Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
46. Salah Doa


__ADS_3

"Meminta bantuan dari dia?"gumam Aurora nampak ragu.


Aurora merasa hubungannya dengan Rayyan selama ini, tidak lebih dari hubungan di atas ranjang. Aurora tidak merasa dirinya dan Rayyan mempunyai hubungan layaknya sepasang suami-isteri pada umumnya. Walaupun Rayyan menafkahi Aurora secara lahir dan batin. Nafkah lahir dan batin yang lebih dari cukup, bahkan bisa di bilang berlebihan.


Berlebihan? Tentu saja nafkah yang diberikan Rayyan termasuk berlebihan. Karena semenjak Rayyan merenggut kesucian Aurora, pria itu memberikan black card pada Aurora sebagai nafkah lahir untuk Aurora. Dengan black card yang diberikan Rayyan itu, Aurora bisa berbelanja apapun yang dirinya suka tanpa takut uangnya tidak cukup.


Dan untuk nafkah batin, semenjak mencicipi tubuh Aurora, pria itu setiap malam tidak pernah absen untuk memberikan nafkah batin untuk Aurora. Bahkan Aurora sampai terkapar karena nafkah batin yang diberikan Rayyan terlalu berlebihan.


"Iya, mintalah bantuan pada suamimu . Dia sampai menempatkan seorang bodyguard di sisimu, itu berarti dia sangat memperhatikan kamu. Siapa tahu dia sudah jatuh cinta padamu,"ujar Sumi meyakinkan.


"Itu tidak mungkin. Dia menempatkan bodyguard di sisiku hanya bertujuan agar aku tidak lepas dari pengawasannya. Agar aku tidak melarikan diri darinya,"sahut Aurora yakin.


"Masa suami kamu tidak jatuh cinta pada kamu yang cantik dan bohay seperti ini,"ujar Sumi yang tidak sepemikiran dengan Aurora.


"Jatuh cinta itu masalah hati, Sum. Bukan body. Cinta ya, cinta aja. Nggak mandang fisik. Karena yang mandang fisik itu namanya bukan cinta, tapi nafsu,"sahut Aurora.


"Ya memang, sih. Tapi, 'kan, cinta itu dari mata dulu, baru turun ke kantong,"sahut Sumi kemudian terkekeh.


"Itu, sih, bukan cinta karena hati, tapi karena materi,"sahut Aurora.


"Tapi, ngomong-ngomong, siapa, sih, suami kamu, Ra?"tanya Sumi yang sampai saat ini belum tahu siapa sebenarnya suami Aurora.


"Aku males membahas dia. Dia itu wajahnya datar kayak papan setrikaan, dingin kayak es balok. Kalau senyum, bukan senyuman manis yang ditampilkannya. Tapi senyum iblis, senyum penuh arti, senyum miring, senyum yang mirip dengan seringai. Nggak ada manis-manis nya apalagi bikin adem hati. Yang ada bikin merinding dan ngeri,"sahut Aurora bergidik ngeri.


"Yang bener, Ra? Siapa, sih, sebenarnya suami kamu itu?"tanya Sumi semakin penasaran.


"Rayyan Nugroho,"sahut Aurora menghela napas berat.


"A.. apa? Ray.. Rayyan Nugroho?"tanya Sumi terkejut.


"Iya. Kenapa kamu kayak terkejut seperti itu?"tanya Aurora.

__ADS_1


"Aku dengar dia itu pebisnis terkenal, kaya, tampan, banyak digilai para wanita dan tidak segan menghancurkan orang yang berani menyinggung dia. Aku juga dengar, dia itu sangat dingin pada perempuan. Banyak para pebisnis yang membicarakan dia,"ujar Sumi sesuai yang diketahuinya dari para pebisnis yang mengobrol di klub milik Mami.


"Wajar saja. Orangnya juga seperti itu.Suka menindas, dingin, kaku, nggak ada manis-manisnya,"ujar Aurora yang menjadi kesal jika mengingat Rayyan.


"Jadi beneran, kamu menikah sama dia, Ra?"tanya Sumi masih belum percaya.


"Sayangnya iya,"sahut Aurora lesu.


"Kenapa kamu malah seperti tidak bahagia seperti itu? Bukannya kamu dulu memang pengen suami yang punya pribadi? Punya tabungan pribadi, rumah pribadi, kendaraan pribadi dan semua yang bersifat pribadi. Lihatlah suami kamu sekarang! Dia punya semua pribadi yang kamu katakan dulu, bahkan dia membuat kamu punya pengawal pribadi,"ujar Sumi antusias.


"Ya, tapi, nggak kaku kayak papan setrikaan, dingin kayak es balok gitu juga, kali, Sum! Nggak ada lembut-lembutnya, manis-manisnya, apalagi romantis,"sahut Aurora membuang napas kasar.


"Itu, sih salah kamu sendiri,"sahut Sumi santai.


"Salah aku sendiri? Salah aku di mana?"tanya Aurora.


"Salah dalam berdoa! Kamu cuma berdoa agar punya suami yang punya pribadi doang. Yang punya tabungan pribadi, rumah pribadi, kendaraan pribadi, villa pribadi, hotel pribadi, pokoknya yang serba pribadi. Harusnya kamu juga berdoa biar dikasih suami yang manis dan romantis. Tapi berdoa manis dan romantisnya sama kamu saja, jangan sama perempuan lain juga,"sahut Sumi enteng.


"Makanya kalau berdoa itu yang bener! Nenek aku dulu pernah cerita, ada orang yang salah dalam berdoa, doanya sih, terkabul, tapi tidak sesuai dengan ekspektasi nya,"sahut Sumi.


"Doanya terkabul, tapi tidak sesuai ekspektasi. Maksudnya?"tanya Aurora tidak mengerti.


"Ya, nggak jauh beda sama kamu. Sebelas dua belas sama kamu. Karena hidupnya sulit dia berdoa tidak muluk-muluk. Dia berdoa agar bisa makan tiga kali sehari secara teratur. Doanya terkabul karena dia bisa makan teratur tiga kali sehari, tapi dia menyesal,"jelas Sumi.


"Loh, kenapa menyesal? Bukannya doanya sudah terkabul? Kok malah menyesal?"tanya Aurora tidak mengerti.


"Dia menyesal, karena doanya terkabul bisa makan teratur tiga kali sehari, tapi di penjara karena dia difitnah orang,"jelas Sumi.


"Hah? Dipenjara?"tanya Aurora terkejut.


"Iya. Walaupun dia harus dipenjara, tapi doanya terkabul, 'kan? Di penjara makannya teratur, 'kan?"tanya Sumi yang memang ada benarnya.

__ADS_1


Terlepas bagaimana jalan ceritanya, tapi kenyataannya, Tuhan mengabulkan doa orang yang diceritakan oleh Sumi. Orang itu bisa makan secara teratur tiga kali sehari, walaupun harus dipenjara.


"Ya nggak gitu juga kali konsepnya, Sum,"sahut Aurora membuang napas kasar.


"Ya makanya kalau berdoa itu yang bener! Sekarang, syukuri aja karena doa kamu sudah terkabul,"ujar Sumi enteng.


Aurora menghela napas panjang. Sumi benar. Doanya sudah terkabul, walaupun tidak sesuai dengan ekspektasinya.


"Tok! Tok! Tok!"


Suara ketukan pintu itu mengalihkan perhatian Sumi dan Aurora.


"Nyonya, kita harus segera pulang. Hari ini Tuan pulang lebih cepat. Tuan tidak akan senang jika nyonya tidak ada di rumah saat Tuan pulang,"suara Nala dari balik pintu.


"Iya,"sahut Aurora dengan suara lesu.


"Sum, aku pulang, dulu, ya!"pamit Aurora seraya beranjak dari tempat duduknya.


"Iya. Ingat kata-kata ku tadi! Kamu harus berhati-hati!"ucap Sumi memperingatkan Aurora.


"Hum,"sahut Aurora.


Aurora meninggalkan apartemennya bersama Nala. Sepanjang perjalanan, Aurora hanya diam. Entah mengapa, tiba-tiba Aurora tidak bersemangat. Apa karena Sumi pamit pulang kampung, atau karena peringatan Sumi tentang Mami yang mencari dirinya, ataukah karena kata-kata Sumi yang mengatakan bahwa doanya terkabul tapi nyatanya tidak sesuai ekspektasinya. Aurora tidak tahu. Yang pastinya, tiba-tiba Aurora tidak bersemangat.


Setelah sampai di rumah Rayyan, Aurora langsung masuk ke dalam kamar Rayyan seperti biasanya. Wanita itu langsung masuk ke dalam kamar mandi, lalu berendam di dalam bathtub. Memejamkan matanya. Tiba-tiba Aurora terpikirkan tentang hubungan nya dengan Rayyan. Hubungan apa yang sebenarnya dijalani nya dengan Rayyan? Dan bagaimana masa depannya nanti? Memikirkan hal itu membuat Aurora semakin tenggelam dalam lamunannya.


"Sampai kapan kamu akan berendam?"


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2