Andi dengan mata yang tertuju pada bibir Kanaya.
...πΈβ€οΈπΈ...
Maaf telat. Mulai besok, aku update jam 11 ke atas.πππππ
.
To be continued
__ADS_1