
Sumi bergegas keluar dari kamarnya saat seorang pelayan memberitahunya bahwa Andi sudah datang. Sumi menghampiri Andi yang sudah duduk di sofa ruang tamu.
"Tuan Andi!"sapa Sumi tersenyum tipis.
"Saya ke sini untuk menjelaskan beberapa hal pada Nona. Salah satunya tentang rumah ini. Rumah ini tidak ada dalam perjanjian antara nona dan Tuan Rayyan. Tapi, Tuan Rayyan menghadiahkannya untuk nona, karena nona adalah sahabat nyonya Aurora. Ini surat-surat rumah ini. Semua sudah atas nama nona. Dan sebagai warga negara yang baik, jangan lupa untuk membayar pajak! Walaupun uang pajaknya masih saja dikorupsi tikus-tikus berdasi,"ujar Andi menjelaskan seraya meletakkan surat-surat rumah itu.
"Terimakasih, Tuan. Tolong sampaikan ucapan terimakasih saya pada Tuan Rayyan,"ucap Sumi senang.
"Iya. Tapi ingat! Jika nona berani menjual diri lagi, maka Tuan Rayyan tidak akan hanya menghancurkan restoran nona, tapi juga menghancurkan wajah nona. Jangan memanfaatkan wajah anda yang mirip dengan nyonya Aurora untuk hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan. Jadilah wanita baik-baik! Dan jalani hidup Anda dengan baik. Karena saya yakin, ibu dan adik-adik nona tidak akan senang jika memiliki anak dan kakak seorang wanita penghibur. Ingat! Semua perjanjian kita sudah disepakati. Hitam di atas putih! Jika nona melanggarnya, kami akan menuntut Anda karena melakukan operasi plastik mirip wajah nyonya kami tanpa persetujuan dari Nyonya kami,"ancam Andi dengan tatapan tajam dan dingin mengintimidasi Sumi.
"Iya. Saya mengerti,"sahut Sumi susah payah menelan salivanya, bergidik ngeri melihat tatapan tajam dan dingin Andi,"Asistennya saja seperti ini, gimana dengan majikannya? Pantas saja Aurora sepertinya sangat takut pada suaminya,"gumam Sumi dalam hati.
"Dan ingat! Kelola keuangan anda dengan baik.Jangan membeli barang-barang yang tidak berguna. Kita tidak tahu bagaimana hidup kita ke depannya, jadi jangan menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak penting. Karena mencarinya tidaklah mudah. Jika usaha anda sampai bangkrut karena anda boros, lalu anda menjual diri dengan alasan itu, saya pastikan akan menghancurkan wajah anda,"ancam Andi dengan tatapan tajam dan mengintimidasi.
Dari informasi yang diberikan oleh Aurora, Andi tahu jika Sumi itu sedikit boros karena suka membeli barang yang tidak terlalu di butuhkan. Dan suka mengoleksi tas-tas mahal yang jarang di pakai. Andi tidak ingin Sumi jatuh bangkrut karena gaya hidupnya yang boros itu. Lalu kembali menjual diri dengan menggunakan wajahnya yang mirip dengan nyonyanya. Sungguh Andi tidak rela jika Sumi menjual diri menggunakan wajah nyonyanya.
"Iya, saya mengerti,"sahut Sumi tertunduk takut.
"Apa ada lagi yang ingin anda tanyakan?"tanya Andi seraya membenahi jas yang dipakainya seperti hendak pergi.
"Tidak ada,"sahut Sumi cepat. Entah mengapa, Sumi merasa takut dengan asisten Rayyan itu.
"Kalau begitu, saya permisi. Oh, ya. Saya sarankan untuk membawa ibu dan adik-adik anda ke sini. Rumah ini cukup besar untuk tempat tinggal kalian sekeluarga. Sekarang anda sudah mapan. Akan lebih baik jika adik-adik anda sekolah di kota ini. Berikan mereka pendidikan yang tinggi dan terbaik. Jangan sampai nasib anda terulang pada adik-adik anda. Sulit mencari kerja karena terkendala pendidikan,"ucap Andi memberi saran.
"Iya, Tuan. Saya memang punya niat seperti itu,"sahut Sumi yang memang punya niat untuk memboyong ibu dan adik-adiknya ke kota dan menyekolahkan adik-adiknya setinggi mungkin.
Sekarang Sumi sudah memiliki usaha yang halal berupa restoran, rumah yang lebih dari layak sebagai tempat tinggal dan uang di rekening untuk persiapan hal-hal yang tidak terduga. Jadi, Sumi merasa sanggup untuk membawa ibu dan adik-adiknya ke kota.
"Bagus!"ucap Andi yang akhirnya meninggalkan rumah Sumi.
"Buset, dah! Aku seperti sedang di sidang oleh itu orang. Sadis banget kata-katanya. Dia bilang ingin menghancurkan wajah ku? Oh, astagaa..! Tampang, sih, termasuk tampan, gaya juga keren. Tapi kalau dingin dan seram begitu, mana ada gadis yang mau sama dia? Haiss.. buat apa aku mikirin dia? Mending aku refreshing sambil membeli peralatan mandi,"gumam Sumi bergegas kembali ke kamarnya.
__ADS_1
"Di kantor polisi kemarin, aku sampai dipersulit oleh polisi karena wajahku yang cantik ini. Kalau aku pergi ke mall, pasti jadi perhatian semua orang. Sebaiknya aku pakai masker aja, deh! Entar nyari gigi tonggos palsu sama kacamata besar. Biar nggak perlu pakai masker yang bikin engap kalau mau kemana-mana. Entar aku mampir ke ahli gigi sama toko optik aja dulu,"gumam Sumi kemudian bersiap untuk pergi.
***
Rayyan dan Aurora baru saja tiba di tempat mereka akan bulan madu. Rasa lelah dan penat pun terasa di tubuh Aurora. Wanita ini langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang setelah masuk ke dalam kamar hotel.
"Kamu terlihat lelah sekali,"ucap Rayyan seraya duduk di samping Aurora yang tidur tengkurap.
"Aku ingin tidur Ray. Semalam kamu hampir membuat aku tidak bisa tidur. Paginya masih minta lagi. Kamu tidak terlihat lelah sama sekali. Apa kamu minum abat kuat?"tanya Aurora yang masih tengkurap di atas ranjang. Suara wanita itu terdengar pelan.
"Mana ada? Minum obat kuat itu tidak baik untuk kesehatan. Ada banyak efek sampingnya,"ujar Rayyan seraya melepaskan kemeja yang dipakainya.
Rayyan mengernyitkan keningnya saat melirik ke arah Aurora yang tidak merespon kata-katanya.
"Ra!"panggil Rayyan lembut.
Perlahan pria itu membalikkan tubuh istrinya itu. Rayyan hanya bisa menghela napas panjang saat melihat Aurora sudah terlelap.
"Rayy.. jangan pergi!"gumam Aurora saat Rayyan akan beranjak dari duduknya.
Rayyan kembali menghela napas kemudian merebahkan tubuhnya di samping Aurora. Pria itu merengkuh Aurora dalam pelukannya. Aurora memeluk Rayyan dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Rayyan dan akhirnya Rayyan pun ikut tertidur.
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Rayyan sudah bangun, tapi Aurora masih terlelap dalam dekapan Rayyan.
"Ra! Bangun, Ra! Sudah sore. Tidur sore hari tidak bagus untuk kesehatan,"ucap Rayyan lembut. Namun Aurora nampak masih nyaman dalam dekapannya.
Rayyan tersenyum smirk. Akhir-akhir ini, Rayyan tahu cara membangunkan istrinya dengan cepat. Pria itu menundukkan kepalanya, kemudian memagut bibir Aurora. Dan benar saja, Aurora nampak terusik dengan aksinya itu. Wanita itu mendorong dada Rayyan agar menjauh darinya.
"Rayy.. !"gumam Aurora mulai membuka matanya.
"Kamu tidak ingin jalan-jalan? Atau ingin bulan madu di kamar saja, hemm?""tanya Rayyan seraya menaik turunkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Aku tidak mau terus menerus di dalam kamar. Kamu akan terus menempel padaku jika aku tidak keluar dari kamar,"sahut Aurora tapi masih memeluk Rayyan.
"Bukannya kamu yang sekarang suka menempel padaku? Kamu suka sekali mengendus aroma tubuhku,"
"Mana ada yang seperti itu,"elak Aurora.
"Okey... okey.. wanita memang selalu benar,"sahut Rayyan mengalah.
"Apa maksud kamu berkata seperti itu?"tanya Aurora menatap Rayyan dengan tatapan tidak suka.
"Haiiss.. salah lagi. Begini, nih, kalau mau dan sedang datang bulan. Jadi sensi dan mudah uring-uringan,"gumam Rayyan dalam hati. Pria itu selalu ingat tanggal Aurora datang bulan. Dan menurut perhitungan Rayyan, sekitar tiga hari lagi istrinya pasti akan datang bulan.
"Kita mandi bareng, yuk!"ajak Rayyan mengalihkan pembicaraan.
"Nggak mau,"sahut Aurora cemberut memalingkan wajahnya.
"Ya sudah. Kalau begitu, aku mau mandi dulu,"
"Ya sudah. Mandi aja, sana!"sahut Aurora terdengar ketus.
"Gimana aku mau ke kamar mandi, kalau kamu terus memeluk aku seperti ini?"tanya Rayyan membuat Aurora baru sadar jika dari tadi masih memeluk Rayyan. Dengan cepat, Aurora melepaskan pelukannya pada Rayyan.
Rayyan mengulum senyum melihat istrinya yang menurutnya sangat menggemaskan jika sedang merajuk seperti itu. Rayyan mengecup bibir Aurora sekilas, kemudian dengan cepat pergi.
"Rayy!!"pekik Aurora semakin cemberut, namun Rayyan tidak menghiraukannya. Tetap melangkah menuju kamar mandi.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1