
Neil nampak terkejut mendengar penuturan Rayyan. Neil tidak menyangka jika pejabat yang menekan Rayyan selama ini adalah ayah sambung Lana.
"Jika memang seperti itu, kebetulan sekali. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui,"ucap Neil tersenyum penuh arti.
"Sebenarnya masalah saya dengan orang tua itu sudah selesai. Saya yakin dia tidak akan menekan perusahaan saya lagi. Karena tidak akan ada untungnya bagi dia. Kalau begitu, saya permisi,"ucap Rayyan tersenyum tipis.
"Sekali lagi terimakasih! Bila ada kesempatan, saya pasti akan membalas kebaikan anda,"ucap Neil penuh kesungguhan.
Akhirnya Rayyan pun meninggalkan ruangan itu bersama Andi yang selalu setia mengekor di belakangnya.
"Menurut Tuan, apakah mafia itu akan mencampakkan Dila setelah dia bertemu dengan Lana?"tanya Andi saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Apa menurut kamu, Neil menikah dengan Dila karena Dila mirip dengan Lana?"Rayyan tidak menjawab pertanyaan Andi, tapi malah balik bertanya.
"Iya. Menurut saya begitu Tuan. Tatapan mata pimpinan mafia itu saat menatap Dila dan Lana sangat berbeda. Tidak ada cinta dalam tatapan Neil pada Dila. Tapi pada Lana, terlihat jelas jika pria itu sangat mencintai Lana. Entah mengapa mereka selama ini berpisah hingga tidak tahu kabar masing-masing. Tapi, yang pasti, Neil masih sangat mencintai Lana,"jawab Andi menurut asumsinya sendiri.
"Kamu begitu pandai menyimpulkan masalah dan pandai menilai orang lain. Aku takut kamu tidak bisa menilai diri mu sendiri,"celetuk Rayyan.
"Tuan, di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Karena yang sempurna itu hanya judul lagu dan pencipta alam semesta. Begitu pula dengan saya. Sepintar-pintarnya saya, saya tetap memiliki kekurangan. Saya tidak bisa melihat punggung saya sendiri tanpa bantuan cermin,"sahut Andi yang memang benar adanya.
"Huh, kamu memang pandai bicara. Meninggikan diri sendiri, tapi tidak lupa pula merendah, hingga orang lain jadi respect padamu,"ujar Rayyan yang benar adanya.
Andi mengatakan dirinya sendiri pintar, tapi juga mengatakan dirinya memiliki kekurangan. Dengan kata lain, Andi mencitrakan dirinya sendiri pintar sekaligus rendah hati.
"Tuan jangan merasa iri. Karena itu adalah kenyataan, Tuan,"sahut Andi dengan bangga.
"Haissh.. Berdebat dengan mu memang tidak pernah bisa menang,"gerutu Rayyan yang memang benar adanya.
Di sisi lain, Neil, Lana dan Troy keluar dari restoran tempat mereka makan malam bersama Rayyan dan Andi. Setelah tiba di parkiran, Neill membukakan pintu mobil untuk Lana.
"Lan, tunggu sebentar, ya? Aku ingin bicara dengan Troy,"ucap Neil tersenyum lembut pada Lana.
__ADS_1
"Iya,"sahut Lana mengangguk kecil tersenyum tipis.
Neil menutup pintu mobilnya dan mengajak Troy bicara agak jauh dari mobilnya, namun masih bisa di lihat Lana.
Lana menghela napas panjang menatap Neil yang berjalan menjauh dari mobil tempatnya berada.
"Walaupun aku tahu dia adalah seorang mafia, tapi hatiku tetap memilih untuk tinggal bersamanya dari pada menerima tawaran ke dua orang absurd itu,"gumam Lana dalam hati dengan mata yang masih menatap Neil.
Lana mengakui bahwa Rayyan dan Andi adalah orang baik, walaupun kedua orang itu absurd. Lana tidak tahu bahwa keluarga Rayyan memang keluarga absurd.
Lana tidak menerima tawaran Rayyan untuk menolong dirinya. Lana malah memilih tinggal bersama dengan Neil yang seorang mafia.
Mungkin karena Lana tidak ingin berhutang budi lebih banyak lagi pada Rayyan dan Andi. Dan baru mengenal atasan dan bawahan absurd itu. Lebih memilih Neil yang lebih di kenalnya dan dulu pernah di tolong nya.
Entah mengapa, Lana merasakan perasaan nyaman dan di lindungi jika Lana bersama dengan Neil.
Neil berhenti berjalan setelah merasa agak jauh dari Lana. Pria itu berdiri membelakangi mobil tempat Lana berada.
"Baik, Tuan,"sahut Troy patuh.
"Dan untuk pejabat itu, beri dia pelajaran sesuai yang sudah kita rencanakan sebelumnya. Para mafia partner nya itu, porak-poranda kan markas mereka, lalu habisi mereka. Mereka telah banyak memeras orang. Tumpas mereka sebelum mereka tumbuh semakin besar dan sulit untuk di atasi,"titah Neil dengan tatapan tajam dan serius.
"Baik, Tuan,"sahut Troy menunduk hormat.
Neil bergegas kembali ke mobil tempat Lana berada. Sedangkan Troy segera menjalankan rencana yang sebenarnya sudah lama mereka susun.
Sejak kejadian Neil melawan mafia yang hampir saja membunuhnya waktu itu, desas-desus tentang kematian Neil memang simpang siur. Ada yang percaya Neil masih hidup dan ada pula yang meyakini Neil sudah mati. Di tambah lagi sejak kejadian itu, kelompok Neil juga belum pernah bergerak sama sekali. Kelompok Neil masih mengintai calon mangsanya dan menyusun rencana sebaik dan serapi mungkin untuk menghancurkannya.
Calon mangsa Neil memang pejabat yang merupakan ayah sambung Lana. Tapi Neil tidak pernah menyangka, jika anak sambung pejabat itu adalah Lana. Wanita yang di cintainya. Karena anak buah Neil tidak pernah menyebutkan nama Lana. Hanya mengetahui dari anak buahnya jika pejabat itu menjual anak sambungnya untuk memuluskan bisnis nya.
Neil masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Lana. Senyuman lembut terukir di bibir pemimpin mafia itu saat bertatapan dengan Lana. Lana pun membalas senyuman itu.
__ADS_1
"Neil, maaf, aku jadi merepotkan kamu,"ucap Lana tidak enak hati.
"Kenapa kamu berkata begitu? Aku sama sekali tidak merasa direpotkan oleh mu. Oh, ya, sejak kapan ibumu menikah dengan pejabat brengseek itu?"tanya Neil yang merasa geram pada pejabat itu, jika mengingat Lana di jual oleh pria tua itu.
"Satu tahun yang lalu, sebelum istrinya meninggal karena sakit yang di deritanya sejak lama. Awalnya dia memperlakukan kami dengan baik. Setengah tahun yang lalu setelah istrinya meninggal, kami di bawa ke kota ini. Dan sejak itulah aku mulai di jual pada para pebisnis yang mendukung dia untuk mengukuhkan jabatannya dan mendapatkan keuntungan besar dari para pebisnis itu,"
"Bahkan dia bekerja sama dengan mafia untuk menindas para pengusaha yang melawannya agar dia mendapatkan banyak keuntungan,"jelas Lana yang sebenarnya sudah di ketahui oleh Neil. Hanya saja Neil tidak tahu jika Lana lah putri sambung pejabat itu.
"Lalu.. Dimana tunangan mu?"tanya Neil ragu.
"Dia meninggal satu minggu sebelum kami menikah karena kecelakaan,"sahut Lana menundukkan kepalanya dengan ekspresi wajah yang terlihat sedih.
Ada rasa sesak di hati Neil jika mengingat tunangan Lana. Ya, Neil jatuh cinta pada Lana saat dulu gadis itu menolong dirinya yang hampir mati karena tertembak, terkena tikaman dan terhanyut di sungai. Dengan sabar Lana merawat Neil tanpa bertanya siapa Neil dan tanpa meminta imbalan apapun. Ibu Lana pun baik pada Neil.Lana dan ibunya memperlakukan Neil dengan baik layaknya keluarga selama Neil berada di rumah mereka.
Namun sayangnya cinta Neil bertepuk sebelah tangan, karena Lana sudah memiliki tunangan. Seorang pemuda baik hati yang bahkan membantu perekonomian keluarga Lana. Bahkan pemuda itu juga baik padanya dan membelikan obat-obatan yang di perlukannya. Dan saat Neil pergi dari rumah gadis itu, Lana berencana akan menikah satu bulan lagi dengan tunangannya itu.
Karena itulah, Neil mundur teratur, tidak ingin merusak kebahagiaan gadis yang telah menyelamatkan nyawanya. Memberikan uang lumayan banyak pada ibu Lana dengan alasan tidak bisa menghadiri pernikahan Lana karena harus pergi ke luar negeri. Padahal tidak ingin terluka karena harus melihat orang yang di cintainya bersanding dengan pria lain.
Namun entah mengapa, walaupun sudah mencoba melupakan Lana, Neil tetap tidak bisa melupakan Lana. Neil sengaja tidak mencari tahu tentang Lana karena takut tidak bisa mengendalikan diri untuk memiliki Lana. Sedangkan Neil sangat tahu jika Lana dan tunangannya sama-sama saling mencintai.
Hingga akhirnya Neil bertemu dengan Dila yang wajahnya lumayan mirip dengan Lana. Menikahi Dila dan menjadikan Dila pelarian untuk mengobati rasa rindunya pada Lana. Namun sayangnya, Dila malah memanfaatkan kebaikan Neil padanya dan banyak menuntut dari Neil. Bahkan bukan hanya sekali Neil memergoki Dila berusaha merayu pria-pria kaya, padahal saat itu Dila sudah menjalin hubungan dengan dirinya.
Karena itulah, Neil akhirnya bersikap kasar pada Dila. Neil mempertahankan Dila hanya karena Dila mirip dengan gadis yang di cintainya. Andai saja Dila tulus pada Neil, mungkin Dila akan mendapatkan cinta Neil. Sayangnya wanita itu terlalu serakah akan harta dan hanya mencintai dirinya sendiri. Hingga Neil hanya menjadikan Dila sebagai pelampiasan semata.
Neil memegang jemari tangan Lana, hingga gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap Neil yang juga menatapnya dengan tatapan penuh cinta.
"Lana, maukah kamu menjadi istri ku?"tanya Neil dengan tatapan penuh cinta dan penuh harap gadis yang di cintainya itu mau menerima lamarannya.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued