
Setelah makan siang di rumah Rayyan, Aiden membawa Aurora, Rayyan Pak Hamdan, dan Bu Ella ke rumah peninggalan kedua orang tuanya. Tidak ketinggalan Andi dan Roni yang selalu menjadi bayang-bayang majikannya pun ikut.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya rombongan itu tiba juga di rumah peninggalan kedua orang tua Aiden. Rumah yang selama ini jarang di kunjungi oleh Aiden karena merasa sedih setiap kali pulang ke rumah itu.
Rumah itu mengingatkan Aiden pada kedua orang tuanya dan juga adiknya yang menghilang karena kelalaian dirinya. Hal itulah yang membuat Aiden enggan untuk pulang ke rumah peninggalan kedua orang tuanya itu. Dan memilih tinggal di sebuah apartemen bersama dengan Roni.
Pintu utama rumah itu akhirnya terbuka lebar. Seorang pria tua berpakaian pelayan nampak menyambut Aiden dengan senyuman.
"Selamat datang, Tuan!"ucap pelayan itu sopan, tapi penuh wibawa.
"Pak, lihatlah siapa yang aku bawa!"ucap Aiden seraya merangkul Aurora penuh senyuman,"Ini adalah adik ku. Aira. Aku akhirnya menemukannya, Pak,"ucap Aiden dengan wajah yang terlihat bahagia.
"Syukurlah. Akhirnya nona ketemu juga,"ucap pelayan tua itu penuh syukur, Pria tua itu kut merasa bahagia.
"Apa bapak tahu? Kami sudah lama bertemu, tapi baru tahu tadi kalau kami adalah saudara kandung. Bahkan aku menghadiri acara pernikahannya dan memberikan sambutan dalam acara pernikahannya. Dia menikah dengan Rayyan. Dan lihat! Ini keponakan ku. Lucu, 'kan, Pak?"ujar Aiden seraya mengambil Zayn dari gendongan Rayyan dan menunjukkan Zayn pada pelayan tua itu dengan penuh rasa bangga.
"Iya, Tuan. Sangat lucu dan tampan,"sahut pelayan itu nampak terharu.
"Apa kita semua akan tetap diam dan berdiri di depan pintu seperti ini?"celetuk Rayyan menghela napas panjang.
"Ah, iya, maaf. Ayo kita ke ruang tamu!"ajak Aiden.
"Setelah menemukan adiknya, aku harap Tuan akan tinggal di sini bersama nona Aira. Dan semoga, Tuan segera mendapatkan jodoh yang baik yang bisa membuat Tuan merasa nyaman dan bahagia. Sudah sangat lama aku tidak melihat raut bahagia di wajah Tuan Aiden. Dan aku sangat bahagia, karena hari ini aku bisa melihat Tuan Aiden tersenyum bahagia,"gumam pelayan tua itu dalam hati penuh syukur.
Akhirnya Aiden memperkenalkan Aurora, Zayn, Pak Hamdan dan Bu Ella pada pria tua yang menjadi kepala pelayan di rumahnya. Pria tua yang sudah mengabdi di rumah itu sejak lama. Pria tua yang sudah menjaga rumah peninggalan kedua orang tua Aiden selama bertahun-tahun dan merupakan orang kepercayaan orang tua Aiden dan juga orang kepercayaan Aiden.
Aiden juga memberitahu kepala pelayan yang bernama Pak Wanto itu bahwa Pak Hamdan dan Bu Ella yang sudah menjadi orang tua angkatnya dan Aurora akan tinggal di rumah itu. Aiden meminta Pak Wanto untuk menyiapkan kamar bagi Aurora dan kedua orang tua angkat mereka.
__ADS_1
Aiden mengajak semua orang berkeliling melihat-lihat rumahnya. Banyak foto yang tergantung di dinding ataupun di meja yang nampak sangat terawat. Foto kedua orang tua Aiden dan Aurora dan juga foto-foto kebersamaan mereka sekeluarga.
Foto-foto itulah yang membuat Aiden selalu teringat akan kedua orang tua dan adiknya tersayang. Belum lagi begitu banyak kenangan manis yang dilewatinya saat bersama kedua orang tuanya dan adiknya.
Kenangan manis yang sangat menyakitkan bagi Aiden saat menyadari bahwa orang-orang dalam kenangan itu tidak ada lagi bersama dirinya.
"Sayang, foto kamu saat kecil sangat menggemaskan,"celetuk Rayyan yang memang juga sudah lama tidak ke rumah peninggalan kedua orang tua Aiden itu.
Aurora hanya tersenyum menanggapi perkataan Rayyan. Wanita itu menatap foto almarhum kedua orang tuanya yang tidak terekam oleh memori otaknya. Walaupun Aurora berusaha untuk mengingatnya, Aurora tetap tidak bisa mengingatnya.
"Pak, apa Aurora tidak mengatakan siapa nama kedua orang tuanya dan juga kakaknya saat bapak dan ibu menemukannya? Dulu, aku lumayan sering datang ke rumah ini dan selalu bertemu dengan Aiden dan Aurora. Seingat ku, waktu itu Aurora sudah bisa bicara dengan lancar dan juga sudah bisa menyebutkan siapa nama kedua orang tuanya dan nama Aiden,"ujar Rayyan.
"Saat kami menemukan Aurora, Aurora kehilangan ingatannya. Karena itulah kami kesulitan mencari informasi tentang orang tua Aurora,"jawab Pak Hamdan jujur adanya.
"Begitu rupanya,"sahut Rayyan.
"Apa bapak tidak menemukan kalung Aurora yang liontin nya adalah foto kami berdua?"tanya Aiden yang dulu memang meminta kedua orang tuanya membuatkan mereka kalung pasangan dengan liontin fotonya bersama Aurora.
"Aku sangat beruntung karena aku masih bisa bertemu dengan kamu lagi, Ra,"ucap Aiden seraya memeluk Aurora penuh rasa syukur.
Mendengar cerita Pak Hamdan, Aiden tidak bisa membayangkan bagaimana tubuh mungil adik kesayangannya terluka. Bahkan dulu, saat Aurora terluka sedikit saja Aiden sudah sangat panik. Aiden benar-benar menyayangi Aurora dan memperlakukan Aurora layaknya seorang putri. Dan jika Pak Hamdan tidak menyelamatkan Aurora, Aiden tidak akan bisa bertemu lagi dengan saudaranya satu-satunya itu.
"Aku tidak bisa mengungkapkan rasa terimakasih ku pada bapak dan ibu yang sudah menyelamatkan, merawat, mendidik dan membesarkan Aurora. Jika bapak dan ibu menginginkan atau membutuhkan apapun, tolong katakan padaku. Izinkan aku membalas budi bapak dan ibu sedikit saja,"ucap Aiden tulus.
"Kamu jangan merasa berhutang budi pada bapak dan ibu. Bapak dan ibu sangat bahagia bisa memiliki Aurora sebagai putri kami. Kebahagiaan yang kami lewati bersama Aurora selama puluhan tahun adalah anugerah terindah dari Tuhan untuk bapak dan ibu. Walaupun selama ini kami tidak bisa memberikan apapun untuk Aurora selain cinta dan kasih sayang. Bahkan Aurora hanya lulus SMA dan harus bekerja membanting tulang untuk melunasi semua hutang-hutang kami,"ucap Pak Hamdan tertunduk seraya memegang kedua bahu Bu Ella yang duduk di kursi roda di depannya.
Nampak rasa sesal di wajah pria paruh baya itu. Merasa belum bisa membahagiakan Aurora yang sudah dianggapnya sebagai putrinya sendiri.
__ADS_1
Bu Ella nampak tersenyum kecut mengingat Aurora yang harus membanting tulang untuk melunasi hutang-hutang mereka.
"Bapak dan ibu jangan bersedih seperti itu. Aku sangat beruntung dan bahagia selama menjadi putri kalian,"ucap Aurora penuh senyuman.
***
Hari sudah beranjak larut malam. Aiden nampak merebahkan tubuhnya di sebuah kursi malas yang ada di teras samping rumahnya. Memandang bulan yang bersinar terang malam ini. Hari ini pria rupawan itu benar-benar merasa bahagia, hingga tidak dapat mendeskripsikan perasaan bahagianya.
"Sepertinya hidupmu santai sekali,"
"Shiitt! Kamu mengagetkan aku saja,"umpat Aiden yang terkejut mendengar suara bariton Rayyan.
"Jangan banyak melamun! Kalau kesambet, 'kan, berabe,"ujar Rayyan santai seraya duduk di sebuah kursi yang tidak jauh dari Aiden.
"Hanya orang yang berjiwa lemah dan suka melamun yang mudah kesambet. Dan orang yang suka melamun itu biasanya orang yang nggak punya pekerjaan atau terlalu banyak waktu luang yang tidak dimanfaatkan. Sedangkan aku, aku orang yang memiliki jadwal pekerjaan padat. Mana sempat aku melamun,"tampik Aiden menanggapi perkataan Rayyan.
"Iya, juga, sih,"sahut Rayyan membenarkan perkataan Aiden.
"Kenapa sejak awal kamu tidak memberitahu aku tentang kecurigaan kamu bahwa Aurora adalah adikku?"
"Karena aku tidak ingin membuat kamu berharap dan akhirnya kecewa. Karena itu aku menyelidikinya secara diam-diam. Jika aku tidak memberitahu kamu, kamu tidak akan merasa kecewa jika Aurora bukan adik kamu. Karena kamu tidak tahu jika aku sedang menyelidikinya. Tapi kalau kecurigaan ku benar seperti sekarang, 'kan, jadi surprise buat kamu seperti hari ini,"
"Iya, juga, sih,"
..."Ngomong-ngomong, Apakah kamu sudah menemui gadis yang kamu sukai itu?"tanya Rayyan yang merasa penasaran dengan gadis yang di sukai oleh sahabatnya itu....
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued