
Aurora akhirnya mendonorkan darahnya untuk Aiden. Setelah selesai mendonorkan darahnya, Aurora berniat ke UGD untuk menunggu Aiden selesai di ditangani dokter. Namun tiba-tiba handphone Aurora berdering. Aurora mengambil handphonenya dan melihat siapa yang meneleponnya.
Perawat yang ingin menanyakan nama Aurora pun tidak jadi bertanya, karena Aurora mengangkat panggilan masuk.
"Bik Mastuti? Ada apa Bik Mastuti menelpon aku?"gumam Aurora lalu menerima panggilan masuk itu sambil berjalan keluar dari ruangan itu diikuti Pak Hamdan.
"Halo, Bik?"
"Nyonya, Tuan Muda di culik orang. Mereka memukul para pelayan hingga pingsan. Saya sendiri saat kejadian sedang berada di kamar mandi. Saya sudah melaporkan penculikan ini pada polisi, nyonya,"cerocos Bik Mastuti terdengar khawatir.
"A.. Apa?!"tanya Aurora dengan bibir dan tangan yang bergetar.
"Prak"
Handphone Aurora terjatuh di lantai karena tangannya yang tremor. Wanita itu merasa sangat terkejut mendengar putranya di culik.
"Ada apa, Ra?"tanya Pak Hamdan terlihat khawatir.
"Zayn, Pak. Zayn di culik orang,"ucap Aurora yang tanpa terasa air matanya sudah membasahi pipinya.
"Astagaa! Ayo, kita melapor ke kantor polisi!"ajak Pak Hamdan.
"Bik Mastuti sudah melaporkan hal ini ke polisi, Pak. Aku.. Aku akan minta tolong pada Bima,"ucap Aurora memungut handphonenya yang terjatuh.
Untung saja handphone Aurora memakai casing, jadi handphonenya masih aman. Masih hidup dan tidak retak, apalagi pecah karena terjatuh tadi.
Sambil berjalan keluar dari rumah sakit, Aurora mencoba menghubungi Bima. Namun setelah berkali-kali menghubungi, Bima tak kunjung mengangkat teleponnya juga.
Perawat yang ingin menanyakan nama Aurora nampak keluar dari ruangan tadi.Taoi perawat itu melihat Aurora nampak buru-buru pergi.
"Bagaimana ini? Aku harus bagaimana, Pak?"gumam Aurora yang nampak panik.
"Kita pulang dulu. Lagipula, kata kamu Mastuti sudah melaporkan masalah ini ke polisi, 'kan? Kita tunggu saja kabar dari kantor polisi,"ucap Pak Hamdan menenangkan.
Akhirnya Aurora menurut pada Pak Hamdan. Mereka berdua bergegas pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Mastuti sudah menunggu Aurora.
"Sebenarnya, bagaimana kronologi kejadiannya?"tanya Pak Hamdan pada Mastuti.
"Saya sedang di kamar mandi. Tapi saat keluar dari kamar mandi, saya tidak sengaja melihat ke arah kaca jendela. Saya melihat dua orang pria, dan salah satunya seperti menggendong Tuan Muda. Tepat saat mereka akan masuk ke dalam mobil. Saya berlari ke luar rumah, tapi mobil itu sudah melaju meninggalkan rumah ini. Saya tidak bisa mengenali mobil itu, karena tadi lalu lintas di depan rumah ini ramai, Tuan,"
__ADS_1
"Saat saya masuk ke dalam rumah untuk memastikan keberadaan Tuan Muda, saya baru sadar kalau para pelayan sudah pingsan semua. Nyonya Ella ada di kamarnya dan Tuan Muda benar-benar tidak ada di kamar nyonya. Tanpa berpikir panjang, saya langsung menghubungi polisi dan nyonya,"
"Tapi.. saat saya kembali melihat ke arah box bayi, saya menemukan ini,"ucap Mastuti menyerahkan secarik kertas dari saku bajunya, pada Pak Hamdan, kemudian menundukkan kepalanya.
"Jangan menghubungi polisi, jika tidak ingin terjadi apa-apa pada bayi mu!"
Itulah yang tertulis di secarik kertas yang diserahkan Mastuti pada Pak Hamdan. Dan Aurora juga ikut membacanya.
"Maaf!"ucap Mastuti masih menundukkan kepalanya.
"Sudah terlanjur, mau bagaimana lagi,"ujar Pak Hamdan menghela napas panjang.
"Nyonya, apa tidak sebaiknya nyonya menghubungi, Tuan. Saya yakin, Tuan pasti bisa membantu mengatasi masalah ini. Tuan akan murka jika terjadi sesuatu pada Tuan Muda. Sebaiknya, nyonya memberitahu masalah ini pada Tuan,"ucap Mastuti hati-hati.
"Menghubungi siapa maksud kamu Mastuti?"tanya Hamdan yang tidak mengerti dengan siapa yang dimaksud Mastuti.
"Bik, tolong ambilkan air minum untukku!"pinta Aurora agar Mastuti pergi dan tidak menjawab pertanyaan bapaknya.
"Baik, nyonya,"sahut Mastuti yang hanya bisa menghela napas panjang, kemudian berlalu pergi ke dapur.
"Kenapa nyonya masih keras kepala juga? Apa nyonya akan mengorbankan Tuan Muda demi egonya itu?"gumam Mastuti dalam hati.
"Bagaimana aku menghubungi Rayyan? Aku bahkan sudah tidak menyimpan nomor Rayyan lagi di handphone ku. Aku juga sudah menghapus semua akun sosial media ku. Rayyan akan membunuhku jika sampai terjadi sesuatu pada Zayn,"gumam Aurora dalam hati. Wanita itu terlihat semakin panik.
"Nyonya, Tuan..."
"Aku tidak memiliki nomornya lagi, Bik. Bagaimana aku bisa menghubungi dia?"ujar Aurora memotong kata-kata Mastuti.
Mastuti kembali' menghela napas panjang mendengar kata-kata Aurora. Pak Hamdan mengernyitkan keningnya, pria itu merasa ada yang disembunyikan oleh putrinya darinya. Dan Pak Hamdan yakin, Mastuti mengetahuinya tentang hal itu.
"Kita tunggu saja penculiknya menelpon,"ujar Pak Hamdan kemudian.
Selama berjam-jam Aurora di terpa rasa khawatir dan gelisah. Sungguh, saat ini Aurora benar-benar takut kehilangan putranya.
"Nyonya, ada telpon dari polisi. Kata mereka, mereka menemukan Tuan Muda,"ujar Mastuti yang datang tergopoh-gopoh menghampiri Aurora. Nampak jelas kebahagiaan di wajah wanita paruh baya itu.
"Be.. benarkah? Ka.. Kamu yakin yang mereka temukan adalah putra ku?"tanya Aurora sampai tergagap. Merasa bahagia sekaligus takut jika yang ditemukan polisi bukan putranya.
"Polisi menyebutkan ciri-ciri yang sama seperti ciri-ciri Tuan Muda, nyonya,"
__ADS_1
"Bapak di rumah saja, aku akan pergi sendiri,"ucap Aurora bergegas pergi.
Pak Hamdan dan Mastuti hanya bisa menatap Aurora yang bergegas pergi.
Setelah menempuh perjalanan ke kantor polisi dengan perasaan senang dan tidak sabar, Aurora akhirnya tiba juga di kantor polisi. Aurora bertanya pada seorang polisi tentang seorang bayi yang ditemukan polisi. Dan polisi itupun menunjukkan Aurora ke sebuah ruangan.
"Zayn!"panggil Aurora penuh rasa haru saat melihat putranya baik-baik saja. Aurora berjalan cepat menghampiri putranya. Tanpa terasa air mata menetes dari pelupuk matanya.
"Deg"
Jantung Rayyan seakan berhenti berdetak mendengar suara itu. Suara yang sangat dikenal dan dirindukannya. Rayyan yang menunduk menyuapi bayi di atas pangkuannya itu pun mengangkat wajahnya. Rayyan menatap lekat wanita yang berjalan cepat ke arahnya itu dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan.
"Aurora.."gumam Rayyan lirih seolah tidak percaya bisa melihat lagi wajah wanita yang sangat dicintainya itu.
"Nyonya?"gumam kedua anak buah Andi pelan. Kedua orang itu sempat terkejut melihat kehadiran istri majikan mereka yang sudah lama mereka cari. Kedua orang itu saling menatap, kemudian tersenyum.
"Akhirnya Tuan bertemu juga dengan nyonya,"
"Kalau jodoh takkan kemana,"
Gumam kedua anak buah Andi pelan dengan seulas senyuman.
"Dasar kucing liar! Berbulan-bulan aku mencarinya penuh rasa khawatir, tapi ternyata dia ada di sini. Dan anakku adalah seorang putra? Pantas saja sejak bertemu dengan aku bayi ini tidak mau berpisah dari aku dan selalu menempel padaku. Aku juga merasa sangat tenang dan bahagia saat memeluknya. Bahkan kami cepat sekali akrab seolah sudah saling mengenal sejak lama. Ternyata dia adalah putraku. Apa yang sebenarnya terjadi pada Aurora? Kenapa dia tiba-tiba menghilang?"gumam Rayyan dalam hati.
Ada begitu banyak tanda tanya di hati Rayyan tentang Aurora. Namun juga ada rasa bahagia yang menyeruak di dalam hati Rayyan setelah mengetahui anak dan istrinya baik-baik saja.
"Syukurlah, kamu baik-baik saja,"ucap Aurora seraya mengulurkan tangannya untuk mengambil Zayn dari pangkuan Rayyan.
Tapi tanpa di duga, bayi tampan itu malah memalingkan wajahnya dari Aurora dan kembali mencengkram erat kemeja Rayyan. Aurora pun nampak terkejut dengan reaksi putranya yang tidak biasa itu. Biasanya bayi itu langsung mengulurkan tangannya saat melihat Aurora. Tapi, kali ini malah memalingkan wajahnya dari Aurora.
"Bagus! Kamu memang anak papa, jadi kamu harus berpihak pada papamu. Sepertinya Aurora tidak mengenali aku dengan penampilan ku saat ini,"gumam Rayyan dalam hati seraya mengelus punggung putranya lembut.
"Sayang, ayo, pulang!"ucap Aurora berusaha mengambil Zayn dari pangkuan Rayyan, tapi bayi itu menunjukkan jika dirinya tidak mau di gendong Aurora.
"Apa anda benar-benar ibunya?"tanya Rayyan tersenyum sinis.
...πΈβ€οΈπΈ...
Setelah dikembangkan kerangka karangannya, ternyata lebih panjang dari perkiraan ku. Jadi, hari ini baru pertemuan saja. Manis-manisnya besok aja. πππ
__ADS_1
.
To be continued