
Seperti biasanya, Roni dan Andi duduk di tempat yang tidak terlalu jauh dari tempat majikan mereka duduk. Menjaga dan mengawasi majikan mereka dari segala gangguan.
"Ke.. Ke.. kenapa Tu.. Tuan kamu?"tanya Roni yang melihat wajah Rayyan nampak kusut.
"Sepertinya berantem sama Nyonya,"sahut Andi menghela napas berat seraya membuka kaleng softdrink di tangannya.
"Tu..Tu.. "
"Plak"
"Tuan kamu mukanya datar seperti tembok dingin seperti es balok mana betah istri nya hidup bersamanya,"ucap Roni cepat tanpa titik, tanpa koma setelah lengannya di tepuk Andi.
"Hais.. dari sono nya sudah begitu, mau gimanalagi? Bukankah setiap orang punya kekurangan dan kelebihan? Jika nyonya memang tulus mencintai Tuan, nyonya akan menerima Tuan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kalau ingin mencari pasangan yang sempurna, sampai masuk liang lahat dan menjadi tanah pun tidak akan ketemu,"ujar Andi menghela napas panjang kemudian meminum softdrink di tangannya.
"Ka.. Ka.. kalau..."
"Plak"
"Kalau sudah masuk liang lahat berarti mati mana ada orang mati ketemu jodoh yang ada ketemu malaikat maut dan cacing tanah,"ucap Roni bak rel kereta api setelah lengannya di tepuk Andi.
"Terserah kamu! Intinya, tidak akan pernah ada manusia yang sempurna, termasuk kita! Lihat dirimu! Kamu memang pintar, tapi kamu gagap. Aku juga pintar, tapi mulutku suka ceplas-ceplos, tidak bisa di rem. Dan karena mulutku yang ceplas-ceplos ini, aku sering membuat Tuan marah, lalu di hukum, di suruh lembur tanpa di gaji,"ujar Andi membuang napas kasar.
"I.. i.. itu.. pen.. pen.. penderitaan kamu!"sahut Roni, kemudian membuka kaleng softdrink miliknya yang dari tadi belum di minumnya.
"Sialan! Teman nggak ada akhlak!"gerutu Andi. Namun Roni malah tertawa dengan suara gagapnya.
Sudah sering Andi disuruh lembur tanpa di gaji. Dan penyebab utamanya adalah mulutnya yang suka ceplas-ceplos. Namun semenjak Rayyan menikah dengan Aurora, Rayyan jarang menghukum dirinya. Sepertinya, setelah mendapatkan jatah, amarah majikannya itu hilang. Jadi semenjak Rayyan menikah, Andi jarang di hukum oleh Rayyan.
Dan malam ini, jika majikanya tidak mendapatkan jatah. Maka, alamat mendapatkan hukuman lembur tanpa di gaji karena kejadian tadi sore adalah 99,99%. Kejadian tadi sore adalah karena kelalaiannya, hingga nyonyanya di aniaya oleh Naima.
"Walaupun wajahnya datar, kaku, pemarah dan sedikit kasar. Tapi, Tuan sebenarnya orang yang baik. Dia tidak sombong dan tidak pernah menilai orang dari status sosial. Sama seperti Tuan Aiden. Hanya mereka berdua yang mau membiayai kuliah dan memperkerjakan orang yang tidak di kenal. Mereka hanya mengutamakan kepribadian dan kecerdasan seseorang tanpa memandang status dan latar belakang seseorang. Asal punya kepribadian baik dan cerdas, maka mereka akan menghormatinya. Bahkan mereka menjadi donatur tetap untuk beberapa panti asuhan. Coba kamu pikirkan! Siapa yang mau menerima orang seperti kita ini bekerja? Apalagi menempatkan kita di posisi dan gaji yang tinggi seperti saat ini. Selain mereka berdua, tidak ada, 'kan? Saat SMA, aku sudah beberapa kali bekerja paruh waktu di beberapa tempat. Dan aku selalu berakhir di pecat, karena mulutku yang suka ceplas-ceplos ini selalu membuat atasanku marah. Dan kamu yang gagap, mana ada yang mau memperkerjakan orang gagap?"ujar Andi.
"I.. i.. iya. Ka..Ka.. kamu benar,"sahut Roni, menghela napas menatap Aiden dan Rayyan.
Tidak lama kemudian, Aiden membalikkan tubuhnya menatap Andi. Pria itu melambaikan tangannya pada Andi.
__ADS_1
"Tu.. tu.. Tuan kamu.. te.. te.. tepar,"ujar Roni.
"Aku akan membawa Tuan pulang,"sahut Andi menghela napas panjang. Andi pun bergegas menghampiri Aiden dan Rayyan.
"Bawa majikan kamu pulang! Dia sudah mabuk berat,"ujar Aiden. Pria itu menghela napas panjang melihat Rayyan yang kepalanya sudah terkulai di atas meja bartender.
"Baik, Tuan,"sahut Andi bergegas memapah Rayyan,"Ayo kita pulang, Tuan!"ujar Andi.
"Aku.. aku masih... mau minum,"sahut Rayyan yang masih ingin menggapai botol minuman keras.
"Tuan sudah mabuk berat. Kita pulang saja! Siapa tahu, Tuan dapat jatah dari nyonya,"celetuk Andi yang ceplas-ceplos.
Aiden pun hanya tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh Andi.
"Dia.. dia.. tidak akan.. memberikan aku jatah. Dia.. dia sedang.. datang bulan,"sahut Rayyan dengan suara khas orang mabuk dan jalannya pun sempoyongan.
"Aihh.. nasib kalau begini. Bagaimana caranya agar tidak kena hukum?"gerutu Andi.
"A.. aku .. akan menghukumnya.. setelah dia.. selesai datang bulan. Akan.. aku buat.. dia ... mengandung anakku.. agar.. agar dia tidak bisa.. meninggalkan aku.."ujar Rayyan.
Dengan susah payah, Andi membawa Rayyan masuk ke dalam mobil. Rayyan bahkan sempat muntah-muntah setelah keluar dari klub malam tadi. Andi segera melajukan mobilnya lumayan cepat, karena lalu lintas sudah lumayan sepi. Setelah sampai di rumah, Andi memapah Rayyan ke lantai dua dengan susah payah, karena harus menaiki tangga dan menahan berat badan Rayyan. Dengan perjuangan keras, akhir Andi berhasil sampai di depan pintu kamar Rayyan.
"Tok! Tok! Tok!"
Andi mengetuk pintu kamar Rayyan beberapa kali hingga akhirnya pintu itu terbuka. Menampilkan Aurora dengan mata yang terlihat masih mengantuk.
"Nyonya, Tuan mabuk,"ucap Andi.
Aurora menghela napas menatap Rayyan yang dipapah Andi,"Tolong bawa masuk!"pinta Aurora.
"Baik, nyonya,"sahut Andi memapah Rayyan masuk ke dalam kamar, lalu membaringkan Rayyan serta melepaskan sepatu Rayyan.
"Tolong, nyonya seka tubuh, Tuan,"pinta Andi.
"Hum,"sahut Aurora, kemudian menghela napas panjang.
__ADS_1
"Nyonya, maaf jika saya bicara lancang. Tapi saya ingin nyonya tahu yang seharusnya nyonya ketahui. Tuan, memang kaku, sedikit kasar, pemarah dan tidak peka pada wanita. Tapi, Tuan adalah orang yang baik. Tuan adalah orang yang keras seperti batu, maka nyonya harus lembut seperti air yang bisa melubangi batu dengan tetesannya,"
"Mungkin nyonya kecewa dengan sikap Tuan selama ini. Tapi ada satu hal yang harus saya ingatkan pada Nyonya. Seburuk apapun Tuan, Tuan tetaplah suami Nyonya. Saya tahu, Tuan mungkin memiliki banyak kekurangan di mata nyonya. Tapi, bukankah tidak ada manusia yang sempurna? Karena yang sempurna hanyalah sang pencipta alam semesta dan segala isinya. Terimalah Tuan apa adanya! Seperti Tuan yang menerima Nyonya tanpa mempermasalahkan masa lalu Nyonya,"
"Cobalah untuk bersikap lembut pada Tuan! Dan berikan perhatian, mungkin dengan begitu, Tuan akan sedikit berubah.Jika Tuan keras, Nyonya harus lembut. Dan jika Tuan menjadi api, maka Nyonya harus menjadi air. Jika sama-sama keras dan sama-sama menjadi api, maka Tuan dan nyonya akan sama-sama hancur,"
"Maaf jika saya lancang. Tapi tolong, pikirkan lagi kata-kata saya. Tetaplah berada di sisi, Tuan. Anggap saja, saja sebagai balas Budi karena Tuan sudah menyelamatkan nyonya dari empat orang pria waktu itu dan juga karena telah menyelamatkan Nyonya dari Mami beberapa hari yang lalu. Saya permisi,"ujar Adi panjang lebar, kemudian meninggalkan kamar itu dan menutup pintunya.
Aurora menghela napas panjang. Sudah dua kali ini Andi memberi saran pada dirinya agar bersikap lembut pada Rayyan. Namun entah mengapa Aurora melupakannya. Mendengar kata-kata Andi tadi, Aurora benar-benar merasa tertohok.
Selama ini dirinya merasa tidak puas dengan sikap Rayyan yang kasar, pemarah, tidak peka, tidak pengertian dan tidak perhatian. Nyatanya, dirinya sebagai istri pun tidak pernah memberikan perhatian pada Rayyan. Dan juga selalu bersikap ketus pada Rayyan. Tapi dengan tidak tahu malunya, Aurora menuntut perhatian dari Rayyan.
Bahkan selama ini, selain melayani Rayyan di atas ranjang, tidak ada yang dilakukan Aurora untuk Rayyan. Betapa egoisnya dirinya. Dan benar kata Andi, bagaimana pun, Rayyan adalah suaminya dan sudah dua kali menyelamatkan dirinya. Tapi belum pernah sekalipun Aurora melakukan sesuatu yang berarti bagi Rayyan sebagai ucapan terimakasih nya.
Aurora menghampiri Rayyan, kemudian melepaskan pakaian Rayyan yang bau minuman keras, bahkan terkena sedikit muntahan. Aurora hanya menyisakan celana boxer di tubuh Rayyan, kemudian menyeka wajah dan tubuh Rayyan dengan air hangat.
"Andi benar, tidak ada manusia yang sempurna. Seperti kamu, aku pun tidak sempurna. Lalu kenapa aku menuntut kamu menjadi sempurna seperti yang aku inginkan? Aku benar-benar egois,"gumam Aurora menyadari kekeliruannya.
"Aurora! Jangan pergi!"gumam Rayyan dengan mata terpejam.
"Maaf!"ucap Aurora, tanpa terasa butiran bening menetes dan kelopak matanya.
Setelah membersihkan tubuh Rayyan, Aurora berbaring di samping Rayyan. Menyelimuti tubuh mereka, lalu merebahkan kepalanya di dada bidang Rayyan.
...🌸❤️🌸...
Notebook :
•Donatur adalah orang yang secara tetap memberikan sumbangan berupa uang kepada suatu perkumpulan, penyumbang tetap, penderma tetap.
•Jangan lupa sajen buat author, ya! Nggak perlu cari kemenyan dan bunga tujuh rupa. Cukup tempelin jempol buat like dan tinggalkan jejak di kolom komentar. GRATIS!
.
To be continued
__ADS_1