Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
95. Tidak Sederajat


__ADS_3

"Kamu sudah menikah?"tanya Bima pada Aurora dengan tatapan tidak percaya.


"Iya,"sahut Aurora tersenyum tipis.


"Begitu cepat kamu melupakan aku dan menikah dengan orang lain? Kamu tidak membohongi aku, 'kan?"tanya Bima tersenyum kecut. Tidak menyangka jika Aurora sudah melupakan dirinya. Dan tidak percaya jika Aurora sudah menikah.


Aurora menghela napas panjang mendapat pertanyaan yang terkesan meragukan tentang dirinya yang sudah menikah dari pria yang pernah menjadi kekasihnya itu.


"Aku benar-benar sudah menikah. Apa aku perlu menunjukkan surat nikah aku, baru kamu akan percaya?"tanya Aurora menghela napas.


"Maaf! Kami harus pergi,"ujar Bu Ella, menarik tangan Aurora ingin meninggalkan tempat itu. Tidak ingin putrinya terlalu lama bersama pria yang notabene adalah mantan pacar putrinya.


"Tunggu!"ucap Bima bergegas menghadang Aurora,"Ini kartu namaku! Tolong hubungi aku jika kamu ada waktu luang,"ucap Bima seraya menyodorkan kartu nama pada Aurora.


"Baiklah, ibu menerimanya,"ujar Bu Ella seraya tersenyum tipis, senyum yang dipaksakan. Mengambil kartu nama yang diberikan Bima kemudian kembali menarik tangan Aurora menjauh dari Bima.


Bima menghela napas panjang menatap sendu Aurora yang berjalan semakin menjauh. Sampai saat ini, Bima masih mencintai Aurora. Bertunangan pun dengan wanita yang tidak di cintainya. Dijodohkan dengan gadis pilihan kedua orang tuanya.


Sementara itu, tidak jauh dari tempat Bima berada, ada seorang wanita paruh baya yang mengawasi Bima sedari tadi. Dengan wajah geram, wanita paruh baya itu menghampiri Bima yang masih diam terpaku menatap Aurora yang semakin menjauh.


"Kenapa kamu masih saja mendekati wanita itu? Apa kamu tidak ingat, jika kamu sudah memiliki tunangan?"tanya wanita paruh baya itu pada Bima.


Bima menghela napas panjang mendengar suara yang sangat di kenalnya itu. Suara wanita yang telah melahirkannya.


"Bu, walaupun aku mendekati dia, dia juga menolak aku. Dia terlalu sakit hati dengan kata-kata ibu waktu itu. Dan tunangan? Aku sudah mengatakan pada ibu, aku tidak mencintai dia, Bu. Aku hanya mencintai Aurora. Jika ibu tetap memaksa aku untuk menikahi wanita pilihan ibu, aku tidak bisa menjamin jika aku bisa membahagiakan dia,"sahut Bima yang memang belum bisa move on dari Aurora. Bahkan sampai saat ini, Bima belum atau tempatnya tidak mau mempercayai jika Aurora telah menikah.


"Menolak kamu? Dia hanya berpura-pura menolak kamu, agar kamu mengejar dia. Dan masalah tunangan kamu, cinta itu bisa tumbuh seiring waktu. Jika kamu mau berusaha, kamu pasti akan mencintai tunangan kamu. Tapi kalau kamu terus mendekati perempuan itu, bagaimana kamu bisa mencintai wanita pilihan ibu? Ingat, Bim! Dia itu tidak sederajat dengan kita. Dia itu berasal dari kalangan menengah ke bawah. Hanya lulusan SMA dan nilainya juga selalu standar. Cuma cantik, tapi kalau tidak pintar juga percuma. Yang muda akan tua. Yang cantik akhirnya akan keriput juga.Taoi kalau pintar, selama masih mau mengasah otaknya, akan semakin pintar,"ujar ibu Bima.

__ADS_1


Memang benar, secantik, setampan apapun seorang manusia, pasti akan menua dan keriput juga. Tapi ibu Bima lupa, atau mungkin tidak tahu. Jaman sekarang, dengan pola hidup sehat dan dengan segala macam perawatan, seseorang bisa cantik / tampan di usia yang tidak lagi muda. Bahkan bisa terlihat sepuluh tahun lebih muda jika menerapkan pola hidup sehat dan merawat diri dengan berbagai macam perawatan. Terutama dengan cara menggunakan skincare yang lengkap dan teratur.


"Bu, mencintai seseorang karena kecantikan atau ketampanan itu wajar. Tapi bukan berarti cinta itu karena penampilan fisik. Cinta itu dari hati, tanpa alasan dan tidak bisa dipaksakan. Dan juga, tidak semua orang yang mempunyai nilai akademik pas-pasan atau rendah itu bodoh, Bu. Setiap orang memiliki kepintarannya masing-masing yang ditunjukkan dalam kemampuan yang dikuasainya. Ada orang yang pintar dalam hal teori tapi tidak bisa prakteknya. Ada pula yang tidak bisa menguasai teori, tapi bisa praktek secara langsung. Nilai akademik tidak bisa menjadi tolok ukur pintar atau bodohnya seseorang, Bu,"ujar Bima panjang lebar.


"Apapun alasannya, ibu tetap tidak setuju jika kamu menikah dengan perempuan itu. Dia itu hanya memanfaatkan kamu untuk membayar hutang-hutang kedua orang tuanya,"ujar ibu Bima kukuh dengan pendiriannya.


"Aurora bukan wanita yang seperti itu, Bu. Bahkan selama kami menjalin hubungan, dia tidak pernah meminta apapun padaku,"sahut Bima jujur adanya. Selama menjalin hubungan dengan Bima, Aurora memang tidak pernah meminta apapun dari Bima.


"Itu hanya pencitraan agar kamu menganggap dia baik. Setelah berhasil menikah dengan kamu, dia pasti akan meminta banyak hal sama kamu. Yang pertama, dia pasti meminta kamu untuk melunasi hutang-hutang orang tuanya,"ujar ibu Bima.


"Kenapa, sih, ibu selalu memandang buruk pada Aurora? Apa sebenarnya kesalahan Aurora pada ibu, sehingga ibu begitu membenci dia?"tanya Bima yang merasa kesal pada ibunya.


"Karena dia memang tidak ada baiknya sama sekali. Kelebihan nya hanya cantik. Selain itu, dia tidak memiliki apapun yang bisa dibanggakan,"sahut ibu Bima


"Terserah ibu! Yang pasti, aku tidak bisa melupakan Aurora. Aku hanya mencintai Aurora. Jika suatu hari nanti ada kesempatan, aku pasti akan menikahi dia,"ujar Bima kemudian melangkah pergi meninggalkan ibunya.


"Jaman serba canggih seperti ini masih percaya sama tahayul,"ujar Bima terus melangkah pergi meninggalkan ibunya yang terlihat kesal.


Sementara itu, Bu Ella terus menarik Aurora menjauh dari Bima.


"Ra, kenapa kamu masih meladeni dia? Jelas-jelas orang tuanya membenci kamu. Apalagi sekarang kamu sudah menikah. Tidak baik jika kamu dekat dengan pria lain. Apa kamu tidak takut jika anak buah suami kamu melapor pada suami kamu tentang kamu yang bertemu dengan pria lain?"gerutu Bu Ella sambil berjalan, kemudian membuang kartu nama yang diberikan Bima tadi ke tempat sampah yang mereka lewati.


"Iya, aku tahu, Bu,"sahut Aurora menghela napas panjang.


Bagaimana pun Bima pernah menjadi pria yang spesial di hatinya. Aurora tidak bisa mengacuhkan apalagi bersikap kasar pada Bima.


"Jangan bilang, kamu masih mencintai dia?"tanya Bu Ella memicingkan sebelah matanya menatap Aurora.

__ADS_1


"Sudahlah, Bu! Tidak usah di bahas lagi! Aku lapar. Ayo kita cari tempat untuk makan dulu!"ajak Aurora mengalihkan pembicaraan, tidak ingin di ceramahi oleh ibunya tentang masalah ini.


"Ingat, Ra! Pernikahan itu sebuah ikatan suci. Jadi, jangan mudah berpikir untuk bercerai!"nasehat Bu Ella.


"Iya, Bu. Aku tahu. Aku tidak ada niat untuk bercerai dari Rayyan,"sahut Aurora terus berjalan'bergandengan tangan dengan Bu Ella seraya mencari tempat untuk makan siang.


"𝘽𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙢𝙪𝙣𝙜𝙠𝙞𝙣 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙘𝙚𝙧𝙖𝙞 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙍𝙖𝙮𝙮𝙖𝙣? 𝙎𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖 𝙍𝙖𝙮𝙮𝙖𝙣 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙠𝙝𝙞𝙖𝙣𝙖𝙩𝙞 𝙖𝙠𝙪, 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙚𝙧𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙍𝙖𝙮𝙮𝙖𝙣,"gumam Aurora dalam hati. Aurora masih sangat ingat dengan poin-poin dalam surat perjanjiannya dengan Rayyan.


"Bagus kalau begitu. Suami kamu itu pria yang baik dan mencintai kamu. Ibu bisa melihatnya dari wajahnya juga dari caranya menatap dan memperhatikan kamu. Bahkan Rayyan melarang ibu membangunkan kamu, saat dia ingin pergi,"ujar Bu Ella.


"Hum, aku tahu,"sahut Aurora.


Aurora akhirnya mengajak Bu Ella dan kedua orang bodyguard nya makan di sebuah restoran. Nala dan Dodi memilih makan di meja yang ada di sebelah Aurora. Agar bisa menjaga majikannya itu dari dekat.


"Byurr"


"Apa yang kamu lakukan?"pekik Bu Ella.


Tiba-tiba ada yang menyiram kepala Aurora, hingga Aurora basah kuyup. Nala dan Dodi pun langsung bangkit dari tempat duduk mereka dan bergegas menghampiri Aurora.


...🌟"Menilai dan mencari keburukan orang lain itu mudah. Tapi jangan pernah melakukannya, jika kamu masih membutuhkan cermin atau orang lain untuk melihat punggung mu sendiri."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2