
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya Rayyan tiba juga di rumah nya. Dengan tidak sabar, Rayyan keluar dari dalam mobilnya. Pria itu bahkan berlari kecil menaiki tangga menuju kamarnya.
Nala menunduk hormat saat Rayyan melewati nya. Nala tidak akan meninggalkan Aurora sebelum Rayyan pulang.
"Ceklek"
Rayyan membuka pintu kamar nya. Kedua sudut bibir Rayyan tertarik ke atas saat melihat Aurora yang sudah berbaring di atas ranjang. Rayyan menutup pintu kamarnya, lalu bergegas ke kamar mandi. Tidak lama kemudian Rayyan sudah keluar dengan hanya menggunakan celana boxer. Otot-otot dada dan perut pria itu pun terekspos sempurna.
Rayyan naik ke atas ranjang mendekati Aurora yang nampak tertidur pulas. Bahkan handphone wanita itu masih menyala. Wanita itu ternyata tertidur saat sedang menonton drama Korea di sebuah aplikasi. Rayyan meletakkan handphone Aurora di atas nakas, lalu memeluk dan mengendus aroma tubuh Aurora di bagian ceruk leher Aurora.
"Emm.. Ray.."gumam Aurora yang tidurnya terusik karena ulah Rayyan. Tangan Aurora terulur untuk mendorong kepala Rayyan agar menjauh dari ceruk leher nya.
Rayyan tersenyum menatap wajah Aurora yang masih memejamkan matanya. Perlahan mendekatkan wajah nya ke wajah Aurora.
"Cup"
"Cup"
"Cup"
Rayyan mengecup bibir Aurora beberapa kali hingga Aurora kembali merasa terusik tidur nya karena ulah Rayyan itu.
"Rayy.. biarkan aku tidur!"pinta Aurora yang masih enggan membuka matanya. Aurora mendorong dada Rayyan agar menjauh dari dirinya.
__ADS_1
Namun tanpa di duga, Rayyan malah menindih tubuh Aurora dan kembali mencium bibir Aurora. Melummat, menyesap dan mengulum bibir Aurora, hingga Aurora tidak bisa apa-apa selain membiarkan Rayyan melakukan apa yang diinginkannya. Rayyan melepaskan pagutannya saat Aurora mulai kesulitan bernapas.
Aurora membuka matanya, menghirup udara dengan serakah. Sepasang suami-isteri itu saling menatap seraya mengatur napas.
"Rayy..."ucap Aurora menahan dada Rayyan yang kembali menunduk ingin menciumnya.
"𝙊𝙝, 𝙖𝙨𝙩𝙖𝙜𝙖𝙖..! 𝘿𝙞𝙖 𝙗𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙡𝙚𝙥𝙖𝙨𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙟𝙪𝙣𝙮𝙖. 𝘿𝙖𝙙𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙤𝙩𝙤𝙩 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙡𝙞. 𝘼𝙠𝙪 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙡𝙞 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙗𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙚𝙡𝙪𝙠𝙣𝙮𝙖. 𝙏𝙖𝙥𝙞 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙖𝙡𝙪,"gumam Aurora dalam hati. Menelan ludah susah payah melihat tubuh suaminya yang ada di depan matanya dan saat ini sedang di pegangnya. Ingin rasanya Aurora menggerakkan tangannya untuk meraba dada bidang dan berotot milik Rayyan itu.
Rayyan menegang kedua tangan Aurora yang menahan dadanya kemudian meletakkannya di kanan dan kiri tubuh Aurora, mengunci pergerakan Aurora.
"Ray..! Lepaskan!"Aurora mencoba memberontak untuk melepaskan tangannya dari pegangan Rayyan.
"Ck, aku sudah menuruti semua yang kamu inginkan. Meluangkan waktuku untuk pulang mengunjungi kedua orang tuamu di tengah jadwal pekerjaan ku yang padat.Tidak bisakah kamu menyenangkan hati ku dengan cara melayani aku dengan ikhlas?"decak Rayyan membuang napas kasar.
Rayyan beranjak dari atas tubuh Aurora. Terlihat jelas gurat kekecewaan di wajah tampan pria itu. Rayyan membaringkan tubuhnya di samping Aurora. Menutup tubuhnya dengan selimut dan berbaring membelakangi Aurora.
Setelah menuruti semua keinginan Aurora, Rayyan berharap istrinya itu akan melayani dirinya dengan ikhlas. Namun nyatanya walaupun Rayyan sudah berusaha untuk menyenangkan dan menurut segala keinginan Aurora, istrinya itu tetap saja menolak untuk melayani dirinya. Dan Rayyan merasa sangat kecewa. Padahal selama dua hari berpisah, Rayyan sangat merindukan Aurora.
"𝘼𝙠𝙪 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙜𝙞𝙡𝙖. 𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖? 𝙋𝙖𝙙𝙖𝙝𝙖𝙡 𝙙𝙞𝙖 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙤𝙡𝙖𝙠 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙮𝙖𝙣𝙞 𝙖𝙠𝙪. 𝙎𝙞𝙖𝙡𝙣𝙮𝙖, 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙣𝙮𝙖𝙢𝙖𝙣. 𝙎𝙚𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙙𝙞𝙖, 𝙞𝙣𝙨𝙤𝙢𝙣𝙞𝙖 𝙠𝙪 𝙨𝙚𝙢𝙗𝙪𝙝. 𝙃𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙬𝙖𝙟𝙖𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙞𝙪𝙢 𝙖𝙧𝙤𝙢𝙖 𝙩𝙪𝙗𝙪𝙝 𝙣𝙮𝙖, 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙩𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜. 𝙏𝙖𝙥𝙞 𝙖𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙠𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙮𝙖𝙣𝙞 𝙖𝙠𝙪?"gumam Rayyan dalam hati, merasa sangat kecewa dengan sikap Rayyan.
Aurora diam terpaku untuk beberapa saat. Baru kali ini Aurora melihat raut kekecewaan yang mendalam di wajah pria yang sudah menjadi suaminya itu. Rayyan biasanya tetap akan meniduri dirinya walaupun dirinya menolak. Tapi kali ini, pria itu memilih berhenti dan tidak melanjutkan aksinya. Bahkan pria itu tidur membelakangi dirinya.
"𝘼𝙥𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙗𝙚𝙜𝙞𝙩𝙪 𝙠𝙚𝙘𝙚𝙬𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪? 𝙎𝙚𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢𝙣𝙮𝙖, 𝙙𝙞𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙞𝙣𝙞,"gumam Aurora menatap punggung Rayyan yang berbaring membelakangi dirinya.
__ADS_1
Aurora menjadi merasa bersalah karena sebelumnya Rayyan tidak pernah bersikap seperti itu. Belum lagi jika teringat nasehat dari ibunya yang mewanti-wanti dirinya agar melayani suaminya dengan baik. Tapi malam ini dirinya malah membuat pria itu nampak sangat kecewa.
Benar kata Rayyan, suaminya itu selalu menuruti semua keinginan nya dan selalu berusaha untuk menyenangkan dirinya. Tapi belum pernah sekalipun Aurora menuruti keinginan Rayyan, apalagi membuat pria itu merasa senang. Aurora menjadi merasa semakin bersalah.
"𝘽𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙘𝙖𝙧𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙟𝙪𝙠 𝙙𝙞𝙖 𝙖𝙜𝙖𝙧 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙖𝙧𝙖𝙝 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙠𝙪?"gumam Aurora dalam hati. Aurora menjadi bingung sendiri, memikirkan bagaimana caranya menghadapi Rayyan.
Malam semakin larut, Aurora belum juga bisa terlelap karena merasa bersalah pada Rayyan. Aurora hanya bisa menatap punggung Rayyan yang tidur membelakangi dirinya.
Sedangkan Rayyan, tidak berapa lama setelah berbaring, pria itu sudah terlelap. Setelah melihat wajah Aurora dan mencium aroma tubuh Aurora, Rayyan akan mudah terlelap. Belum lagi karena aktivitas yang padat seharian membuat tubuh Rayyan lelah.
Pagi sudah menyapa, Rayyan yang terbiasa bangun pagi pun terbangun walaupun tanpa memasang alarm. Rayyan menghela napas panjang menatap Aurora yang masih terlelap. Tanpa mengetahui jika Aurora baru terlelap sekitar dua jam yang lalu. Wanita itu tidak bisa tidur karena merasa bersalah pada Rayyan.
Rayyan melakukan aktivitas nya seperti biasanya. Bangun dari tidur langsung membersihkan diri, lalu memakai kemeja, jas, dasi dan arloji di pergelangan tangannya. Rayyan keluar dari walk-in closet, menatap Aurora yang masih terlelap.
Tidak seperti biasanya yang selalu menghampiri Aurora lalu mencium bibir Aurora sebelum berangkat bekerja. Kali ini Rayyan hanya menatap Aurora dari jauh, lalu keluar dari dalam kamar itu. Saat membuka pintu kamarnya, di depan kamarnya sudah ada Nala dan Andi.
Rayyan bergegas keluar rumah menuju mobilnya. Sedangkan Andi mengekor di belakang Rayyan. Andi berlari kecil mendahului Rayyan, menuju mobil, lalu membuka pintu mobil untuk majikannya.
Andi melirik ekspresi wajah Rayyan saat memberikan kotak makan sarapan dan air mineral untuk majikannya itu. Ekspresi wajah majikannya nampak tidak bersemangat.
"Apa semalam tidak dapat jatah? Wajahnya terlihat mendung,"gumam Andi lirih, menghela napas panjang.
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued