Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
217. Tidak Tahu


__ADS_3

Mata Sumi berkaca-kaca menatap Hendrik. Dirinya tidak berhalusinasi. Pria di sampingnya saat ini benar-benar Hendrik. Orang yang sangat dirindukan Sumi akhir-akhir ini.


"Hen.."panggil Sumi dengan suara lirih.


"Kamu sudah sadar?"tanya Hendrik terlihat datar. Hendrik merasa kecewa karena Sumi tidak memberitahu dirinya tentang kehamilannya.


Sumi berusaha bangun dari posisi berbaringnya. Ingin duduk dan bicara serius dengan Hendrik. Hendrik yang melihat itupun membantu Sumi untuk duduk.


"Hen, aku minta maaf atas semua yang telah berlalu. Aku tahu, aku sudah banyak mengecewakan kamu dan melukai hati mu. Aku tidak bermaksud seperti itu,"ucap Sumi seraya menghapus air matanya. Duduk tertunduk tanpa berani menatap Hendrik.


Sedangkan Hendrik nampak mengernyitkan keningnya menatap Sumi,"Apalagi yang ingin dikatakannya? Apa dia masih kukuh dengan pendiriannya dan tidak ingin menikah dengan aku, walaupun dia sedang mengandung anakku?"gumam Hendrik dalam hati, menatap lekat wajah Sumi.


Hendrik tidak tahu lagi harus bagaimana membujuk Sumi untuk menikah dengan dirinya, jika Sumi tetap menolak hidup bersama dirinya walaupun saat ini Sumi sedang mengandung darah dagingnya.


"Katakan! Apa yang ingin kamu katakan?"ujar Hendrik yang sudah tidak sabar mendengar apa yang akan dikatakan oleh Sumi.


"A.. Aku.. aku tidak mengandung karena kejadian waktu itu,"ucap Sumi lirih.


Sumi sudah bertekad untuk mengungkapkan perasaannya pada Hendrik. Tidak peduli Hendrik menerimanya atau tidak. Sumi sudah siap dengan risikonya. Walaupun Sumi hanya memiliki kemungkinan kecil untuk diterima Hendrik, melihat sikap Hendrik yang terlihat datar saat ini dan sebelumnya. Namun Sumi akan merasa lebih lega jika sudah mengakui kesalahannya dan mengungkapkan perasaan cintanya pada Hendrik.


"Dia benar-benar tidak ingin memberitahu aku tentang kehamilannya? Dia benar-benar ingin menyembunyikannya dari ku,"gumam Hendrik dalam hati dengan wajah yang terlihat semakin kecewa pada Sumi.


Hendrik membuang napas kasar, lalu bertanya dengan wajah datar,"Lalu?"tanya pria itu dengan suara yang juga terdengar datar. Karena merasa kecewa dengan sikap Sumi yang tidak mau mengakui dan menyembunyikan kehamilannya pada dirinya.


"Aku tahu, mungkin perasaan mu padaku tidak lagi sama seperti dulu. Tapi.. aku.. aku mencintaimu. Walaupun aku tidak mengandung anakmu, bisakah.. bisakah kita bersama? Aku tahu, aku wanita yang tidak tahu diri dan tidak tahu malu. Aku menjilat ludahku sendiri. Aku sudah menolak kamu berulang kali dan berulang kali pula aku mengecewakan kamu. Tapi.. jika masih ada sedikit saja rasa cinta di hatimu padaku, apakah kamu mau hidup bersama ku? Walaupun.. walaupun saat ini aku tidak mengandung anakmu,"ucap Sumi setelah mengumpulkan keberaniannya.Bibir wanita itu nampak bergetar. Mengusap air matanya dengan tangan yang terlihat tremor.


Melihat wajah dan mendengar suara datar Hendrik membuat hati Sumi terasa nyeri. Namun Sumi tetap berusaha keras mengumpulkan keberaniannya untuk menyatakan perasaannya pada Hendrik. Terlepas dirinya diterima atau di tolak oleh Hendrik, Sumi sudah pasrah dan mempersiapkan hati.


Sedangkan Hendrik nampak tertegun mendengar apa yang dikatakan oleh Sumi. Hendrik menatap Sumi yang berbicara tanpa berani menatap dirinya, bahkan dengan bibir yang bergetar dan tangan yang menggenggam erat selimut yang dipakainya.


Hendrik mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Sumi. Mencoba memahami apa yang disampaikan Sumi sebaik mungkin.


"Greb"


Setelah beberapa saat sempat tertegun, tiba-tiba Hendrik memeluk Sumi. Ada kebahagiaan yang menyeruak di hati Hendrik saat Sumi mengatakan bahwa Sumi mencintai dirinya dan ingin hidup bersama dengan dirinya. Walaupun Hendrik masih penasaran, kenapa Sumi tidak mau mengakui tentang kehamilannya.


"Mungkin dia ingin mengujiku. Dia ingin tahu apakah aku akan tetap menerima cintanya jika dia tidak mengandung darah daging ku,"gumam Hendrik berpikir positif.


Sedangkan Sumi nampak tertegun mendapatkan pelukan yang tiba-tiba dari Hendrik. Namun Sumi merasa nyaman dalam pelukan Hendrik. Dengan air mata yang mengalir, Sumi membalas pelukan Hendrik yang membuat hatinya menghangat. Sumi merasa terharu sekaligus bahagia karena bisa dipeluk dan memeluk orang yang dicintai dan dirindukannya selama ini.

__ADS_1


Setelah beberapa saat memeluk Sumi dalam diam, perlahan Hendrik merenggangkan pelukannya. Hendrik memegang kedua pipi Sumi dan menghapus air mata Sumi dengan kedua ibu jarinya.


"Kamu mencintai aku?"tanya Hendrik ingin meyakinkan dirinya bahwa apa yang didengarnya tadi tidak salah. Menatap lekat manik mata Sumi.


Sumi tidak bersuara, tapi wanita itu mengangguk kecil seraya mengedipkan kedua matanya secara bersamaan. Dan hal itu sukses membuat hati Hendrik berbunga-bunga. Tapi pria itu masih menyembunyikan perasaannya dan berusaha bersikap biasa saja pada Sumi, walaupun rasa bahagia di hatinya terasa meluap-luap.


"Ingin menikah dan hidup bersama dengan aku?"tanya Hendrik memastikan apa Sumi benar-benar ingin menikah dan hidup bersama dengan dirinya.


"Hum,"sahut Sumi kembali mengangguk kecil seraya mengedipkan kedua matanya secara bersamaan.


"Baiklah, kita akan menikah dan hidup bersama,"ucap Hendrik Hendrik masih menatap Sumi lekat.


"Ka.. kamu mau menikah dengan ku?"tanya Sumi dengan bibir yang bergetar dan mata yang kembali berkaca-kaca.


"Tentu saja. Asalkan kamu menikah dengan ku bukan karena terpaksa,"


"Greb"


Tiba-tiba Sumi memeluk Hendrik dengan air mata yang kembali menetes dari pelupuk matanya.


"Aku mencintai mu,"ucap Sumi dalam tangisnya.


Sumi terisak memeluk erat tubuh Hendrik seolah-olah takut kehilangan Hendrik. Ada rasa lega dan bahagia dalam hati Sumi saat mendengar Hendrik mau menikah dengan dirinya. Tidak menyangka jika akhirnya dirinya bisa mengungkapkan perasaannya dan Hendrik menerima cintanya.


Kenyataan bahwa Sumi mengandung darah dagingnya dan Sumi menyatakan cintanya, bahkan bersedia menikah dengan dirinya merupakan sebuah surprise terbesar dalam hidup Hendrik.


Hendrik melerai pelukan mereka, lalu kembali menghapus air mata Sumi dengan kedua ibu jarinya. Senyuman hangat terukir di bibirnya.


"Berhentilah menangis! Lihatlah! Kamu telah membasahi kemejaku dengan air mata mu itu. Kamu bahkan mengotori kemeja ku dengan ingusmu,"ujar Hendrik menggoda Sumi.


"Maaf!"ucap Sumi dengan wajah tertunduk.


"Kenapa tiba-tiba dia jadi kucing manis seperti ini? Dimana kucing liar dan susah didekati dulu? Apa ini karena hormon kehamilannya? Manis sekali,"gumam Hendrik mengulum senyum mendapati perubahan sikap Sumi yang sangat drastis.


"Apa masih ada yang ingin kamu sampaikan padaku?"tanya Hendrik lembut, berharap Sumi mau memberitahu dirinya mengenai kehamilannya. Hendrik sudah tahu dari dokter, bahkan sudah melihat keadaan bayinya dalam kandungan Sumi melalui USG. Tapi Hendrik ingin mendengar kabar itu langsung dari mulut Sumi sendiri.


"Tidak,"sahut Sumi seraya menggeleng pelan.


"Lalu, kenapa kamu tidak menghubungi aku?"

__ADS_1


"Aku.. aku tidak mengandung karena kejadian waktu itu. Jadi, aku tidak punya alasan untuk menghubungi mu,"


Hendrik mengernyitkan keningnya mendengar perkataan Sumi,"Apa dia tidak tahu jika dia sedang mengandung?"gumam Hendrik dalam hati.


"Kamu tidak mengandung?"tanya Hendrik semakin penasaran.


"Sudah tiga hari ini aku datang bulan,"sahut Sumi jujur.


"Apa?! Ka.. kamu yakin jika kamu datang bulan?"tanya Hendrik yang tiba-tiba menjadi panik dan khawatir.


"Iya,"sahut Sumi yang menjadi bingung dengan perubahan ekspresi wajah Hendrik yang tiba-tiba menjadi panik dan khawatir.


"Kamu tunggu dulu di sini!"ucap Hendrik kemudian bergegas keluar dari ruangan itu.


"Kenapa dia seperti itu?"gumam Sumi menatap Hendrik yang menghilang di balik pintu.


Sumi menjadi semakin bingung dengan reaksi Hendrik saat dirinya mengatakan sedang datang bulan.


...Keikhlasan Hati...


...Saat aku pergi meninggalkanmu, aku hanya berdoa kepada Tuhan, semoga kamu menemukan bahagiamu....


...Karena aku sadar sedang berharap kepada orang yang tidak bisa kuharapkan....


...Kamu sudah menghancurkan hati ini hingga tak tersisa, namun aku tetap berjuang dengan kepingan hatiku yang ada....


...Tetap tersenyum setelah kau sakiti, mengikhlaskan hati bahwa kamu tak mungkin kumiliki....


...Karena denganmu, jatuh cinta adalah patah hati paling sengaja....


...Aku memutuskan untuk memaafkan mu. Andaipun kamu tak menyesal karena telah menyakitiku....


...Namun tak kusangka kamu menyatakan rasa cintamu. Menghapus segala luka di hatiku. Menjadikan aku orang paling bahagia di dunia, setelah sempat terluka, kecewa dan putus asa....


...Ada yang ku pelajari dari semua ini, ketulusan dan keikhlasan hati akan membuat kita bahagia suatu saat nanti....


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❤️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2