Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
334. Orang Suruhan


__ADS_3

Neil menemani Lana berbelanja. Mereka pergi ke sebuah mall yang merupakan mall terbesar di kota itu. Lana bermaksud mencari toko yang menjual pakaian dengan harga terjangkau, karena merasa tidak enak hati pada Neil jika membeli pakaian yang harganya mahal.


"Lan, di sini saja. Di toko ini koleksinya lengkap, loh. Pakaian apapun ada di toko ini,"ujar Neil memegang tangan Lana, hingga Lana terpaksa menghentikan langkah kakinya.


Dari tadi Neil mengikuti Lana mencari toko pakaian. Namun, Lana tak kunjung masuk ke salah satu toko pun yang mereka lewati.


"Kita cari toko yang lain saja, Neil,"sahut Lana saat melihat pakaian yang di jual di toko itu adalah pakaian branded yang lebih mahal dari toko-toko sebelum.


"Kenapa? Kamu takut akan menghabiskan uangku?"tanya Neil yang sedikit banyak sudah mengetahui kepribadian Lana selama tinggal di rumah Lana dulu,"Kamu tidak perlu sungkan padaku. Sebentar lagi kita akan menikah, apa yang menjadi milikku adalah milik kamu juga,"lanjut Neil.


"Tapi, bukankah lebih baik jika kita lebih hemat?"tanya Lana tersenyum lembut.


Neil memegang jemari tangan Lana lembut dengan senyuman di bibirnya. Inilah perbedaan antara Dila dan Lana. Jika Lana lebih memilih berhemat, Dila malah sebaliknya, wanita itu sangat boros. Lana bisa menerima dan menghargai apa saja yang di berikan oleh Neil, tapi Dila selalu merasa tidak cukup dengan apa yang Neil berikan. Bahkan Dila terkesan tidak menghargai pemberian Neil. Lana gadis yang lembut dan pengertian, sedangkan Dila adalah wanita yang keras kepala dan tidak mau mengerti keadaan orang lain. Hanya mementingkan dan mencintai dirinya sendiri, alias egois.


Walaupun wajah Lana dan Dila lumayan mirip, namun perbedaan sifat antara Lana dan Dila bagaimana kutub Utara dan kutub selatan, sangat jauh berbeda. Berbeda seratus delapan puluh derajat, dan bisa di bilang berbanding terbalik. Bagai langit dan bumi, sungguh jauh berbeda.


"Izinkan aku membahagiakan kamu. Karena melihat kamu bahagia juga akan membuat aku merasa bahagia,"ujar Neil dengan senyuman di bibirnya, menarik lembut tangan Lana masuk ke dalam toko itu.


Mendengar apa yang dikatakan Neil, Lana pun menurut. Lagi-lagi sikap Lana ini sangat berbeda sekali dengan Dila yang lebih sering membangkang. Kalaupun menurut, itupun terpaksa karena di ancam oleh Neil.


Di dalam toko itu, akhirnya Neil lah yang memilihkan baju untuk Lana. Sedangkan Lana nampak enggan untuk memilih, karena harga pakaian yang di jual di toko itu benar-benar mahal menurut Lana.


"Neil, sudah cukup. Ini sudah terlalu banyak,"ucap Lana yang merasa baju yang di belikan Neil sudah terlalu banyak.


"Tidak apa. Mungkin aku tidak bisa selalu menemani kamu berbelanja. Biarkan kali ini aku membelikan pakaian yang aku suka untuk kamu. Dan kamu jangan sungkan untuk memilih,"ujar Neil tersenyum lembut.


"Baiklah,"sahut Lana tersenyum tipis, namun gadis itu tidak punya niat sama sekali untuk memilih baju untuk di beli. Gadis itu tetap membiarkan Neil memilihkan baju untuk nya.


"Jika Dila yang aku ajak ke sini, dia tidak akan puas jika hanya berbelanja sedikit. Bahkan saat aku mengatakan sudah cukup, Dila masih merayuku untuk membelikan lebih banyak lagi. Wajah mereka memang mirip, tapi perilaku dan sifat mereka jauh berbeda, alias bertolak belakang. Aku sangat beruntung bisa bertemu dengan Lana lagi. Bahkan akan menikah dengan dia. Aku sungguh tidak menyangka punya kesempatan untuk bersanding dengan Lana. Aku berjanji akan berusaha untuk membahagiakan Lana semampuku, seumur hidup ku,"gumam Neil dalam hati tulus.


Setelah selesai berbelanja, Neil mengajak Lana makan siang. Kali ini Neil yang membawa Lana ke sebuah restoran. Karena jika Lana yang di suruh memilih, Lana akan mencari tempat makan yang murah.


Tidak jauh dari Neil dan Lana, dua pasang mata nampak mengamati Lana dan Neil sejak keduanya keluar dari toko pakaian tadi.

__ADS_1


"Di mana kita akan menyergap gadis itu?"ucap seorang pria berambut pirang.


"Sebaiknya di parkiran restoran ini saja,"sahut pria yang memakai anting di telinganya.


"Tuan pasti akan senang jika kita berhasil membawa gadis itu pulang,"sahut si pirang dengan mata yang terus mengawasi Lana.


"Itu sudah pasti. Lalu, akan kita apakan pria yang bersama dengan gadis itu?"sahut si pria beranting menatap Neil.


"Suruh meninggalkan gadis itu. Kalau tidak mau, kita hajar atau sekalian kita habisi saja,"sahut si pirang yang beralih menatap Neil.


"Semoga saja pria itu nanti tidak merepotkan kita,"ujar si pria beranting yang dari postur tubuh Neil bisa menduga jika Neil pasti memiliki ilmu beladiri.


"Apa kamu sudah dengar? Semalam kelompok mafia yang di ajak kerja sama oleh tuan di serang oleh kelompok mafia Tengkorakk,"


"Iya. Aku dengar markas mereka porak-poranda. Hampir semua anak buah mafia itu terbunuh. Sebenarnya, pemimpin mafia Tengkorakk itu masih hidup apa enggak, sih? Berita kematiannya sampai sekarang masih simpang siur,"


"Aku juga tidak tahu. Jarang orang yang melihat wajah pimpinan mafia itu. Jadi, walaupun kita bertemu dengan dia pun, kita tidak akan mengenalinya,"


"Kamu benar. Aku dengar, dia sangat sadis dalam menyiksa musuh-musuhnya. Kalau dia sudah meninggal, berarti yang menggantikan dia adalah orang kepercayaannya yang bernam Troy itu,"


"Iya. Tapi yang pasti, sekarang kita tidak punya pelindung dari para mafia itu seperti sebelumnya. Kita harus mengandalkan diri kita sendiri,"


"Kamu benar. Ayo, kita ikuti gadis itu. Mereka sudah keluar dari restoran itu,"


Dua orang pria yang tidak lain adalah anak buah ayah sambung Lana itu nampak tersenyum senang, karena telah menemukan Lana. Tidak menyadari jika yang bersama Lana adalah seorang pimpinan mafia yang baru saja mereka bicarakan. Karena memang tidak banyak yang mengenal wajah Neil. Pimpinan mafia yang terkenal sadis dan hanya bertindak pada orang-orang jahat.


Entah bagaimana nasib kedua orang itu nanti jika sudah berhadapan dengan Neil. Apalagi yang mereka incar adalah gadis yang sangat di cintai oleh Neil.


Kedua orang itu terus mengikuti Neil dan Lana. Sedangkan Lana, gadis yang sebelumnya takut di tangkap oleh ayah sambungnya dan para mafia yang bekerja sama dengan ayah sambungnya itu merasa aman saat keluar bersama Neil.


Kedua orang suruhan ayah sambung Lana itu akhirnya memutuskan untuk menghadang Lana saat Lana dan Neil sudah tiba di tempat parkiran yang sepi.


"Sebaiknya kamu ikut bersama kami dengan suka rela!"ucap pria berambut pirang dengan tampang sangarnya.

__ADS_1


Lana yang terkejut karena tiba-tiba di hadang itu pun reflek bersembunyi di balik punggung Neil.


Neil tersenyum miring melihat dua orang di depannya itu. Neil adalah seorang mafia, dan tentu saja pria itu sudah tahu dari tadi, jika dirinya dan Lana di ikuti orang. Neil haya memberi isyarat pada anak buahnya yang berada di sekitar tempat itu agar tidak bertindak. Membiarkan kedua orang itu mengikuti dirinya dan Lana. Jadi, Neil sama sekali tidak terkejut saat dua orang itu menghadang dirinya dan Lana.


"Aku tidak suka mengusik orang lain yang tidak berbuat salah. Tapi, jika aku sudah di usik, aku tidak akan tanggung-tanggung untuk menghabisi nya,"ucap Neil penuh senyuman. Tapi, entah mengapa dua orang suruhan ayah sambung Lana itu malah merinding melihat senyuman itu. Senyuman dengan aura membunuh yang sangat pekat.


"Kami hanya berurusan dengan gadis itu. Sebaiknya kamu pergi, jika tidak, jangan salahkan kami jika kami menghabisi kamu!"ancam pria beranting yang sebenarnya nyalinya menciut melihat aura yang di pancarkan oleh Neil.


"Dia adalah calon istri ku. Jika kalian mengusiknya, maka kalian harus berurusan dengan ku,"jawab Neil tersenyum dengan suara tenang, tapi terdengar dingin dan menakutkan.


"Cari mati!"ucap si pirang bersiap menyerang Neil.


"Lan, menyingkir lah sebentar! Aku akan mengatasi lalat-lalat pengganggu ini,"ucap Neil mengusap lengan Lana lembut.


"Iya. Hati-hati!"ucap Lana segera menjauh dari tiga orang pria itu.


Dua orang suruhan ayah sambung Lana itu pun segera menyerang Neil. Namun dengan mudah Neil menepis serangan ke dua orang itu. Bagaimana pun dan dari arah manapun ke dua orang pria itu menyerang Neil, tetap saja serangan mereka dengan mudah di atasi oleh Neil yang bahkan terlihat sangat santai. Tak pelak, dua orang pria itu babak belur di hajar oleh Neil.


"Neil.! Dia mengeluarkan pistol!"teriak Lana saat salah satu dari kedua orang pria itu diam-diam mengeluarkan pistol dari balik bajunya.


"Carilah tempat berlindung Lana!"ucap Neil yang tidak ingin Lana terluka.


"Dor"


"Neil.!"


Suara letupan senjata api terdengar membuat Lana sangat terkejut dan berteriak memanggil Neil dengan wajah ketakutan.


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2