Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
285. Ibu


__ADS_3

Sumi pulang ke rumahnya karena sudah beberapa hari tidak pulang. Wanita itu pulang membawa putrinya. Putri yang sangat di sayangi dirinya dan suaminya. Sumi tidak pernah menyangka jika Hendrik benar-benar berubah menjadi pekerja keras dan sangat bertanggung jawab pada keluarga kecil mereka.


Bahkan pria tampan mantan Casanova yang sudah menjadi suaminya itu selalu menyempatkan diri menghabiskan waktunya bersama Sumi dan putri mereka. Bahagia. Itulah yang dirasakan oleh Sumi saat ini.


"Ibu! Nenek!"panggil Sumi begitu masuk ke dalam rumah.


"Akhirnya kamu pulang. Ibu sudah rindu pada kalian,"ujar ibu Sumi terlihat senang seraya mengambil cucunya dari gendongan Sumi.


"Maaf, aku beberapa hari ini agak repot, Bu,"ujar Sumi.


"Mana cicit nenek?"tanya nenek Sumi yang baru muncul.


"Ini cicit nenek,"sahut ibu Sumi dengan senyum lebar.


"Nenek sehat?"tanya Sumi seraya menghampiri neneknya dan memapahnya ke arah sofa.


"Nenek sehat,"sahut nenek Sumi yang memang terlihat sehat walaupun sudah lanjut usia. Bahkan wanita tua itu tidak bongkok.


"Nenek mu itu tidak bisa diam, Sum. Ada saja yang dikerjakannya,"sahut ibu Sumi.


"Tubuh nenek pegal semua jika hanya berdiam diri,"sahut nenek Sumi seraya duduk di dekat ibu Sumi. Wanita tua itu mencium dan mengelus kepala putri Sumi penuh kasih sayang.


"Aku ke sini mau mengajak kalian jalan-jalan. Biar tidak jenuh karena hanya berdiam diri di dalam rumah saja,"ujar Sumi.


"Tapi di rumah hanya ada ibu dan nenekmu saja, Sum,"sahut ibu Sumi.


"Tidak apa-apa. Ayo, kita pergi!"ajak Sumi antusias.


"Apa suami kamu sering mengajak kamu jalan-jalan?"tanya ibu Sumi.


"Nggak terlalu sering, Bu. Dia, 'kan, banyak pekerjaan. Tapi, dia selalu menyempatkan diri untuk menghabiskan waktu bersama kami. Dia sering lupa waktu kalau bermain dengan Qyara,"sahut Sumi apa adanya.


Wajah Sumi terlihat bahagia saat mengenang kebersamaan nya dengan Hendrik dan putri mereka. Nenek dan ibu Sumi yang melihat Sumi bahagia pun ikut merasa bahagia.


Akhirnya tiga orang wanita beda usia itupun pergi jalan-jalan. Ibu dan nenek Sumi terlihat sangat senang karena mereka memang tidak pernah keluar rumah jika tidak bersama dengan Sumi. Semua kebutuhan mereka sudah di cukupi oleh Sumi, sehingga mereka tidak perlu keluar rumah untuk membeli apapun.

__ADS_1


"Sum, nenek pengen makan di warung lesehan. Boleh tidak?"tanya nenek Sumi yang ingin makan makanan tradisional yang biasanya di sediakan di warung lesehan.


"Tentu saja boleh, nek,"sahut Sumi dengan seulas senyuman manis. Melihat ibu dan neneknya bahagia merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Sumi. Karena, kedua orang tua itu adalah orang-orang yang sangat disayangi dan di cintainya.


"Pak, tahu warung lesehan yang enak, nggak?"tanya Sumi pada supirnya.


"Tahu, nyonya,"sahut supir itu.


"Kalau begitu, bawa kami ke sana, ya, pak!"pinta Sumi,"Tenang saja, bapak akan saya traktir. Bapak boleh pesan apa saja,"ujar Sumi membuat wajah supir pribadinya itu menjadi cerah.


"Baik, nyonya. Terimakasih,"sahut supir Sumi senang.


Akhirnya mereka pun makan di sebuah warung lesehan. Selesai makan, mereka berkeliling dan singgah di beberapa tempat.


"Ckiiitt.."


Tiba-tiba saja supir Sumi mengerem mobil yang dikendarainya secara mendadak. Sumi bersama ibu dan neneknya pun terkejut. Untung saja mereka menggunakan sabuk pengaman, hingga mereka semua baik-baik saja. Demikian pula dengan putri Sumi yang berada dalam dekapan ibu Sumi.


"Ada apa, pak?"tanya Sumi seraya melihat ke depan, tapi tidak melihat apapun di depan mobil mereka.


"Nenek mau keluar sebentar, Sum,"ucap nenek Sumi yang juga ingin keluar.


"Mau kemana, nek?"tanya Sumi.


"Nenek mau membeli makanan ringan yang di jual anak kecil itu,"ucap nenek Sumi yang merasa kasihan melihat seorang anak kecil yang sedang duduk di bawah pohon tak jauh dari mobil mereka berhenti. Anak itu memangku dagangannya seraya menyeka keringatnya.


Sumi tersenyum dan menemani neneknya turun, begitu pula dengan ibu Sumi yang juga ikut turun.


Supir pribadi Sumi membuang napas kasar saat melihat seorang pria yang wajahnya tertutup topi yang dipakainya terduduk di depan mobil yang dikendarainya. Untung saja jalan yang dilaluinya tidak ramai. Jadi tidak terjadi kemacetan.


"Bapak kenapa menyeberang jalan sembarangan? Apa bapak sengaja menabrakkan diri di mobil kami? Bapak ingin mencari uang dengan cara pura-pura tertabrak?"tanya supir pribadi Sumi terlihat kesal.


"Maaf, saya kurang fokus saat menyeberang," sahut pria itu berusaha berdiri.


Supir pribadi Sumi hanya bisa menghela napas panjang dan membantu pria itu untuk berdiri.

__ADS_1


Tanpa sengaja pria itu melihat Sumi, ibu Sumi dan nenek Sumi yang sedang membeli dagangan seorang anak kecil. Pria itu berjalan cepat ke arah tiga wanita beda usia itu. Supir Sumi yang melihat hal itupun bergegas ikut menghampiri majikannya. Takut pria yang hampir saja tertabrak olehnya itu berbuat sesuatu yang tidak baik pada majikannya.


"I.. Ibu?"ucap pria yang memakai topi itu dengan bibir yang terlihat bergetar.


Nenek Sumi menoleh ke arah suara yang memanggil ibu itu. Pria kurus yang memakai topi agak rendah hingga wajah pria itu tidak terlihat jelas.


"Si.. Siapa kamu?"tanya nenek Sumi nampak tergagap. Wanita tua itu merasa mengenali suara pria itu.


Sumi dan ibu Sumi pun menoleh menatap ke arah pria yang memakai topi itu. Karena nenek Sumi nampak berinteraksi dengan pria bertopi itu.


"I.. Ini aku,"ucap pria bertopi itu secara perlahan melepaskan topi yang menutupi wajahnya, lalu menatap nenek Sumi.


"Kau? Junedi? Anak durhaka! Aku tak ingin melihat kamu lagi,"ucap nenek Sumi terlihat tidak senang melihat pria yang tidak lain adalah Junedi alias Jony itu.


Jony tadinya tidak yakin jika wanita tua yang dilihatnya itu adalah ibunya. Namun Jony yang penasaran akhirnya menghampiri wanita tua itu yang ternyata memang ibunya.


"Pria ini yang bernama Junedi? Berarti dia adalah Jony? Orang yang sudah membuat orang tuaku, paman bibiku, saudara-saudara ku dan juga kakakku meninggal. Dia juga pria yang menjadi dalang pembunuhan papa Hendrik dan Rayyan,"gumam Sumi dalam hati. Menatap seorang pria paruh baya yang terlihat kurus dengan wajah yang terlihat pucat itu.


"Apakah dia adalah paman Sumi yang telah melenyapkan seluruh keluarga Sumi?"gumam ibu Sumi dalam hati dengan tatapan menelisik ke arah Jony.


"Bagaimana.. Bagaimana ibu bisa selamat dari kebakaran itu?"tanya Jony yang merasa heran melihat ibunya masih hidup.


Menurut orang-orang suruhannya, seluruh keluarganya sudah meninggal. Tapi, kenapa bisa ibunya berada di kota ini? Bahkan wanita tua itu terlihat sehat, dan memakai pakaian bagus.


"Kenapa? Kamu tidak senang melihat aku masih hidup? Bagaimana, apa kamu bisa hidup enak dan bahagia setelah melenyapkan seluruh keluarga mu, bahkan kedua orang tua kandung mu? Apa kamu bisa membangun kerajaan dari harta yang kamu rampas secara paksa dari kedua orang tuamu dan saudara- saudara kamu?"


"Sudah bisa membangun perusahaan besar dengan harta hasil rampasan kamu itu? Sudah bisa menjadi orang nomer satu di negeri ini dengan harta itu?"tanya nenek Sumi dengan ekspresi wajah yang terlihat datar bahkan terkesan dingin. Demikian pula dengan suaranya yang terdengar dingin.


...🌟"Serakah tidak membawa berkah, namun malah mendatangkan musibah, dan membuat hati berdarah."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2