
Kanaya tidak sengaja tersandung kaki pria yang sedang duduk di sofa itu. Hingga gadis itu kehilangan keseimbangan dan minuman yang di bawanya pun tersiram ke tubuh pria paruh baya itu.Untung saja tangan Kanaya bisa mendapatkan tumpuan. Tangan Kanaya bertumpu pada dada pria itu, menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.Kanaya jadi bisa sedikit mengimbangi tubuhnya, sehingga tidak jatuh ke dalam pelukan pria itu.
"Oh, astagaa!"ucap pria itu karena tubuhnya basah oleh minuman yang di bawa Kanaya.
"Maaf!"ucap Kanaya dengan wajah datar segera berdiri dengan benar,"Dasar pria brengseek! Dia sengaja menjegal kakiku. Apa dia pikir dengan menjegal kakiku, dia bisa memelukku? Mimpi!"gerutu Kanaya dalam hati.
"Haish..kamu sudah membuat bajuku basah. Ikut aku! Bantu aku untuk mengeringkan bajuku!"pinta pria itu seraya bangun dari duduknya.
"Baik,"sahut Kanaya yang memicingkan sebelah matanya menatap pria itu curiga. Namun mau tidak mau Kanaya harus mengikuti langkah kaki pria itu. Karena telah membuat baju pria itu basah.
"Kita akan ke mana, Tuan?"tanya Kanaya yang melihat pria itu melewati toilet.
"Kamu cucikan bajuku! Badan ku lengket karena terkena minuman tadi,"ujar pria itu tanpa menoleh ke arah Kanaya yang mengekor di belakangnya.
"Toiletnya terlewatkan, Tuan,"ucap Kanaya karena mereka malah berjalan melewati toilet.
"Sudah! Ikut saja!"ujar pria itu terus melangkah.
Kanaya terus mengikuti pria itu dengan mode waspada. Kanaya melihat ada lorong di depannya, hingga akhirnya pria itu berhenti di depan pintu yang sepertinya sebuah kamar.
"Apa ini? Dia bermaksud membawa aku ke tempat ini? Tidak! Ini tidak benar! Sepertinya di lorong ini ada banyak kamar. Dan ini bukan toilet. Ini seperti kamar untuk menginap,"gumam Kanaya dalam hati setelah memperhatikan sekitar tempat itu.
Kamar yang di tuju pria yang bersama dirinya berada tepat di sebelah pintu lorong masuk dan di dalam lorong itu ternyata memiliki banyak kamar.
"Ayo, masuk!"ucap pria paruh baya itu.
"Maaf, tiba-tiba saya sakit perut,"ucap Kanaya yang memiliki firasat buruk. Gadis itu langsung berlari meninggalkan pria itu. Untung saja Kanaya memakai celana panjang dengan atasan baju kemeja serta sepatu flat. Sehingga Kanaya tidak kesulitan untuk berlari.
"Hei! Berhenti! Sialan!"umpat pria itu bergegas mengejar Kanaya.
"Hei, tangkap gadis itu! Bos kalian sudah menjual dia padaku!"teriak pria yang mengejar Kanaya itu saat melihat dua orang bodyguard yang berkeliling mengontrol tempat itu.
"Apa? Perempuan tua itu menjual aku pada pria itu? Dasar wanita laknatt? Beraninya dia menjual aku! Sial! Sial! Bagaimana ini? Dua pria ini menghadang aku dan pria tadi mengejar aku. Mampus! Sekarang aku harus bagaimana?"gumam Kanaya dalam hati yang tidak bisa melanjutkan pelarian nya karena di hadang dua pria bertubuh kekar, sedangkan pria yang mengejarnya sudah hampir sampai di dekatnya.
Kanaya sungguh tidak menyangka, jika wanita yang di panggil bos itu tadi akan menjual dirinya. Ternyata, karena alasan itu wanita yang di panggil bos itu tidak memaksa dirinya memakai seragam kurang bahan tadi. Mengizinkan dirinya memakai bajunya sendiri dengan alasan akan menjahitkan baju seragam yang lebih panjang dan longgar. Mencegah dirinya yang berniat mengundurkan diri, bahkan sebelum mulai bekerja.
"Mau kemana kamu? Bos pemilik klub malam ini sudah menjual kamu padaku,"ujar pria paruh baya itu tersenyum mesum.
Kanaya membalikkan tubuhnya menatap pria paruh baya di belakangnya itu dengan tatapan tajam yang seolah ingin menusuk pria itu dengan tatapan tajamnya itu.
"Di jual? Aku bukan barang yang bisa di jual,"ucap Kanaya dengan suara penuh penekanan dan wajah penuh amarah, mengepalkan kedua tangannya.
"Bugk"
__ADS_1
"Dugk"
"Dugk"
"Dugk"
"Akkhh!"
"Brugh"
"Gadis liar sialan! Berani-beraninya kamu memukul dan menendang ku!"umpat pria paruh baya itu dengan wajah menahan sakit yang luar biasa.
Kanaya tiba-tiba memberikan bogeman mentah pada pria paruh baya itu, lalu menendang benda pusaka kebanggaan pria itu dan juga menendang kedua tulang kering pria itu dengan sekuat tenaga. Hingga pria itu meringkuk memegangi benda pusakanya, menahan sakit, dan nyeri di benda kebanggaan nya itu. Pria itu juga menahan sakit di bibirnya yang pecah karena bogeman Kanaya dan juga sakit di kedua tulang keringnya akibat di tendang Kanaya.
"Rasakan! Dasar Brengseek! Bajingann! Laki-laki hidung belang! Tukang celup! Semoga saja benda kebanggaan mu itu tidak bisa berdiri lagi,"umpat Kanaya menyumpahi pria itu.
Dua orang bodyguard yang menghadang Kanaya itu spontan memegangi benda pusaka mereka dengan ekspresi ngeri. Dua pria itu seolah membayangkan bagaimana jika milik mereka yang di tendang oleh Kanaya tadi.
"Dasar gadis bar-bar! Akan aku ikat kamu di atas ranjang. Aku aku gagahi sampai pagi hingga kamu memohon ampun padaku!"ucap pria paruh baya itu penuh amarah, lalu menatap dua orang bodyguard itu,"Kenapa kalian berdua hanya diam saja? Tangkap gadis itu dan masukkan dia di kamar yang biasa aku pakai?"bentak pria paruh baya itu masih meringkuk di lantai menahan rasa sakit.
"Apa miliknya masih berdiri setelah di tendang begitu kuat oleh gadis liar ini?"tanya salah seorang bodyguard itu pada temannya dengan suara pelan.
"Tidak tahu. Yang penting sekarang, kita tangkap saja gadis ini,"sahut kawannya yang juga memelankan suaranya.
"Baiklah. Jangan sampai bos mengeluh tentang masalah ini. Pria itu adalah langganan tetap bos kita,"
"Ya sudah. Kita tangkap saja gadis liar ini,"
Dua bodyguard itu kemudian bersiap untuk menangkap Kanaya.
"Mampus! Bagaimana ini? Aku tidak akan bisa menangani dua pria bertubuh kekar ini,"gumam Kanaya dalam hati menelan salivanya kasar.
Kanaya tidak menguasai ilmu bela diri. Hanya bisa menyerang titik lemah seorang pria, itupun kalau orang itu tidak waspada dan tidak pandai ilmu bela diri seperti pria paruh baya yang baru saja di tendangnya tadi.Berteriak minta tolong pun percuma. Semua orang yang berlalu lalang di tempat itu terlihat acuh dengan orang lain. Bahkan saat Kanaya berlari menghindari pria paruh baya tadi, orang yang di lewati Kanaya malah memilih minggir seolah tidak peduli walaupun Kanaya berlari di kejar seorang pria yang jauh lebih tua darinya.
"Sebaiknya kamu menyerah saja dari pada terluka,"
"Benar. Sayang sekali jika tubuh mu terluka. Lebih baik kamu melayani Tuan itu dengan sukarela. Kamu akan di buatnya merasakan surga dunia,"
Ujar kedua pria bertubuh kekar itu terus mendekati Kanaya dengan mode waspada. Tidak ingin benda pusaka mereka terkena tendangan maut Kanaya seperti pria paruh baya itu tadi.
"Sudah! Jangan banyak bicara! Cepat tangkap gadis liar ini!"titah pria paruh baya itu seraya mencoba untuk berdiri. Walaupun benda pusakanya, bibirnya dan ke dua tulang keringnya masih terasa sakit. Pria itu terlihat sudah tidak sabar lagi menangkap Kanaya.
"Akan aku ikat gadis ini di atas ranjang. Akan aku habisi sampai tidak berdaya. Berani-beraninya menendang benda pusaka kesayangan ku,"gumam pria paruh baya itu dalam hati penuh dendam.
__ADS_1
"Ting"
Tiba-tiba seolah seperti ada lampu yang menyala di kepala Kanaya.
"Polisiii.!"teriak Kanaya sekuat tenaga.
Pria paruh baya itu langsung menatap ke arah depan Kanaya. Sedangkan dua bodyguard itu spontan menoleh ke belakang karena mereka berdiri berhadapan dengan Kanaya.
"Hei! Dia kabur!"teriak pria paruh baya itu yang melihat Kanaya langsung melesat di antara dua bodyguard itu.
"Sial!"
"Kita kena tipu!"
Kedua bodyguard itu baru sadar jika mereka di tipu oleh Kanaya. Orang-orang yang ada di sekitar tempat itu juga ikut terkejut mendengar teriakan Kanaya. Bahkan ada beberapa orang yang terlihat panik mendengar ada yang meneriakkan nama polisi.
"Jangan diam saja! Cepat kejar gadis itu!"teriak pria paruh baya yang masih memegangi benda pusakanya itu.
Kanaya berlari sekencang mungkin di antara beberapa orang yang ada di sekitar tempat itu. Tidak ingin tertangkap oleh dua bodyguard itu.
"Aku tidak boleh tertangkap. Aku tidak mau kesucian ku hilang. Aku harus bisa keluar dari tempat laknatt ini secepat mungkin,"gumam Kanaya dalam hati terus berlari sambil menghindari beberapa orang yang melintas. Kanaya melewati toilet pria hingga..
"Brugk"
"Akhh!"
"Hei! Jangan berlarian seperti anak kecil!"
Kanaya tanpa sengaja menabrak seorang pria yang baru saja keluar dari toilet. Gadis itu memekik karena hampir saja terpental jatuh setelah menabrak seorang pria bertubuh tegap itu. Untung saja pria itu langsung meraih tangannya, hingga Kanaya tidak jadi terjatuh.
"Kenapa aku merasa mengenali suara ini?"gumam Kanaya dalam hati. Kanaya merasa tidak asing dengan suara pria yang di tabrak nya itu.
Dengan napas yang memburu karena dari berlari, perlahan Kanaya mendonggakkan kepalanya menatap pria di depannya yang lebih tinggi dari dirinya itu.
"Kamu?"ucap pria yang tidak lain adalah Andi itu.
"Kenapa dia lagi?"gumam Kanaya dalam hati setelah melihat pria yang masih memegang tangannya itu.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1