Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
83. Untung Saja


__ADS_3

"Ide yang bagus!"sahut Rayyan membuat semua orang menatap Rayyan,"Jika mama memang benar-benar ingin Natalie menjadi menantu mama, kenapa tidak mama nikahkan dengan kak Hendrik saja? Bukankah mereka sama-sama masih singel? Aku akan memberikan salah satu villa pribadi ku jika mereka menikah. Dan mama bebas bertemu dengan calon menantu mama ini kapan saja mama mau,"ujar Rayyan tersenyum miring.


Mendengar kata-kata Rayyan, Naima pun menatap ke arah Natalie dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Aku tidak mau menikah dengan Hendrik! Aku tidak mencintai Hendrik,"sahut Natalie cepat.


"Lalu, apa kamu pikir aku mencintaimu dan mau menikah dengan kamu?"tanya Rayyan dengan tatapan sinis.


"Aku hanya mencintai kamu Ray!"ucap Natalie cepat.!"sama sekali tidak malu mengatakan mencintai Rayyan di depan istri Rayyan.


"𝘾𝙞𝙝, 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙩𝙖𝙝𝙪 𝙢𝙖𝙡𝙪,"cibir Aurora dalam hati, menatap Natalie dengan tatapan jijik.


"Lalu, kamu ingin mengejar-ngejar aku yang sudah menikah ini? Ingin jadi pelakor? Apa kamu tidak punya harga diri? Tidak punya rasa malu lagi? Atau kamu tidak laku lagi?"tanya Rayyan dengan tatapan merendahkan.


Natalie mengepalkan kedua tangannya menahan amarah. Mendengar kata-kata Rayyan yang sangat menusuk di hati.


"Ray! Jaga bicaramu!"sergah Naima yang merasa kata-kata Rayyan begitu menusuk di hati.


"Kenapa? Bukankah yang aku katakan benar? Seorang wanita yang mengejar-ngejar pria yang sudah bersuami namanya adalah pelakor. Tidak punya harga diri, tidak tau malu dan tidak laku lagi. Jika masih punya harga diri, masih punya rasa malu, dan masih laku, maka dia tidak akan mengejar-ngejar pria yang sudah beristri,"ucap Rayyan yang semakin menusuk di hati.


Aurora dan Andi tersenyum miris menatap Natalie. Sedangkan Naima semakin geram pada Rayyan.


Tanpa berkata apapun lagi, Natalie langsung membalikan tubuhnya dan pergi dari tempat itu. Menahan rasa kesal dan amarah karena sudah di hina Rayyan habis-habisan.


"Nad!"panggil Naima, tapi tidak digubris oleh Natalie. Naima kemudian menatap Rayyan dengan wajah yang terlihat kesal,"Ray! Kau sudah keterlaluan!"sergah Naima.


"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menceraikan Aurora demi dia. Jika mama tidak berhenti mencari cara untuk menyingkirkan Aurora dari sisiku dan mencari cara untuk menikahkan aku dengan Natalie, aku akan benar-benar meninggalkan rumah ini. Apa mama pikir aku tidak tahu? Beberapa bulan yang lalu, mama menyusun rencana untuk menjebak aku. Mama menyuruh seorang pelayan untuk memberikan minuman yang sudah mama beri obat perangsang dosis tinggi agar aku meniduri Natalie. Dan kemarin, mama ingin menyeret Aurora keluar dari rumah ini saat aku tidak ada di rumah. Dan semua itu mama rencanakan dengan Natalie. Jika mama tidak berhenti sampai di sini untuk memisahkan aku dengan Aurora dan bersikeras menikahkan aku dengan Natalie, maka aku tidak akan segan-segan membuat perusahaan papa Natalie hancur,"ancam Rayyan penuh penekanan.

__ADS_1


Naima diam terpaku, mengepalkan kedua tangannya mendengar kata-kata Rayyan. Sedangkan Rayyan berlalu dari tempat itu bersama Aurora, diikuti oleh Andi yang bergegas menuju mobil yang baru saja keluar dari garasi lalu membuka pintu mobil untuk majikannya.


Tadinya Rayyan tidak berniat makan malam di luar, hingga mobilnya di masukkan ke garasi. Namun saat masuk kamar, Rayyan mendengar Aurora sedang meminta makan malam pada Mastuti. Akhirnya Rayyan berinisiatif untuk mengajak Aurora makan malam di luar.


"Kamu ingin makan malam di mana?"tanya Rayyan setelah mereka berada di dalam mobil.


"Terserah kamu,"sahut Aurora menatap Rayyan sekilas.


"𝘼𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙙𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙠𝙖𝙞 𝙥𝙖𝙠𝙖𝙞𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙨𝙪𝙖𝙡 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙞𝙣𝙞. 𝘿𝙞𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙩𝙖𝙢𝙥𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙗𝙞𝙖𝙨𝙖𝙣𝙮𝙖,"gumam Aurora dalam hati.


Sesekali Aurora melirik Rayyan yang duduk tenang menatap layar handphonenya seraya menggenggam tangan Aurora di atas pahanya. Memang baru kali ini Aurora melihat Rayyan memakai pakaian kasual.


Selama menikah dengan Rayyan, baru kali ini pula Aurora bepergian bersama Rayyan. Bahkan mereka hanya pernah makan bersama beberapa kali saja semenjak mereka menikah.


"Ingin makan apa?"tanya Rayyan.


Tidak mendengar jawaban Aurora, Rayyan yang dari tadi fokus pada layar handphonenya pun menoleh ke arah Aurora yang nampak sedang berpikir. Pria itu menelan salivanya susah payah saat melihat bibir Aurora yang seakan memanggil nya untuk menciumnya.


"Ingin makan apa?"tanya Rayyan lagi dengan mata yang fokus pada bibir Aurora.


"𝙎𝙝𝙞𝙞𝙩𝙩! 𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙗𝙞𝙗𝙞𝙧𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙚𝙜𝙞𝙩𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙜𝙤𝙙𝙖?"umpat Rayyan dalam hati.


"Apa sa.. emp..."


Aurora tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya saat Rayyan tiba-tiba mencium bibirnya dengan serakah. Entah mengapa, Rayyan benar-benar tidak tahan melihat bibir Aurora itu. Rayyan menegang tengkuk Aurora dan memeluk pinggang Aurora, menikmati bibir Aurora seperti orang yang kehausan di padang pasir.


"Astagaaa.."gumam Andi yang tanpa sengaja melihat Rayyan mencium Aurora saat menatap kaca dasbor mobil. Andi bergegas menekan tombol untuk menyekat bagian depan mobil dengan bagian belakang mobil yang merupakan kursi penumpang tempat Rayyan dan Aurora berada.

__ADS_1


"Tuan benar-benar ganas. Apa mereka akan main kuda-kudaan di dalam mobil?"gumam Andi lirih, mengingat betapa agresif nya Rayyan mencium Aurora. Andi menghela napas panjang seraya menggelengkan kepalanya pelan. Sedangkan sang supir hanya tersenyum tipis.


Aurora mencengkram t-shirt yang dipakai Rayyan. Membiarkan Rayyan melummat, menyesap, bahkan mengeksplor mulutnya. Karena melawan pun percuma. Tenaga Rayyan lebih besar dari pada tenaganya.


Rayyan melepaskan pagutannya saat Aurora nampak kesulitannya bernapas. Menatap Aurora yang masih mengatur napasnya itu dengan tatapan penuh hasrat.


"Ray! Hentikan! Apa yang ingin kamu lakukan?"tanya Aurora menekan suaranya. Aurora menahan dada Rayyan yang akan mendekat padanya. Pria itu sudah menunduk seraya memiringkan kepalanya ingin kembali mencium bibirnya. Sedangkan tangan Aurora menahan tangan Rayyan yang hendak masuk ke dalam dress nya.


"Aku ingin,"ucap Rayyan dengan suara berat dan tatapan penuh hasrat.


"Jangan macam-macam, Ray! Kita ini di dalam mobil, Ray!"ucap Aurora mengingatkan Rayyan. Aurora benar-benar tidak mengerti dengan suaminya ini. Setiap bersama dengan dirinya, Rayyan selalu saja ingin melakukan hubungan suami-istri.


"𝘿𝙞𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙠𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖, 𝙨𝙞𝙝? 𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙨𝙚𝙩𝙞𝙖𝙥 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙝𝙖𝙧𝙞𝙢𝙖𝙪 𝙠𝙚𝙡𝙖𝙥𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙧𝙪𝙨𝙖,"gumam Aurora dalam hati.


Rayyan membuang napas kasar. Menarik tangannya dari Aurora, lalu memalingkan wajahnya dari Aurora. Dirinya mencoba untuk menurunkan hasratnya agar tidak menerkam Aurora di dalam mobil ini.


"𝙎𝙝𝙞𝙞𝙩𝙩! 𝘼𝙥𝙖 𝙨𝙚𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙠𝙪? 𝙃𝙖𝙨𝙧𝙖𝙩 𝙠𝙪 𝙢𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙡𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙥𝙖𝙣𝙘𝙞𝙣𝙜 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙙𝙞𝙖. 𝘼𝙠𝙪 𝙗𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣𝙙𝙖𝙡𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙧𝙞𝙠𝙪,"umpat Rayyan dalam hati.


Rayyan menghela napas berkali-kali, menenangkan dirinya sendiri. Pria itu menyandarkan tubuhnya di kursi seraya memejamkan matanya dan mengatur napasnya. Sebelah tangannya memijit batang hidungnya sendiri.


Aurora menghela napas panjang melihat tingkah Rayyan itu. Tidak habis pikir dengan apa yang akan dilakukan Rayyan tadi.


"𝙐𝙣𝙩𝙪𝙣𝙜 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞 𝙗𝙪𝙟𝙪𝙠. 𝙅𝙞𝙠𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠, 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙣, 𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙙𝙪𝙧𝙞 𝙖𝙠𝙪 𝙙𝙞 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙢𝙤𝙗𝙞𝙡 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙟𝙪 𝙞𝙣𝙞,"gumam Aurora dalam hati. Aurora berharap Rayyan bisa mengendalikan diri untuk tidak meminta dirinya melayani Rayyan di dalam mobil ini.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2