
Seorang pria paruh baya baru saja keluar dari rumahnya. Pria itu membuka pagar rumahnya, hendak keluar rumah menggunakan mobilnya. Seorang pria bertubuh kekar yang baru turun dari mobil yang terparkir di dekat rumah itu menghampiri pria paruh baya itu dan tiba-tiba...
"Bugh"
Pria bertubuh kekar itu memukul tengkuk pria paruh baya itu hingga pingsan.
Seorang pria lagi turun dari dalam mobil, membantu temannya membawa pria paruh baya itu ke dalam mobil mereka. Mobil itu melaju meninggalkan rumah itu, hingga beberapa menit kemudian berhenti di sebuah bangunan kosong.
Pria paruh baya tadi sadar dari pingsannya, namun langsung di seret keluar dari dalam mobil dan di bawa masuk ke sebuah bangunan kosong. Mulut pria itu di tutup dengan lakban. Walaupun berusaha meronta untuk melarikan diri, tapi tidak bisa. Lengan kanan dan kiri pria paruh baya itu di pegang oleh dua orang bertubuh kekar. Hingga akhirnya pria itu di dudukkan dengan paksa oleh kedua orang itu di sebuah kursi kayu dan kedua tangannya di ikat di pegangan kursi.
"Buka lakban di mulutnya!"titah pemuda yang tidak lain adalah Andi. Pemuda itu nampak memegang pisau dan sebuah apel.
"Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan dari ku?"tanya pria paruh baya yang kedua tangannya di ikat di pegangan kursi itu.
"Kami hanya ingin bermain-main dengan kamu,"sahut Andi dengan senyuman yang lebih mirip dengan seringai.
"Tolong lepaskan aku! Kita tidak punya urusan sebelumnya. Kita tidak saling mengenal,"ujar pria yang tidak lain adalah Heru. Pria itu berusaha berontak ingin melepaskan diri.
"Berikan minumannya!"ucap Andi tetap dengan seringai di bibirnya.
Heru membulatkan matanya mendengar akan di berikan minuman,"Apa mereka ingin meracuni aku? Siapa mereka ini? Kenapa menculik dan menyekap aku seperti ini? Aku tidak mengenal mereka, dan aku merasa tidak menyinggung siapapun. Tapi, kenapa tiba-tiba aku diperlakukan seperti ini?"gumam Heru dalam hati merasa ketakutan.
"Ka.. Kalian mau apa? Jangan bunuh aku! Aku akan memberikan apapun yang kalian inginkan, tapi tolong jangan bunuh aku!"pinta Heru dengan wajah ketakutan.
"Okey. Kalau begitu, kita tunggu sebentar lagi. Jika kamu mau bekerja sama dengan kami, kami tidak akan membunuh kamu. Tapi.. Jika kamu tidak mau bekerja sama dengan kami..."Andi men-jeda kata-katanya, lalu..
"Srass'
"Srass'"
__ADS_1
"Srass'"
Andi melempar apel yang di pegangnya ke atas lalu dengan cepat memotong apel itu hingga apel itu terpotong menjadi beberapa bagian potongan kecil.
"Jleb"
"Akhh!"pekik Heru.
Setelah memotong-motong apel itu, Andi melempar pisau yang di pegangnya ke arah Heru. Dan pisau itu menancap tepat di antara kedua paha Heru. Tinggal sedikit lagi, pisau itu akan mengenai benda pusaka milik Heru. Heru pun menjadi ketakutan karena Andi.
"Aku akan memotong benda berharga kamu dan beberapa jarimu, jika kamu tidak mau bekerja sama dengan kami,"ancam Andi dengan tatapan tajam, dingin dan mengintimidasi.
"Sa.. Saya akan bekerja sama dengan kalian,"ucap Heru dengan tubuh gemetar. Untung saja pria itu tidak terkencing di celana karena ketakutan.
Andi tersenyum licik seraya memberi isyarat pada anak buahnya agar tidak memberikan minuman pada Heru.
"Kenapa harus membuatnya mabuk, jika saat sadar bisa di tanyai. Kalau berbohong, tinggal di takut-takuti lagi,"gumam Andi dalam hati masih dengan senyuman licik di bibirnya.
Pemuda itu merubah rencana awalnya karena melihat Heru yang ketakutan. Kemudian mengirim pesan pada Rayyan untuk memberitahu, jika dirinya merubah rencana.
"Siapa orang-orang ini? Sepertinya mereka adalah orang-orang yang berbahaya. Siapa yang sebenarnya aku singgung?"gumam Heru dalam hati.
Pria paruh baya itu berusaha mengingat-ingat siapa orang berkuasa yang pernah atau tanpa sengaja di singgungnya. Namun pria itu benar-benar merasa tidak menyinggung siapapun.
Di sisi lain.
Rayyan sudah tidak sabar ingin sampai di alamat yang dikirimkan oleh Andi. Begitu pula dengan Pak Hamdan yang sudah sangat penasaran dengan sosok orang yang ingin di pertemuan Rayyan dengan dirinya itu.
Setelah beberapa menit melajukan mobilnya, akhirnya Rayyan menghentikan mobilnya di sebuah gedung kosong. Pak Hamdan mengikuti Rayyan keluar dari dalam mobil dan melangkah di belakang Rayyan yang berjalan lebih dulu masuk ke dalam bangunan kosong itu.
__ADS_1
"Kenapa Rayyan mengajak aku ke tempat seperti ini untuk menemui seseorang? Aku jadi merasa jika Rayyan ini bukan orang sembarangan dan berbahaya jika di singgung. Gestur tubuh, cara bicara, aura, karisma dan wibawa Rayyan ini sangat kuat, dan mendominasi. Namun juga terlihat lembut dan penuh kasih jika bersama kami. Terutama saat bersama Aurora dan Zayn,"gumam Pak Hamdan dalam hati seraya mengamati tempat di sekitarnya.
"Pak, bapak harus melakukan apa yang saya katakan tadi pada seorang pria yang diikat di atas kursi di dalam ruangan itu,"ujar Rayyan menunjuk pada ruangan yang di depannya di jaga oleh dua orang pria bertubuh kekar. Rayyan sudah membaca pesan dari Andi, jika Andi merubah rencana mereka.
"Iya,"sahut Pak Hamdan singkat,"Kenapa aku merasa kalau ini seperti mengintrogasi orang dengan cara ekstrim? Sudah seperti mafia saja,"gumam Pak Hamdan dalam hati.
"Aku berharap, malam ini juga aku bisa mengungkap siapa yang telah melenyapkan nyawa papa ku. Seandainya saja dari dulu aku mendapatkan informasi dari Bu Ella bahwa pria itu telah memanfaatkan Pak Hamdan untuk melenyapkan nyawa papa ku, sudah dari kemarin-kemarin aku menyekap pria itu dan mengintrogasi dia. Namun, karena kemarin aku tidak menemukan bukti apapun, aku tidak berani bertindak pada orang itu,"gumam Rayyan dalam hati.
Alasan Rayyan dan Andi tidak memaksa ataupun menjebak Heru dari kemarin adalah, karena mereka tidak punya bukti apapun tentang kejahatan Heru. Namun setelah Rayyan berbicara dengan Bu Ella, dan Bu Ella terlihat sangat yakin jika Heru memanfaatkan Pak Hamdan untuk melenyapkan nyawa seseorang yang tidak lain adalah papanya, Rayyan pun jadi berani bertindak pada Heru seperti saat ini.
Tak lama kemudian, Rayyan dan Pak Hamdan masuk ke ruangan yang di depannya di jaga dua orang pria bertubuh kekar itu. Ruangan dengan cahaya temaram. Pak Hamdan berjalan di belakang Rayyan, dan berhenti di belakang Rayyan saat menantunya itu menghentikan langkahnya.
Heru mencoba menatap wajah orang yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu. Tapi tidak bisa melihat wajah orang di depannya itu dengan jelas. Karena cahaya di ruangan itu tidak terlalu terang. Dan lampu yang menyala hanya lampu temaram yang hanya berjarak sekitar lima puluh senti di atas kepalanya. Sehingga hanya wajah Heru yang terlihat jelas di ruangan itu.
"Orang di depan ku ini pasti majikan dari orang-orang yang ada di ruangan ini, 'kan? Tapi, siapa orang ini? Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas,"gumam Heru dalam hati.
Pak Hamdan mengernyitkan keningnya menatap ke sekeliling ruangan itu. Walaupun tidak terlalu jelas, tapi Pak Hamdan bisa melihat ada beberapa orang bertubuh kekar. Dari balik punggung Rayyan, Pak Hamdan mengintip, ada seorang pria yang di ikat di atas sebuah kursi kayu.
"Ada apa ini? Apakah Rayyan menyekap orang itu? Kenapa harus di sekap? Apa Rayyan ingin menakut-nakuti pria itu agar mau mengakui perbuatannya?"gumam Pak Hamdan dalam hati, namun langsung menguasai dirinya dan bertindak seperti yang dikatakan oleh Rayyan.
"Tak"
Cahaya lampu di ruangan itu tiba-tiba berubah menjadi terang.
"Kenapa kamu menjebak aku untuk melenyapkan nyawa orang lain?"tanya Pak Hamdan dengan suara datar seraya bergeser dari belakang tubuh Rayyan dan berjalan mendekati Heru.
"Ka. Kamu..?"Heru nampak terkejut saat melihat Pak Hamdan.
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued