
Naima baru saja pulang. Wanita paruh baya yang baru masuk ke dalam rumah itu langsung menanyakan tentang keberadaan cucu-cucu nya pada seorang pelayan yang di lihatnya.
"Semuanya sedang berkumpul di kolam renang, nyonya,"sahut pelayan yang ditanya oleh Naima.
"Berkumpul di kolam renang?"gumam Naima yang masih bisa di dengar oleh pelayan nya.
"Iya, nyonya. Ada Tuan Aiden, dan juga kedua orang tua nyonya Aurora,"
"Ohh.. begitu,"ujar Naima kemudian berjalan menuju kolam renang.
"Ada tamu kenapa tidak di ajak ke ruang tamu?"tanya Naima membuat atensi semua orang yang ada di area kolam renang itu tertuju pada Naima.
Naima mengernyitkan keningnya menatap para wanita yang ada di tempat itu seperti baru saja menangis. Bahkan Pak Hamdan dan Aiden yang sedang menggendong Zayn pun matanya terlihat memerah dan sedikit sembab.
"Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi?"tanya Naima lagi saat melihat semua orang masih terdiam dan terus menatapnya.
Naima merasa ada sesuatu yang telah terjadi. Karena melihat wajah-wajah orang-orang di area kolam renang itu nampak tidak biasa. Apalagi saat Naima melihat mata mereka.
"Benar apa yang dikatakan oleh mama. Sebaiknya kita bicara di ruangan tamu,"sahut Rayyan.
Semua orang akhirnya beranjak ke ruangan tamu. Sedangkan Hendrik memilih kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri.
"Ada apa sebenarnya? Mama merasa ada yang terjadi saat mama pergi tadi,"ujar Naima menatap semua orang yang ada di tempat itu satu persatu mengharapkan sebuah jawaban.
"Kalau semua tidak bisa menjelaskan. Biar saya saja yang menjelaskannya,"ujar Andi yang tiba-tiba muncul kembali.
"Coba kamu jelaskan!"pinta Naima menatap Andi yang sudah berdiri di samping tempat duduk Rayyan.
"To the point saja. Setelah terjadi serangakaian peristiwa, akhirnya terungkap fakta bahwa nyonya Aurora adalah adik kandung Tuan Aiden yang sejak kecil hilang. Tuan Rayyan sudah membuktikan kebenaran ini melalui tes DNA,"ujar Andi singkat.
__ADS_1
"Apa?! Kok, bisa?!"tanya Naima nampak terkejut.
"Pak Hamdan dan Bu Ella menemukan nyonya Aurora di tepi sungai di kampung mereka dalam keadaan hipotermia. Sudah dilaporkan ke polisi, tetapi tidak ada kabar dari polisi. Hingga akhirnya Pak Hamdan dan Bu Ella merawat dan membesarkan nyonya Aurora sebagai anak mereka sendiri,"jelas Andi singkat, jelas dan padat.
"Astagaa..!"ucap Naima seraya menutup mulutnya sendiri,"Bagaimana kalau Aiden tahu bahwa aku sudah pernah menyakiti Aurora secara fisik dan mental? Untungnya, aku sudah berbaikan dengan Aurora cukup lama. Semoga saja Aiden tidak mengungkit masalah ini,"gumam Naima dalam hati.
Ada rasa khawatir di hati Naima. Khawatir Aiden membencinya karena Naima pernah berbuat buruk pada Aurora yang ternyata adalah adik Aiden.
"Bagaimana kalau kamu tinggal bersama aku, Ra?"tanya Aiden tiba-tiba.
"Ehh.. Mana bisa begitu? Aurora akan tetap tinggal di sini bersama kami,"Naima langsung menolak keras permintaan Aiden.
"Mana bisa begitu, Tan? Aku sudah puluhan tahun tidak bertemu adikku. Wajar saja jika aku ingin adikku tinggal bersama dengan aku,"Aiden tidak mau kalah dengan Naima.
"Kamu itu tidak pernah ada di rumah. Buat apa kamu mengajak Aurora tinggal di rumah kamu? Kamu hanya ada di rumah saat malam hari saja. Dari pagi sampai sore kamu sibuk bekerja. Kasihan, Aurora dan cucu Tante, mereka akan kesepian jika tinggal di rumah kalian. Tante juga akan kesepian,"ujar Naima beralasan, karena tidak mau jauh dari Zayn.
"Anak Hendrik, 'kan, ada, Tan? Jadi, Tante tidak akan kesepian,"ujar Aiden ikut beralasan.
"Itu tidak bisa dijadikan alasan, Tan,"Aiden tidak terima.
"Sudah! Sudah! Kenapa kakak jadi ribut dengan mama?"ucap Aurora melerai perdebatan Aiden dan mertuanya,"Aku dan Ray yang akan menentukan dimana kami akan tinggal. Kami akan merundingkan masalah ini nanti. Iya, 'kan, Ray?"tanya Aurora seraya menatap Rayyan yang duduk di sampingnya.
"Hum. Kita yang akan menentukan akan tinggal dimana,"sahut Rayyan tersenyum tipis.
Sedangkan Zayn sudah di bawa oleh Mastuti bermain. Wanita paruh baya itu nampak bahagia bermain dengan Zayn yang murah senyum itu.
"Oh, ya, bapak dan ibu adalah orang tua angkat Aurora, jadi aku juga menganggap kalian sebagai orang tuaku sendiri. Aku akan merawat kalian sebaik yang aku mampu. Tinggallah bersama kami! Anggaplah aku yang sudah menjadi anak yatim piatu sejak usia sembilan tahun ini seperti anak kandung bapak dan ibu sendiri. Seperti bapak dan ibu menganggap Aurora sebagai putri bapak dan ibu sendiri,"ucap Aiden dengan wajah memelas.
Pak Hamdan dan Bu Ella saling bertatapan, seolah sepasang suami-isteri itu sedang berkomunikasi lewat tatapan mata mereka. Beberapa saat kemudian, sepasang suami-isteri itu pun tersenyum lembut. Kemudian sepasang suami-isteri itu menatap Aiden.
__ADS_1
"Bapak dan ibu tidak memiliki keturunan. Selama ini kami hanya memiliki Aurora yang kami anggap sebagai putri kami sendiri. Jika nak Aiden bersedia menjadi putra angkat kami, kami tentu sangat bahagia. Orang miskin seperti kami bisa memiliki putra dan putri seperti kalian adalah berkah yang tidak ternilai bagi kami,"ucap Pak Hamdan dengan mata yang berkaca-kaca, lalu menoleh pada Bu Ella,"Benar begitu, 'kan, Bu?"tanya Pak Hamdan pada Bu Ella.
Bu Ella mengangguk kecil sebagai jawabannya. Mata wanita paruh baya itu juga berkaca-kaca.
Bu Ella merasa sangat beruntung memiliki suami seperti Pak Hamdan yang tidak pernah meninggalkan dirinya, walaupun Bu Ella tidak bisa lagi memberikan keturunan untuk Pak Hamdan. Pak Hamdan juga tetap setia pada dirinya tanpa melirik wanita lain.
Bu Ella juga merasa bahagia saat Pak Hamdan bersedia menjadikan Aurora yang mereka temukan hampir meninggal di pinggir sungai itu sebagai putri mereka. Kebahagiaan mereka terasa lengkap dengan kehadiran Aurora dalam rumah tangga mereka.
Pak Hamdan dan Bu Ella sudah dikaruniai menantu yang baik dan seorang cucu yang lucu. Dan sekarang malah ada seorang pria yang hebat seperti Aiden yang memohon menjadi putra mereka. Sungguh keberuntungan dan kebahagiaan yang berlimpah itu membuat Bu Ella dan Pak Hamdan tidak berhenti-henti bersyukur atas nikmat yang Tuhan berikan pada mereka berdua.
"Miskin dan kaya tidak menentukan derajat manusia di hadapan manusia lain, Pak. Apalagi di hadapan Tuhan. Akhlak dan budi pekerti lah yang menentukan derajat manusia. Karena, walaupun kaya seperti apapun, seorang manusia tidak akan berarti jika miskin akhlak dan budi pekerti,"
"Kalau memang tidak ditakdirkan kaya, mau bekerja siang malam, jungkir balik banting tulang, kaki dijadikan tangan, tangan dijadikan kaki pun tidak akan pernah bisa menjadi kaya. Namun, bukan berarti kita berhenti berusaha. Kita harus tetap berusaha karena kita tidak pernah tahu bagaimana nasib apalagi takdir kita esok hari,"ucap Andi panjang lebar.
"Andi benar, Pak. Jangan merasa rendah diri hanya karena harta. Kami menghormati dan menghargai bapak dan ibu karena kalian adalah orang tua yang telah merawat, mendidik dan membesarkan Aurora dengan baik. Kalian adalah orang yang sangat berjasa pada kami. Tidak ada hubungannya dengan harta yang bapak dan ibu miliki,"imbuh Rayyan.
"Benar kata Rayyan, Pak. Kami menghormati bapak dan ibu bukan karena harta,, tapi karena jasa bapak dan ibu selama ini. Dan aku mengucapkan banyak-banyak terimakasih, karena bapak dan ibu mau menjadi orang tuaku dan adikku. Kalau begitu, mulai sekarang aku ingin bapak dan ibu tinggal di rumah kami,"pinta Aiden.
Mendengar penuturan Aiden, Pak Hamdan kembali menatap Bu Ella dan Bu Ella pun menatap Pak Hamdan, lalu Pak Hamdan pun berkata,"Baiklah. Kami akan tinggal bersama kalian. Tapi, jika ibu sudah sembuh, izinkan bapak dan ibu kembali ke kampung. Bapak dan ibu merasa lebih nyaman jika tinggal di kampung. Sejak tinggal di kota, kami tidak memiliki kegiatan, hingga membuat tubuh bapak menjadi pegal-pegal. Kami sudah terbiasa bekerja dan bergaul dengan banyak orang. Sedangkan di sini, kami hanya bisa bergaul dengan para pelayan yang nampak sungkan pada kami. Tapi, jangan khawatir. Kami akan sering-sering mengunjungi kalian di sini. Bukankah begitu, Bu?"tanya Pak Hamdan pada istrinya.
Bu Ella pun mengangguk kecil sambil tersenyum sebagai jawabannya. Semua orang pun menjadi senang.
...π"Akhlak dan budi pekerti mulia lebih berharga dari harta."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
__ADS_1
To be continued