
Setelah meeting selesai, Andi mengikuti Rayyan mengantar salah seorang rekan bisnis lama mereka ke lobby gedung itu.
"Terimakasih karena sampai saat ini masih setia menjadi rekan bisnis kami,"ucap Rayyan pada pria paruh baya yang paling lama menjadi rekan bisnis Rayyan.
"Bekerja sama dengan perusahaan anda telah membawa banyak keuntungan bagi perusahaan kami. Tentu saja kami selalu menjadi partner setia perusahaan anda. Oh, iya, saya, kok, merasa aura Tuan Andi hari ini sangat berbeda, ya? Auranya hari ini seperti membawa kebahagiaan dan juga energi positif,"ujar pria paruh baya itu tersenyum lembut menatap Andi.
"Tentu saja berbeda, Tuan. Aura pengantin baru memang menebarkan energi positif. Maklum, masih anget-angetnya, masih harum-harumnya,"ujar Rayyan mengulum senyum.
"Eh, jadi Tuan Andi sudah menikah?"tanya pria paruh baya itu nampak terkejut.
Sudah lama mengenal Rayyan dan Andi, pria paruh baya itu tahu benar bahwa Andi sangat sulit di dekati wanita dan juga terlihat datar pada wanita. Hingga pria itu terkejut saat mendengar Andi sudah menikah.
"Iya, Tuan. Saya sudah menikah beberapa hari yang lalu,"sahut Andi membenarkan.
"Wah, selamat, ya, Tuan Andi. Saya tunggu undangan resepsi pernikahannya,"ucap pria paruh baya itu tertawa renyah.
Semua karyawan perusahaan Rayyan yang mendengar pembicaraan tiga orang pria itu pun sangat terkejut mengetahui berita tentang Andi yang telah menikah. Apalagi para wanita singel yang menjadi fans Andi selama ini. Mereka menjadi patah hati berjama'ah, alias patah hati beramai-ramai.
"Aiihh.. Aku patah hati. Ternyata Tuan Andi sudah tidak singel lagi,"gumam seorang karyawati berambut pendek.
"Siapa gerangan yang sudah berhasil meluluhkan dan menaklukkan hati Tuan Andi yang dingin dan datar itu?"sahut karyawati berambut keriting.
"Pantas saja, dua hari ini ada bekas tanda percintaan di leher dan bibir Tuan Andi. Ternyata, sudah ada yang memiliki,"celetuk karyawati yang memakai kawat gigi.
"Beruntung sekali wanita itu bisa memiliki Tuan Andi. Aku yang sudah bertahun-tahun mendekati dia, boro-boro mau di tanggapi, di lirik aja enggak. Di cuekin, iya,"ujar karyawati berambut pendek.
"Sama, aku juga,"sahut karyawati berambut keriting.
"Sabar! Kalau jodoh pasti bertemu di pelaminan. Tapi, hanya sebagai tamu undangan,"sahut karyawan berkacamata terkekeh kecil.
"Huff.. Ternyata memang benar. Sendok di tangan kanan. Garpu di tangan kiri. Tapi jodoh tetap di tangan Tuhan,"ujar karyawati yang memakai kawat gigi.
"Sudah! Karena kalian sudah lama mendekati Tuan Andi, tapi tidak bisa mengambil hatinya, maka sekarang ambil saja hikmahnya. Itu berarti, Tuan Andi bukan jodoh salah satu dari kalian dan bukan yang terbaik untuk kalian. Sama aku saja, pasti aku terima. Kalau sama aku, kita tidak perlu ngontrak. Rumah dan motor ku ada, walaupun masih kreditan setengah jalan, tapi sudah ada, dan bisa digunakan,"cetus karyawan berkacamata terlihat percaya diri.
"Kamu mau salah satu dari kami menjadi istri mu? Buat membantu membayar cicilan motor dan cicilan rumah mu? Ogah,"cetus karyawati yang memakai berambut keriting.
"Masih mending menerima aku yang mau menerima salah satu dari kalian sebagai istri ku. Dari pada jadi perawan tua nggak laku-laku,"sahut karyawan berkacamata.
"Buat apa menerima kamu yang di bawah standar dan tidak sesuai ekspektasi. Nggak bakal bahagia,"sahut karyawati berambut pendek.
__ADS_1
"Jangan terlalu berekspektasi dan memasang standar kebahagiaan kalian terlalu tinggi! Kalau jatuh, nyungsep, nggak bakalan bahagia selamanya. Sekalipun cempedak berbuah nangka,"ujar karyawan berkacamata itu, kemudian berlalu pergi. Sedangkan para karyawati itu hanya bisa membuang napas kasar.
Itulah kasak kusuk para karyawan yang hari ini mengetahui bahwa Andi bukan pria singel lagi. Ada rasa kecewa di hati mereka.
Rayyan dan Andi mengantar kepergian rekan bisnis mereka hingga pria paruh baya itu masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu, Rayyan kembali ke ruangannya. Sedangkan Andi masuk ke ruangannya. Tak lama kemudian, pemuda itu masuk ke ruangan Rayyan dengan membawa beberapa berkas.
"Tuan, ini semua pekerjaan saya yang sudah saya selesaikan. Jika Tuan perlu apa-apa, Tuan bisa menghubungi saya,"ujar Andi seraya meletakkan beberapa berkas yang di bawanya di atas meja Rayyan.
"Kamu akan berbulan madu kemana?"tanya Rayyan kepo.
"Di kota kelahiran Kanaya. Di kota itu banyak destinasi wisata yang indah yang sangat direkomendasikan untuk kunjungi,"ujar Andi yang selalu siap dengan berbagai hal dengan detail, walaupun terkadang realita tidak sesuai prediksi.
"Mau berangkat hari ini juga?"tanya Rayyan lagi.
"Belum tentu, Tuan. Tergantung bagaimana Kanaya saja,"sahut Andi yang bahkan belum memberi tahu rencananya pada Kanaya.
"Oh, ternyata belum pasti. Oh, ya, Ini flash disk foto-foto pernikahan kamu yang di titipkan kakak ku untuk mu,"ucap Rayyan seraya mengambil flash disk dari kantong jas-nya, lalu memberikan nya pada Andi,"Foto-foto yang ada di flash disk ini bisa menjadi bukti kalau kalian berdua sudah menikah, walaupun kalian tidak membawa buku nikah. Biar kalian tidak di jaring Sat Pol PP. Atau yang lebih parahnya di gerebek aparat gabungan seperti kemarin dengan tuduhan, kalian adalah pasangan belum halal yang sedang berbuat mesum. Padahal kalian adalah pengantin baru yang baru saja ingin merasakan indahnya surga dunia,"ujar Rayyan terkekeh geli mengingat kisah Andi. Sedangkan Andi hanya bisa berwajah masam mendengar ledekan Rayyan itu.
"Ini juga bisa mengantisipasi agar kalian tidak di tuduh berbuat mesum saat berduaan di tempat sepi, agar saat ketahuan tidak di arak oleh warga keliling kampung. Ya.. Siapa tahu saja kamu sudah tidak tahan dan menerkam Kanaya di gubuk pinggir jalan atau di semak-semak belukar,"ujar Rayyan kemudian tertawa.
"CK. Tuan ini sembarangan saja kalau bicara. Mana mungkin saya melakukannya di sembarang tempat,"tukas Andi mendengus kesal.
"Jangan-jangan, Tuan pernah melakukannya di tempat-tempat yang Tuan bilang tadi,"celetuk Andi yang mulutnya ceplas-ceplos itu.
"Sembarangan! Aku tidak pernah seperti itu. Tapi, mengingat kamu yang baru merasakan indahnya surga dunia, aku takut kamu akan khilaf dan melakukannya kapan saja dan di mana saja,"ujar Rayyan yang entah mengapa merasa takut Andi akan melakukan hal-hal ekstrim bersama Kanaya.
"Saya tidak akan khilaf dan melakukan seperti apa yang Tuan katakan,"ujar Andi penuh percaya diri.
"Aku harap kamu bisa memegang prinsip kamu,"ujar Rayyan menghela napas panjang.
"Tentu saja, saya akan memegang prinsip saya. Oh, ya, Tuan, selama saya pergi nanti, semua hal yang perlu di selidiki akan di tangani bawahan saya. Soal penyelidikan tentang wanita yang dekat dengan Tuan Aiden itu, sebentar lagi akan segera selesai,"lapor Andi mengalihkan pembicaraan.
"Nanti, jika penyelidikan bawahan mu sudah selesai, suruh bawahan kamu itu langsung melapor padaku,"pinta Rayyan.
"Baik Tuan. Kalau begitu, saya pamit pulang, Tuan,"ucap Andi yang memang datang hanya untuk menghadiri meeting dan menyerahkan berkas-berkas yang sudah selesai di kerjakannya.
"Hum. Hati-hati!"ucap Rayyan tulus.
"Terimakasih, Tuan,"ucap Andi kemudian meninggalkan ruangan majikannya itu.
__ADS_1
Rayyan menghela napas panjang melihat Andi keluar dari ruangannya.
"Semoga kamu bahagia, Ndi! Aku akui, lebih mudah menghadapi Andi yang ceplas-ceplos dari pada menghadapi kak Aiden yang lebih suka memendam perasaan dan masalah nya sendiri,"gumam Rayyan yang jadi teringat pada sahabat sekaligus kakak iparnya.
*
Hari sudah sore saat Andi mengendarai motornya menuju apartemen nya. Beberapa menit kemudian, pemuda itupun sampai di apartemen nya. Saat masuk ke unit apartemennya, pemuda itu tersenyum melihat Kanaya yang masih terlelap.
"Istirahatlah dan pulihkan energi mu, agar aku bisa menerkam mu lagi,"gumam Andi seraya melepaskan jas nya, kemudian bergegas ke kamar mandi.
Tak lama kemudian, Andi pun keluar dari dalam kamar mandi dengan bertelanjang dada. Pemuda itu nampak mengemas barang-barangnya dan juga barang-barang Kanaya ke dalam tas ransel yang cukup besar. Setelah selesai mengemasi barang-barangnya dan Kanaya, Andi pun mendekati Kanaya.
"Emm.. Bee.."gumam Kanaya saat Andi memeluk tubuhnya dan menyesap lehernya.
Kanaya mulai membuka matanya karena tidurnya terganggu oleh ulah Andi. Wanita itu menelan salivanya kasar saat melihat Andi sudah bertelanjang dada.
"Dia tidak akan menerkam aku lagi, 'kan? Aku masih sangat lelah sekali,"gumam Kanaya dalam hati.
"Kita akan pulang, kamu ingin berangkat kapan? Hari ini atau besok?"tanya Andi seraya merapikan anak rambut Kanaya. Jemari tangan pemuda itu nampak merayap menyentuh bibir Kanaya. Sedangkan tangan sebelahnya sudah merayap di dada Kanaya.
"Se.. Sekarang saja,"sahut Kanaya yang langsung beranjak bangun,"Aku tidak ingin di terkamnya lagi oleh nya. Tubuhku masih terasa pegal semua karena ulahnya,"gumam Kanaya dalam hati saat melihat tatapan mata Andi yang mulai berhasraat pada dirinya.
...πππ...
...Imajinasi dan ekspektasi itu adalah karangan diri sendiri yang belum tentu bisa menjadi reality....
...Realitas dapat menghancurkan mimpi, tapi mimpi tidak bisa menghancurkan realita....
...Ingin memiliki, tapi kenyataan tidak merestui itu seperti ekspektasi yang jatuh karena reality....
...Bukan realita yang terlalu pahit, tapi ekspektasi yang terlalu manis....
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
To be continued
__ADS_1