Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
151. Sakit Kepala


__ADS_3

Hendrik melajukan mobilnya menuju sebuah klub malam. Namun saat akan melangkah masuk ke dalam klub malam itu, kata-kata Rayyan kembali terngiang di telinga Hendrik.


"Hanya perempuan matre yang akan mau menjadi istri kakak, karena kakak memiliki warisan separuh perusahaan ini. Jika harta kakak sudah habis di kuras, mereka akan pergi meninggalkan kakak. Setelah itu, tidak akan ada lagi yang tersisa dari kakak. Selain menua sendirian dan mati penyakitan karena terlalu banyak celap-celup sana-sini,"


Mengingat kata-kata Rayyan itu, Hendrik mengusap wajahnya kasar,"Argh! Shiitt! Rayyan sialan! Kenapa kata-katanya itu selalu saja terngiang di telingaku?"umpat Hendrik yang hampir masuk ke dalam klub malam itu.


Hendrik membalikkan tubuhnya kembali ke parkiran, melajukan mobilnya meninggalkan klub malam itu. Hendrik melajukan mobilnya tak tentu arah. Tidak punya tujuan mau ke mana. Seperti hidupnya yang tidak jelas. Tidak punya arah dan tujuan. Apalagi planning untuk masa depan. Sama sekali tidak ada di dalam otaknya.


Akhirnya Hendrik menepikan mobilnya. Menyandarkan kepalanya di sandaran kursi pengemudi. Lalu memejamkan matanya. Tapi lagi-lagi kata-kata Rayyan kembali terngiang di telinganya.


"Apa kakak tidak punya keinginan untuk berkeluarga? Memiliki istri yang mengantar kakak bekerja di depan rumah dan menyambut kakak pulang dari berkerja dengan senyuman. Berbagi cerita dan keluh kesah. Meniduri wanita yang halal bagi kita dan memeluknya sepanjang malam, itu sangat menyenangkan. Kakak akan merasa bersemangat dalam menjalani hidup. Dan merasa tenang saat bersamanya. Tidaklah kakak ingin hidup seperti itu?"


"Apakah bisa menyenangkan seperti itu jika memiliki pasangan hidup?"gumam Hendrik membuka matanya, menatap ke depan dengan tatapan kosong.


Untuk beberapa menit, pria itu terdiam dengan tatapan kosong. Kata-kata Rayyan hari ini benar-benar menganggu pikirannya. Hendrik baru sadar jika selama ini sama sekali tidak punya tujuan hidup. Tidak memikirkan usianya yang semakin bertambah. Rayyan benar. Usianya akan bertambah tua, bukan bertambah muda. Seiring berjalannya waktu, wajah tampannya akan memudar. Dan jika tidak memiliki pasangan hidup dirinya akan menua dan mati sendirian. Seperti kata Rayyan, memiliki pasangan hidup pun juga akan berakhir sendirian jika salah dalam memilih.


"Siapa yang bisa aku ajak bicara untuk menghilangkan risau hatiku ini? Teman-teman ku, tahunya hanya bermain wanita seperti aku. Mereka juga sama saja seperti aku yang tidak punya tujuan hidup,"gumam Hendrik menghela napas panjang. Pria itu jadi bingung sendiri. Namun tiba-tiba wajahnya langsung berubah cerah saat mengingat seseorang.


"Bagaimana jika aku bicara dengan Sumi? Aku merasa nyaman dan senang saat bicara dengan dia. Baiklah, aku akan menemui dia saja. Untung saja aku sempat membuntuti dia. Sehingga aku tahu dimana alamat rumahnya,"gumam Hendrik tersenyum cerah, kemudian melajukan mobilnya menuju rumah Sumi.


***


Hari ini Rayyan pulang tidak terlalu malam. Rayyan berencana mengajak Aurora pergi dinner (makan malam). Saat Rayyan masuk ke dalam kamarnya, pria itu melihat istrinya berbaring di sofa Tantra. Istrinya itu nampak melamun dengan wajah yang terlihat sendu. Bahkan istrinya itu seperti tidak menyadari kehadiran dirinya.


"Ada apa dengan dia? Kenapa wajahnya terlihat sendu seperti itu?"gumam Rayyan dalam hati. Perlahan Rayyan mendekati Aurora seraya melepaskan jas dan dasinya. Pria itu duduk di sebelah Aurora berbaring.


"Ray? Kamu sudah pulang?"tanya Aurora yang nampak terkejut dengan kehadiran Rayyan.


"Ada apa, hemm? Apa ada yang membuat mu sedih'?"tanya Rayyan seraya memegang pipi Aurora dan mengusapnya dengan jari jempolnya.


"Ray..!"ucap Aurora seraya mengulurkan kedua tangannya hendak memeluk Rayyan.

__ADS_1


Rayyan merengkuh istrinya itu dalam pelukannya. Sedangkan Aurora memeluk erat tubuh suaminya.


"Apa kamu sangat merindukan aku, hemm?"tanya Rayyan seraya mendekap erat tubuh istrinya. Mencium aroma shampo yang di pakai istrinya.


"Aku sedih,"ucap Aurora pelan.


"Sedih kenapa? Bukankah tadi pagi kamu bilang ingin bertemu dengan Sumi? Apa kamu tidak bisa menemui dia?"


"Hum. Aku ingin bertemu Sumi dan menjenguk ibu Sumi. Tapi saat aku akan masuk ke kamar rawat ibunya, aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka,"ucap Aurora memeluk suaminya seraya memejamkan matanya.


"Pembicaraan apa?"tanya Rayyan menatap Aurora yang berada dalam pelukan.


"Sumi ternyata bukan anak kandung ibunya. Dia di temukan di dalam bus bersama tas bayi nya,"


"Maksud kamu, Sumi di buang oleh kedua orang tuanya?"tanya Rayyan yang sempat terkejut mendengar kebenaran tentang Sumi.


"Hum,"sahut Aurora terdengar lesu.


"Jangan sedih! Aku akan menyuruh Andi untuk menyelidikinya,"


"Benarkah? Apakah Sumi akan menemukan kedua orang tuanya?"tanya Aurora antusias, mengangkat wajahnya menatap wajah suaminya.


"Aku tidak tahu. Tapi akan diusahakan. Mengingat kejadiannya sudah puluhan tahun yang lalu, mungkin akan memakan waktu agak lama untuk menemukan orang tua kandungnya. Jadi kamu jangan sedih lagi! Bayi kita akan sedih jika ibunya sedih,"


"Aku hanya ingin dipeluk,"sahut Aurora menyandarkan kepalanya di dada bidang Rayyan.


"Okey, aku akan memelukmu sampai pagi. Tapi, sekarang biarkan aku membersihkan diri dulu. Okey? Dan bersiap-siap lah! Kita akan dinner di luar,"


"Dinner di luar? Tidak. Aku tidak ingin pergi kemana pun,"


"Okey jika kamu tidak mau. Kamu minta Bik Mastuti untuk membuatkan makan malam untuk kita. Okey!"ucap Rayyan seraya mengelus bibir Aurora dengan ibu jarinya.

__ADS_1


"Hum,"sahut Aurora.


Rayyan melepaskan pelukannya, lalu berjalan menuju kamar mandi. Selesai membersihkan diri, Rayyan keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan bathrobe.


"Sayang, kamu tidak mengambilkan baju untuk ku?"tanya Rayyan saat tidak melihat ada pakaian di atas ranjang. Karena biasanya Aurora akan meletakkan baju tidurnya di atas ranjang.


"Jangan pakai baju! Seperti itu saja,"


"Okey,"sahut Rayyan pasrah.


"Apalagi yang dia inginkan? Aku benar-benar tidak bisa menebak isi hatinya. Aku hanya bisa menurut agar dia tidak ngambek lagi. Karena kalau sudah ngambek, akan sulit untuk membujuknya,"gumamam Rayyan dalam hati.


Aurora menghampiri Rayyan, kemudian menarik tangan pria itu untuk duduk di tepi ranjang. Wanita itu berdiri di depan Rayyan, lalu mengambil handuk kecil yang tersampir di bahu suaminya. Aurora mengeringkan rambut Rayyan dengan lembut.


Rayyan menelan salivanya kasar saat melihat dua bukit kembar dibalik baju tidur kimono yang dipakai istrinya itu. Terpampang jelas di depan matanya dua benda favoritnya itu. Dapat dipastikan jika istrinya tidak menggunakan kain penutup dua bukit kembarnya itu. Rayyan kembali menelan salivanya kasar saat membayangkan bagaimana montoknya kedua bukit kembar favoritnya yang ada di balik baju kimono itu.


"Shiitt! Aku benar-benar pusing di buatnya. Sudah lama aku menahannya. Haruskah aku berakhir bersolo karir di dalam kamar mandi? Itu sama sekali tidak enak. Lebih nikmat jika... Shiitt! Aku bisa stres jika begini terus. Sakit kepala atas bawah,"umpat Rayyan dalam hati.


Pria itu memejamkan matanya seraya memijit pelipisnya sendiri. Sudah beberapa hari tidak bercinta, membuat Rayyan sangat menginginkannya.


"Kamu kenapa?"tanya Aurora menatap Rayyan yang wajahnya terlihat kusut.


"Tidak apa-apa. Hanya saja, kepalaku agak sakit,"sahut Rayyan tersenyum tipis.


...🌸❤️🌸...


Notebook :


•Planning adalah sebuah fungsi manajemen dasar yang melibatkan keputusan sebelumnya, apa yang harus dilakukan, kapan harus dilakukan, bagaimana hal itu harus dilakukan dan siapa yang akan melakukannya.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2