Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
259. Kacau


__ADS_3

Kanaya terdiam karena tiba-tiba di tembak Randy. Walaupun selama bersama Randy, Kanaya merasa nyaman, tapi Kanaya ingin tahu lebih banyak tentang Randy sebelum berkomitmen menjalin hubungan ke tingkat pacaran. Karena, walaupun pacaran adalah periode perkenalan antara dua individu sebelum pernikahan atau hubungan romantis de facto, tapi memilih berkomitmen berpacaran pasti terikat dengan aturan bukan?


( De facto : situasi atau keadaan yang ada dalam kenyataan, meskipun mungkin tidak di akui resmi secara hukum).


"Bagaimana? Apa kamu mau menjadi pacarku?"tanya Randy lagi karena Kanaya belum menanggapi pernyataan cinta nya.


Sementara Andi yang masih bersembunyi,"Jangan di terima! Jangan diterima!"gumam Andi lirih, berharap Kanaya tidak menerima cinta Randy.


"Aku sangka, Om sudah menikah dan memiliki anak. Ternyata masih jomblo dan kalah start,"ujar anak yang beranjak remaja itu yang sedari tadi bersama Andi. Anak itu menutup mulutnya menahan tawa.


"Diam, bocil! Jangan berisik! Aku tidak mau ketahuan,"ujar Andi dengan suara kecil.


(Bocil : bocah cilik / anak kecil)


Tiba-tiba Andi tersenyum miring menatap kembang api yang masih tersisa. Anak yang sedari tadi bersama Andi pun ikut tersenyum miring melihat ke mana arah tatapan mata Andi.


"Aku.. "Kanaya nampak ragu untuk menjawab.


"Duar"


"Duar"


"Duar"


"Astagaa!"


Kanaya yang mau menjawab pertanyaan Randy itu pun tidak jadi melanjutkan kata-katanya saat mendengar letusan kembang api yang begitu dekat dengan tempat mereka duduk.


"Shiitt! Siapa yang menyalakan kembang api? Kanaya tidak jadi menjawab pertanyaan ku karena suara kembang api itu,"gerutu Randy dalam hati.


"Wahh.. indah sekali!"gumam Kanaya yang tadi sempat terkejut. Kanaya tersenyum lebar melihat kembang api di langit senja yang beranjak gelap itu.


Para pengunjung yang ada di sekitar danau juga terlihat senang saat melihat kembang api yang di nyalakan Andi dan anak kecil itu. Warna-warni kembang api itu menghias langit yang beranjak gelap.


Setelah kembang api itu habis, Randy pun kembali memulai pembicaraannya, sedangkan lampu-lampu di sekitar tempat itu pun sudah sudah menyala.


Tangan pemuda itu mulai merayap memegang jemari tangan Kanaya yang berada di atas paha Kanaya.


"Sialan! Belum juga jadian sudah berani pegang-pegang,"gerutu Andi kesal.


"Om, kalau aku bisa mengacaukan kencan mereka, kasih bonus, ya?"bisik anak kecil yang bersama Andi itu lalu pergi meninggalkan Andi.


Andi mengernyitkan keningnya menatap ana kecil itu, namun sesaat kemudian kembali fokus pada Kanaya dan Randy.


"Aya, kamu tahu apa persamaan rasa sayangku ke kamu dengan matahari?"tanya Randy menatap Kanaya dan mengenggam lembut jemari tangan Kanaya.


"Apa?"tanya Kanaya mengulum senyum.

__ADS_1


"Persamaannya adalah, sama-sama terbit setiap hari dan hanya akan berakhir sampai kiamat nanti,"ucap Randy, kemudian menyelipkan anak rambut Kanaya di telinga Kanaya.


"Kakak bisa aja,"sahut Kanaya tersipu malu.


"Kamu tahu gak bedanya kamu sama daun? Kalau daun jatuhnya ke tanah, kalau kamu jatuhnya ke hatiku. Karena itu, terima cinta ku, ya?"bujuk Randy yang belum mendapatkan jawaban dari Kanaya. Randy menatap Kanaya penuh harap.


"Permisi, Om!"ucap anak kecil yang tadi bersama Andi tiba-tiba sudah berdiri di depan Kanaya dan Randy sambil membawa botol bekas air mineral.


Anak itu mulai bernyanyi sambil memukul-mukul kan botol air mineral ke tangannya sendiri sebagai musik pengiring lagunya.


🎢🎡🎢


Jangan pegang dulu.. Jangan cium dulu.. Karena baru saja.. Kita berkenalan


Aku belum tahu.. Siapa dirimu.. Aku belum tahu.. Dimana rumahmu..


Mau pegang soal gampang.. Mau cium soal mudah.. Tapi aku mau tahu dulu.. Apa maksud di hatimu..


Pabila kau sungguh-sungguh.. Peluk cium boleh saja.. Tapi bila mau main-main.. Silahkan cari yang lain 🎢🎡🎢


Andi menahan tawa melihat anak yang tadi bersamanya itu menyanyikan lagu yang terkesan menyindir Randy.


"Bagus! Anak ini memang bisa di andalkan. Jangan khawatir, aku akan memberikan bonus yang sesuai untuk kamu,"gumam Andi tersenyum senang.


Wajah Randy terlihat masam karena lagi-lagi belum bisa mendengar jawaban dari Kanaya. Sekaligus Randy merasa tersindir dengan isi lagu yang dinyanyikan oleh anak itu. Sedangkan Kanaya yang mendengar lagu itu pun langsung menarik tangannya dari genggaman Randy, membuat wajah Randy semakin masam.


"Menganggu saja!"gerutu Randy dengan suara kecil seraya mengeluarkan uang dari dompetnya,"Nih, pergi sana!"ucap Randy terlihat kesal.


"Masa cuma segini, Om?"tanya anak itu yang lebih terdengar seperti protes saat melihat uang koin seribu rupiah dari Randy.


"Aku nggak ada uang receh. Lagian, kata kamu, 'kan, seikhlasnya. Dan aku ikhlas nya segitu,"sahut Randy kesal.


"Yah, di dompet om tadi ada sepuluh ribuan, lima ribuan, bahkan dua ribuan. Tapi malah ngasih saya uang seribuan,"keluh anak itu yang sempat mengintip saat Randy mengambil uang tadi,"Kak, jangan mau sama Om ini! Dia itu pelit. Keikhlasan hatinya hanya bernilai seribu perak,"ujar anak itu menatap Kanaya.


"Anak ini,"geram Randy.


Randy tadi memang sengaja memberikan uang koin seribu rupiah karena merasa kesal pada anak yang mengamen itu, sebab telah menganggu kebersamaannya dengan Kanaya. Tapi siapa sangka anak itu malah mengadu pada Kanaya.


"Ini, pergi sana! Dasar pengganggu!"ketus Randy memberikan uang lima ribuan pada anak itu.


"Nah, gitu dong, dari tadi. Makasih Om!"ucap anak itu kemudian menatap Kanaya,"Kakak cantik, jadi wanita itu harus mahal. Jangan mudah di pengang kalau belum halal. Tunjukkan harga diri kakak! Dan satu lagi. Orang yang mulutnya manis itu, biasanya hatinya pahit,"ujar anak itu sekilas melirik Randy.


"Hei, bocah! Apa maksud kamu?"sergah Randy yang emosinya menjadi naik karena kata-kata anak itu.


"Nggak maksud apa-apa kok, Om. Jangan khawatir, Om! Kalau jodoh tak kan kemana. Pasti nanti Om bakal ketemu dengan kakak ini di pelaminan, tapi hanya sebagai tamu undangan,"ucap anak itu terkekeh kecil.


"Kau.."geram Randy.

__ADS_1


"Ha.. Ha.. Ha.. Jangan suka marah Om! Entar cepat tua!"ujar anak itu menertawakan Randy sambil berlari pergi meninggalkan Randy.


"Dasar bocah sialan!"umpat Randy kesal.


"Em, kak sudah mau malam. Kita pulang, dulu, yuk!"ajak Kanaya.


"Aya, kamu belum menjawab pernyataan cinta ku. Jika kamu mau jadi pacarku, kita akan berangkat dan pulang kerja bareng setiap hari. Kita akan nge-date setiap malam Minggu. Aku akan memberikan handphone baru dan kuota secara rutin buat kamu agar kita bisa terus berkomunikasi,"ujar Randy masih belum menyerah pada Kanaya.


"Brengseek! Belum menyerah juga dia. Dia mengiming-imingi Kanaya dengan segala hal,"umpat Andi yang jadi gelisah karena takut Kanaya menerima pernyataan cinta Randy.


"Tenang saja, Om! Sebelum janur kuning melengkung, masih milik umum. Pacaran masih bisa putus, karena yang nikah aja bisa cerai,"ujar anak kecil itu yang sudah kembali lagi di dekat Andi.


Andi hanya bisa menghela napas kasar mendengar perkataan anak itu.


"Emm.. aku belum bisa menjawabnya sekarang, kak. Beri aku waktu untuk memikirkannya,"jawab Kanaya membuat Andi merasa sedikit lega.


"Kapan kamu akan memberiku jawabannya?"tanya Randy yang butuh kepastian.


"Beri aku waktu tiga hari!"pinta Kanaya.


"Baiklah, aku tunggu jawaban kamu tiga hari lagi,"sahut Randy tersenyum tipis.


Setelah mendengar jawaban Kanaya, Andi pun meninggalkan tempat itu.


"Apa aku juga harus nembak dia?"gumam Andi lagi-lagi menghela napas panjang.


"Ya, iyalah, Om. Mumpung masih ada kesempatan harus di gunakan. Kecuali, Om nggak suka sama kakak itu,"


"Bagaimana kalau dia menolak aku?"tanya Andi pada anak itu.


"Di tolak itu resiko, Om. Yang penting, Om sudah berusaha. Masih ada waktu tiga hari. Manfaatkan waktu tiga hari itu sebaik mungkin,"


"Benar juga. Kamu memang anak pintar. Rajin-rajinlah belajar, biar jadi orang sukses,"sahut Andi tersenyum hangat, mengelus kepala anak itu.


Akhirnya Kanaya dan Randy pun meninggalkan tempat itu. Walaupun hari ini Randy sangat kesal karena acara kencan dan nembak Kanaya menjadi kacau. Apalagi Kanaya masih meminta waktu untuk memberikan jawaban. Randy merasa di gantung.


Andi memberikan uang pada anak kecil yang membantu dirinya menganggu kencan Kanaya dan Randy sesuai janjinya. Dan tentu saja hal itu membuat anak itu merasa senang.


"Tetap semangat, Om! Sebelum janur kuning melengkung, masih milik umum!"ucap anak itu menyemangati Andi.


Andi tersenyum hangat pada anak itu, kemudian meninggalkan tempat itu.


...🌟Mie pangsit kuah bakso, kalah gesit standby jomblo.🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...

__ADS_1


To be continued


__ADS_2