Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
122. Mundur Lagi


__ADS_3

Waktu terus berlalu, siang berganti malam, dan malam pun berganti pagi. Tanpa terasa tiga hari lagi Aurora dan Rayyan akan mengadakan resepsi pernikahan mereka.


"Bu, sebaiknya ibu hubungi Aurora. Kita akan pergi ke kota tepat di hari resepsi pernikahan Aurora saja. Kita berangkat pagi, siangnya kita pasti sudah tiba di rumah Aurora,"ujar Pak Hamdan menghela napas berat.


Pak Hamdan sangat enggan untuk kembali ke kota tempat dirinya mengalami peristiwa yang tidak bisa dilupakannya selama ini. Peristiwa yang membuat Pak Hamdan dihantui rasa bersalah sampai saat ini.


"Baiklah, Pak,"sahut Bu Ella menurut.


Bu Ella mengerti bagaimana perasaan Pak Hamdan. Bu Ella pun segera mengambil handphonenya dan menghubungi Aurora.


"Halo, Bu!"sahut Aurora dari sambungan telepon,"Ibu dan bapak sudah bersiap-siap untuk berangkat, 'kan?"tanya Aurora dengan suara yang terdengar ceria.


"Ibu dan bapak tidak bisa berangkat hari ini, Ra. Kami akan ke kota pada hari H resepsi pernikahan kamu. Kami akan berangkat dari sini pagi hari,"ujar Bu Ella membuat wajah Aurora yang tadinya cerah menjadi mendung.


"Ibu, kenapa mundur lagi? Bukankah ibu berjanji akan datang tiga hari sebelum hari resepsi pernikahan ku?"sahut Aurora dengan wajah sendu.


"Maaf!"ucap Bu Ella tidak berdaya.


"Ya, sudah. Tidak.apa-apa. Aku harap, bapak dan ibu bisa hadir di jari H pesta resepsi pernikahan kami,"sahut Aurora penuh harap. Walaupun merasa kecewa dengan keputusan kedua orang tuanya, namun Aurora tidak bisa memaksa orang tuanya.


"Ya sudah. Kamu hati-hati, ya, di sana! Jadi istri yang baik! Kamu jangan sampai mempermalukan ibu!"pesan Bu Ella.


"Iya, Bu,"sahut Aurora, kemudian panggilan telepon pun diakhiri.


Bu Ella menghela napas berat. Merasa tidak enak hati pada putri semata wayangnya. Namun juga tidak punya pilihan lain, selain menuruti keinginan suaminya.


"Aurora pasti sedih, ya, Bu?"ucap Pak Hamdan menghela napas panjang.


"Iya, Pak. Aurora terdengar kecewa,"sahut Bu Ella pelan, tidak bersemangat.

__ADS_1


"Ini semua salah bapak, Bu. Jika ibu ingin ke kota besok, bapak tidak keberatan, Bu. Tapi bapak akan tetap datang pada hari H nya saja,"ujar Pak Hamdan yang melihat wajah istrinya yang tidak bersemangat.


"Ibu akan datang bersama bapak saja. Nggak enak rasanya jika kita datang terpisah. Seperti sedang berantem saja,"sahut Bu Ella menghela napas panjang.


"Seandainya bapak bisa membuktikan kalau bapak tidak bersalah dan tidak tahu menahu soal racun itu, Bapak tidak perlu bersembunyi seperti ini, Bu. Dan bapak akan terbebas dari rasa bersalah ini. Tapi bapak tidak bisa memberikan bukti apapun untuk membersihkan nama bapak. Kalaupun bapak menemui Heru, bapak tidak yakin jika bisa menjernihkan segalanya,"


"Sudahlah, Pak! Kalau benar seperti dugaan ibu, Heru melenyapkan nyawa seseorang dengan meminjam tangan bapak, ada kemungkinan dia malah akan melaporkan bapak ke polisi dengan tuduhan melenyapkan nyawa orang,"


"Iya, Bu. Bapak juga takut jika sampai terjadi hal seperti itu. Bagaimana pun, saat itu, pasien itu adalah tanggung jawab Heru,"


"Ya sudah. Kita istirahat dulu. Besok kita masih harus ke sawah untuk menggarap lahan yang akan kita tanami lagi,"sahut Bu Ella mengakhiri perbincangan.


Di kamar Aurora, wanita itu nampak menghela napas berkali-kali setelah selesai menelpon ibunya beberapa saat yang lalu, Aurora masih kepikiran oleh keputusan kedua orang tuanya yang akan datang di hari H resepsi pernikahan nya.


"Apa panen belum selesai juga? Kenapa ibu dan bapak tidak berangkat ke kota besok saja? Kenapa aku merasa bapak dan ibu enggan datang ke acara resepsi pernikahanku? Mereka seperti mencari alasan agar tidak datang ke acara resepsi pernikahan ku. Apa mereka malu karena nantinya harus berkumpul dengan orang-orang kaya?"gumam Aurora menebak-nebak alasan kedua orang tuanya enggan datang ke acara resepsi pernikahannya.


"Huff.. dari pada aku pusing memikirkan apa alasan ibu dan bapak tidak mau datang lebih awal ke kota, lebih baik aku nonton drama saja lah,"gumam Aurora yang ingin mengalihkan pikirannya dari kedua orang tuanya.


"Ray! Kamu baru pulang? Kenapa larut sekali?"tanya Aurora mulai melepaskan dasi Rayyan.


"Sebentar lagi, aku akan cuti. Jadi aku berusaha menyelesaikan semua pekerjaan ku lebih awal,"sahut Rayyan.


Rayyan menelisik tubuh Aurora saat wanita itu mulai melepaskan kancing kemejanya,"Kenapa aku merasa jika tubuhnya lebih montok dan berisi, ya?"gumam Rayyan dalam hati.


Tangan Rayyan terulur untuk menarik tali kecil dress di bahu Aurora. Dapat di pastikan jika kedua tali dress di bahu Aurora itu di lepas, maka tubuh wanita di depannya itu akan polos tanpa sehelai benang. Karena Aurora tidak memakai pakaian dalam. Rayyan akan marah jika Aurora memakai pakaian dalam saat di dalam kamar bersama dirinya.


"Ray!"ucap Aurora seraya menahan tangan Rayyan, saat Rayyan ingin menarik tali dress di pundaknya.


"Kenapa?"tanya Rayyan yang merasa tidak suka aksinya di hentikan Aurora.

__ADS_1


"Aku belum selesai melepaskan kancing kemeja mu,"sahut Aurora melepaskan tangan Rayyan dan kembali melepaskan kancing kemeja Rayyan.


"Kamu masih tetap bisa melepaskan kancing kemeja ku,"ucap Rayyan melanjutkan aksinya. Menarik tali dress Aurora hingga benda bulat kenyal itu terlihat.


Aurora hanya menghela napas melihat kelakuan suaminya itu.


"Ray, bapak dan ibu akan datang di hari H . Nggak bisa datang lebih awal,"ucap Aurora menahan diri agar tidak mendesah karena jemari tangan Rayyan sudah mulai mempermainkan benda bulat kenyal miliknya. Aurora pun selesai melepaskan kemeja Rayyan. Beralih membuka ikat pinggang suaminya.


"Datang di hari H? Kenapa mereka terkesan enggan untuk datang ke pesta resepsi pernikahan kita?"tanya Rayyan menghentikannya aktivitasnya.


Rayyan menatap wajah Aurora yang nampak tidak bersemangat karena membahas soal orang tuanya yang nampak enggan datang di acara resepsi pernikahan mereka.


"Aku tidak tahu,"ucap Aurora menghela napas yang terasa berat. Wanita itu telah selesai melepaskan ikat pinggang suaminya dan beralih melepaskan celana panjang yang di pakai Rayyan.


"Ya, sudahlah! Biarkan saja jika mereka hanya bisa datang di hari H saja. Yang penting mereka datang. Mungkin mereka merasa tidak nyaman tinggal di kota. Mereka sudah terbiasa tinggal di desa yang tenang, damai, dengan udara yang sejuk dan segar tanpa polusi udara dan polisi udara,"ujar Rayyan seraya merapikan anak rambut Aurora yang menutupi wajah Aurora.


"Ah, kamu benar. Mungkin itu yang menyebabkan mereka enggan tinggal di kota. Kami juga pernah tinggal di kota, tapi bapak mendadak memutuskan pindah ke desa. Aku sempat protes waktu itu. Tapi waktu itu bapak terlihat sangat frustasi dan ingin meninggalkan kota. Akhirnya aku menurut untuk pindah ke desa. Setelah pindah ke desa, aku melihat bapak lebih tenang. Walaupun ketenangan itu tidak berlangsung lama saat toko kami kebakaran dan harus mengganti semua barang titipan orang di toko. Akhirnya kami terlilit hutang karena kejadian itu dan kesulitan mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Bapak dan ibu harus bekerja di sawah orang untuk mencukupi kebutuhan kami sehari-hari. Malamnya pun, bapak masih membuat jaring pesanan orang. Bahkan aku hampir di nikahi juragan Wirjawan untuk melunasi hutang bapak dan ibu. Aku kabur, di antar ibu ke kota untuk mencari pekerjaan. Namun selalu berakhir di lecehkan orang. Aku sangat putus asa hingga akhirnya bertemu dengan Sumi yang hendak bunuh diri. Entah dari mana, tiba-tiba aku memiliki ide untuk bekerja sama dengan Sumi untuk menjadi wanita kupu-kupu malam,"ujar Aurora mengingat kisah hidupnya.


Aurora mengingat ide konyolnya yang nyatanya bisa membuat dirinya mendapatkan uang banyak. Hingga akhirnya bisa melunasi hutang-hutang kedua orang tuanya, membeli sawah dan kebun, dan juga memulai usaha di kota dengan membuka toko kue dan kafe.


"Ide kamu benar-benar konyol,"ucap Rayyan mengangkat tubuh Aurora hingga tinggi Aurora sejajar dengan dirinya.


Aurora melingkarkan kedua kakinya di pinggang Rayyan, sedangkan kedua tangannya melingkar di leher Rayyan.


"Iya. Itu memang ide paling konyol dalam hidupku,"sahut Aurora yang tidak habis pikir dengan dirinya sendiri.


"Bagaimana caranya kalian melayani pelanggan?"tanya Rayyan menatap wajah Aurora lekat.


...🌸❤️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2