Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
265. Lelah Yang Hilang


__ADS_3

Naima yang biasanya tampil rapi dan modis, kali ini keluar rumah hanya menggunakan baju piyama dengan rambut yang seperti terkena angin ****** beliung, alias amburadul.


Sedangkan Hendrik tidak kalah dari sang mama. Pria itu bahkan hanya mengenakan celana pendek dan kaos oblong yang jahitannya terlihat. Alias kaos yang di pakai Hendrik terbalik, karena buru-buru saat memakainya .Rambutnya pun tak kalah amburadulnya dengan sang mama.


Sebenarnya, hari ini Hendrik pulang agak larut malam. Namun dalam keadaan lelah, masih sempat-sempatnya pria itu meminta jatah pada istrinya. Sebab itulah, rambut pria itu amburadul tidak karuan. Karena istrinya yang sedang hamil besar itu menjambak dan meremas rambutnya saat mereka bercinta tadi.


Namun siapa yang menyangka, beberapa jam setelah Hendrik meminta jatahnya, istrinya malah akan melahirkan.


"Tuan suami pasien?"tanya seorang perawat pada Hendrik. Perawat itu menahan diri untuk tertawa karena melihat kaos oblong yang dipakai Hendrik terbalik.


"Iya, sus,"sahut Hendrik dengan ekspresi khawatir.


"Jika ingin mendampingi istri anda melahirkan, silahkan masuk ke dalam,"ucap perawat itu.


Hendrik hanya mengangguk dan tanpa berkata apa-apa lagi, Hendrik langsung mengikuti perawat itu masuk ke ruangan bersalin.


Hendrik menggenggam erat jemari Sumi dan memberikan semangat saat dokter memberikan panduan untuk mengejan. Pria itu mengusap peluh di wajah istrinya dengan penuh kekhawatiran.


Awalnya Hendrik terlihat khawatir saja, namun lama-kelamaan pria itu menjadi tegang. Melihat Sumi yang nampak berjuang keras untuk melahirkan buah hati mereka dan terlihat kesakitan, Hendrik jadi semakin tegang. Pegangan jemari tangan Sumi di lengannya begitu kuat saat wanita itu mengejan. Menandakan betapa kerasnya wanita itu berusaha melahirkan buah hati mereka.


"Sa.. Sayang, ka..ka.. kamu harus kuat,"ucap Hendrik lirih dengan suara yang bergetar.


Takut. Itulah yang dirasakan oleh Hendrik saat ini. Hendrik pernah membaca beberapa artikel tentang wanita yang meninggal karena melahirkan. Dan melihat Sumi saat ini, membuat Hendrik ketakutan. Rasa takut kehilangan wanita yang dicintainya. Terlihat jelas ketegangan di wajah rupawan pria itu. Bahkan wajah pria itu berkeringat dingin dan tubuhnya gemetar.


Hendrik melihat begitu banyak darah yang keluar dari tubuh istrinya dan Sumi yang sudah beberapa kali mengejan dengan ekspresi kesakitan. Hingga akhirnya suara tangisan bayi itu pun terdengar dan.."


"Brugh"


Hendrik jatuh terduduk di tepi ranjang Sumi, karena sedari tadi memaksakan diri agar terlihat kuat dan tegar di depan istrinya. Berusaha menyemangati istrinya, walaupun sejatinya ada ketakutan yang begitu besar dalam dirinya. Namun akhirnya tubuhnya lemas dan tidak mampu lagi untuk berdiri.

__ADS_1


"Selamat, Tuan, nyonya! Bayinya cantik dan sempurna,"ucap dokter yang membantu Sumi melahirkan. Dokter itu menunjukkan bayi mungil yang masih menangis itu pada Sumi dan Hendrik.


Mata Sumi nampak berkaca-kaca karena terharu dan bahagia melihat putrinya. Begitu pula dengan Hendrik yang nampak tersenyum penuh rasa haru. Ada kelegaan di wajah pria itu mendengar suara tangis buah hatinya. Bahkan mantan Casanova itu menitikkan air mata karena rasa haru dan bahagia yang berbaur menjadi satu.


Para petugas medis yang ada di ruangan itu pun tersenyum tipis melihat Hendrik. Beberapa orang petugas medis memberikan ucapan selamat pada pria dengan kaos terbalik dan juga beberapa kiss mark yang masih terlihat jelas di lehernya itu.


"Hen!"panggil Sumi menoleh pada suaminya yang terduduk di lantai, di samping ranjangnya. Wanita itu memegang tangan Hendrik yang masih berpegangan pada tepian ranjang tempat Sumi berbaring.


Mendengar istrinya memanggilnya, Hendrik pun berusaha untuk berdiri. Tiba-tiba pria itu memeluk Sumi penuh rasa haru dan bahagia dengan airmata yang mengalir.


"Maaf, karena telah membuatmu merasa kesakitan. Dan terimakasih karena telah melahirkan putri yang cantik untuk ku,"ucap Hendrik seraya memeluk erat Sumi.


Baru kali ini Sumi melihat Hendrik menangis. Sumi tidak mengatakan apapun. Wanita itu hanya membalas pelukan suaminya dengan hangat. Tidak menyangka jika reaksi Hendrik akan seperti itu. Reaksi yang tentunya membuat Sumi merasa sangat dicintai dan sangat berarti bagi Hendrik.


Beberapa menit kemudian, Sumi sudah dipindahkan ke ruangan rawat. Naima nampak sedang menggendong cucunya dengan penuh senyuman di bibirnya. Nampak jelas kebahagiaan di wajah wanita paruh baya itu. Hendrik juga berada di samping Naima menatap buah hatinya penuh kebahagiaan.


"Sayang, kamu tidurlah dulu. Kamu pasti sangat lelah,"ucap Hendrik seraya menghampiri Sumi.


"Lelahku hilang saat melihat kamu dan mama bahagia dengan kelahiran putri kita,"sahut Sumi penuh senyuman,"Kamu sendiri juga baru tidur sebentar, Hen,"


"Lelahku juga hilang saat melihat kamu dan putri kita sehat dan selamat,"ucap Hendrik seraya membelai rambut Sumi.


"Penampilan kamu dan mama sangat berantakan,"ucap Sumi mengulum senyum.


"Benarkah?"tanya Hendrik seraya mengambil handphonenya dari saku celananya,"Astagaa.. Kenapa penampilan ku jadi seperti ini? Memalukan sekali,"gumam Hendrik membuang napas kasar.


Pria itu nampak terkejut melihat penampilannya melalui handphonenya yang terlihat acak-acakan dengan kaos yang terbalik. Pria itu melepaskan kaos oblong yang dipakainya, lalu memakainya lagi dengan benar.


Hendrik kemudian menatap mamanya yang masih menggendong putrinya. Hendrik mendekati wanita yang telah melahirkan dan membesarkan dirinya itu dan mengambil beberapa foto mamanya.

__ADS_1


"Ma, lihat foto ini,"ucap Hendrik seraya menunjukkan foto di layar handphonenya pada mamanya


"Astagaa..! Kenapa penampilan mama jadi seperti ini?"ucap Naima yang tidak percaya melihat penampilannya sendiri.


"Penampilan mama benar-benar amburadul,"ujar Hendrik mengulum senyum.


"Lihatlah penampilan kamu! Kamu juga nggak kalah amburadulnya dari mana,"balas Naima yang melihat rambut Hendrik acak-acakan.


"Walaupun penampilan aku amburadul, tapi aku tetap terlihat tampan, ma. Ngomong-ngomong, mama terlalu bahagia karena mendapatkan cucu. Jadi mama melupakan penampilan mama,"ujar Hendrik terkekeh kecil.


Mendengar perkataan Hendrik itu, Naima malah terlihat sedih. Hendrik mengernyitkan keningnya melihat ekspresi Naima yang berubah drastis.


"Mama kenapa?"tanya Hendrik.


"Mama jadi teringat pada Aurora. Seharusnya, saat ini putri Rayyan dan Aurora sudah berumur sekitar tujuh bulan. Entah dimana mereka sekarang ini berada. Dan bagaimana keadaan mereka. Semenjak Aurora menghilang, adikmu itu bahkan tidak mengurus dirinya sendiri,"ujar Naima menghela napas panjang.


Hendrik dan Sumi pun ikut merasa sedih mengingat tentang Rayyan dan Aurora yang sudah lama berpisah. Karena sampai sekarang mereka belum mendapatkan kabar apapun tentang Aurora. Mereka juga merasa prihatin mengingat bagaimana penampilan Rayyan sejak Aurora menghilang.


Rayyan memang belum memberitahu bahwa dirinya telah menemukan anak dan istrinya pada kakak dan mamanya. Rayyan masih terlalu sibuk mengatasi semua masalah yang terjadi di pulau yang sudah di tinggali Aurora sekitar delapan bulan itu. Hingga Rayyan tidak ingat untuk memberitahu mamanya tentang berita bahagia karena dirinya telah menemukan anak dan istrinya.


"Mama jangan khawatir! Rayyan pasti akan menemukan Aurora dan keponakan ku,"ucap Hendrik menenangkan.


"Mama harap juga begitu. Semoga Rayyan segera menemukan Aurora dan buah hatinya,"sahut Naima menghela napas panjang.


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2