Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
287. Pupus


__ADS_3

Waktu terus berjalan dan Jony sudah berpikir bagaimana caranya dirinya akan menemui ibunya. Pagi itu, Jony kembali mengunjungi rumah Sumi dengan berpakaian rapi.


Pria paruh baya itu mengatakan pada security bahwa dirinya ingin bertemu dengan seseorang di rumah itu. Bermodal nama ibunya dan mengatakan bahwa dirinya tetangga ibunya dari kampung, akhirnya Jony diizinkan untuk masuk ke rumah itu.


Dari seorang pelayan di rumah itu, Jony tahu kalau rumah itu adalah rumah cucu ibunya. Jony sempat terkejut saat mengetahui bahwa Sumi adalah cucu kandung dari ibunya.


"Jika si Miti itu adalah cucu kandung ibu, berarti Miti ini adalah putri saudara ku. Bagaimana bisa ibu dan anak adikku itu selamat dari peristiwa kebakaran itu? Dan kenapa wajah si Miti ini terlihat sangat mirip dengan wajah istri Rayyan? Bukankah adik Aiden hanya Aurora istri Rayyan?"gumam Jony merasa penasaran.


"Kau? Dari mana kamu tahu rumah ini? Untuk apa kamu datang ke mari?"tanya nenek Sumi yang terkejut melihat kehadiran Jony di rumah itu.


Ada perasaan tidak suka dan takut di hati nenek Sumi saat melihat Jony di rumah itu. Nenek tua itu takut jika Jony menginginkan harta Sumi dan nekat melenyapkan semua orang yang ada di rumah itu seperti yang pernah dilakukan Jony dulu.


"Bu, kenapa ibu membohongiku aku? Ibu tinggal di sini bersama cucu ibu, 'kan?"


"Apa urusan kamu, aku mau tinggal dengan siapa?"ketus nenek Sumi yang semakin was-was pada Jony.


"Aku hanya ingin tinggal bersama ibu. Kenapa ibu harus berbohong kalau ibu menumpang pada orang lain?"tanya Jony terlihat kesal.


"Sudah aku bilang, aku tidak ingin lagi tinggal bersamamu. Walaupun aku memaafkan kamu, bukan berarti aku melupakan semua perbuatan kamu dan kamu bisa berbuat serta meminta apapun padaku. Kamu sudah melenyapkan seluruh keluarga ku. Aku tidak ingin tinggal seatap dengan orang yang telah melenyapkan seluruh keluarga ku. Pergilah! Jangan pernah datang lagi ke sini!"ucap nenek Sumi datar.


"Aku akan tetap tinggal di sini. Ini adalah rumah keponakan ku. Jadi, aku berhak tinggal di sini,"ucap Jony tak tahu malu,"Tinggal di rumah kecil tidak layak huni seperti beberapa bulan terakhir ini sungguh sangat tidak menyenangkan. Aku tinggal sendirian dan harus membeli makanan setiap hari dengan uang sedikit yang diberikan oleh Natalie. Aku hanya bisa membeli makanan seadanya,"


"Sedangkan jika aku tinggal di sini, aku pasti bisa makan enak dan di layani pelayan. Tidak perlu repot mencari makanan dan membersihkan rumah seperti apa yang harus aku lakukan beberapa bulan ini,"gumam Jony dalam hati.


"Siapa yang mengizinkan kamu tinggal di sini?"


Suara seorang pria terdengar mengalihkan atensi nenek Sumi dan Jony. Ibu Sumi juga muncul di ruangan itu. Wanita itu nampak terkejut melihat Jony ada di rumah putrinya. Apalagi saat melihat Andi yang berjalan masuk ke dalam ruangan itu dengan wajah dinginnya.


Ya, suara pria tadi adalah suara Andi. Pemuda yang selalu terlihat dingin dengan tatapan tajam mengintimidasi. Namun terlihat hangat dan sering bicara ceplas-ceplos jika berada di tengah-tengah orang-orang yang akrab dengan dirinya.


Jony menelan salivanya yang terasa menyangkut di tenggorokannya dengan kasar. Mungkin seperti menelan biji salak yang tersangkut di tenggorokan. Mungkin... Kita anggap saja begitu.


"Kenapa asisten Rayyan itu ada di sini?"gumam Jony dalam hati.

__ADS_1


"Siapa yang mengizinkan kamu tinggal di sini?"tanya Andi lagi. Kali ini pemuda itu sudah berada di depan Jony. Menatap tajam pada pria paruh baya itu penuh intimidasi.


"Kamu sendiri, kenapa kamu datang ke sini? Ada urusan apa kamu di sini?"Jony balik bertanya dengan wajah angkuhnya.


Jony memandang tidak suka ke arah Andi. Padahal dalam hati, Jony sudah ketakutan melihat Andi. Pria paruh baya itu mengepalkan kedua tangannya yang sudah berkeringat dingin.


Jika dulu, Jony tidak takut pada Andi, karena dulu Jony punya uang. Tapi sekarang Jony tidak memiliki apapun yang bisa digunakan untuk melawan Andi. Bahkan, tenaga pun sudah jauh melemah karena faktor usia dan juga kesehatan yang memburuk.


"Nyonya rumah ini adalah istri Tuan Hendrik, kakak Tuan Rayyan. Tentu saja aku punya urusan di sini, karena kamu berusaha mengusik ketenangan keluarga ini. Jangan kamu pikir aku tidak tahu jika dari kemarin kamu mengawasi rumah ini dan mencari informasi agar kamu bisa masuk ke dalam rumah ini,"


"Apa perlu aku melaporkan kamu atas kasus penembakan Tuan Rayyan beberapa bulan yang lalu? Atau perlu aku mengirim kamu dan Heru ke penjara karena telah bersekongkol untuk melenyapkan papa Tuan Rayyan? Atau mungkin... Haruskah aku melukis wajah putri mu dengan pisau?"


"Jika aku melukis wajahnya yang lumayan cantik itu dengan pisau, maka dia tidak akan bisa lagi menjual diri untuk menghidupi dirinya sendiri apalagi dirimu,"ucap Andi tersenyum miring menatap tajam pada Jony.


Sungguh aura yang menakutkan dari wajah pemuda yang sudah bertahun-tahun menjadi asisten sekaligus tangan kanan Rayyan itu. Bukan hanya Jony yang ketakutan ditatap Andi seperti itu. Tapi nenek dan ibu Sumi yang melihat wajah Andi seperti itu pun terlihat bergidik ngeri.


"Ja.. Jagan macam-macam! Kamu tidak bisa mengancam aku seperti ini. Aku tidak takut,"ucap Jony pura-pura tidak takut, tapi nyatanya kedua tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.


Natalie lah yang menghidupi dirinya akhir-akhir ini. Walaupun Natalie mencari uang dengan mengandalkan tubuhnya. Menjual diri pada para pria hidung belang untuk mendapatkan uang dengan mudah dan cepat. Karena, walaupun Natalie lulusan sarjana luar negeri, nyatanya otak Natalie tidak sepintar orang yang memiliki gelar sarjana lainnya .


Sudah beberapa kali Natalie di terima bekerja di beberapa perusahaan yang berbeda. Namun Natalie tidak bertahan lama karena benar-benar tidak sanggup mengerjakan pekerjaan kantor.


Jika Andi merusak wajah putri tunggalnya itu, maka Natalie tidak akan bisa bekerja apapun. Dan otomatis, dirinya juga tidak akan mendapatkan uang dari Natalie lagi.


"Ohh.. Kamu bilang aku hanya mengancam? Baik, kita buktikan saja ancaman ku itu,"ucap Andi seraya mengambil handphonenya dari saku jas yang dikenakannya.


"Ja.. Jagan! Jangan lakukan itu. Apa yang kamu inginkan dari ku?"tanya Jony yang pada akhirnya menyerah.


Andi tersenyum sinis melihat Jony yang nampak khawatir. Sudah dapat dipastikan jika pria paruh baya itu tidak akan memiliki apapun lagi jika Natalie tidak memberinya uang. Jadi, Jony pasti takut jika Natalie sampai dicelakai.


"Jangan pernah mendekati keluarga Tuan Rayyan lagi! Termasuk keluarga ini. Karena ini adalah keluarga istri dari Tuan Hendrik, kakak kandung Tuan Rayyan. Jika kamu masih berani mendekati keluarga Tuan Rayyan lagi, aku jamin hidupmu akan lebih menderita dari pada saat ini,"ucap Andi dengan suara berat penuh penekanan. Aura pemuda itu benar-benar mengintimidasi, bahkan menakutkan.


"Baik. Aku akan pergi. Aku tidak akan mendekati mereka lagi,"ucap Jony yang tidak memiliki pilihan lain selain menuruti keinginan Andi.

__ADS_1


Jony sangat tahu bagaimana perangai Andi. Pemuda yang merupakan tangan kanan Rayyan itu sangat di segani di kalangan pebisnis. Sama seperti Rayyan majikannya. Semua yang dikatakan pemuda itu akan benar-benar dilakukannya, dan itu sudah menjadi rahasia umum.


Jony yang dulu punya harta saja masih berpikir keras untuk menyembunyikan kejahatannya dari Andi. Sedangkan sekarang ini dirinya tidak memiliki apa-apa, mana berani Jony menyinggung pemuda itu.


Nenek Sumi hanya diam melihat putranya itu pergi. Ada rasa kecewa yang mendalam di hati nenek tua itu karena nyatanya putranya belum tobat juga. Ibu Sumi hanya bisa menghela napas panjang melihat semua yang terjadi.


"Sialan! Hilang sudah harapan ku untuk menumpang hidup enak di rumah ini,"gerutu Jony yang harapannya makan enak dan dilayani pelayan harus pupus karena Andi.


Akhirnya yang bisa di lakukan oleh Jony saat ini hanya kembali ke rumah kecil yang di tempatnya selama ini. Makan dan minum seadanya dari uang yang di kirimkan oleh Natalie.


"Ckiiitt"


"Akkh!"


"Brugh"


Jony yang merasa kesal rencananya tidak berhasil itu lengah saat menyeberang jalan. Pria paruh baya itu terjatuh karena di tabrak sepeda motor.


"Hei! Kalau jalan lihat-lihat! Asal menyebrang aja! Untung aku sempat mengerem. Kalau mau bunuh diri di rel kereta atau di jembatan sana! Jangan di jalan!"sergah pengendara motor itu kemudian kembali melajukan motornya tanpa membantu Jony yang terjatuh. Begitu pula dengan pengendara lain yang berlalu lalang pun juga tidak peduli dengan kecelakaan yang dialami Jony.


Jony berusaha bangun, lalu duduk di tepi trotoar. Pria itu nampak terluka di beberapa bagian tubuhnya. Badannya terasa sakit semua karena terpental di tabrak motor tadi.


"Sial! Sial! Sial!"umpat Jony kesal.


"Uhuk...Uhuk... Uhuk.."


Jony terbatuk-batuk dan terkejut saat melihat tangan yang dipakainya untuk menutup mulutnya tadi ada darahnya. Sepertinya karena tadi pria itu terjatuh cukup keras hingga batuknya mengeluarkan darah.


...🌟"Memaafkan bukan berarti melupakan kesalahan."🌟...


...🌸❀️🌸...


..

__ADS_1


To be continued


__ADS_2