
Begitu tiba di rumah Aurora, Rayyan langsung masuk ke dalam kamar Aurora. Pria itu melihat Aurora sedang membaringkan putranya ke dalam box bayi.
"Dia tidur?"tanya Rayyan pelan seraya menghampiri Aurora.
"Hum,"sahut Aurora.
"Apa kita ke rumah sakit menjenguk Aiden sekarang?"tanya Rayyan seraya memeluk Aurora dari belakang.
"Terserah kamu saja,"sahut Aurora seraya membalikkan tubuhnya menghadap Rayyan, kemudian memeluk Rayyan.
Aurora memeluk pria di depannya itu dengan mata terpejam dan senyuman. Rindu. Itulah yang dirasakan Aurora. Perasaan rindu itu masih ada, walaupun mereka sudah dari kemarin bertemu. Sudah lama terpisah, Aurora ingin bermanja-manja pada pria yang sudah memiliki hatinya sepenuhnya itu. Namun sayangnya situasi dan kondisi belum mendukung.
"Apa kamu sangat merindukan ku?"tanya Rayyan seraya mendekap erat tubuh Aurora. Menghirup aroma tubuh Aurora.
"Hum,"sahut Aurora mendengarkan detak jantung pria yang di cintainya itu. Seolah suara detak jantung suaminya itu seperti musik yang menenangkan hatinya.
"Aku juga merindukan mu. Sangat,"ucap Rayyan memejamkan matanya menikmati kebersamaan mereka saat ini.
Sepasang suami-isteri itu terdiam untuk beberapa saat. Hingga akhirnya Rayyan merenggangkan pelukannya.
"Kita jenguk Aiden dulu. Setelah itu, kita bisa pulang dan bermain dengan Zayn. Jika keadaan Aiden sudah membaik, mungkin besok kita akan pulang. Kamu mau pulang bersama ku, 'kan?"tanya Rayyan seraya merapikan anak rambut Aurora.
"Hum,"sahut Aurora tersenyum tipis, mengangguk pelan seraya mengedipkan kedua matanya.
"Setelah kita pulang, aku akan mencari dokter yang terbaik untuk mengobati bapak dan ibu. Mama pasti sangat senang jika kita pulang bersama Zayn,"
"Maaf, aku... "
Rayyan menempelkan jari telunjuknya di bibir Aurora, hingga Aurora tidak melanjutkan kata-katanya.
"Jangan mengatakan kata maaf lagi! Aku hanya ingin kita menatap masa depan dan membuka lembaran baru. Jadikan masa lalu sebagai pengalaman dan pembelajaran. Agar kita bisa menjalani masa depan lebih baik dari saat ini dan sebelumnya,"
Mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan Rayyan Aurora pun kembali memeluk Rayyan.
"Aku mencintaimu,"ucap Aurora mengeratkan pelukannya.
Aurora tidak pernah menyangka jika pria yang dulunya pemaksa, kaku, dingin dan datar ini ternyata bisa menjadi pria yang hangat, bijaksana dan penuh pengertian.
Begitulah hidup. Bukankah semuanya butuh proses? Seekor ulat pun harus berubah menjadi kepompong selama 1-2 minggu, baru setelah itu bisa menjadi kupu-kupu yang cantik.
"Aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu," ucap Rayyan memeluk Aurora penuh cinta.
__ADS_1
***
Di dalam mobil, Aurora menyandarkan kepalanya di bahu Rayyan. Tangan kanannya melingkar di lengan suaminya. Sedangkan tangan kirinya di genggam Rayyan.
Andi tersenyum tipis melihat kemesraan kedua majikanya itu dari kaca dasbor dalam mobil. Ada perasaan bahagia dalam hati Andi melihat kemesraan kedua majikanya itu.
"Begitulah cinta. Walaupun penuh derita dan air mata, tapi kita tidak bisa menghindarinya. Apalagi membunuh dan membuangnya begitu saja,"gumam Andi dalam hati.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya mereka pun tiba di rumah sakit. Saat masuk ke ruangan rawat Aiden, Rayyan dan Aurora melihat Aiden sedang duduk bersandar di headboard ranjang.
"Akhirnya kamu menjenguk aku juga. Aku pikir, kamu sudah lupa padaku karena sudah bertemu dengan belahan jiwa mu dan asyik melepas rindu,"sindir Aiden yang sudah terlihat lebih baik.
"Aku baru sempat mengunjungi kamu karena harus membereskan masalah yang dibuat Aurora. Dan aku juga baru saja pulang dari mengikuti tender menggantikan kamu,"sahut Rayyan.
"Bagaimana keadaan kamu?"tanya Aurora menatap Aiden.
"Aku sudah lebih baik. By the way, makasih, ya, Ra. Kamu sudah mendonorkan darah kamu untuk aku. Jika kamu tidak menolong aku, mungkin aku sudah pindah alam. Dan aku akan mati penasaran, karena mati sebelum menikah dan menemukan adikku,"ucap Aiden tertawa hambar.
"Kamu adalah sahabat Rayyan dan kamu juga pernah menolong aku. Jadi wajar, 'kan, jika aku menolong kamu,"sahut Aurora.
"Kalau begitu, mulai sekarang kamu adalah adikku. Karena darahmu mengalir di tubuh ku. Jika ada apa-apa, jangan sungkan untuk meminta bantuan ku. Walaupun Rayyan adalah sahabat ku sejak kecil, tapi jika dia menyakitimu, aku akan menghajarnya untuk kamu,"ucap Aiden terkesan santai tapi serius, sedangkan Aurora hanya tersenyum.
Mendengar percakapan Aiden dan Aurora, Rayyan jadi teringat dengan pembicaraannya tadi pagi bersama Bu Ella. Apalagi Aiden menyebut-nyebut soal adiknya.
"Iya, kenapa?"tanya Aiden yang jadi penasaran melihat ekspresi Rayyan.
"Apa adikmu memiliki ciri-ciri khusus atau tanda lahir misalanya?"tanya Rayyan lagi.
"Tidak. Adikku juga tidak memiliki ciri-ciri khusus ataupun tanda lahir,"sahut Aiden.
"Apa kamu masih memiliki fotonya saat sebelum dia menghilang?"tanya Rayyan yang semakin membuat Aiden penasaran.
"Iya. Aku masih memiliki fotonya. Tapi, kenapa tiba-tiba kamu bertanya tentang adikku? Apa kamu menemukan sesuatu yang berkaitan dengan adikku?"tanya Aiden yang merasa Rayyan mengetahui sesuatu.
"Aku tidak tahu ini berkaitan atau tidak. Aku akan menyelidiki masalah ini lebih lanjut dulu untuk memastikannya. Apa kamu membawa foto adikmu itu?"tanya Rayyan yang ingin memastikan Aurora adik Aiden atau bukan.
"Tidak. Saat aku akan kesini, aku mengganti dompet ku, dan fotonya tertinggal di apartemen ku,"sahut Aiden,"Jika kamu membutuhkan bantuan untuk penyelidikan, kamu bisa meminta bantuan pada Roni. Tapi Roni tidak jadi ke sini karena aku tugaskan untuk mengurus perusahaan,"
"Aku rasa, aku belum membutuhkan bantuan dari Roni. Kalau begitu, aku pamit pulang dulu. Jika kamu sudah lebih baik, besok kita akan pulang dari pulau ini. Aku akan mengurus semuanya,"pamit Rayyan.
"Okey. Thanks, kamu telah memenangkan tender untuk aku. Dan sekali lagi terimakasih, Ra, atas bantuan kamu,"ucap Aiden tulus.
__ADS_1
"Hum,"sahut Aurora tersenyum tipis.
Akhirnya sepasang suami-istri itu pun keluar dari ruangan Aiden. Meninggalkan Aiden dengan rasa penasarannya, karena Rayyan menanyakan soal adiknya dan sepertinya Rayyan mengetahui sesuatu.
"Sayang, kita cek kesehatan kamu, ya!"ajak Rayyan.
"Aku sudah cek kesehatan ku sebelum donor darah kemarin, Ray,"
"Itu, 'kan, sebelum kamu donor darah. Setelah kamu donor darah, kamu belum mengecek kesehatan kamu, 'kan?"
"Tunggu satu minggu dulu, Ray,"
"Enggak. Aku maunya sekarang,"ujar Rayyan tetap pada pendiriannya. Namun sesaat kemudian Rayyan menghentikan langkahnya dan menatap Aurora.
"Ada apa? Kenapa kamu menatap aku seperti itu?"tanya Aurora nampak bingung.
"Kamu tidak berbohong padaku,'kan, kalau kamu sedang datang bulan?"tanya Rayyan terlihat curiga.
"Untuk apa aku berbohong padamu, Ray?"
"Tadi pagi kamu bilang besok baru selesai datang bulan. Sedangkan kemarin kamu baru saja mendonorkan darah kamu pada Aiden. Jika besok kamu sudah selesai datang bulan, berarti kamu cuma datang bulan selama tiga hari, dong? Bukannya biasanya kamu datang bulan selama satu minggu, ya?"tanya Rayyan curiga.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?"
"Karena kamu kemarin mendonorkan darah kamu. Memangnya wanita yang sedang datang bulan boleh mendonorkan darahnya?"
"Ray, donor darah saat datang bulan itu boleh saja, kok. Melakukan donor darah saat datang bulan memang akan membuat jumlah darah yang harus dikeluarkan oleh tubuh semakin banyak. Dan akibatnya tubuh menjadi lemas. Namun, asalkan melakukannya pada hari ketiga atau saat darah menstruasi sudah tidak keluar banyak, donor darah bagi wanita yang sedang datang bulan itu aman-aman saja, kok. Itu yang aku tahu dari petugas medis saat aku mendonorkan darahku kemarin,"jelas Aurora.
"Berarti, saat kamu donor darah kemarin, kamu sedang datang bulan hari ke enam?"
"Hum,"sahut Aurora.
"Jadi.. Besok sudah bisa, 'kan?"tanya Rayyan yang tiba-tiba memeluk Aurora.
"Ray! Lepaskan! Ini di rumah sakit. Nanti ada yang melihat,"ujar Aurora mencoba melepaskan diri dari pelukan Rayyan. Menatap ke sekelilingnya, takut ada yang melihat kelakuan suaminya.
...π"Begitulah hidup. Terasa indah kala bahagia menyapa. Dan terasa pahit kala badai menerpa,"...
..."Dan begitulah cinta. Datangnya tak disangka-sangka, namun hilangnya sulit terasa,"π...
...πΈβ€οΈπΈ...
__ADS_1
.
To be continued