Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
346. Mangsa


__ADS_3

Di sebuah area kontrakan yang setiap kamarnya hanya seluas tiga kali tiga meter. Tanpa dapur dan kamar mandinya pun di pakai bersama. Di situlah tempat Kanaya berada. Mencari tempat kontrakan yang semurah mungkin dengan jarak ke tempat kerja yang tidak terlalu jauh. Demi menghemat uang agar bisa membayar angsuran rumah.


Hari sudah beranjak malam dan Kanaya sudah bersiap-siap untuk pergi bekerja. Ya, setelah di pecat dari restoran tempatnya bekerja kemarin, karena lebih dari tiga hari tidak bekerja, Kanaya sudah menemukan pekerjaan baru. Jika hanya mengandalkan gaji dari bekerja di perusahaan Rayyan, maka untuk keperluan makan, minum, kontrakan, dan untuk membayar angsuran rumah ke bank tidak akan cukup. Sebab itulah Kanaya harus bekerja di dua tempat agar bisa mendapatkan lebih banyak uang.


Sedangkan ibu Kanaya sendiri juga berjualan gorengan keliling kampung dan sedikit-sedikit bisa menambah uang untuk membayar angsuran rumah.


"Sebenarnya, kalau ada pilihan, aku ingin bekerja di tempat lain dari pada harus bekerja di klub malam. Sebab, aku dengar klub malam itu tempat orang menari, merokok, mabuk, bahkan aku dengar tempat cari pasangan buat anu-anu. Hiiiii.. Amit-amit, deh,"


"Untuk sementara aku akan bekerja di tempat itu. Jika mendapatkan pekerjaan lain, aku akan mengundurkan diri atau istilah anak jaman now nya adalah resign. Sebaiknya aku berangkat sekarang, agar tidak terlambat masuk kerja. Masa hari pertama kerja terlambat datang,"gumam Kanaya bergegas berangkat setelah melihat jam kecil di dekat kasur lantai tempatnya tidur sudah menunjukkan pukul tujuh malam.


Setelah tiba di depan sebuah klub malam, Kanaya menghela napas panjang. Seumur hidup, Kanaya belum pernah menginjakkan kaki di tempat itu. Kanaya di terima bekerja di tempat itu juga atas rekomendasi teman satu kontrakannya yang juga bekerja di tempat itu sebagai waiter. Namun, hari ini temannya itu tidak masuk kerja karena sedang sakit.


Dengan bertekad mencari uang, Kanaya pun melangkah menuju pintu utama klub malam itu dan bertanya pada salah seorang pria yang berjaga di depan pintu. Setelah mengatakan maksud kedatangan nya, akhirnya Kanaya di antar ke dalam. Dan di sini lah saat ini Kanaya berada. Di sebuah ruangan bersama seorang wanita paruh baya.


"Jadi, kamu yang direkomendasikan untuk bekerja di sini?"tanya wanita itu. Wanita berambut pendek dan di cat berwarna pirang dengan santai menghisap rokok.


"Iya, bos,"sahut Kanaya.


"Ini! Pakai baju seragam ini! Setelah itu, kembali ke sini. Aku akan menjelaskan apa saja yang harus kamu kerjakan,"ujar wanita itu memberikan pakaian pada Kanaya. Pakaian seragam waiter di klub malam itu.


"Baik,"sahut Kanaya kemudian bergegas menuju toilet umum mengganti pakaiannya.


Kanaya masuk ke salah satu bilik toilet dan menatap baju seragam itu. Dengan ragu Kanaya mulai memakai baju itu.


"Astagaa.. Bajunya ketat sekali! Mana pendek lagi. Kalau begini caranya, sama saja aku membiarkan tubuhku menjadi tontonan para pria hidung belang. Tidak! Tidak! Aku memang butuh uang, tapi aku tidak akan memamerkan tubuh ku di hadapan semua orang,"gumam Kanaya saat melihat dirinya memakai baju yang di berikan untuk dirinya.


Rok ketat yang panjangnya lima jari di bawah pangkal paha. Baju super ketat yang membentuk lekuk tubuhnya. Bahkan belahan dadanya terlihat jelas. Sebenarnya hanya melihat model baju itu, Kanaya bisa memprediksi, jika baju itu pendek dan ketat. Tapi, Kanaya penasaran dan ingin mencoba. Dan setelah di coba, Kanaya pun sangat terkejut karena saat di pakai, baju itu lebih pendek dan lebih ketat dari dugaannya.


Kanaya melepaskan baju itu, kemudian melipatnya kembali. Kanaya berniat mengembalikan baju itu pada wanita tadi.


Setelah kembali ke ruangan wanita berambut pirang tadi, wanita itu mengernyitkan keningnya menatap Kanaya.


"Kenapa belum memakainya?"tanya wanita itu.

__ADS_1


"Maaf, saya tidak jadi bekerja di sini,"ucap Kanaya.


"Kenapa?"tanya wanita berambut pirang itu.


"Saya tidak terbiasa memakai baju ketat dan pendek seperti ini,"jawab Kanaya jujur adanya seraya mengembalikan baju tandi.


Wanita paruh baya berambut pirang itu menghela napas panjang mendengar jawaban Kanaya.


"Gadis ini sebenarnya cantik, hanya saja wajahnya agak kusam. Dan aku bisa memastikan jika tubuhnya yang di sembunyikan di balik pakaiannya itu pasti seksi. Jika dia bekerja di sini, pasti akan banyak pengunjung yang tertarik pada gadis ini. Sayang sekali jika dia tidak jadi bekerja di sini,"gumam wanita itu dalam hati.


"Kalau begitu, saya permisi!"pamit Kanaya bermaksud pulang dan menunggu lamaran kerjanya yang lain di terima.


"Tunggu! Untuk sementara waktu, kamu boleh bekerja memakai pakaian kamu sendiri. Nanti aku akan menjahitkan baju khusus buat kamu yang lebih panjang dan longgar,"ucap wanita itu


"Benarkah? Saya boleh memakai baju saya sendiri?"tanya Kanaya yang terkejut mendengar wanita itu memperbolehkan dirinya memakai bajunya sendiri.


"Tentu saja. Sekarang, mulailah bekerja,"ucap wanita itu tersenyum manis,"Aku yakin gadis ini masih polos. Aku akan menjerat gadis ini agar selamanya tidak bisa keluar dari tempat ku ini,"gumam wanita berambut pendek itu yang ternyata adalah pemilik tempat hiburan malam itu.


Kanaya mengantarkan minuman pada beberapa orang pelanggan dengan perasaan tidak nyaman. Bau asap rokok, minuman keras dan suara musik yang memekakkan telinga benar-benar membuat Kanaya merasa tidak nyaman. Belum lagi saat melihat beberapa orang pria menatap dirinya dengan tatapan mesum.


"Ya, Tuhan. Aku rasanya ingin segera keluar dari tempat ini. Bau rokok dan minuman keras ini benar-benar membuat perutku terasa tidak nyaman dan dadaku terasa sesak. Suara musik itu rasanya ingin memecahkan gendang telinga ku. Aku bisa tuli jika terlalu lama bekerja di tempat ini. Dan tatapan para pria itu membuat aku risih. Berapa lama aku sanggup bertahan bekerja di tempat seperti ini? Jika aku tidak membutuhkan banyak uang, ogah aku bekerja di tempat seperti ini,"gumam Kanaya dalam hati.


Di beberapa tempat yang lampunya hanya remang-remang, Kanaya bergidik ngeri melihat beberapa pasangan yang sedang berciuman seperti orang kehausan. Ada wanita berpakaian minim yang duduk di atas pangkuan seorang pria sambil berciuman. Sang pria meraba-raba paha sang wanita, bahkan menyusupkan tangannya ke dalam rok pendek wanita yang berada di atas pangkuannya itu.


Ada pula seorang wanita yang duduk di pangku seorang pria. Wanita itu duduk membelakangi sang pria. Sang pria dengan bebas menciumi leher sang wanita dan dengan bebas memainkan dua bukit kembar milik wanita itu.


Saat melihat orang-orang yang sedang menari, Kanaya juga hanya bisa membuang napas kasar. Melihat pria dan wanita joget bersama. Dan rata-rata para wanita itu berpakaian minim.


"Astagaa.. Ini benar-benar tempat yang sangat teramat tidak cocok dengan ku. Udara yang tidak sehat, telinga rusak, dan pemandangan laknatt. Aku gadis yang masih perawan. Tapi, sekarang mataku tidak suci lagi,"gumam Kanaya dalam hati.


"Hei, kamu! Antar minuman ini pada pria yang duduk di sana!"bartender itu menatap ke arah Kanya, kemudian menunjuk ke arah seorang pria paruh baya yang sedang duduk sendirian di salah satu sofa.


"Baik,"sahut Kanaya mengambil minuman dari bartender, kemudian berjalan mengantarkan minuman itu pada pria yang di tunjuk oleh bartender.

__ADS_1


"Bos, aku sudah melakukan apa yang Lo bos minta,"ucap bartender itu setelah Kanaya pergi. Berbicara dengan seorang melalui sambungan telepon.


"Bagus. Aku sudah bilang pada pelanggan kita, bahwa gadis itu masih baru. Jika dia masih perawan, pelanggan kita akan membayar mahal. Dan jika itu berhasil, aku akan memberimu bonus,"sahut wanita dalam sambungan telepon yang tidak lain adalah pemilik klub malam. Wanita yang saat ini sedang berada di dalam ruangannya dengan seorang pemuda tampan yang sedang memangkunya.


"Terimakasih, bos!"ucap bartender itu tersenyum lebar.


Ya. Pemilik klub malam itu telah menawarkan Kanaya pada salah seorang pelanggan tetap di klub malam itu. Wanita itu bisa melihat, jika Kanaya masih polos dan cantik. Karena itulah wanita itu tidak memaksa Kanaya memakai baju seragam waiter yang ketat itu saat Kanaya menolaknya. Tidak ingin Kanaya pergi. Mangsa yang datang sendiri tidak boleh dilepaskan bukan? Itulah pemikiran pemilik klub malam itu.


Wanita berambut pirang itu tersenyum senang, kemudian menutup teleponnya dan meletakkannya di atas meja.


"Sayang, puaskan aku malam ini,"ucap wanita itu seraya membelai wajah pemuda yang sedang memangkunya.


"Tentu saja. Aku tidak akan mengecewakan bos ku sayang,"ucap pemuda itu tersenyum manis kemudian mulai mencium wanita di atas pangkuannya itu.


Wanita pemilik klub malam yang selalu menyenangkan dirinya dengan meminta pria bayaran di klub malam miliknya untuk memuaskan dirinya di atas ranjang. Benar-benar tempat maksiat.


Di sisi lain, Kanaya meletakkan minuman yang di bawanya pada pria paruh baya yang di tunjukan bartender tadi.


"Ini minuman anda, Tuan,"ucap Kanaya seraya meletakkan minuman yang di bawanya di atas meja.


"Berikan saja padaku!"ucap pria itu seraya menadahkan tangannya pada Kanaya.


"Baik,"ucap Kanaya seraya mendekati pria itu.


"Akhhh!"


"Byurr"


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2