Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
210. Anggap Saja Begitu


__ADS_3

Hendrik menghela napas berkali-kali untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya. Namun berapa kali pun dirinya menghela napas, rasa sesak di dadanya itu tidak kunjung berkurang, apalagi menghilang.


Eve yang kebetulan mendapatkan tempat duduk di sebelah Hendrik pun menatap aneh pada pria di sampingnya itu. Eve tidak pernah bertemu dengan Hendrik dalam keadaan seperti saat ini. Eve benar-benar merasa tidak mengenali Hendrik.


"Kok, aku merasa kamu bukan Hendrik yang aku kenal, ya? Aku merasa kamu orang yang berbeda dengan wajah yang sama,"celetuk Eve yang benar-benar menjadi penasaran dengan pria di sebelahnya itu.


"Anggap saja begitu,"sahut Hendrik tanpa menoleh pada Eve.


"Kamu benar-benar berbeda. Apa kamu benar-benar Hendrik yang aku kenal?"tanya Eve semakin penasaran.


Eve menelisik wajah Hendrik yang menurutnya lebih tampan sekarang dari pada yang dulu. Dulu Hendrik selalu tampil dengan rambut gondrongnya, dengan senyuman manis nan menawan yang tak pernah hilang dari bibirnya. Tapi sekarang Hendrik tampil dengan rambut pendek yang terlihat rapi dan begitu berwibawa.


Hendrik yang dikenal nya dulu tidak akan mengalihkan pandangannya jika bersama dengan dirinya. Karena Eve, gadis keturunan Amerika-Indonesia itu memang cantik. Tapi Hendrik yang sekarang terlihat acuh padanya. Bahkan Hendrik nampak enggan untuk merespon kata-kata Eve.


Hendrik diam menatap awan dari jendela pesawat. Hendrik merasa hatinya benar-benar tertinggal di tempat Sumi berada. Karena hatinya sudah di curi Sumi.


"Bagaimana jika setelah sampai nanti, kamu ke apartemen ku?"tawar Eve yang sebenarnya memang menyukai Hendrik.


Walaupun Eve tahu benar jika Hendrik adalah seorang Casanova yang setia pada seribu wanita. Tapi Eve tetap saja menyukai pria berwajah tampan blesteran Turki-Indonesia di sampingnya itu.


"Aku lelah. Aku akan pulang ke apartemen ku,"sahut Hendrik masih menatap awan dari jendela pesawat. Malas rasanya meladeni gadis di sampingnya itu.


"Eh, tumben sekali dia menolak tawaranku,"gumam Eve dalam hati merasa Hendrik benar-benar berbeda.


"Kalau begitu, biar aku yang ke apartemen kamu,"sahut Eve yang tidak ingin melewatkan kesempatan bersama Hendrik.

__ADS_1


Eve masih ingat dengan jelas bagaimana perkasanya pria di samping itu. Dari sekian banyak teman ranjangnya, hanya Hendrik yang benar-benar paling perkasa di atas ranjang. Karena itu, Eve ingin kembali menghabiskan malam bersama Hendrik.


"Aku ingin sendiri,"tolak Hendrik secara halus.


Jika dulu Hendrik selalu tertarik dan berusaha menjerat wanita cantik untuk dijadikan teman berbagi peluh di atas ranjang, sekarang Hendrik malah terlihat enggan berdekatan dengan wanita, walaupun wanita itu cantik seperti Eve.


"Kenapa dia jadi berubah drastis seperti ini? Tapi aku tidak yakin jika dia tidak tergoda dengan aku,"gumam Eve terlihat penasaran.


"Oh, ya? Kamu tidak merindukan aku? Aku akan membuatmu puas jika malam ini kita bermain di atas ranjang,"ujar Eve dengan tangan yang merayap di paha Hendrik.


"Sorry, aku tidak tidak berminat untuk kamu puaskan," sahut Hendrik kemudian menepis tangan Eve yang merayap di pahanya.


Entah mengapa, Hendrik malah merasa risih saat Eve menyentuh pahanya. Dan sedikitpun tidak berhasraat untuk bercinta dengan Eve atau siapapun selain Sumi.


Hendrik malah teringat pada Sumi. Teringat pergulatan panas mereka diatas ranjangnya beberapa hari yang lalu. Sumi benar-benar ganas dan benar-benar pintar dalam urusan ranjang. Sumi membuat Hendrik benar-benar merasa puas. Permainan Sumi waktu itu benar-benar membuat Hendrik tidak berdaya sekaligus ketagihan. Tapi tidak mungkin melakukan hal itu lagi bersama Sumi. Mengingat Sumi menolak cintanya, bahkan menuduh dirinya membuat skenario penculikan agar bisa tidur dengan wanita itu.


"Anggap saja begitu,"sahut Hendrik yang sudah kesekian kalinya menjawab dengan kalimat itu dengan suara datarnya dan tetap tidak mau menatap Eve.


Eve memicingkan sebelah matanya mendengar jawaban dari Hendrik itu. Bukannya menyerah dengan sikap Hendrik yang nampak acuh itu, tapi Eve malah semakin penasaran.


"Kenapa aku menjadi lebih tertarik pada dia yang sekarang dari pada dia yang sebelumnya, ya? Aku malah semakin penasaran dengan sikapnya yang acuh ini. Aku merasa tertantang untuk menaklukkan hatinya,"gumam Eve dalam hati tersenyum penuh arti.


Sepanjang perjalanan, Hendrik tetap terlihat acuh pada Eve. Bahkan pria itu terkesan enggan berbincang dengan Eve. Walaupun Eve sudah mengajak Hendrik mengobrol, tapi pria itu hanya menanggapi seadanya saja. Bahkan terkadang tidak merespon apa yang dikatakan oleh Eve.


Setelah turun dari pesawat, Hendrik berjalan menuju mobil yang disiapkan Rayyan untuk menjemput Hendrik. Namun Eve nampak mengikuti Hendrik.

__ADS_1


"Kenapa kamu mengikuti aku?"tanya Hendrik yang nampak tidak suka melihat Eve mengikutinya. Pria itu berdiri di samping mobil yang menjemputnya menatap Eve datar.


"Aku melupakan kunci apartemen ku. Boleh, ya,, malam ini aku menginap di apartment kamu?"pinta Eve dengan wajah dibuat memelas.


"Sorry, aku tidak bisa menampung kamu di apartemen ku. Kalau kunci kamu ketinggalan, bukankah sementara waktu kamu bisa menginap di hotel? Aku yakin, kamu tidak kekurangan uang untuk menginap di hotel,"sahut Hendrik enteng, masih terlihat acuh pada Eve.


"Tentu saja aku punya. Aku hanya ingin menghabiskan malam dengan kamu. Sudah lama kita tidak bertemu. Apa kamu benar-benar tidak rindu padaku?"tanya Eve dengan suara menggoda seraya mengusap dada bidang Hendrik,"Aku akan memuaskan kamu dengan gaya apapun yang kamu mau,"ucap Eve mengedipkan sebelah matanya seraya menggigit bibirnya sendiri dengan gaya sensuall menggoda Hendrik.


"Ohh, berapa aku harus membayar kamu, jika aku ingin menghabiskan malam dengan kamu?"tanya Hendrik datar


"Oh, ayolah, Hen! Kita ini bukan di Indonesia. Kita saat ini berada di Eropa. Kita melakukan hubungan di atas ranjang atas dasar suka sama suka. Sama-sama ingin memenuhi kebutuhan biologis kita. Kamu tidak perlu membayar aku untuk menghabiskan malam dengan aku,"sahut Eve tertawa tanpa suara.


"Kamu tahu? Bahkan seorang wanita penghibur pun tidak akan mau melayani pria jika mereka tidak dibayar. Tapi kamu malah bersedia membuka paha kamu secara gratis tanpa imbalan apapun. Wanita penghibur lebih terhormat dari pada kamu,"sarkas Hendrik menepis tangan Eve di dadanya. Entah mengapa, Hendrik merasa jengah terus menerus digoda oleh Eve.


Hendrik bergegas masuk ke dalam mobil tanpa mempedulikan Eve yang nampak tertegun, menatap Hendrik dengan tatapan tidak percaya. Tak lama kemudian mobil yang ditumpanginya Hendrik pun melaju meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Eve yang masih tertegun.


"Apa yang terjadi pada dia? Apa dia hampir mati, karena itu dia bertobat? Atau mungkin di dalam tubuhnya itu bukan roh dia seperti di komik dan novel yang aku baca? Dia benar-benar berubah. Bukan lagi Hendrik yang aku kenal,"gumam Eve menatap mobil Hendrik yang semakin menjauh.


"Dasar wanita murahan! Sudah di tolak secara halus pun masih mengejar-ngejar aku. Jika benar-benar gatal ingin di goyang di atas ranjang, kenapa harus mengejar-ngejar aku? Kenapa tidak mencari gigoloo saja,"gerutu Hendrik yang berada di dalam mobil yang melaju. Pria itu terlihat benar-benar kesal.


Supir mobil itupun mengernyitkan keningnya karena tidak mengerti dengan apa yang di gerutu kan Hendrik, karena tidak mengerti dengan bahasa yang digunakan Hendrik.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2