Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
82. Ide Yang Bagus.


__ADS_3

Tidak diperbolehkan untuk keluar dari rumah, membuat Naima benar-benar merasa bosan. Wanita yang biasa beraktivitas di luar rumah itu benar-benar merasa mati gaya. Akhirnya Naima nekat menghubungi Natalie.


"Halo, Nad! Ke rumah Tante dong! Makan malam bersama Tante. Tante bete sendirian di rumah,"pinta Naima.


"Tapi, Tan, bukankan Rayyan melarang Tante bertemu dengan orang luar. Bagaimana kalau nanti Tante di marahi Rayyan lagi,"sahut Natalie dari sambungan telepon.


"Rayyan biasanya pulang setelah makan malam. Lagian, kamu itu bukan orang luar. Kamu sudah Tante anggap seperti putri Tante sendiri. Tante benar-benar kesepian. Hendrik juga tidak pulang sejak kejadian kemarin. Entah kemana anak itu. Temani Tante makan malam, ya? Please!"bujuk Naima dengan suara memelas.


"Baiklah. Aku akan ke situ,"sahut Natalie menyetujui.


"Terimakasih, Nad!"mendengar Natalie setuju, Naima pun merasa sangat senang.


"Andai saja Rayyan menikah dengan Natalie, aku pasti sangat bahagia. Tapi Rayyan malah menikah dengan perempuan rendahan itu. Dia diperlakukan seperti ratu oleh Rayyan. Makan dan minum pun disediakan di dalam kamar. Tidak pernah makan malam bersama di meja makan. Menantu macam apa dia? Menantu durhaka!"gerutu Naima.


Selama menikah dengan Rayyan, Aurora memang tidak pernah makan malam di meja makan jika tanpa ada Rayyan. Hal itu memang pengaturan dari Rayyan. Karena Rayyan sangat tahu, jika mamanya pasti akan mencari celah untuk menghina dan merendahkan Aurora. Belum lagi Hendrik yang tatapan matanya selalu mesum jika melihat Aurora. Kakaknya itu seolah ingin menelanjangi istrinya dengan tatapannya itu. Dan Rayyan sangat benci saat Hendrik menatap istrinya seperti itu. Karena itulah, Rayyan tidak mengijinkan Aurora makan di meja makan jika tanpa ada dirinya. Sedangkan Rayyan sendiri juga jarang makan malam di rumah. Sarapan pun di dalam mobil.


Beberapa menit kemudian, mobil Natalie sudah berada di depan pintu gerbang rumah Rayyan. Namun penjaga gerbang tidak kunjung membukakan pintu gerbang. Biasanya, setiap melihat mobil Natalie, penjaga gerbang langsung menekan tombol untuk membuka pintu gerbang. Tapi kali ini tidak.


"Tiinn.. tiiinn..."


Natalie mengklakson beberapakali, tapi pintu gerbang itu tetap tertutup rapat.


"Issh.. menyebalkan sekali,"gerutu Natalie, kemudian menghubungi Naima yang berada di dalam kamarnya.


"Tan, aku tidak bisa masuk. Mereka tidak membukakan pintu gerbang untuk ku,"adu Natalie.

__ADS_1


"Tunggu sebentar. Biar Tante tangani masalah ini. Nanti kamu langsung masuk ke kamar Tante aja, ya!"ujar Naima.


"Iya Tan,"sahut Natalie kemudian menutup teleponnya,"Kalau tidak demi mendapatkan Rayyan, males banget aku nemenin nenek tua itu. Jika aku sudah menjadi istrinya Rayyan, dia pasti akan semakin menempel padaku. Pasti akan sangat membosankan sekali. Jika dia sudah menjadi mertua aku, lebih baik aku kirim dia ke panti jompo saja, biar tidak merepotkan aku,"gerutu Natalie yang sebenarnya hanya pura-pura senang menemani Naima, hanya untuk mengambil hati Naima.


Naima menghubungi penjaga gerbang dan memarahinya habis-habisan. Bahkan mengancam akan memecat penjaga gerbang jika tidak mau membukakan pintu gerbang. Dengan terpaksa, akhirnya penjaga gerbang pun membukanya pintu gerbang untuk Natalie.


"Mana, Natalie? Kenapa lama sekali belum ke kamarku juga? Seharusnya dia sudah berada di sini sekarang. Apa dia mendapatkan masalah lagi?"gumam Naima yang akhirnya memutuskan untuk keluar dari dalam kamarnya untuk mencari Natalie.


Dari kejauhan, Naima mendengar Andi seperti sedang berbicara dengan seseorang. Naima pun mendekati Andi.


"Kenapa ada Andi? Apa Rayyan sudah pulang?"gumam Naima dengan langkah cepat mendekati Andi.


"Apa?! Dasar ulat bulu kegatelan! Pergi sekarang juga dari sini!"bentak Andi.


"Kamu mengusir dia?"sergah Naima, menatap Andi tidak suka. Andi dan Natalie pun langsung menatap ke arah Naima.


"Aku yang mengundang dia ke sini. Berani-beraninya kamu mengusir dia! Apa hak kamu, hah?"marah Naima.


"Apa nyonya tidak ingat? Tuan sudah mengatakan pada nyonya, bahwa Nyonya tidak diinjinkan keluar selangkah pun dari rumah ini. Nyonya juga tidak diijinkan bertemu dengan orang luar,"ujar Andi dengan wajah serius.


"Natalie bukan orang luar. Dia sudah sering ke rumah ini. Sudah aku anggap sebagai putriku sendiri,"sergah Naima.


"Itu, 'kan menurut Nyonya, bukan menurut Tuan Rayyan. Jika Nyonya berani, bawa saja ulet bulu ini masuk! Dan tunggu hukuman dari Tuan Rayyan selanjutnya,"tantang Andi.


"Mama tidak ingin aku tinggal di sini lagi?"suara bariton Rayyan itu membuat semua orang menoleh pada Rayyan yang sedang memeluk pinggang Aurora.

__ADS_1


Rayyan memakai pakaian kasual terlihat sangat tampan. Dan Aurora memakai dress berwarna hitam yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Malam ini, Rayyan sengaja ingin mengajak Aurora makan di luar.


Natalie mengepalkan kedua tangannya saat melihat Rayyan memeluk mesra pinggang Aurora. Ingin rasanya Natalie menarik Aurora dari pelukan Rayyan lalu menjambak rambutnya dan mencakar-cakar wajahnya.


"Ray, kamu sudah pulang?"tanya Naima yang terkejut melihat Rayyan,"Ayo, kita makan malam bersama! Sudah lama kita tidak makan malam bersama. Mama mengundang Natalie untuk menemani mama makan malam, karena mama kesepian dan tidak nafsu makan jika makan sendirian,"ujar Naima tanpa menanggapi perkataan Rayyan. Mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Aku sudah mengatakan pada mama, aku menghukum mama tidak boleh keluar dari rumah ini, dan tidak boleh bertemu dengan orang luar. Kenapa mama malah mengundang dia?"tanya Rayyan terdengar datar.


"Ray, mama ini sudah tua. Mama kesepian sendirian di rumah. Kamu selalu sibuk bekerja dan Hendrik juga jarang pulang. Punya menantu juga seperti orang asing, sama sekali tidak pernah bicara pada mama. Makan pun di dalam kamar. Menantu macam apa yang kamu carikan untuk mama? Tega sekali kamu mengisolasi mama seperti ini,"keluh Naima menitikkan air mata buaya. Wanita paruh baya itu masih saja mencari kesempatan untuk memojokkan Aurora.


Melihat itu, Natalie pun pura-pura menenangkan Naima dengan mengelus punggung Naima.


"𝙃𝙪𝙛𝙛.. 𝙠𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙞𝙗𝙪 𝙢𝙚𝙧𝙩𝙪𝙖 𝙠𝙪 𝙞𝙣𝙞 𝙨𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙡𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙢𝙖𝙞𝙣 𝙙𝙧𝙖𝙢𝙖? 𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙠𝙚𝙧𝙟𝙖 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙖𝙧𝙩𝙞𝙨 𝙨𝙖𝙟𝙖? 𝙎𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜, '𝙠𝙖𝙣, 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙗𝙖𝙠𝙖𝙩𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙞𝙨𝙞𝙖-𝙨𝙞𝙖𝙠𝙖𝙣,"gumam Aurora dalam hati, menghela napas panjang.


"Mama selalu saja mencari celah untuk menghina dan memojokkan Aurora. Bahkan saat Aurora bersama ku. Bagaimana mungkin aku membiarkan Aurora dekat dengan mama? Mama hanya akan membuat istriku tidak betah hidup bersama ku,"ujar Rayyan yang memang benar adanya.


"Makanya kalau cari istri itu seperti Natalie ini, Ray. Dia mencintai kamu dan juga mencintai mama. Seharusnya kamu menikah dengan Natalie, bukan dengan perempuan itu,"ujar Naima masih dengan air mata buayanya.


"Aurora adalah wanita yang aku pilih untuk mendampingi hidupku. Dan aku bahagia bersamanya. Jadi, mama jangan pernah berharap aku aku akan menceraikan Aurora lalu menikahi Natalie. Karena aku tidak akan pernah menceraikan Aurora, dan tidak berniat mencari istri kedua,"ucap Rayyan tegas.


"Kalau Nyonya sangat menyukai Natalie, kenapa tidak Nyonya nikahkan dengan anak sulung Nyonya yang masih lajang saja? Kenapa harus menjodohkan perempuan itu dengan Tuan Rayyan yang sudah menikah? Sepertinya, Tuan Hendrik dan Natalie sangat cocok,"celetuk Andi yang membuat semua orang menatap ke arahnya,"Ups! Keceplosan,"ucap Andi menutup mulutnya sendiri seraya menyengir bodoh.


"Ide yang bagus!"


...🌸❤️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2