Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
209. Berat Hati


__ADS_3

"Aku ingin melupakan seseorang dan tidak ingin mengingatnya lagi,"ujar Hendrik yang tidak ingin lagi berharap pada Sumi yang akhirnya hanya akan membuat dirinya merasa kecewa. Walaupun ada kemungkinan Sumi mengandung anaknya karena kejadian beberapa hari yang lalu. Tapi, Hendrik tidak ingin terlalu berharap seperti dulu.


"Deg"


Jantung Sumi rasanya berhenti berdetak saat mendengar jawaban dari Hendrik. Kedua tangan Sumi meremas dress yang dikenakannya dengan wajah yang tertunduk.


"Sepertinya kamu sangat kecewa pada seseorang. Atau mungkin, kamu sakit hati?"tanya wanita di samping Hendrik itu seraya memicingkan sebelah matanya.


"Anggap saja begitu,"sahut Hendrik datar.


"Tidak! Ini tidak boleh! Aku tidak ingin dia pergi karena sakit hati padaku,"gumam Sumi dalam hati.


"Mohon perhatian. Ini adalah panggilan boarding terakhir untuk penumpang Hendrik Nugroho dan Eve Cristian yang memesan penerbangan 943 tujuan xx. Mohon menuju gerbang A-3 segera. Pemeriksaan terakhir akan segera selesai dan pintu pesawat akan ditutup dalam waktu sekitar lima menit. Diulangi. Ini adalah panggilan boarding terakhir untuk Hendrik Nugroho dan Eve Cristian. Terima kasih,"


Terdengar pengumuman dari pihak maskapai dalam bahasa Indonesia kemudian diulang menggunakan bahasa inggris. Sebelum Sumi sampai di tempat itu, memang sudah ada pengumuman untuk segera melakukan boarding atau proses naiknya penumpang ke dalam pesawat. Dengan persyaratan bahwa penumpang harus sudah memiliki boarding pass atau dokumen yang berisi informasi untuk memasuki pesawat.


Namun entah mengapa Hendrik masih enggan untuk masuk ke dalam pesawat. Hatinya terasa berat meninggalkan negara ini. Ingin melihat Sumi sekali lagi sebelum dirinya pergi, namun tidak ingin melanggar janjinya sendiri. Yaitu janjinya untuk tidak menemui Sumi lagi.


Sumi yang sudah berdiri ingin menghampiri Hendrik pun kembali terdiam mendengar pengumuman dari pihak maskapai itu.


"Dia sudah akan pergi? Tidak! Dia tidak boleh pergi!"gumam Sumi bergegas melangkah menghampiri Hendrik.


"Kenapa aku berharap dia akan menyusul aku ke sini dan mencegah aku untuk pergi? Aku sungguh konyol. Dia bahkan tidak tahu jika hari ini aku akan pergi,"gumam Hendrik tersenyum kecut. Tidak tahu jika Aurora memberitahu Sumi tentang keberangkatannya hari ini.


Hendrik menatap ke arah pintu tempat orang akan masuk ke tempat itu. Hatinya benar-benar berat untuk pergi. Tapi juga tidak ingin terus-menerus mengharapkan Sumi yang tidak mau menerima ketulusan cintanya.


"Ayo, Hen! Ini panggilan terakhir untuk kita. Jika kita tidak segera ke sana, kita akan ketinggalan pesawat,"ucap wanita yang ternyata bernama Eve itu.


"Brukg"


"Akhh!"pekik Sumi jatuh terduduk.

__ADS_1


Saat akan menghampiri Hendrik malah ditabrak oleh seorang pria bertubuh tinggi dan kekar yang berjalan tanpa memperhatikan langkahnya karena sedang menatap layar ponselnya. Sedangkan Sumi juga berjalan dengan mata yang menatap ke arah Hendrik. Sehingga Sumi juga tidak memperhatikan jalannya.


"Sorry!"ucap pria yang menabrak Sumi seraya duduk berjongkok di depan Sumi, ingin membantu Sumi berdiri.


Hendrik menoleh ke arah suara pekikan itu karena merasa familiar dengan dengan suara itu. Namun sayangnya Hendrik tidak bisa melihat Sumi karena tertutup oleh pria yang berjongkok di depan Sumi. Belum lagi Sumi juga memakai kacamata dan masker yang menutupi wajahnya.


"Ayo, Hen! Kita akan ketinggalan pesawat,"ajak Eve seraya menarik tangan Hendrik untuk segera menuju gerbang A-3.


"Mungkin aku terlalu berharap jika dia akan ke sini dan mencegah aku untuk pergi. Jadi aku berhalusinasi mendengar suaranya,"gumam Hendrik dalam hati yang lagi-lagi hanya bisa tersenyum kecut. Mengikuti langkah kaki Eve yang menarik tangannya.


Pria yang menabrak Sumi tadi mengulurkan tangannya untuk membantu Sumi berdiri.


"Terimakasih! Saya bisa sendiri,"tolak Sumi secara halus, karena tidak ingin dibantu pria yang menabraknya itu.


"Sekali lagi maaf!"ucap pria itu terlihat tidak enak hati.


"Nggak apa-apa,"sahut Sumi berusaha bangun dengan berpegangan kursi di sebelahnya.


"Sial! Kakiku sakit sekali. Sepertinya kaki ku terkilir,"gumam Sumi dalam hati,"Hendrik..." gumam Sumi yang sesaat tadi lupa akan tujuannya karena ditabrak oleh pria tadi.


Sumi mengedarkan pandangannya ke segala penjuru mencari keberadaan Hendrik, tapi Sumi tidak bisa melihat Hendrik. Ramainya orang yang ada di tempat itu membuat Sumi kesulitan untuk menemukan Hendrik.


"Gerbang A-3. Ya. Tadi dia akan pergi ke gerbang A-3. Aku harus mencari dimana letak gerbang A-3 itu berada,"gumam Sumi lirih.


Dengan langkah tertatih menahan rasa sakit di pergelangan kakinya, Sumi bertanya pada orang-orang letak gerbang A-3 berada.


"Kamu tidak boleh pergi, Hen! Aku mencintai kamu,"gumam Sumi berusaha secepat mungkin melangkah menuju gerbang A-3 untuk menyusul Hendrik. Menahan rasa sakit di kakinya.


Sebelum masuk ke dalam pesawat, Hendrik menghentikan langkahnya di lima tangga terakhir masuk pesawat itu. Pria itu kembali menoleh ke belakang. Benar-benar merasa berat hati untuk pergi. Dan benar-benar ingin melihat wajah Sumi sebelum dirinya pergi. Sadar jika harapannya itu tidak mungkin terjadi. Tapi entah mengapa dirinya terus berharap.


"Ayo, Hen! Kenapa sepertinya kamu berat hati untuk pergi? Kamu juga tidak seperti dulu yang santai dan penuh percaya diri. Kamu seperti orang yang sedang galau ingin seseorang mencegah kamu untuk pergi,"celetuk Eve, yang melihat Hendrik yang bersamanya saat ini sangat berbeda dengan Hendrik yang di kenalnya dulu.

__ADS_1


Hendrik tidak merespon apa yang dikatakan oleh Eve. Pria itu nampak membuang napas kasar.


"Aku benar-benar konyol. Apalagi yang aku harapkan ini? Berharap dia datang dan memanggil aku untuk kembali? Aku benar-benar tidak waras,"gumam Hendrik dalam hati, lalu berjalan cepat masuk ke dalam pesawat.


"Hendrik!"teriak Sumi bertepatan dengan Hendrik masuk ke dalam pesawat.


"Kenapa dia terlihat aneh sekali? Aku merasa dia bukan Hendrik yang aku kenal. Hendrik yang aku kenal selalu tersenyum menawan, membuat kaum hawa yang menatapnya terpesona. Hudupnya bebas dan tanpa beban. Tapi Hendrik yang aku temui saat ini, persis seperti seorang pria galau yang sedang patah hati. Jika memang dia sedang patah hati, siapa gerangan wanita yang sudah membuat seorang Casanova seperti Hendrik patah hati? Aku jadi penasaran,"gumam Eve seraya melangkah menyusul Hendrik yang lebih dulu masuk ke dalam pesawat. Merasa aneh dengan sikap pria yang pernah beberapa kali menjadi temannya berbagi peluh di atas ranjang itu.


"Maaf, nona, yang tidak berkepentingan tidak boleh masuk,"Sumi ingin mengejar Hendrik, tapi dihalangi petugas bandara karena Sumi tidak memiliki akses untuk masuk.


"Hendrik,",gumam Sumi tanpa terasa butiran-butiran kristal bening berjatuhan dari pelupuk matanya. Menatap pintu pesawat yang mulai tertutup.


Sumi diam terpaku menatap pintu pesawat yang akhirnya tertutup. Kali ini Hendrik benar-benar pergi. Dan Sumi tidak sempat mengejar Hendrik lagi. Karena terlalu lama berada dalam kebimbangan hatinya.


"Mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Karena terlalu banyak perbedaan di antara kita. Selamat jalan! Selamat tinggal! Semoga kamu berbahagia. Semoga kamu bisa menemukan wanita yang lebih baik dari aku sebagai pendamping hidupmu. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaan mu,"gumam Sumi dalam hati,kemudian meninggalkan tempat itu.


Dengan langkah terseok Sumi keluar dari bandara. Sakit di pergelangan kakinya tidak bisa mengalihkan rasa sesak di dadanya karena melihat Hendrik pergi tanpa bisa mengejarnya. Terlalu lama mengambil keputusan membuat Sumi kehilangan kesempatan. Hingga akhirnya berujung pada penyesalan.


...🌟🌟🌟...


...Tidak semua kesalahan bisa di maafkan ataupun diperbaiki....


...Belum tentu ada kesempatan kedua dalam hidup ini....


...Berjuanglah sebaik mungkin untuk hari ini. Agar tidak ada rasa sesal di esok hari....


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2