Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
341. Harga Diri


__ADS_3

Rayyan membuang napas kasar mendengar jawaban Andi.


"Selalu saja jawaban kamu seperti itu. Mau menikah jika sudah ada yang cocok. Tapi, sampai sekarang nyari juga enggak. Kapan ketemunya, apalagi cocoknya. Keburu karatan itu keris, karena nggak pernah di asah,"cerocos Rayyan yang menjadi gemas pada Andi.


Rayyan benar-benar penasaran bagaimana kalau Andi jatuh cinta dan berkeluarga. Karena secara teori, Andi sudah sangat menguasai. Jadi, Rayyan sangat penasaran dengan bagaimana cara Andi mempraktekkan teori yang sudah di kuasainya itu. Karena sejatinya, praktek tidak semudah teori yang cukup di hafal saja. Karena praktek harus tahu teori, sedangkan teori belum tentu bisa praktek.


"Haish.. Mana ada yang seperti itu, Tuan. Keris saya tidak akan karatan, karena selalu saya jaga dan saya rawat,"


"Percuma di jaga dan di rawat, kalau nggak di pakai. Lama-lama masuk musium. Atau jangan-jangan, punya kamu tidak bisa berdiri. Karena itu kamu enggan untuk menikah,"tuduh Rayyan bersamaan dengan seorang perawat yang keluar dari ruangan tempat office girl tadi di tangani.


"Haish.. Tuan selalu saja menuduh saya seperti itu. Apa perlu saya tunjukkan pada tuan, saat punya saya berdiri?"sahut Andi yang merasa kesal karena di tuduh Rayyan seperti itu.


Perawat yang mendengar perkataan Andi pun memalingkan wajahnya yang memerah mendengar perkataan Andi yang duduk menyamping sehingga tidak menyadari keberadaan perawat itu.


"Dasar absurd !"ketus Rayyan kemudian menutup teleponnya.


Seorang dokter nampak keluar dengan terburu-buru dari ruangan itu. Dokter itu hanya melirik sekilas ke arah Andi, kemudian pergi.


"Tuan selalu saja meragukan milikku. Padahal milikku sehat dan siap tempur kalau ada lawannya. Tuan sudah seperti ibuku saja. Tidak berhenti mendesak aku untuk menikah,"gerutu Andi seraya mengantongi handphonenya.


"Tuan, gadis yang anda bawa tadi sudah sadar. Sebentar lagi akan di bawa ke ruang rawat,"ucap perawat itu terlihat canggung karena mendengar perkataan Andi tadi.


"Oh, boleh saya melihatnya?"tanya Andi agak terkejut dengan kehadiran perawat wanita itu,"Apa dia mendengar kata-kata ku tadi?"gumam Andi dalam hati.


"Silahkan!"ucap perawat itu.


Andi beranjak dari duduknya, lalu masuk ke dalam ruangan tempat office girl tadi ditangani.


"Kamu?"


Andi nampak terkejut saat melihat wajah gadis yang bertabrakan dengan dirinya tadi tidak lagi memakai masker. Sehingga Andi dapat mengenali wajah gadis itu. Begitu pula dengan gadis itu yang juga terlihat terkejut melihat Andi, karena saat bertabrakan tadi tidak memperhatikan wajah Andi.


"Kenapa aku harus bertemu dengan pria sombong ini lagi? Huhh.. Malas sekali rasanya bertemu dengan dia,"gerutu gadis yang tidak lain adalah Kanaya itu dalam hati. Gadis yang pernah menjadi pelayan di villa tempat keluarga Rayyan berlibur waktu itu.


Kanaya memutuskan tatapan matanya dengan Andi. Tidak sepatah katapun keluar dari bibir gadis itu. Kanaya masih sakit hati dengan ucapan Andi saat mereka di villa waktu itu. Kata-kata yang seolah mengatakan bahwa dirinya adalah wanita yang memanfaatkan apapun demi mencari keuntungan.


Andi menghela napas panjang melihat ekspresi Kanaya yang terlihat tidak suka bertemu dengan dirinya.


"Mana dokternya, Sus?"tanya Andi yang tidak melihat ada dokter di ruangan itu.


"Dokternya sudah pergi, Tuan,"sahut perawat itu.

__ADS_1


"Di mana saya bisa menemui dokter itu?"


Perawat itu pun mengatakan secara detail pada Andi di mana letak ruangan dokter yang tadi menangani Kanaya.


"Kalau begitu, saya permisi,"pamit perawat itu.


"Oh, iya, silahkan, Sus. Dan terimakasih banyak,"ucap Andi tulus.


"Sama-sama, Tuan,"sahut perawat itu tersenyum tipis kemudian keluar dari ruangan itu.


"Aku minta maaf! Aku telah menabrak kamu dan membuat kamu terluka. Walaupun sebenarnya kamu juga salah. Jika kamu melihat cermin cembung di sudut lorong itu, pasti kita tidak akan bertabrakan,"ujar Andi yang memang benar adanya.


Waktu itu Kanaya memang tidak melihat cermin cembung di sudut lorong itu, karena Kanaya sedang menghitung jumlah kopi yang di bawanya. Sehingga Kanaya menabrak Andi yang juga tidak melihat cermin cembung di sudut lorong. Intinya, tabrakan itu terjadi karena dua-duanya salah.


"Huh, orang kaya memang begitu. Selalu menyalahkan orang miskin. Jika Tuan tidak mau membiayai pengobatan saya juga tidak apa-apa. Tidak usah berkata seperti itu. Tuan bisa memotong gaji saya untuk membayar biaya perawatan saya,"ujar Kanaya tersenyum sinis. Gadis itu berpikir, bahwa Andi keberatan untuk membayar biaya perawatannya.


"Ck. Dasar perempuan! Dikit-dikit tersinggung. Aku akan membiayai semua pengobatan kamu. Kamu bisa istirahat di rumah sampai luka kamu sembuh. Gajimu tidak akan di potong serupiah pun,"ujar Andi dengan ekspresi datar. Andi hanya bisa bersabar melihat ekspresi Kanaya yang terlihat sinis padanya.


"Krukk.. Krukk.. Krukk.."


Andi memicingkan sebelah matanya menatap Kanaya saat mendengar suara perut Kanaya yang keroncongan. Sedangkan Kanaya terlihat semakin kesal.


"Perut sialan! Apa tidak bisa berbunyi nanti saja saat pria sombong ini sudah pergi?"gerutu Kanaya dalam hati semakin merasa kesal dengan perutnya yang tidak mengerti situasi dan kondisi nya saat ini.


Andi tahu, tidak mungkin rumah sakit memberikan makanan untuk Kanaya saat ini. Karena Kanaya di bawa ke rumah sakit itu setelah makan siang selesai. Jadi, mau tidak mau, Andi harus membeli makanan di luar. Apalagi Andi juga belum makan siang karena kejadian tadi. Andi juga merasa lapar.


"Jika Tuan memang berniat membelinya untuk saya, ya, belikan saja. Jika, tidak juga tidak apa-apa,"ucap Kanaya datar.


Andi membuang napas kasar mendengar jawaban Kanaya,"Kenapa sepertinya kamu sangat tidak suka padaku?"tanya Andi to the point.


"Saya yang miskin ini tidak ingin di anggap mencari keuntungan dari anda yang kaya,"ujar Kanaya yang memang jujur adanya.


"CK. Harga diri mu tinggi sekali,"decak Andi.


"Jika saya tidak bisa menghargai diri saya sendiri, bagaimana orang lain mau menghargai saya?"ujar Kanaya membuat Andi menghela napas panjang. Karena yang di katakan oleh Kanaya memang benar adanya.


Andi tidak menanggapi perkataan Kanaya. Pemuda itu memilih keluar dari ruangan itu untuk membeli makanan. Bukan hanya untuk Kanaya saja, tapi juga untuk dirinya yang juga belum sempat makan siang.


"Aku selalu saja salah bicara dengan gadis itu. Berulang kali aku menyinggung harga dirinya. Aku memang salah,"gumam Andi dalam hati.


Sedangkan Kanaya nampak merasa lega setelah melihat Andi keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


"Huff.. Aku jadi tidak suka pada orang itu. Aku selalu sial, jika bertemu dengan dia. Sudah dua kali ini dia menabrak aku,"gumam Kanaya merasa kesal.


Beberapa menit kemudian, Andi sudah kembali membawa makanan. Namun Andi tidak menemukan Kanaya di ruangan tadi.


"Permisi, Sus! Di mana pasien yang tangannya melepuh dan kakinya terluka yang tadi ada di sini, ya, Sus?"tanya Andi pada seorang perawat wanita yang melintas.


"Oh, sudah di pindahkan ke ruangan rawat, Tuan,"sahut perawat itu.


"Ruangan rawatnya di mana, ya, Sus?"


Perawat itu mengatakan di mana Kanaya di pindahkan. Setelah tahu tempat Kanaya di pindahkan, Andi pun bergegas pergi ke ruangan tempat Kanaya berada saat ini.


Andi membuka pintu ruangan yang menurut perawat yang di tanyain nya tadi adalah ruangan rawat Kanaya. Andi melihat Kanaya duduk bersandar di headboard ranjang pasien.


"Aku sudah membeli makanan!"ucap Andi membawa kantong yang berisi makanan, minuman dan buah-buahan, lalu meletakkannya di atas nakas.


Andi mengambil satu kotak makan, air minum dan satu buah apel dari kantong itu.


"Yang ini punya kamu. Makanlah!"ucap Andi menunjuk kantong yang masih berisi makanan, minuman dan buah-buahan itu.


Pemuda itu berjalan kearah sofa yang ada di ruangan itu sambil membawa makanan nya. Sebelumnya, Andi memang meminta ruangan rawat yang bagus untuk Kanaya, sehingga ada sofa di ruangan itu.


Kanaya melihat makanan yang di letakkan Andi di atas nakas. Gadis itu menghela napas panjang saat melihat tangan kanannya yang di balut perban karena terkena kopi panas tadi.


"Apa aku harus makan dengan tangan kiri? Huff.. Mau tak mau aku harus makan dengan tangan kiri. Perutku sudah kerongkongan, karena dari pagi belum makan,"gumam Kanaya dalam hati.


Gadis itu melirik Andi yang sedang asyik makan. Sepertinya pemuda itu juga sudah lapar. Kanaya mengambil satu kotak makanan di dalam kantong itu, lalu berusaha membukanya dengan satu tangan.


Tanpa sengaja Andi melihat Kanaya yang terlihat kesusahan membuka kotak makanan itu. Andi pun menghela napas dan menghentikan aktivitas makanya.


"Kenapa tidak bilang jika tidak bisa membuka kotak makanannya?"ujar Andi seraya menghampiri Kanaya.


...🌟"Dunia tidak akan menghargai mu, jika kamu sendiri tidak bisa dan tidak mau menghargai dirimu."🌟...


...🌟"Jangan merendahkan diri sendiri hanya untuk menghormati orang lain."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2