
"Tuan, saya menerima telepon dari perempuan itu. Dia setuju untuk melakukannya,"ucap Andi membuat Rayyan mengurungkan niatnya untuk menggigit roti bakarnya.
"Bagus. Tapi pastikan, dia akan melakukan apapun yang kita inginkan. Jangan sampai dia melakukan hal-hal yang dapat merugikan kita,"ujar Rayyan serius.
"Baik, Tuan. Anda tidak perlu khawatir soal itu. Emm.. Tuan, kemungkinan hasilnya akan sama persis. Apa anda tidak takut, nantinya akan salah mengenali istri anda sendiri?"tanya Andi serius.
"Itu tidak akan pernah terjadi. Walaupun tanpa melihat wajahnya, aku dapat mengenali istriku sendiri,"sahut Rayyan terlihat sangat yakin.
"Saya sudah menghubungi dokter Fina agar bersiap-siap. Wanita itu meminta agar dia berangkat besok saja, karena dia masih ingin menemui seseorang,"jelas Andi.
"Baiklah, tidak apa. Lakukan yang terbaik dan secepatnya!"titah Rayyan.
"Baik, Tuan,"sahut Andi.
Di kamar Rayyan, Nala membangunkan Aurora karena sudah waktunya Aurora mandi. Perempuan itu nampak enggan membuka matanya karena merasa masih lelah dan mengantuk.
"Tidak bisakah sebentar lagi Nala? Aku masih mengantuk,"gumam Aurora yang tidak kunjung membuka matanya.
"Jika pukul sembilan nyonya belum berada di ruangan fitness, maka Tuan Rayyan akan menghukum nyonya,"ujar Nala mengingatkan.
"Dasar iblis mesum! Apa dia tidak bisa membiarkan aku beristirahat dengan tenang!"geram Aurora yang terpaksa membuka matanya.
"Kalau anda beristirahat dengan tenang, itu artinya anda sudah meninggal nyonya,"sahut Nala dengan suara datarnya.
"Eh, iya juga, ya?"gumam Aurora menyengir bodoh, kemudian beranjak dari tempatnya berbaring seraya memegangi selimutnya. Wanita itu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Apa Tuan Rayyan itu maniak? Sepertinya setiap hari Tuan bercinta dengan nyonya. Setiap bagun pagi, nyonya selalu saja terlihat kelelahan,"gumam Nala seraya menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup.
Nala sudah biasa melihat hal ini. Majikannya selalu bangun dalam keadaan tubuh polos yang hanya di tutupi selimut. Bahkan setiap hari Nala melihat ada tanda yang baru di tubuh majikannya itu.
Siang harinya, seperti biasanya, Aurora pergi ke toko kuenya, kemudian ke kafenya. Saat hendak pulang, tiba-tiba handphone Aurora berdering. Wanita itu mengambil handphone nya dan melihat nama pemanggil adalah Sumi. Aurora pun menerima panggilan masuk dari sahabatnya itu.
"Halo, Sum!"sapa Aurora.
"Halo, Ra! Ra, kamu sekarang ada di mana?"tanya Sumi.
"Di kafe. Ada apa, Sum?"tanya Aurora.
__ADS_1
"Aku ingin bicara dengan kamu. Bisa tidak, kamu pulang ke apartemen sebentar?"tanya Sumi terdengar serius.
"Baiklah. Aku akan ke sana sekarang,"sahut Aurora yang nampak mengernyitkan keningnya.
"Ada apa dengan Sumi? Kenapa dia tiba-tiba ingin bertemu dengan aku? Nada bicaranya juga terdengar serius,"gumam Aurora, kemudian bergegas keluar dari ruangannya.
"Nala, antar aku ke apartemen ku, ya!"pinta Aurora.
"Baik, nyonya,"sahut Nala.
Nala melajukan mobil yang dikendarainya menuju apartemen Aurora yang ditempati Sumi. Beberapa menit kemudian, keduanya tiba di apartemen milik Aurora. Nala mengekor di belakang Aurora hingga mereka tiba di depan pintu sebuah unit apartemen. Aurora langsung masuk di ikuti oleh Nala.
"Kamu tunggu saja di sini, ya,, La!"pinta Aurora.
"Baik, nyonya,"sahut Nala duduk di sofa sesuai permintaan Aurora.
"Sum! Sumi!"panggil Aurora seraya berjalan menuju dapur.
"Akhirnya kamu pulang juga Ra,"sahut Sumi seraya keluar dari kamarnya dan menyusul Aurora ke dapur.
"Ada apa ingin bertemu dengan aku?"tanya Aurora seraya mengambil minuman dalam kemasan botol dari lemari es, lalu membawanya ke ruang tamu.
"Sebentar,"sahut Aurora.
Sumi mengernyitkan keningnya saat melihat seorang wanita berwajah datar sedang duduk di ruang tamu.
"Siapa dia, Ra?"tanya Sumi pada Aurora pelan.
"Kenalkan, Sum! Ini Nala, temanku. La, ini Sumi, temanku,"ucap Aurora memperkenalkan kedua perempuan itu seraya meletakkan minuman yang di bawanya tadi di atas meja.
Kedua perempuan itu pun saling berjabat tangan. Sumi nampak menelisik penampilan Nala yang bertubuh tegap, memakai celana jeans dan kaos berlengan panjang itu. Rambut dipotong pendek, wajah terlihat tegas dan datar, tatapan mata tajam. Memakai aksesoris berupa anting-anting berbentuk hati, kalung dengan liontin berbentuk hati, dan jam tangan digital. Cantik, tapi terkesan dingin dan kaku.
"Dari mana kamu dapat teman yang dingin seperti dia? Apa kamu menemukan dia dari kutub Utara?"tanya Sumi berbisik pelan pada Aurora.
"Sembarangan! Sudah, kamu mau bicara apa?Kalau tidak ada yang penting, aku mau pulang,"ujar Aurora.
"Cie.. cie.. yang sudah punya suami, pengen cepat-cepat pulang,"ledek Sumi.
__ADS_1
"Sudah cepetan! Nggak usah meledek aku! Kalau nggak ngomong juga, aku akan benar-benar pulang, nih!"ancam Aurora.
"Oke.. oke.. kita bicara serius. Tapi aku ingin bicara berdua saja dengan kamu,"ujar Sumi, melirik ke arah Nala.
"Ya sudah, kita ke kamar aku saja,"sahut Aurora kemudian menatap Nala,"La, aku tinggal dulu, ya! Itu, minumannya di minum,"ujar Aurora menunjuk ke arah minuman yang dia letakkan di atas meja tadi.
"Iya, nyonya. Terimakasih!"sahut Nala, membuat Sumi mengernyitkan keningnya.
"Hum,"sahut Aurora kemudian melangkah menuju kamarnya.
Setelah masuk ke dalam kamarnya, Aurora pun duduk di tepi ranjang yang sudah lama tidak ditiduri nya itu. Sumi menutup pintu kamar Aurora dan ikut duduk di tepi ranjang di sebelah Aurora.
"Ra, kok perempuan itu manggil kamu nyonya?"tanya Sumi.
"Dia supir yang disuruh mengantar aku,"sahut Aurora.
"Suami kamu tajir banget, ya?"tanya Sumi.
"Aku nggak tahu. Sepertinya sih, iya. Karena aku tidak tahu dia punya apa saja,"sahut Aurora jujur.
"Wah, enak dong! Pantesan, kamu makin cantik aja,"puji Sumi.
"Katanya ingin bicara serius,"ujar Aurora mengingatkan tujuan mereka berada di dalam kamar itu.
"Ah, iya. Sebelumnya, aku mau minta maaf karena akhir-akhir ini aku tidak bisa membantu kamu mengelola toko kue dan juga kafe kamu. Soalnya aku sedang sibuk mencari lokasi untuk membuka restoran,"ujar Sumi yang memang semenjak Aurora menikah, Sumi punya rencana untuk membuka restoran.
"Nggak apa-apa. Aku nggak masalah. Aku malah senang kalau.kamu mulai membuka usaha,"ujar Aurora jujur,"Lalu, apa yang ingin kamu bicarakan dengan aku? Jangan bilang kamu mau mengajak aku cari pelanggan lagi. Kalau kamu meminta itu dariku, aku tidak bisa. Kamu ingat, 'kan? Terakhir kali kita akan melayani pelanggan, aku dibawa pulang secara paksa oleh suamiku. Sekarang aku tidak bisa bebas keluar. Nala yang aku perkenalkan padamu tadi, dia itu mengikuti aku kemanapun aku pergi. Dia akan terus mengikuti aku, kecuali jika suamiku sudah pulang,"ujar Aurora yang mengira jika Sumi akan mengajaknya mencari pelanggan lagi.
"Apa perempuan itu bodyguard kamu?"tanya Sumi.
"Anggap saja begitu. Soalnya dia memang ditugaskan menjaga aku dan juga memilki ilmu beladiri,"sahut Aurora.
"Wah, sepertinya suamimu memang orang tajir. Tapi Ra, sekarang kamu harus berhati-hati,"ujar Sumi terlihat serius.
"Kenapa?"
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued