
Andi mengendarai motornya menuju rumah Jony. Sesampainya di rumah Jony, dari pintu rumah sederhana yang sedikit terbuka itu, Andi bisa mendengar suara tangis Jony yang terdengar pilu.
"Tok! Tok! Tok!"
Andi mengetuk pintu rumah itu, dan tak lama kemudian Jony pun keluar dari rumah itu.
"Tu.. Tuan Andi?"Jony nampak terkejut melihat Andi.
"Bagaimana keadaan putri anda?"tanya Andi to the point.
"Bruk"
Tiba-tiba saja Jony berlutut di depan Andi,"Tuan, tolong Natalie, Tuan! Dia sakit parah. Tolong putri saya Tuan!"mohon Jony seraya memegangi kaki Andi berlinang airmata.
"Jangan seperti ini! Saya lebih muda dari anda. Kita lihat keadaan putri anda,"ujar Andi yang merasa risih melihat Jony berlutut di depannya seraya memegangi kakinya.
Walaupun Jony sangat jahat, tapi tetap saja pria itu lebih tua dari Andi, dan Andi merasa tidak sopan karena orang yang lebih tua darinya berlutut di depannya.
Jony membawa Andi masuk ke dalam kamar Natalie. Gadis itu terlihat terbaring tidak berdaya di atas ranjang. Wajahnya pucat pasi, dan bibirnya terlihat kering kerontang dan pecah-pecah. Saat Andi memeriksa suhu tubuhnya, tubuh Natalie terasa sangat panas.
Tanpa mengatakan apapun, Andi segera menghubungi ambulans untuk membawa Natalie ke rumah sakit.
"Terimakasih, Tuan! Terimakasih banyak karena menolong putri saya,"ucap Jony tulus setelah Andi menghubungi ambulans.
"Sekarang anda tahu, bukan, bagaimana rasanya jika orang yang anda sayangi sakit dan anda tidak bisa mengobati nya? Anda takut kehilangan dia, bukan?Lalu, bayangkan bagaimana perasaan ibu anda yang kehilangan suami, anak, menantu dan cucu-cucunya karena anda bakar hidup-hidup,"
"Apa harta yang anda rebut dan anda miliki sebelumnya bisa membuat anda bahagia? Tidak, bukan? Hidup ini memang butuh harta. Tapi harta bukanlah segalanya. Bergelimang harta pun kalau tidak memiliki cinta, sama seperti raga yang tidak bernyawa. Apa yang kita miliki di dunia ini hanya sementara dan hanya titipan-Nya semata. Jadi, jangan sombong dengan harta yang hanya titipan dan tidak seberapa. Bahkan hanya butiran debu di mata Tuhan yang Maha kaya,"
"Saya harap, anda bertobat dan memohon maaf dengan sepenuh hati pada ibu anda. Anda harus bersyukur, di usia anda yang sudah tidak lagi muda ini, anda masih memiliki seorang ibu. Sesakit apapun hati ibu anda, dia pasti akan memaafkan anda, jika anda benar-benar tulus meminta maaf dan berusaha berubah menjadi lebih baik,"
"Hidup anda tidak akan pernah bahagia, jika anda menyakiti hati ibu anda. Karena ridho ibu anda adalah ridho -Nya Tuhan. Apakah anda tahu? Seorang ibu akan berjuang untuk kebahagiaan anaknya, sekalipun dia harus mengorbankan kebahagiaannya,"ujar Andi menghela napas panjang.
Jony tertunduk. Apa yang dikatakan oleh Andi memang benar. Dulu dirinya hidup bahagia bersama kedua orang tuanya dan juga saudara-saudara nya. Walaupun mereka hanya tinggal di desa yang jauh dari keramaian kota.
Namun, gemerlap nya kota membuat dirinya serakah akan harta dan lupa bahwa kebahagiaan bukan karena harta semata. Cinta, kasih sayang dan perhatian orang-orang di sekitar kita membuat hati kita menjadi bahagia, walaupun hidup sederhana.
__ADS_1
Dan sejak dirinya pindah ke kota, dirinya tidak pernah merasakan hangatnya kebersamaan dalam keluarga dan juga tidak pernah merasa puas dengan harta yang dimilikinya. Bahkan menghalalkan segala macam cara untuk memperoleh harta. Namun nyatanya harta yang dimilikinya tidak bisa membuat dirinya merasa puas, apalagi benar-benar merasa bahagia.
"Saya masih ada urusan lain, jadi saya tidak bisa mengantarkan anda ke rumah sakit. Ini ada sedikit uang untuk makan selama menunggu Natalie di rumah sakit. Soal biaya Natalie di rumah sakit, tidak perlu anda pikirkan. Semuanya akan di tanggung oleh Tuan Rayyan,"ujar Andi seraya menyodorkan beberapa lembar uang pada Jony.
"Terimakasih, Tuan! Terimakasih!"ucap Jony tulus. Bahkan tanpa terasa Jony menitikkan air matanya.
Jony tidak menyangka jika Rayyan masih mau membantu dirinya. Padahal Jony telah melenyapkan nyawa papa Rayyan. Bahkan dirinya dan Natalie sudah banyak membuat kekacauan untuk Rayyan.
"Jika saya boleh bertanya, kenapa anda dan Tuan Rayyan masih mau membantu saya?"tanya Jony menatap Andi dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Karena Tuan Rayyan membalas dendam pada anda hanya untuk menyadarkan anda. Agar anda kembali ke jalan yang benar. Jika Tuan Rayyan balas dendam pada anda dengan cara membunuh anda, lalu apa bedanya Tuan Rayyan dengan anda?"sahut Andi sesuai dengan apa yang di ucapkan Rayyan.
Jawaban Andi semakin membuat Jony tenggelam dalam penyesalan. Semenjak usahanya bangkrut dan hidup dengan mengandalkan Natalie yang menjual diri, Jony benar-benar merasakan apa itu yang namanya hidup susah, menderita dan tidak dihargai oleh orang lain. Kehidupan yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya. Bahkan saat masih tinggal di desa bersama orang tua dan saudara-saudaranya pun tidak pernah hidup menderita seperti akhir-akhir ini.
Tak lama kemudian, ambulans pun datang. Natalie langsung di bawa ke rumah sakit setelah ambulan datang.
Setelah Jony dan Natalie pergi, Andi pun bergegas kembali ke kantor. Hampir setengah hari Andi tidak menyentuh pekerjaannya. Dan tentu saja perkejaan Andi sudah menggunung.
"Aku harus segera kembali ke kantor dan mengerjakan pekerjaan ku. Jam tiga sore nanti, aku harus mengantarkan Kanaya untuk check up. Kesempatan ini harus aku gunakan sebaik mungkin. Jika aku mengambil waktu sepulang kerja, maka dia akan di antar oleh Randy lagi,"gumam Andi bergegas kembali ke kantor.
Waktu terus berjalan. Detik berganti menit, menit berganti jam. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Andi sudah menunggu Kanaya di lobby gedung tempat mereka bekerja.
"Kita langsung ke parkiran,"ujar Andi begitu Kanaya menghampiri dirinya.
"Baik,"sahut Kanaya, lalu mengikuti Andi menuju parkiran.
Setelah mereka mengenakan helm dan siap di atas motor, Andi pun melajukan motornya. Dengan kecepatan standar pemuda itu terus melaju hingga beberapa menit kemudian mereka pun tiba di rumah sakit.
"Lukanya sudah hampir sembuh total. Saya pastikan tidak akan meninggalkan bekas,"ujar dokter yang selama ini menangani luka bakar akibat terkena kopi panas yang di alami Kanaya.
"Terimakasih, dok!"ucap Kanaya merasa senang.
Bagaimana pun, tubuh kita adalah aset kita, bukan? Maka dari itu, agama mengajarkan menjaga masa muda sebelum datangnya masa tua. Menjaga masa kaya sebelum jatuh miskin, dan menjaga kesehatan sebelum kita jatuh sakit. Jika divonis menderita penyakit yang tidak akan bisa di sembuhkan, maka apapun yang kita miliki tidak akan ada arti dan harganya.
Setelah selesai check up, Kanaya dan Andi berjalan menuju loket pembayaran.
__ADS_1
"Tolong untuk pasien yang bernama Natalie yang hari ini baru saja di rawat, hubungi nomor ini untuk biaya administrasi nya,"ujar Andi seraya menyerahkannya kartu namanya.
"Natalie? Siapa Natalie?"gumam Kanaya dalam hati.
Setelah urusannya di rumah sakit selesai, Andi pun melajukan motornya meninggalkan rumah sakit itu. Kanaya nampak mengernyitkan keningnya saat Andi tidak melewati jalan yang mereka lewati tadi.
"Tuan, kita mau kemana?"tanya Kanaya sedikit mengeraskan suaranya.
"Nanti kamu juga tahu,"sahut Andi yang membuat Kanaya semakin penasaran.
Andi terus melajukan motornya hingga mereka tiba di tepi pantai. Langit berwarna keemasan saat mereka tiba di tepi pantai itu. Senja yang indah pun mewarnai langit. Andi membawa Kanaya duduk di tepi pantai menatap senja.
"Dia mengajak aku melihat senja di tepi pantai? Indah sekali senja di tepi pantai ini,"gumam Kanaya dalam hati merasa senang.
"Rasa tak 'kan pernah tenggelam walaupun senja datang menyapa. Sekalipun hanya sejenak, keindahan senja selalu memukau mata,"gumam Andi yang masih bisa di dengar Kanaya seraya menatap langit senja.
Kanaya menoleh ke arah Andi saat pemuda itu mengucapkan kata-kata yang menurut Kanaya indah itu. Wajah tampan dengan hidung mancung, alis tebal dan rahang yang terlihat tegas. Namun selalu menampilkan wajah dingin dan datar. Itulah Andi bagi orang-orang yang tidak dekat dengannya.
"Orang ini sebenarnya tampan, sayangnya, mulutnya seperti petasan. Tumben hari ini dia tidak mengeluarkan kata-kata pedasnya itu. Orang ini benar-benar sulit ditebak apa isi pikiran nya,"gumam Kanaya yang masih menatap wajah Andi.
Tiba-tiba Andi menoleh pada Kanaya, membuat Kanaya terkejut dan langsung memalingkan wajahnya menatap senja. Wajah gadis itu nampak memerah karena malu kepergok oleh Andi sedang menatap wajah pemuda itu.
"Ay.."panggil Andi lembut membuat Kanaya kembali menoleh ke arah Andi.
"Aku bukan orang yang puitis yang bisa merangkai dan mengucapkan kata-kata romantis. Aku terbiasa mengucapkan apa yang ada di dalam hatiku tanpa bisa menyembunyikannya. Aku tahu, kita belum terlalu lama saling mengenal. Jarang bicara, apalagi jalan bersama. Tapi, aku memiliki banyak hal yang ingin aku katakan, walaupun sejujurnya sulit bagi ku untuk mengungkapkannya. Hal sederhana yang ingin aku katakan padamu adalah, aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Menemani mu dalam suka dan dukamu. Aku ingin menua bersamamu. Maukah kamu menjadi pendamping hidup ku?"tembak Andi membuat Kanaya terkejut.
...πππ...
...Saat kita jatuh, kita akan tahu siapa yang bertepuk tangan dan siapa yang mengulurkan tangan....
...Orang lemah, membalas dendam. Orang kuat, memaafkan. Orang cerdas, mengabaikan....
...πΈβ€οΈπΈ...
.
__ADS_1
To be continued