Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
71. Terkejut


__ADS_3

Naima menatap jus buah yang sudah di pindahkan Mastuti di dalam gelas.


"Wahh.. ada jus buah. Kebetulan sekali aku haus,"ucap Naima ingin meraih jus buah yang sudah di buat Mastuti.


"Jangan, nyonya! Ini untuk nyonya Aurora,"ucap Mastuti langsung mengambil jus buah itu, dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya memegang cangkir teh untuk Nala.


"Kamu, 'kan tinggal membuatnya lagi. Apa susahnya, sih?"ketus Naima yang memang ingin mengalihkan perhatian Mastuti.


"Benar. Tante Naima ini adalah majikan kamu. Seharusnya kamu menurut pada majikan kamu,"imbuh Natalie.


Melihat Mastuti tidak memperhatikan cangkir teh yang dipegangnya, Hendrik pun tersenyum miring.


Saat Mastuti menatap mamanya dan Natalie, Hendrik pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Pria itu memasukkan obat pencuci perut berbentuk cair ke dalam cangkir teh yang dipegang oleh Mastuti tanpa diketahui oleh Mastuti, lalu Hendrik segera menjauh dari Mastuti, agar Mastuti tidak curiga padanya.


"Maaf! Nyonya bisa meminta pelayan lain untuk membuatnya,"ujar Mastuti langsung keluar dari dalam dapur ,tanpa menyadari jika Hendrik telah memasukkan obat ke dalam teh yang di buat Mastuti untuk Nala.


"Dasar pelayan sombong!"kesal Natalie, tapi Mastuti tidak perduli, wanita itu terus melangkah meninggalkan dapur.


"Yes! Berhasil!"ucap Naima, Natalie dan Hendrik bersamaan setelah Mastuti keluar dari dapur.


"Oke, setelah Nala pergi ke kamar mandi, kalian keluarkan Aurora dari dalam rumah. Aku akan mengatasi Mastuti, lalu aku akan menunggu di luar,"ujar Hendrik penuh semangat. Hendrik merasa paling diuntungkan jika misi mereka ini berhasil.


"Oke, serahkan pada mama,"sahut Naima antusias, terbit senyum licik di bibir wanita paruh baya itu.


Setelah Mastuti kembali dari mengantarkan minuman tadi, Hendrik mengawasi Mastuti. Dengan mengendap-endap, Hendrik mendekati Mastuti lalu...


"Bugh"


Hendrik memukul tengkuk Mastuti hingga Mastuti jatuh pingsan. Hendrik bergegas mengangkat tubuh Mastuti menuju kamar Mastuti sendiri.


"Berat juga ini perempuan. Selain punya kelebihan pintar memasak, ternyata dia juga punya kelebihan lemak di tubuhnya,"gumam Hendrik terus berjalan menuju kamar Mastuti.

__ADS_1


Setelah membaringkan Mastuti di kamarnya, Hendrik bergegas keluar dari rumah, menuju mobilnya. Sedangkan Naima dan Natalie mengawasi Nala dari jauh. Tak lama kemudian, Naima dan Natalie melihat Nala bergegas menuju kamar mandi.


"Obatnya sudah bereaksi. Ayo, kita seret keluar perempuan jalangg itu!"ujar Naima penuh semangat.


"Baik, Tan,"sahut Natalie tak kalah bersemangatnya dengan Naima.


Tidak membuang kesempatan, Naima dan Natalie pun bergegas ke kamar Rayyan. Namun saat akan menaiki tangga menuju kamar Rayyan, handphone Natalie tiba-tiba berdering.


"Tan, aku angkat telepon dari papa dulu, ya?"ucap Natalie menunjukkan layar handphone nya pada Naima.


"Iya, Tante akan masuk lebih dulu," sahut Naima.


"Oke,"sahut Natalie kemudian mencari tempat untuk menerima telepon dari papanya.


Nala masih berada di dalam kamar mandi lantai satu. Perempuan itu meringis merasakan perutnya sangat sakit dan melilit.


"Kenapa tiba-tiba perutku sakit seperti ini, ya? Aku takut ada orang yang sengaja memberi obat di tehku. Karenanya setelah meminum teh tadi, perutku langsung sakit. Tapi pasti bukan Mastuti yang melakukannya. Kenapa firasat ku tidak enak, ya? Aku merasa akan ada hal buruk yang akan terjadi,"gumam Nala yang masih berada di dalam kamar mandi. Meringis memegangi perutnya yang terasa sangat sakit. Suara kentutnya terus terdengar seiring isi perutnya yang terkuras.


"Brakk"


Naima membuka pintu kamar Rayyan dengan kasar. Aurora yang baru saja keluar dari walk-in closet pun terkejut mendengar suara pintu yang dibuka dengan kasar itu. Aurora melihat Naima yang melangkah cepat menghampirinya.


"Dasar jalangg! Keluar kamu dari rumahku!"teriak Naima langsung menjambak rambut Aurora, dan menarik Aurora keluar dari kamar itu.


"Akhh! Sakit! Lepaskan!"pekik Aurora kesakitan karena Naima menarik rambutnya dengan kuat.


Aurora tidak punya pilihan lain, selain mengikuti langkah Naima yang menarik rambutnya, berjalan keluar dari kamar itu.


"Perempuan jalangg, kotor seperti kamu tidak pantas tinggal di rumah ini, walaupun hanya sebagai pelayan sekalipun!"sergah Naima terus menarik Aurora turun dari tangga.


"Lepaskan! Sakit!"pekik Aurora memegang rambutnya yang ditarik oleh Naima.

__ADS_1


"๐™…๐™ž๐™ ๐™– ๐™จ๐™–๐™Ÿ๐™– ๐™™๐™ž๐™– ๐™—๐™ช๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™ž๐™—๐™ช ๐™ข๐™š๐™ง๐™ฉ๐™ช๐™–๐™ ๐™ช ๐™™๐™–๐™ฃ ๐™–๐™ ๐™ช ๐™ฉ๐™ž๐™™๐™–๐™  ๐™ž๐™ฃ๐™œ๐™ž๐™ฃ ๐™ ๐™ช๐™ฌ๐™–๐™ก๐™–๐™ฉ ๐™ ๐™–๐™ง๐™š๐™ฃ๐™– ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™ฎ๐™–๐™ ๐™ž๐™ฉ๐™ž ๐™™๐™ž๐™–, ๐™–๐™ ๐™ช ๐™ฅ๐™–๐™จ๐™ฉ๐™ž ๐™จ๐™ช๐™™๐™–๐™ ๐™ข๐™š๐™ข๐™—๐™–๐™ฃ๐™ฉ๐™ž๐™ฃ๐™œ ๐™™๐™–๐™ฃ ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™œ๐™๐™–๐™Ÿ๐™–๐™ง ๐™ฅ๐™š๐™ง๐™š๐™ข๐™ฅ๐™ช๐™–๐™ฃ ๐™ž๐™ฃ๐™ž,"gumam Aurora dalam hati.


Walaupun bagaimana, Naima adalah ibu mertuanya. Wanita yang mengandung dan melahirkan suaminya dengan taruhan nyawa. Jadi, Aurora tidak mau menyakiti Naima. Takut kuwalat.


Natalie yang baru saja selesai menerima telepon dari papanya nampak tercengang saat melihat Naima menyeret Aurora turun dari tangga.


"Astagaaa.. sadis sekali Tante Naima. Perempuan tua itu benar-benar menyeret wanita jalangg itu,"gumam Natalie lirih dengan tatapan mata tidak percaya dan ngeri. Setelah selesai menerima telepon dari papanya, Natalie bermaksud kembali menghampiri Naima. Namun Natalie malah di buat terkejut melihat Naima menarik rambut Aurora turun dari tangga.


Sedangkan di luar rumah, tepatnya di dalam mobil, Hendrik nampak merogoh semua saku celananya.


"Haiss.. shitt! Aku lupa membawa handphone aku,"gerutu Hendrik bergegas masuk ke dalam rumah.


"Lepaskan!"pekik Aurora membuat Hendrik terkejut melihat Naima yang turun dari tangga seraya menyeret Aurora dengan cara menarik rambut Aurora. Hendrik sampai terdiam beberapa saat di tempatnya karena terkejut.


"Kenapa mama sadis sekali? Sayang sekali perempuan secantik Aurora di perlakukan kasar seperti itu. Aku tidak menyangka mama akan benar-benar menyeret Aurora,"gumam Hendrik lirih.


Hendrik bergegas berjalan menghampiri Aurora,"Ma! Apa yang mama laku..."


"Ada apa ini?"bentak suara bariton menggelegar memotong perkataan Hendrik. Suara yang terdengar penuh amarah dari belakang Hendrik, hingga Hendrik menghentikan langkahnya dan langsung menoleh ke belakang. Hendrik melihat Rayyan dengan langkah lebar berjalan cepat menghampiri Naima dan Aurora.


Naima terkejut mendengar suara yang begitu familiar di telinganya itu,"Ke.. Kenapa dia sudah pulang?"gumam Naima, spontan perempuan paruh baya itu menghentikan langkahnya dengan tangan yang masih mencengkram rambut Aurora. Tiba-tiba wajah Naima menjadi pias saat melihat Rayyan berjalan dengan langkah lebar menghampiri dirinya dengan wajah penuh amarah.


Hendrik juga sangat terkejut melihat Rayyan,"Mampus! Kenapa tiba-tiba Rayyan sudah pulang?"gumam Hendrik dengan wajah tak kalah pias dari Naima.


Natalie pun tak kalah terkejutnya dengan Naima dan Hendrik,"Gawat! Kenapa tiba-tiba Rayyan pulang? Habislah aku jika Tante Naima mengatakan bahwa aku ikut dalam misi menyeret perempuan jalangg itu keluar dari rumah ini,"gumam Natalie lirih. Nampak kegelisahan di mata Natalie saat melihat dan mendengar suara menggelegar Rayyan.


...๐ŸŒธโค๏ธ๐ŸŒธ...


โ€ขJangan lupa tempelin jempolnya dan tinggalkan jejak di kolam komentar, ya! Biar yang nulis tambah semangat dan nggak ngantuk.๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2