Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
65. Enam Bulan Ke Depan?


__ADS_3

"Jadi, selama ini kamu terpaksa melayani aku? Setiap malam kamu mendesah dan melenguh di bawah kungkungan ku, apa kamu tidak menikmatinya?"tanya Rayyan menatap Aurora yang masih duduk di sampingnya.


"Jangan mengalihkan pembicaraan! Dasar plin-plan! Kemarin malam kamu langsung menyetujui persyaratan dari ku. Kenapa sekarang banyak alasan? Apa kamu menyetujuinya hanya karena kemarin malam sangat ingin bercinta dengan ku? Inilah yang membuat aku enggan melanjutkan pernikahan ini. Kamu hanya menganggap aku sebagai pemuas kebutuhan biologis kamu saja!"ketus Aurora merasa kesal, sangat kesal.


Rayyan mengusap wajahnya kasar, kemudian membuang napas kasar. Pria itu mengambil ponselnya, lalu menghubungi Andi.


"Bawa surat perjanjian yang aku minta tadi pagi! Cepat!"titah Rayyan dengan suara yang terdengar kesal.


"Baik, Tuan,"sahut Andi, tapi ternyata Rayyan sudah memutuskan sambungan telepon,"Ada apa dengan Tuan? Kenapa suaranya terdengar kesal?"gumam Andi seraya mengambil surat perjanjian yang sudah di buatnya dari tadi pagi, lengkap dengan materai yang sudah tertempel di surat perjanjian itu. Andi bergegas menuju kamar Rayyan untuk memberikan surat perjanjian itu, Tidak ingin Tuan nya menunggu lama lalu marah kepadanya.


Rayyan memakai baju tidur kimono, tidak ingin tubuhnya yang hanya memakai celana boxer itu dilihat siapapun, kecuali Aurora. Sedangkan Aurora masih duduk di tepi ranjang dengan wajah yang ditekuk. Masih merasa kesal pada Rayyan.


"Tok! Tok! Tok!"


"Ceklek"


Rayyan membuka sedikit pintu kamarnya. Menatap Andi yang ada di depan pintu.


"Ini, Tuan,"ucap Andi seraya menyodorkan map pada Rayyan.


Rayyan menerima map dari Andi kemudian kembali menutup pintu kamarnya. Andi pun meninggalkan kamar Rayyan dan kembali ke kamarnya.


"Semoga saja Tuan tidak marah karena aku sudah menambahkan beberapa poin di dalam surat perjanjian itu,"gumam Andi seraya terus berjalan menuju kamarnya.


"Ini! Baca dan tanda tangani!"ucap Rayyan menyodorkan map yang dipegangnya pada Aurora.


Aurora membaca dengan teliti apa saja yang ada di dalam surat perjanjian itu. Aurora mencerna setiap kata dan poin yang ada di surat perjanjian itu. Perempuan muda itu mengernyitkan keningnya, saat membaca poin terakhir yang dibuat oleh Andi.


"π™‹π™€π™žπ™£ π™©π™šπ™§π™–π™ π™π™žπ™§ π™žπ™£π™ž... 𝙖𝙝, π™žπ™©π™ͺ π™©π™žπ™™π™–π™  𝙒π™ͺπ™£π™œπ™ π™žπ™£ π™©π™šπ™§π™Ÿπ™–π™™π™ž. π™ˆπ™–π™£π™– 𝙒π™ͺπ™£π™œπ™ π™žπ™£ 𝙖𝙠π™ͺ π™’π™šπ™£π™˜π™šπ™§π™–π™žπ™ π™–π™£ π™™π™žπ™–, π™Ÿπ™žπ™ π™– π™™π™žπ™– π™©π™žπ™™π™–π™  π™’π™šπ™‘π™–π™ π™ͺ𝙠𝙖𝙣 π™ π™šπ™¨π™–π™‘π™–π™π™–π™£,"gumam Aurora dalam hati.


Aurora akhirnya menandatangani surat perjanjian itu, lalu menyodorkannya pada Rayyan.


"Tanda tangan!"pinta Aurora seraya menyodorkan pena dan map yang berisi surat perjanjian.


Tanpa membaca lagi surat perjanjian yang di buat oleh Andi, Rayyan menandatangani surat perjanjian yang sudah di tempel materai itu. Setelah Rayyan menandatanganinya, Aurora langsung mengambil satu surat perjanjian yang dibuat rangkap dua itu. Satu untuk Rayyan, dan satu untuk Aurora. Aurora segera menyimpan surat perjanjian miliknya begitu pula dengan Rayyan.

__ADS_1


"Sudah puas?"tanya Rayyan setelah mereka menyimpan surat perjanjian itu.


"Hum,"sahut Aurora.


"Ray! Turunkan aku!"pekik Aurora saat Rayyan tiba-tiba menggendongnya menuju sofa yang di berikan oleh Andi.


"Seperti janjimu kemarin malam, kamu harus memuaskan aku!"ucap Rayyan seraya membaringkan tubuh Aurora di sofa tantra.


"Ray, aku..emp.."Aurora tidak biasa melanjutkan kata-katanya saat Rayyan langsung meraup bibirnya dengan agresif.


Aurora memukul-mukul dada Rayyan saat mulai kesulitan bernapas. Dengan serakah menghirup udara. Rayyan menatap Aurora penuh hasraat.


"Hentikan, Ray! Aku sedang datang bulan,"ucap Aurora menahan dada Rayyan saat Rayyan ingin menciumnya lagi.


"Kamu tidak berbohong mencari alasan agar tidak melayani aku, 'kan?"tanya Rayyan dengan tatapan curiga.


"Kamu bisa melihatnya sendiri jika kamu tidak percaya,"ucap Aurora kesal, karena Rayyan tidak mempercayainya.


"Ray! Apa yang kamu lakukan?"pekik Aurora saat tiba-tiba Rayyan menarik celana panjang yang digunakan nya.


"Puaskan aku!"pinta Rayyan mengungkung tubuh Aurora.


"Bagaimana aku melakukannya? Kamu lihat sendiri jika aku sedang datang bulan,"sahut Aurora menatap Rayyan kesal.


"Kamu memiliki lidah, mulut dan tangan,.'kan? Puaskan aku menggunakan itu!" titah Rayyan seraya membuka baju kimono yang dipakainya, melemparnya asal.


"A.. aku tidak bisa,"sahut Aurora seraya memalingkan wajahnya.


"Aku tidak akan membiarkan kamu tidur malam ini jika kamu tidak mau melakukannya!"ancam Rayyan seraya membuka baju bagian atas Aurora.


"Ray! Jangan! Apa yang kamu lakukan?"pekik Aurora mencoba mempertahankan pakaiannya agar tidak di lepaskan Rayyan. Namun tidak bisa menghentikan Rayyan untuk membuka bajunya.


"Aku sudah bilang, jangan pernah memakai pakaian dalam jika bersamaku! Atau aku akan membakar semua pakaian dalam kamu!"ucap Rayyan yang kesal saat melihat dua bukit kembar favoritnya tertutup kain yang berbentuk kacamata.


"Ray!"lagi-lagi Aurora memekik saat Rayyan merobek kain berbentuk kacamata itu, hingga dua bukit kembar favoritnya yang putih, mulus, dan montok terlihat. Pria itu langsung menenggelamkan wajahnya di dada Aurora, membuat tubuh Aurora menjadi gelisah.

__ADS_1


"Lakukan, Ra!"pinta Rayyan dengan suara berat menatap Aurora penuh hasraat. Menuntun tangan Aurora untuk menyentuh miliknya.


Aurora menelan salivanya kasar saat tangannya menyentuh sesuatu yang terasa berdenyut-denyut. Wajah Aurora memerah saat melihat apa yang sedang dipegangnya saat ini. Awalnya Aurora enggan untuk menyentuh benda itu. Tapi merasakan benda itu berdenyut-denyut membuat Aurora penasaran untuk memegang dan mengelusnya.


"Ughh..Ra.."Rayyan melenguh saat tangan Aurora memainkan miliknya, membuat Aurora semakin senang memainkan benda itu.


Aurora akhirnya bisa memuaskan Rayyan. Sesuatu yang seumur hidupnya baru dilakukan Aurora malam ini. Awalnya Aurora ragu dan malu melakukan apa yang diinginkan Rayyan, tapi lama-kelamaan Aurora merasa senang saat mendengar Rayyan meracau karena ulahnya. Hingga akhirnya Rayyan mendapatkan pelepasan tanpa menyatukan tubuh mereka.


Rayyan mengecup bibir Aurora beberapa kali, seolah tidak pernah puas mencium bibir Aurora. Rayyan mengangkat tubuh Aurora dari sofa, kemudian membaringkan tubuh Aurora di atas ranjang.


Rayyan berbaring di samping Aurora, menyelimuti tubuh mereka, kemudian merengkuh Aurora dalam pelukannya


Aurora hanya memakai celana panjang dengan tubuh bagian atas yang polos. Sedangkan Rayyan saat ini tidak mengenakan apapun selain selimut yang menutupi tubuhnya dan tubuh Aurora.


Baru kali ini Aurora merasakan bagaimana rasanya di peluk Rayyan. Karena selama ini, Aurora selalu tertidur setelah melayani Rayyan. Tanpa tahu jika Rayyan selalu tidur dengan memeluk tubuhnya.


"Bisakah kamu tidak pergi sebelum aku bangun,"tanya Aurora seraya menengadahkan kepalanya menatap Rayyan.


"Kenapa, hm?"tanya Rayyan memejamkan matanya seraya mengeratkan pelukannya pada Aurora.


"Aku merasa seperti kupu-kupu malam yang kamu tinggal pergi setelah puas kamu tiduri,"ucap Aurora terang-terangan mengungkapkan isi hatinya.


Setelah menandatangani surat perjanjian tadi, Aurora benar-benar yakin jika Rayyan memang serius ingin hidup bersama dengan dirinya. Karena itu, Aurora tidak ragu lagi mengungkapkan isi hatinya.


"Baiklah. Aku tidak akan pergi sebelum kamu bangun,"sahut Rayyan.


"Kapan kamu akan menemui kedua orang tua ku?"tanya Aurora kemudian menghela napas panjang.


"Aku belum punya waktu, Ra. Aku sangat sibuk. Mungkin, enam bulan ke depan baru bisa menemui kedua orang tuamu,"ucap Rayyan.


"Apa? Enam bulan ke depan? Apa kamu tidak serius denganku?"tanya Aurora dengan wajah yang terlihat kesal. Mendorong dada Rayyan yang sedang memeluknya.


...🌸❀️🌸...


To be continued

__ADS_1


__ADS_2