
Kanaya mengikuti Andi yang berjalan keluar dari ruangan Andi, ke lift, hingga ke parkiran. Namun tidak sepatah katapun yang terucap dari bibir mereka kedua.
"Kemari!"titah Andi pada Kanaya.
Kanaya pun mendekat ke arah Andi,"Dia akan mengantarkan aku pulang menggunakan motor?"gumam Kanaya di dalam hati saat melihat Andi memegang helm di tangannya.
Namun saat Kanaya ingin meraih helm yang di pegang Andi, pemuda itu malah memakaikan helm itu pada Kanaya.
"What?! Dia memakainya padaku? Dia bersikap manis padaku? Awas! Sebentar lagi kata-kata pedas dari mulutnya akan segera keluar,"gumam Kanaya dalam hati yang jadi hafal dengan sifat Andi.
"Cepat naik! Kalau tidak, kamu akan aku tinggalkan,"ujar Andi seraya naik ke atas motor.
"Tuh, 'kan? Benar apa kataku. Setelah mengatakan atau melakukan hal yang manis, kata-kata pedasnya itu akan keluar,"gumam Kanaya dalam hati.
Membuang napas kasar, Kanaya pun naik ke boncengan motor Andi. Sedangkan Andi sedang memakai helmnya.
"Pegangan yang kuat. Jangan salahkan aku jika kamu jatuh karena tidak berpegang dengan kuat,"ujar Andi yang lagi-lagi membuat Kanaya menghela napas.
Andi mulai melajukan motornya, namun tidak merasakan Kanaya berpegangan pada dirinya.
"Bahkan kamu tidak mau berpegangan padaku. Baiklah. Aku akan membuat mu memeluk ku,"gumam Andi dalam hati tersenyum miring.
"Brumm"
"Akhh!"
Kanaya memekik dan reflek memeluk pinggang Andi saat tiba-tiba Andi menarik gas motornya. Sedang Andi tersenyum penuh kemenangan.
Hari ini Andi mendadak minta izin pada Rayyan untuk keluar. Andi keluar membeli motor gambot yang cocok dan nyaman di kendarai orang yang berpostur tubuh tinggi seperti Andi.
Andi sengaja membeli motor, bukan mobil. Kenapa? Alasan pertama adalah karena kontrakkan Kanaya masuk ke dalam gang dan tidak bisa di lalui mobil. Alasan kedua, jika memakai motor akan ada kesempatan untuk pegang-pegang dan peluk-peluk. Ya, seperti saat ini.
"Tidak rugi juga aku beli motor. Lumayan, dapat pelukan,"gumam Andi dalam hati merasa senang.
"Orang ini benar-benar menyebalkan! Dia mencari keuntungan dari ku! Dasar kang modus!"gerutu Kanaya dalam hati seraya melepaskan pelukannya pada Andi, lalu berpegangan pada besi di bagian samping motor.
"Hemm.. Dia tidak mau memeluk ku lagi?"gumam Andi dalam hati saat merasakan Kanaya tidak lagi memeluknya setelah laju motornya stabil.
"Brumm"
"Akhh!"
Lagi-lagi Andi menarik gas motornya kencang dan kembali membuat Kanaya terkejut. Dan lagi-lagi Kanaya reflek memeluk pinggang Andi. Dan kali ini Andi terus melaju kencang menyalip kendaraan-kendaraan di depannya. Hingga Kanaya takut untuk melepaskan pelukannya.
"Dasar si mulut pedas sialan! Tukang modus! Orang ini benar-benar sengaja mencari kesempatan dariku,"gerutu Kanaya dalam hati merasa sangat kesal pada Andi. Mau tak mau Kanaya memeluk Andi karena Andi terus melajukan motornya dengan kencang.
Andi merasa menang karena telah membuat Kanaya memeluk dirinya sepanjang jalan. Senyuman terus terukir di bibir pemuda yang selama ini menjomblo dan bangga akan ke jombloannya itu. Pemuda yang menguasai berbagai teori dalam hidup, yang mungkin jika di ujikan akan mendapatkan nilai sembilan koma sembilan. Tapi bagaimana dengan nilai praktek pemuda yang selalu percaya diri dan ceplas-ceplos ini? Kita lihat saja nanti.
__ADS_1
Kanaya mengernyitkan keningnya menatap jalanan yang mereka lalui dengan tangan yang masih memeluk pinggang Andi. Karena Andi masih saja melaju dengan kencang.
"Dia mau membawa aku ke mana?"gumam Kanaya dalam hati.
Beberapa menit kemudian, Andi menghentikan motornya dan Kanaya menatap ke arah sekelilingnya. Senyuman lebar terukir di bibir gadis yang baru saja mau pdkt dengan Randy dan di gagalkan oleh Andi itu. Pemandangan pantai yang begitu indah dan memanjakan mata terbentang di hadapannya.
"Indahnya..."gumam Kanaya begitu kagum melihat keindahan alam itu.
Pantai Lagoon Ancol. Di sinilah Andi membawa Kanaya. Pantai yang terlihat romantis dengan sejuknya angin laut. Hiasan lampu-lampu di sepanjang jembatan menuju pantai menambah suasana romantis makin terasa.
"Turunlah! Apa kamu begitu senang memeluk aku, hingga kamu tidak mau melepaskannya?"ujar Andi membuat Kanaya yang tadinya merasa senang lagi-lagi menjadi kesal.
"Ih.. Siapa juga yang mau, apalagi senang memeluk situ. Situ nya aja yang sengaja ngebut biar aku peluk,"gerutu Kanaya pelan dengan wajah yang bersungut-sungut. Gadis itu melepaskan pelukannya pada Andi dan turun dari boncengan motor Andi dengan wajah cemberut.
"Bilang saja kamu suka, tidak usah gengsi!"ucap Andi menarik salah satu sudut bibirnya. Andi masih bisa mendengar gerutuan Kanaya walaupun pelan.
"Siapa juga yang suka?"kilah Kanaya.
Dan bukan Andi namanya kalau tidak membuat Kanaya baper sekaligus kesal. Pemuda itu melepaskan helm Kanaya dan merapikan rambut gadis itu. Romantis bukan?
Dan tentu saja hal itu membuat Kanaya tertegun menatap wajah tampan Andi yang terlihat tegas dan berkarisma.
"Kenapa kamu menatap aku seperti itu? Kamu terpesona melihat ku, ya? Aku tampan, 'kan? Banyak wanita yang naksir sama aku,"ujar Andi seraya menyisir rambutnya ke belakang menggunakan jemari tangannya dengan gaya yang bisa di bilang narsis.
"Kenapa? Kamu mabuk karena naik motor?"tanya Andi yang melihat Kanaya berekspresi seperti orang mual. Padahal Andi tahu kalau Kanaya sedang menggerutu karena sikapnya. Walaupun tidak jelas apa gerutuan Kanaya. Namun pemuda itu pura-pura tidak tahu. Andi malah gemas melihat wajah Kanaya yang cemberut karena ulahnya.
"Saya tidak se-katro itu, hingga mabuk karena naik motor,"sahut Kanaya memutar bola matanya malas.
"Syukurlah kalau kamu nggak katro, alias cenderung ketinggalan zaman, norak dan kampungan,"sahut Andi enteng.
"Saya juga tahu apa itu katro. Nggak perlu Tuan jabarkan,"sambar Kanaya kesal.
"Jangan galak-galak! Nanti kalau aku gemas, bisa-bisa bibir mu itu aku cium,"ujar Andi tersenyum manis seraya mencolek dagu Kanaya.
"Astagaa.. Dia tampan sekali jika tersenyum,"gumam Kanaya dalam hati.
Kanaya yang sempat di colek dagunya dan hendak marah itu jadi tertegun menatap Andi yang tersenyum manis. Senyuman yang baru kali ini di lihat Kanaya. Karena biasanya pria itu bersikap dingin dan datar.
"Kenapa diam? Kamu terpesona melihat betapa tampan dan mempesonanya aku?"tanya Andi dengan narsis nya membuat Kanaya lagi-lagi di buat senang lalu di buat kesal.
"Anda terlalu percaya diri,"sahut Kanaya dengan wajah malas,"Apa orang ini dulu lahir di roller coaster? Kenapa dia suka sekali menarik turunkan perasaan orang lain?"gerutu Kanaya dalam hati.
Andi terkekeh kecil mendengar jawaban Kanaya. Pemuda itu menarik Kanaya berjalan meniti jembatan kayu yang sisi kanan dan kirinya di hiasi lampu. Andi berhenti melangkah dan berdiri di pinggir jembatan menatap laut yang terlihat biru. Untuk beberapa menit, mereka terdiam menikmati indahnya pantai.
Andi melirik ke arah Kanaya dan melihat gadis itu nampak kedinginan, karena Kanaya kedinginan karena hanya menggunakan baju seragam office girl. Gadis itu memeluk tubuhnya sendiri untuk menghangatkan tubuhnya dari terpaan angin laut.
__ADS_1
Andi pun membuka jas nya,"Pakai ini! Kamu pasti kedinginan,"ujar Andi seraya memakaikan jas miliknya pada Kanaya.
"Terimakasih!"ucap Kanaya tulus.
Andi sekarang hanya memakai celana panjang berwarna hitam dan kemeja berwarna putih saja. Pemuda itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
"Di pantai ini, kita bisa melihat kegigihan laut, meski berkali-kali harus menjauh terbawa arus, laut menolak berhenti mencumbui bibir pantai. Di tepi laut ini pula, kita bisa belajar dari batu karang. Batu karang tetap kukuh dan tegar, meski selalu dihantam kerasnya deburan ombak yang menerjang,"ujar Andi menatap jauh ke arah laut.
Kanaya hanya terdiam ikut menatap indahnya lautan. Kanaya melirik ke arah Andi.
"Orang ini tampan. Punggung nya lebar dan dadanya juga bidang. Huhh... Kenapa aku malah memperhatikan dan mengagumi si roller coaster ini?"gumam Kanaya dalam hati.
"Sudah larut malam. Aku akan mengantar kamu pulang,"ujar Andi kembali menarik tangan Kanaya menuju tempatnya memarkirkan motornya.
"Pegangan! Kalau sampai jatuh, kamu akan aku tinggalkan,"ujar Andi saat dirinya dan Kanaya sudah duduk di atas motor dan sudah memakai helm.
Kanaya membuang napas kasar. Mau tak mau Kanaya memegang pinggang Andi yang mulai melajukan motornya.
"Brumm"
"Akhh"
Lagi dan lagi Andi menarik gas motornya mengejutkan Kanaya, hingga kali ini Kanaya memeluk perut Andi. Andi pun mengulum senyum karena modus nya agar mendapatkan pelukan berhasil. Bahkan Andi bisa merasakan dua benda lembut menempel di punggungnya.
"Dasar tukang modus!"umpat Kanaya dalam hati merasa kesal.
Namun sesaat kemudian Kanaya mengernyitkan keningnya. Saat ini Andi hanya memakai kemeja saja karena jas nya di pakai Kanaya. Dan Kanaya bisa merasakan perut Andi yang keras dan berotot.
"Astagaa.. Perutnya seperti roti sobek,"gumam Kanaya dalam hati.
Beberapa menit kemudian, Kanaya melepaskan pelukannya saat Andi sudah memasuki area perkampungan. Namun Kanaya mengernyitkan kening saat mengamati jalanan yang mereka lalui.
"Bukankah ini jalan menuju kontrakkan ku? Apa dia tahu di mana tempat tinggal ku? Dari mana dia tahu?"gumam Kanaya dalam hati.
"Sudah sampai,"ujar Andi yang menghentikan motornya tepat di tempat kontrakan Kanaya.
"Terimakasih?"ucap Kanaya setelah turun dari motor, melepaskan helm nya dan memberikan pada Andi.
"Jangan mau di antar jemput oleh seorang pria sembarangan!"ujar Andi kemudian melajukan motornya tanpa menunggu jawaban dari Kanaya.
"Apa maksudnya?"gumam Kanaya menatap Andi yang semakin menjauh.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1