Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
141. Body Shaming


__ADS_3

Rayyan menggendong Aurora yang tertidur turun dari pesawat. Pria itu sengaja turun paling belakang agar tidak berdesak-desakan dengan yang lain saat turun dari pesawat. Mengingat dirinya yang turun dari pesawat seraya menggendong Aurora.


Andi mengernyitkan keningnya saat melihat Rayyan turun dari pesawat dengan Aurora dalam gendongannya.


Rayyan menggendong Aurora hingga ke dalam mobil. Memangku Aurora dan menyandarkan kepala Aurora di dadanya dan memeluknya.


"Tuan..."


"Sssst! Jangan bicara!"ucap Rayyan pelan, memotong kata-kata Andi yang hendak melaporkan pekerjaannya.


Andi menghela napas melihat tuannya duduk memangku Aurora yang masih terlelap. Bahkan dirinya tidak di ijinkan untuk bicara agar tidak mengganggu Aurora tidur.


Rayyan menatap wajah lelah Aurora dalam dekapannya. Kemudian mengecup lembut kening Aurora


"Tuan benar-benar sudah kasmaran pada nyonya,"gumam Andi lirih saat melihat majikannya dari kaca dasbor mobil.


"Kamu terlihat lelah sekali? Kenapa akhir-akhir ini kamu mudah sekali kelelahan?"gumam Rayyan dalam hati. Pria itu mengelus kepala Aurora dengan lembut.


Selama berbulan madu, Rayyan bahkan menahan diri untuk meminta haknya terlalu sering. Karena akhir-akhir ini Aurora mudah sekali kelelahan.


Selama dalam perjalanan pulang, tidak satu orang pun yang bicara. Hingga akhirnya mereka tiba di rumah. Rayyan kembali menggendong Aurora masuk ke dalam rumah menuju kamarnya.


"Apa nyonya sangat lelah? Dari pesawat tadi, lalu di dalam mobil sampai di rumah masih tidur juga,"gumam Andi menatap majikannya yang menggendong nyonya-nya masuk ke dalam kamarnya.


Rayyan merebahkan Aurora dengan perlahan di atas ranjang. Tidak ingin Aurora terbangun. Pria itu melepaskan sepatu Aurora, lalu melepas bajunya sendiri menyisakan celana boxer-nya saja.


"Hutff.. lelah sekali,"gumam Rayyan seraya merenggangkan tubuhnya karena merasa tubuhnya pegal. Memangku Aurora yang tertidur dari bandara sampai rumah lumayan lama lah penyebabnya.


Rayyan merebahkan tubuhnya di samping Aurora lalu memeluk Aurora. Pria itu akhirnya ikut terlelap karena kelelahan.


Keesokan harinya, Aurora terbangun dalam dekapan Rayyan. Wanita itu nampak mengamati tempatnya berada saat ini.


"Sudah di rumah? Padahal, yang aku ingat terakhir kali adalah aku masih berada di dalam pesawat,"gumam Aurora dalam hati.


Aurora mendongakkan kepalanya menatap Rayyan yang masih terlelap. Wanita itu tersenyum, lalu mengecup bibir Rayyan pelan agar suaminya itu tidak terbangun. Perlahan Aurora melepaskan pelukan Rayyan dan beranjak turun dari ranjang.


"Sssst.. Kenapa kepalaku pusing sekali?"gumam Aurora yang baru saja berdiri. Aurora kembali duduk di tepi ranjang karena kepalanya sangat pusing saat berdiri.


Rayyan terbangun dan menyadari Aurora tidak ada dalam pelukannya. Pria itu mengedip-ngedipkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya. Rayyan mengedarkan pandangannya dan menemukan Aurora sedang duduk di tepi ranjang seraya memijit pelipisnya.


"Ra!"panggil Rayyan, kemudian beranjak bangkit dari tempatnya berbaring, lalu mendekati Aurora,"Kamu kenapa?"tanya Rayyan yang melihat Aurora masih memijit pelipisnya.


"Kepala ku pusing banget, Ray,"sahut Aurora.


"Wajah kamu pucat banget, Ra. Kita pergi ke dokter, ya?"pinta Rayyan seraya merapikan rambut Aurora yang acak-acakan.

__ADS_1


"Nggak usah, Ray! Aku mau istirahat saja di rumah. Nanti juga baikan,"tolak Aurora.


"Mungkin saja kamu kena anemia, Ra. Kamu mudah sekali kelelahan akhir-akhir ini. Nafsu makan kamu juga berkurang. Tidak baik menyepelekan penyakit,"bujuk Rayyan.


"Aku nggak..."


"Nggak ada alasan lagi!"potong Rayyan cepat. Tanpa basa-basi, pria itu menggendong Aurora ke kamar mandi,"Bersihkan dirimu! Setelah itu kita periksakan keadaan kamu. Jika kamu menolak, aku akan menggendong kamu sampai keruangan dokter,"ujar Rayyan tidak mau di bantah.


Aurora akhirnya menurut. Membersihkan diri lalu sarapan. Walaupun tidak berselera makan, namun Rayyan tetap memaksa Aurora untuk makan.


"Sudah, Ray! Aku nggak mau lagi,"ucap Aurora seraya memegang tangan Rayyan yang ingin kembali menyuapinya.


"Kamu baru makan empat sendok, Ra. Mana ada tenaga, jika cuma makan empat sendok. Ayo, makan lagi!"pinta Rayyan mencoba melepaskan pegangan tangan Aurora di tangannya.


"Aku akan muntah jika kamu memaksa aku untuk makan lagi, Ray. Kamu mau, aku muntah-muntah?"tanya Aurora dengan wajah kesal.


Rayyan menghela napas, sepertinya jika diteruskan, istrinya itu akan kembali merajuk. Jadi Rayyan memilih tidak lagi memaksa Aurora untuk makan.


"Ya, sudah. Kita ke dokter sekarang!"ucap Rayyan tidak mau dibantah.


Akhirnya sepasang suami-istri itu pergi ke rumah sakit. Namun sebelumnya, Rayyan menghubungi Fina terlebih dahulu. Sesampainya di rumah sakit, terlihat Fina baru saja selesai berbicara dengan seseorang dokter di lobby rumah sakit itu.


"Fin!"panggil Rayyan.


"Duduk dulu!"ucap Fina setelah mereka tiba di ruangannya,"Oh, iya, kita belum berkenalan. Aku Fina, teman Rayyan dari SMP,"ucap Fina dengan senyum ramah mengulurkan tangannya pada Aurora.


"Aku Aurora,"sahut Aurora menjabat tangan Fina.


"Maaf, waktu resepsi pernikahan kalian kemarin, aku tidak bisa datang. Aku mendadak diminta untuk melakukan operasi karena ada pasien kecelakaan lalulintas yang harus segera dioperasi,"


"Nggak apa-apa,"sahut Aurora tersenyum tipis, sedangkan Rayyan hanya diam saja.


"Kita langsung ke ranjang pasien. Biar aku periksa. Oh, iya. Apa keluhan kamu, Ra?"tanya Fina berjalan ke arah ranjang pasien diikuti Aurora dan Rayyan.


"Pusing, mudah lelah,"sahut Aurora.


"Apa selama berbulan madu, kamu tidak membiarkan Aurora beristirahat, Ray?"tanya Fina memicingkan sebelah matanya.


"Tugas kamu memeriksa pasien. Bukan mengurusi masalah pribadi ku,"sahut Rayyan datar.


"Ishh.. kamu ini tetap saja datar. Entah mengidam apa Tante Naima waktu mengandung kamu,"gerutu Fina.


"Berisik! Sudah, cepat periksa!"ketus Rayyan.


"Dasar, datar!"gerutu Fina, kemudian memeriksa Aurora. Sedangkan Aurora hanya mengulum senyum melihat interaksi keduanya.

__ADS_1


"Tanggal berapa terakhir kali kamu datang bulan, Ra?"tanya Fina setelah selesai memeriksa Aurora.


Aurora nampak mencoba mengingat, namun Rayyan yang selalu ingat tanggal berapa Aurora datang bulan dan kapan selesai datang bulan pun langsung menjawab,"Tanggal sepuluh,"


"Weehh... sepertinya kamu sangat ingat kapan kamu bisa minta jatah,"ledek Fina.


"Tutup mulut kamu! Kamu ini dokter apa wartawan gosip?"ketus Rayyan.


"Hiss.. kok kamu betah, sih, Ra, punya suami macam dia? Kalau aku, sih, ogah!"ujar Fina melirik sinis pada Rayyan.


"Siapa juga yang mau sama kamu? Body aja sebelas duabelas sama jalan tol!"balas Rayyan.


Fina memang tidak memiliki tubuh yang bohay seperti Aurora. Ukuran kacamata penutup dada cuma 32. Bagian belakang tubuh juga bisa di bilang tepos.


"Eh, kamu jangan melakukan Body Shaming, ya! Apa kamu pengen menginap di penjara?"ketus Fina yang tidak terima tubuhnya dikatai seperti jalan tol.


"Sudah! Sudah! Kalau kalian masih ingin berdebat, lebih baik aku pulang saja,"ucap Aurora beranjak dari ranjang pasien karena ingin menghentikan kedua orang itu berdebat.


"Eh, jangan ngambek, dong! Aku akan memberikan rujukan ke dokter kandungan,"ucap Fina bergegas kembali ke meja kerjanya.


"Dokter kandungan? Memangnya aku kenapa?"tanya Aurora nampak khawatir.


"Apa Aurora.. hamil?"gumam Rayyan dalam hati. Ada secercah harapan dalam hati Rayyan. Harapan mereka segera di berikan keturunan.


"Tidak. Menurut pemeriksaan ku tadi. Kamu hanya mengalami anemia. Tapi.. aku ingin kamu diperiksa lebih lanjut oleh ahlinya agar semua lebih clear,"sahut Fina.


...🌸❤️🌸...


Notebook :


•Kondisi ketika darah tidak memiliki sel darah merah sehat yang cukup.


Anemia yang disebabkan oleh kurangnya sel darah merah atau sel darah merah yang tidak berfungsi di dalam tubuh. Ini menyebabkan aliran oksigen berkurang ke organ tubuh.


•Dalam Oxford Living mendefinisikan Body Shaming merupakan bentuk tindakan mengejek atau menghina dengan cara mengomentari bentuk atau ukuran tubuh dan penampilan seseorang.


•Body Shaming sering kali dilakukan di lingkungan sekitar, baik dilakukan kepada diri kita sendiri maupun orang lain, yang menjadikan seseorang tersebut merasa malu dengan “tubuh”nya.


•Jika melakukan body shamming secara verbal maka pelaku diberikan sanksi Pasal 310 KUHP dengan ancaman hukumannya 9 bulan. Jika (body shaming yang langsung ditujukan kepada korban) dilakukan secara tertulis dalam bentuk narasi, melalui media sosial, dikenakan Pasal 311 KUHP dengan hukuman 4 tahun.


•Kepanjangan jalan tol pada faktanya adalah menggunakan bahasa Inggris. Dilansir dari detikFinance pada Senin (10/4), tol sebenarnya singkatan dari tax on location. Ini yang jadi dasar mengapa pengendara dikenakan sejumlah tarif saat melintasi atau menggunakan jalan tol.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2