Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
58. Penting


__ADS_3

Rayyan sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dengan cepat, Rayyan menghubungi Andi melalui sambungan interkom.


"Kita pulang sekarang!"ucap Rayyan langsung beranjak dari tempat duduknya tanpa menunggu jawaban dari Andi.


Sesampainya di depan pintu utama perusahaan, Andi membukakan pintu mobil bagian penumpang untuk Rayyan. Kemudian ikut masuk ke dalam mobil dan bergegas melajukan mobilnya. Sepanjang perjalanan, Rayyan memejamkan matanya, hingga akhirnya mobil yang di kendarai Andi berhenti.


"Tuan, kita sudah sampai,"ucap Andi seraya membukakan pintu mobil tempat Rayyan duduk. Rayyan membuka matanya. Pria tampan itu mengernyitkan keningnya saat melihat di mana tempat mereka berada saat ini.


"Kenapa kamu membawa aku ke sini? Aku ingin pulang,"ucap Rayyan nampak tidak suka.


"Nyonya ada di hotel ini, Tuan,"ucap Andi.


"Istri ku ada di sini? Kenapa?"tanya Rayyan nampak curiga, merasa ada sesuatu yang janggal.


"Saya akan menceritakannya sambil jalan, Tuan,"ucap Andi.


Mau tidak mau, Rayyan pun mengikuti Andi dan mendengarkan apa yang akan di ceritakan oleh Andi.


"Mami menculik Nyonya di kafe tadi sor..."


"Apa? Kenapa kamu tidak memberi tahu aku hal sebesar ini?"bentak Rayyan memotong kata-kata Andi, menegang kerah kemeja Andi, dengan penuh amarah.


"Karena saya tahu reaksi Tuan akan seperti ini. Saya takut Tuan akan bertindak gegabah karena marah. Jadi saya tidak memberitahu Tuan masalah ini dan memilih mengatasinya sendiri. Ups!"Andi segera menutup mulutnya yang ceplas-ceplos, lalu tersenyum bodoh pada Rayyan, menunjukkan deretan giginya yang putih rapi.


"Kamu bilang aku gegabah?"tanya Rayyan dengan tatapan tajam mengintimidasi mencengkram erat kerah kemeja Andi hingga Andi merasa tercekik.


"Ah, Tuan, Nyonya sudah ada di kamar hotel bersama Tuan Aiden yang saya minta untuk membawa keluar Nyonya dari klub malam milik Mami. Apa Tuan percaya, jika Tuan Aiden yang berada satu kamar dengan nyonya tidak akan tergoda melihat nyonya yang cantik itu?"ujar Andi mengalihkan pembicaraan.


"Apa? Cepat! Antar aku ke sana!"bentak Rayyan melepaskan cengkeramannya di kerah kemeja Andi dengan kasar. Mana mungkin dirinya membiarkan istrinya berada dalam satu kamar dengan seorang pria.


"Baik, Tuan,"ucap Andi bergegas berjalan mendahului Rayyan,"Selamat... selamat..."gumam Andi lirih, karena berhasil mengalihkan pembicaraan sehingga Rayyan melepaskannya.


Sedangkan di dalam kamar hotel tempat Aurora berada saat ini.


"Kamu.."


Aurora nampak terkejut melihat pria di depannya itu hingga tidak dapat melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


"Masih ingat dengan wajah saya? Tapi tidak mengingat suara saya?"tanya pria itu seraya meletakkan gelas yang sedari tadi di pegangnya di meja dekat pria itu berdiri.


Dengan senyuman menawan yang masih setia menghias bibirnya, pria tampan bertubuh tegap dan atletis itu melangkah mendekati Aurora.


"𝘿𝙞𝙖.. 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣𝙠𝙖𝙝 𝙙𝙞𝙖 𝙥𝙧𝙞𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙬𝙖𝙠𝙩𝙪 𝙞𝙩𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙪 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪 𝙙𝙞 𝙠𝙖𝙛𝙚. 𝘽𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙪𝙧𝙪𝙩 𝙢𝙖𝙣𝙖𝙜𝙚𝙧 𝙠𝙖𝙛𝙚 𝙠𝙪, 𝙙𝙞𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙞𝙣𝙛𝙤𝙧𝙢𝙖𝙨𝙞 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙠𝙪,"gumam Aurora dalam hati, diam terpaku di tempatnya, menatap pria tampan yang berjalan mendekati dirinya tanpa berkedip.


"Sepertinya kamu sangat terpesona melihat saya? Saya sangat tampan, bukan?"tanya pria itu bernada narsistik. Berdiri tepat di hadapan Aurora, mengedipkan sebelah matanya dengan genit.


"Cih, narsis! Suami ku juga tidak kalah tampan dari kamu,"sahut Aurora terlihat malas seraya memalingkan wajahnya.


"Benarkah? Sepertinya kamu sangat membanggakan suamimu itu,"ujar pria yang tidak lain adalah Aiden.


"Tentu saja,"sahut Aurora penuh kebanggaan,"Sebaiknya kamu melepaskan aku. Aku bukan wanita penghibur, aku tidak akan melayani kamu. Suamiku akan murka padamu jika kamu berani menyentuh aku,"ucap Aurora menatap tajam pada Aiden. Berusaha menakut-nakuti Aiden agar mau membiarkan dirinya pergi.


"Jika aku tidak mau, kamu mau apa?"tanya Aiden semakin mendekati Aurora. Pria itu menampilkan senyuman penuh arti pada Aurora. Tidak lagi berbicara formal pada Aurora seperti tadi.


"Jangan mendekat! Atau aku tidak akan sungkan lagi padamu!"ancam Aurora, dengan tatapan tajam, melangkah mundur.


Aiden terus mendekat ke arah Aurora, hingga tubuh Aurora terbentur pintu kamar hotel itu.


Aurora memukul wajah Aiden, tapi Aiden biasa menghindar. Memukul leher, ulu hati Aiden, tapi pria itu tetap bisa menghindar. Aurora kembali memukul ke arah wajah Aiden tapi kakinya menendang tulang kering Aiden.


"Wow, kemampuan ilmu bela diri kamu lumayan juga,"ucap Aiden menangkis serangan dari Aurora. Hampir saja Aiden terkecoh oleh serangan Aurora hingga kaki Aurora hampir mengenai tulang keringnya.


Namun tentu saja ilmu bela diri Aurora yang baru belajar tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ilmu beladiri yang dimiliki oleh Aiden yang sudah di pelajari Aiden sejak berada di bangku SMP bersama Rayyan dan Andi. Sedangkan Roni memang tidak berbakat dalam ilmu beladiri. Tapi lebih pintar sedikit di bandingkan dengan Andi.


Aurora kembali berusaha menyerang Aiden, tapi dengan mudah di tangkis oleh Aiden. Hingga akhirnya Aiden menjegal kaki Aurora. Wanita itu terjatuh di atas ranjang dengan kaki yang menjuntai ke bawah. Dan Aiden langsung meletakkan tangan kiri dan kanannya di kanan dan kiri tubuh Aurora.


Satu jam yang lalu...


Andi mondar-mandir di ruangannya, nampak frustasi karena belum juga menemukan keberadaan Nyonya-nya. Hingga suara dering handphone nya mengalihkan perhatiannya.


"Halo! Bagaimana?"tanya Andi tidak sabar, saat menerima panggilan masuk dari anak buahnya.


"Kami sudah menemukannya, Tuan. Sesuai dugaan Tuan, Nyonya di culik orang yang bernama Mami itu,"ujar anak buah Andi.


"Dasar germoo sialan! Beraninya dia menculik Nyonya,"geram Andi,"Bagaimana keadaan Nyonya sekarang?"tanya Andi kemudian.

__ADS_1


"Nyonya baik-baik saja. Tapi mereka akan mengumpulkan para pria kaya hidung belang untuk melelang nyonya, Tuan. Sebentar lagi lelangnya akan di mulai,"lapor anak buah Andi.


"Beraninya mereka!"geram Andi mengepalkan tangannya dengan wajah yang penuh amarah.


"Apa yang harus kami lakukan sekarang, Tuan? Apa kita akan menyusun rencana untuk membebaskan nyonya?"tanya anak buah Andi.


"Awasi terus nyonya! Jangan biarkan seorang pun menyentuh Nyonya! Aku akan mengeluarkan Nyonya dari sana tanpa ada keributan. Aku tidak mau mengambil resiko dan membuat Nyonya terluka. Tuan akan murka pada kita jika sedikit saja Nyonya terluka. Setelah Nyonya keluar dari sana, kita akan membereskan germoo sialan itu beserta anak buahnya. Katakan pada yang lain agar bersiap-siap untuk memberi pelajaran pada germoo sialan itu dan juga anak buahnya! Jangan sebut namaku Andi, jika tidak membuat mereka jera karena telah berani menyentuh wanita Tuan kita,"ujar Andi dengan tatapan tajam dan berbahaya.


"Baik, Tuan,"sahut anak buah Andi.


Andi menutup teleponnya kemudian menghubungi Aiden. Namun sudah beberapa kali menelepon, panggilannya tak kunjung diangkat juga oleh Aiden. Andi akhirnya memutuskan untuk menghubungi Roni


"Ha.. hal.. "sahut Roni dari sambungan telepon.


"Cepat berikan handphone kamu pada Tuan Aiden. Penting! Aku tidak punya banyak waktu untuk bicara dengan kamu!"ucap Andi tidak sabar.


Mendengar suara Andi yang terdengar sangat serius, apalagi mengatakan penting, Roni pun bergegas memberikan handphonenya pada Aiden yang kebetulan berada tidak jauh darinya. Mereka baru saja selesai mengadakan makan malam dengan klien. Dan kebetulan handphone Aiden di atur dalam mode silent tanpa getar, sehingga Aiden tidak tahu jika ada panggilan masuk dari Andi.


"Tu.. tu.."


"Brak"


"Andi menelpon penting,"ucap Roni cepat seraya mengulurkan handphonenya pada Aiden, setelah Aiden menggebrak meja makan di depannya, membuat beberapa macam hidangan dan minuman yang masih tersisa menjadi tumpah.


Mendengar kata-kata Roni, Aiden pun langsung menyambar handphone Roni dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.


"Halo! Ada apa menelpon aku?"tanya Aiden tidak sabar. Takut terjadi sesuatu pada Rayyan. Karena jika Andi sudah menelpon dengan mengatakan penting, pasti ada sesuatu yang benar-benar penting.


"Tuan, bantu saya untuk mengeluarkan Nyonya dari klub malam!"pinta Andi.


"Katakan!"ucap Aiden cepat, walaupun belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun jika itu berhubungan dengan Rayyan, Aiden pasti akan bertindak cepat.


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2