Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
189. Syarat


__ADS_3

Malam ini Naima menyuruh kedua putranya dan juga Aurora untuk makan malam bersama. Setelah sekian lama tidak pernah makan malam bersama, malam ini akhirnya mereka makan malam layaknya sebuah keluarga.


Semua nampak fokus pada makanan di piring mereka, termasuk Hendrik. Pria itu saat ini sangat berbeda. Tidak lagi mencuri pandang pada Aurora ataupun tebar pesona.


Yang ada di dalam pikiran Hendrik saat ini adalah rasa penasaran. Hendrik tidak tahu apa yang terjadi siang tadi saat mamanya menemui Sumi.


"Mama ingin bicara penting dengan kalian bertiga,"ucap Naima setelah mereka selesai makan malam.


"Apa mama ingin bicara soal Miti? Tapi kenapa ingin bicara dengan kami bertiga?"batin Hendrik bertanya-tanya.


Aurora mengernyitkan keningnya. Ada apa gerangan hingga mama mertuanya ingin bicara dengan mereka bertiga.


Sedangkan Rayyan menjadi khawatir jika mamanya akan membicarakan soal Sumi. Rayyan takut mamanya mengatakan hal-hal yang akan membuat Aurora merasa tersinggung.


"Apa yang ingin mama bicarakan dengan kami?"tanya Rayyan.


"Mama ingin bertanya satu persatu pada kalian. Pertama-tama, mama ingin bertanya pada kamu, Hen,"ujar Naima menatap Hendrik.


"Tanyakan saja, ma!"sahut Hendrik yang sudah sangat penasaran.


"Kamu bilang, kamu mencintai wanita itu, 'kan?"tanya Naima menatap lekat pada Hendrik.


"Iya,"sahut Hendrik cepat.


"Kamu benar-benar mencintai dia dari hati atau mencintai dia karena obsesi?"


"Maksud mama?"tanya Hendrik seraya mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


"Kamu dulu pernah mengatakan pada mama kalau kamu tidak ingin menikah. Kecuali Rayyan menceraikan Aurora. Maka kamu akan menikahi Aurora dan kamu akan berhenti menjadi seorang Casanova. Kamu berniat akan menekuni hobi kamu menjadi fotografer hingga kamu bisa sukses dan bisa menghidupi keluarga kecil kamu bersama Aurora nanti. Benar begitu bukan?"tanya Naima menatap serius pada Hendrik.


Pertanyaan Naima itu membuat Hendrik susah payah menelan salivanya. Pasalnya apa yang dikatakan mamanya itu membuat Rayyan menatap tajam pada dirinya.


"Haiss.. kenapa mama malah mengatakan apa yang pernah aku katakan dulu di depan Rayyan, sih?! Sekarang Rayyan menatap aku seperti akan membunuh aku,"gerutu Hendrik dalam hati.


"Itu sudah lama, ma. Kenapa mama mengungkitnya lagi? Dulu aku memang penasaran sama Aurora. Tapi itu cuma sebatas penasaran saja, ma,"ujar Hendrik membela diri. Walaupun memang benar bahwa dulu Hendrik pernah berniat seperti itu. Karena saat itu Hendrik memang sangat tertarik pada Aurora.


"Oke. Dulu kamu sangat penasaran pada Aurora. Sekarang, kamu berniat menikahi Miti. Apa kamu ingin menikahi dia karena wajahnya mirip dengan Aurora? Kamu terobsesi pada Aurora?"tanya Naima lagi.


"Ma, awalnya aku memang tertarik pada Miti karena wajahnya mirip dengan Aurora. Tapi setelah aku beberapa kali mengobrol dengan dia dan mengetahui profilnya, aku semakin tertarik pada dia, ma. Beda dengan ketertarikan ku pada Aurora. Aku hanya tertarik secara fisik saja pada Aurora. Hanya sebatas itu, ma. Bahkan kami tidak pernah bicara satu sama lain. Kami seperti orang asing yang tidak pernah bertegur sapa, apalagi mengobrol. Sedangkan aku dan Miti, walaupun kami belum lama saling mengenal, tapi aku merasa sangat nyaman saat berbicara dengan dia. Aku bisa mengatakan isi hatiku tanpa takut Miti akan mengejek atau pun menghinaku. Kami sama-sama terus terang saat bicara, tanpa menutupi perasaan kami. Karena itulah, aku merasa nyaman saat bersama dia dan akhirnya jatuh cinta padanya, ma,"jelas Hendrik panjang lebar dan jujur adanya.


"Penjelasan kamu terdengar masuk akal. Mama jadi tidak terlalu yakin lagi jika kamu terobsesi pada Aurora. Tapi, kenapa kamu harus menikah dengan mantan kupu-kupu malam, Hen?"tanya Naima membuang napas kasar.


Aurora menundukkan wajahnya mendengar pertanyaan Naima itu. Karena tidak dipungkiri, walaupun gadungan, dirinya juga mantan kupu-kupu malam. Rayyan menoleh pada Aurora, lalu menggenggam tangan Aurora dengan lembut. Aurora menoleh pada Rayyan yang tersenyum hangat padanya. Seolah menenangkan Aurora.


"Bukan itu masalahnya, Hen. Sebagai seorang ibu, wajar, bukan jika mama ingin yang terbaik untuk kamu? Mama hanya ingin kamu menikah dengan wanita baik-baik, Hen. Apa keinginan mama itu salah? Mama bisa mencarikan gadis yang baik untuk kamu,"


"Cinta itu urusan hati, ma. Dan kita tidak bisa mengatur, apalagi memaksa hati untuk mencintai seseorang. Dan hatiku sudah mencintai Miti,"sahut Hendrik yang tidak tahu harus bagaimana lagi untuk membujuk mamanya agar merestui hubungannya dengan Miti.


"Bullshit.! (Omong kosong) Tahu apa kamu tentang cinta? Cintamu itu seperti musim. Selalu berubah-ubah,"cibir Naima.


"Sudahlah, ma! Jika mama tidak setuju aku menikah dengan Miti, maka aku tidak akan menikah seumur hidupku. Mungkin mama lebih suka aku menjadi seorang Cassano dari pada aku menikahi seorang wanita mantan kupu-kupu malam. Aku tidak akan membujuk atau memohon lagi pada mama. Sudah sulit bagiku untuk membuat dia mau menikah dengan aku. Maka alasan dia untuk menolak aku akan semakin kuat jika mama tidak merestui hubungan kami. Aku tidak bisa seperti Rayyan yang bisa melindungi orang yang dicintainya. Karena aku bukan orang yang pintar dan berkuasa seperti Rayyan. Bisa saja mama merestui aku lalu diam-diam menyingkirkan istri ku nanti. Seperti mama dulu yang berusaha mati-matian ingin menyingkirkan Aurora,"ujar Hendrik kemudian beranjak dari duduknya.


Terlihat kekecewaan dan rasa putus asa di wajah pria itu. Baru kali ini dirinya termotivasi untuk berubah. Namun nyatanya, malah tidak mendapatkan dukungan dari wanita yang telah mengandung, merawat dan membesarkan dirinya itu. Hendrik merasa enggan untuk berdebat lagi dengan mamanya.


"Kamu mau kemana?"tanya Naima. Namun Hendrik sama sekali tidak menoleh, apalagi berhenti untuk menjawab pertanyaan mamanya. Terus melangkah meninggalkan tempat itu membawa rasa kecewanya.

__ADS_1


"Apa kak Hendrik benar-benar mencintai Sumi? Dia terlihat sangat kecewa dan putus asa karena mama tidak merestui hubungannya dengan Sumi,"gumam Aurora dalam hati.


Naima hanya bisa menghela napas panjang, memijit pelipisnya sendiri. Menatap putranya yang melangkah pergi.


"Apa hanya sebatas itu tekadnya? Hanya sebatas itukah perjuangannya?"gumam Naima yang masih bisa didengar oleh Rayyan dan Aurora.


"Apa maksud kata-kata mama itu? Apa mama hanya ingin menguji kakak? Apa mama punya niat untuk merestui kakak untuk menikah dengan Sumi?"tanya Rayyan terlihat serius.


"Mama tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Kamu benar. Kebahagiaan anak-anak mama lebih penting dari pada omongan orang. Jika kakak kamu benar-benar serius berubah dan bukan sekedar terobsesi pada wanita yang bernama Miti itu, mama tidak punya pilihan lain selain menyetujuinya. Mama tidak mau jika kemudian hari mama disalahkan dan dijadikan alasan atas ketidak kebahagiaan kalian,"sahut Naima pasrah.


"Syukurlah kalau begitu,"sahut Rayyan merasa lega. Demikian pula dengan Aurora.


"Tapi mama punya syarat,"ujar Naima tiba-tiba.


"Syarat? Syarat apa?" tanya Rayyan.


"Katakan pada kakak kamu, mama akan merestui dia menikah dengan wanita itu jika kakak kamu berhasil membuat wanita itu mencintai dia. Mama tidak mau wanita itu bersedia menikah dengan kakak kamu hanya karena rasa terpaksa. Karena diancam oleh kakak kamu. Bagaimana kakak kamu akan bahagia, jika dia menikahi wanita yang tidak mencintai dia?"


"Okey. Aku akan mengatakannya pada kakak,"sahut Rayyan.


"Tapi, masih ada lagi yang ingin mama tanyakan pada kalian. Terutama pada kamu, Ra. Siapa sebenarnya Miti itu? Kenapa wajahnya sangat mirip dengan kamu?"


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2