Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
257. Pasrah


__ADS_3

Aurora masuk ke dalam kamarnya dan melihat Rayyan yang duduk di tepi ranjang. Sepertinya pria itu sedang menunggu Aurora.


"Sekarang jelaskan padaku!"pinta Rayyan dengan suara datarnya.


Sungguh Rayyan merasa kecewa pada Aurora karena Aurora tidak jujur padanya bahwa Bima adalah mantan pacar Aurora.


Aurora menghela napas panjang, lalu duduk di sebelah Rayyan.


"Bima adalah mantan pacar ku. Aku memutuskan dia secara sepihak karena orang tuanya tidak merestui kami. Aku tidak tahan dengan ibunya yang bicaranya selalu menyakitkan hati,"


"Jadi, kamu kabur dari ku dengan meminta bantuan pada mantan pacar mu? Dan kamu juga meminta perlindungan kepada dia? Pantas saja dia mau melakukan semua itu untuk kamu. Karena dia adalah mantan pacar kamu dan masih mencintai kamu. Apa karena kamu bodoh atau karena kamu masih mencintai dia, sehingga kamu melakukan semua ini?"


"Kamu meminta bantuan pada mantan yang masih mencintai kamu. Dan kabur meninggalkan suamimu. Apa kamu lebih percaya pada mantan pacar kamu dari pada suamimu sendiri? Tidak ada artinya kah semua yang sudah aku lakukan untuk kamu selama ini?"tanya Rayyan dengan ekspresi cemburu, marah dan bercampur kecewa yang terlihat jelas di wajahnya.


"Aku dan dia sudah lama putus, Ray. Aku sudah tidak mencintai dia lagi. Saat ini, aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Bima selain berteman. Kami juga sudah sama-sama menikah. Jadi, aku tidak ingin berdebat dengan mu karena masalah ini, Ray. Aku tahu, selama ini aku salah. Aku egois dan bodoh karena melakukan semuanya tanpa berpikir panjang,"


"Aku belum bisa menjadi istri yang baik untuk kamu. Aku akan berusaha menjadi lebih baik. Tapi, jika kamu tidak bisa menerima aku apa adanya, kamu tidak perlu memaksakan diri. Aku yang dari kalangan menengah ke bawah, tidak berpendidikan dan bodoh ini memang tidak pantas bersanding dengan kamu yang dari kalangan atas, terpelajar dan sempurna. Aku tidak pantas untuk kamu,"ujar Aurora dengan ekspresi sedih, kemudian beranjak pergi ke kamar mandi.


Aurora sadar, semua masalah yang terjadi adalah karena kebodohannya. Dan selama ini Aurora sudah merasa tersiksa dengan semua masalah yang terus menghampirinya. Masalah yang mau tidak mau harus dihadapinya sendiri.


Aurora menangis di dalam kamar mandi, merasa lelah dengan semua masalah yang menimpa dirinya akhir-akhir ini. Apalagi hari ini, semua masalah datang bertubi-tubi. Saat dirinya ingin bersandar pada Rayyan, Rayyan malah terlihat marah dan kecewa pada dirinya. Hanya menangis sendirilah yang bisa dilakukannya saat ini.


Rayyan mengusap wajahnya kasar. Rayyan sebenarnya sangat marah saat mengetahui bahwa Bima adalah mantan pacar Aurora. Apalagi Bima berani menanggung resiko besar membawa kabur istri, mertua dan pelayanan setianya. Hal itu sudah cukup untuk membuktikan jika Bima masih sangat mencintai Aurora. Belum lagi jika Rayyan mengingat tatapan mata Bima yang penuh cinta pada Aurora. Semua itu benar-benar membuat Rayyan marah.


Tapi yang membuat Rayyan tidak bisa berkata-kata adalah karena Aurora sama sekali tidak membela diri dan mengakui semua kesalahannya. Wanita itu terlihat pasrah. Bahkan mengatakan dirinya tidak pantas untuk bersanding dengan Rayyan. Ekspresi sedih di wajah Aurora membuat Rayyan tidak bisa marah lagi pada Aurora. Walaupun masih ada rasa kecewa dalam hatinya.


Tanpa sengaja mata Rayyan menatap ke arah box bayi. Pria itu beranjak mendekati box bayi itu dan melihat putranya yang masih terlelap. Bayi lucu itu selalu menempel padanya semenjak bertemu.

__ADS_1


"Aurora memang salah, egois dan bodoh. Tapi selama ini dia pasti sudah banyak menderita. Mengurus kedua orang tuanya dengan keadaan mengandung dan melahirkan tanpa aku temani. Pasti semua itu sangat berat baginya,"gumam Rayyan dalam hati seraya mengelus kepala putranya.


Aurora keluar dari kamar mandi dan duduk di depan cermin meja rias memakai skincare. Rayyan menghampiri istrinya itu. Rayyan membungkuk, lalu memeluk Aurora dari belakang. Pria itu meletakkan dagunya di pundak Aurora dan menatap wajah Aurora dari cermin di depan mereka.


"Maaf! Aku tadi emosi. Aku cemburu. Aku tidak bermaksud menghinamu,"ucap Rayyan karena telah mengatai Aurora bodoh.


"Kamu tidak perlu minta maaf. Kamu dan ibu Bima memang benar. Aku ini memang wanita bodoh dan tidak berpendidikan,"sahut Aurora seraya melepaskan pelukan Rayyan, lalu berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah ranjang.


"Sayang!"Rayyan kembali memeluk Aurora dari belakang hingga Aurora tidak bisa melanjutkan langkahnya,"Jangan marah! Aku benar-benar minta maaf karena tanpa sengaja telah berkata-kata yang menyakiti hati mu. Aku emosi karena aku cemburu. Aku sangat mencintaimu dan takut kehilangan kamu. Kamu sangat berarti bagiku. Setelah urusan ku di sini selesai, kita pulang bersama-sama, ya? Aku ingin kamu ada di sisiku seperti dulu. Kita besarkan Zayn bersama-sama. Aku ingin melihat dia tumbuh dewasa. Aku tidak ingin lagi melewatkan masa-masa pertumbuhannya seperti selama tujuh bulan ini,"


Mendengar Rayyan menyebut nama Zayn, Aurora menjadi merasa bersalah. Selama ini Aurora telah memisahkan bayi yang tidak berdosa itu dengan ayah kandungnya. Sehingga Zayn tidak mendapatkan kasih sayang dari ayah kandungnya. Rayyan juga tidak bisa melihat pertumbuhan putra mereka. Aurora benar-benar merasa menjadi istri dan ibu yang egois.


"Maaf!"ucap Aurora membalikkan tubuhnya, kemudian memeluk Rayyan.


Wanita itu menangis dalam dekapan suaminya. Melepaskan beban yang selama ini harus dipikulnya sendiri karena kebodohannya sendiri. Hari ini adalah hari yang terasa sangat berat bagi Aurora. Dan Aurora butuh tempat untuk bersandar, yaitu suaminya.


Akhirnya sepasang suami-istri itu tidur berpelukan. Setelah berbulan-bulan lamanya berpisah, ini adalah malam pertama mereka kembali tidur bersama.


Nyaman. Itulah yang dirasakan Aurora saat ini. Menyembunyikan wajahnya di balik dada bidang suaminya. Tempat paling nyaman yang selalu dirindukannya.


Keesokan harinya, Rayyan terbangun karena mendengar suara tangis putranya. Aurora pun bergegas bangun dan mengambil Zayn dari box bayi nya.


"Zayn kenapa sayang?"tanya Rayyan seraya beranjak duduk.


"Biasanya popok nya penuh,"ucap Aurora seraya menggendong putranya kemudian membaringkan bayi itu di atas ranjang untuk mengganti popoknya.


"Sebentar, ya! Anak mama pasti haus, ya?"ucap Aurora yang sedang mengganti popok putranya.

__ADS_1


Rayyan tersenyum tipis seraya mengelus kepala putranya. Pagi ini adalah pagi pertama yang dilaluinya dengan anak dan istrinya.


"Apa dia selalu bangun sepagi ini?"tanya Rayyan yang melihat jam digital di atas nakas masih menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit.


"Hum,"sahut Aurora seraya membuka kancing piyamanya untuk menyusui Zayn.


Rayyan membuang napas kasar saat Aurora mengeluarkan benda favoritnya yang sudah beberapa bulan ini tidak di sentuhnya. Pria itu memilih beranjak keluar dari kamar itu.


"Kamu mau kemana, Ray?"


"Aku ingin menghirup udara pagi di luar,"


Rayyan keluar dari rumah itu dan melihat Pak Hamdan yang sedang memetik bunga untuk dimasukkan ke dalam vas bunga. Halaman samping dan depan rumah Aurora memang ditanami banyak bunga.


Rayyan melihat Bu Ella yang juga berada di tempat itu, namun berjauhan dengan Pak Hamdan. Rayyan mendekati Bu Ella yang duduk di kursi roda seraya melihat suaminya yang sedang memetik bunga.


"Bu!"sapa Rayyan seraya duduk berjongkok di depan Bu Ella. Bu Ella tersenyum tipis menatap menantunya itu.


"Bu, saya ingin menanyakan sesuatu yang mengganjal di hati saya pada ibu. Jika ibu ingin menjawab iya, tolong ibu kedipkan mata ibu sekali. Dan jika jawabannya tidak, ibu kedipkan mata ibu dua kali. Apakah bisa?"tanya Rayyan yang entah mengapa tiba-tiba ingin menanyakan sesuatu yang mengganjal di hatinya pada Bu Ella.


Bu Ella mengedipkan matanya sekali sebagai jawaban. Rayyan pun merasa senang mendapatkan respon itu dari Bu Ella.


"Bu, maaf jika saya menanyakan ini, tapi ini sangat menganggu pikiran saya. Golongan darah Aurora tidak sama dengan golongan darah bapak dan ibu. Apakah Aurora bukan putri kandung bapak dan ibu?"tanya Rayyan hati-hati.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2