Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
249. Siapa Lagi Pria Itu?


__ADS_3

...🌸Aku pernah singgung soal perubahan penampilan Rayyan di bab 236. dan di bab 238. 🌸...


Ada rasa rindu, senang, bahagia, jengkel, kesal, penasaran, kecewa dan entah apa lagi yang ada di hati Rayyan saat ini setelah melihat Aurora dan mengetahui jika bayi yang ditolongnya adalah putranya sendiri.


Walaupun Rayyan sempat terkejut saat mengetahui bahwa anaknya adalah laki-laki. Tapi itu tidak bertahan lama, karena Rayyan pernah membaca tentang seputar kehamilan dan juga USG kehamilan. Terkadang saat pemeriksaan sulit dideteksi, karena janin menutupi bagian kelaminn. Sehingga tidak terlihat jelas, dan bisa terjadi kekeliruan pada hasil USG (ultrasonografi ).


"Apa anda benar-benar ibunya?"tanya Rayyan tersenyum sinis.


"Tentu saja saya ibunya. Anda meragukan saya?"tanya Aurora menatap pria yang panjang rambutnya hampir sebahu itu. Dan hampir seluruh wajahnya di tumbuhi bulu.


"Sepertinya, nyonya tidak mengenali Tuan dengan penampilan Tuan yang sekarang,"


"Iya. Wajar saja, penampilan Tuan sekarang jauh berbeda dengan yang dulu,"


"Dan sepertinya Tuan sedang mengerjai nyonya,"


Bisik-bisik kedua anak buah Andi yang melihat interaksi kedua majikan mereka yang terlihat seperti orang asing itu.


Ya. Semenjak Aurora menghilang, Rayyan memang tidak pernah lagi memotong rambutnya dan tidak mencukur brewok, kumis, serta jenggotnya. Rayyan hanya merapikannya saja. Sehingga Aurora sama sekali tidak mengenali Rayyan. Apalagi saat ini Rayyan sedang flu dan suaranya menjadi sengau ( bindeng).


"Lihat ini, saya punya foto-foto kebersamaan kami dari dia lahir,"ujar Aurora sewot, seraya menunjukkan foto-fotonya bersama Zayn. Aurora merasa kesal karena pria di depannya itu meragukan jika dirinya adalah ibu dari Zayn.


"Tapi, dia tidak mau bersama anda,"ujar Rayyan yang malah merasa kesal setelah melihat foto-foto kebersamaan Aurora yang sangat bahagia bersama putra mereka. Sedangkan dirinya tidak bisa merasakan momen-momen seperti itu karena istrinya yang keras kepala dan egois itu tiba-tiba menghilang tanpa jejak.


Namun, entah mengapa walaupun sudah tahu Aurora keras kepala dan lumayan egois, tapi Rayyan masih tetap mencintainya. Mungkin memang benar, bahwa cinta itu buta.


Aurora semakin merasa kesal mendengar kata-kata Rayyan. Dengan paksa Aurora mengambil Zayn dari Rayyan. Tapi di luar dugaan, Zayn malah menangis dan tidak mau melepaskan cengkraman tangannya pada kemeja Rayyan.


"Sudah! Cukup! Jangan memaksanya ikut bersama anda lagi! Apa Anda sebagai seorang ibu tidak merasa kasihan melihat dia menangis?"ujar Rayyan seraya menepis tangan Aurora, lalu mendekap putranya. Rayyan menenangkan putranya dan tidak lama kemudian Zayn pun berhenti menangis.


Aurora menatap ke sekitarnya, dan baru menyadari jika mereka bertiga menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar tempat itu.

__ADS_1


"Apa yang dilakukannya pada Zayn, hingga Zayn menempel padanya?"gerutu Aurora dalam hati.


"Sayang, ayo pulang sama mama!"bujuk Aurora pada putranya. Kembali berusaha mengambil Zayn dari Rayyan.


"Apa anda ingin membuatnya menangis lagi?"Rayyan kembali menepis tangan Aurora.


"Lalu, apa saya harus membiarkan putra saya bersama dengan anda?"balas Aurora sewot, namun memelankan suaranya agar tidak semakin menjadi pusat perhatian orang-orang di sekeliling mereka.


"Saya sudah menolong putra anda dari penculikan. Bagaimana jika malam ini anda menjamu saya makan malam di rumah anda sebagai ucapan terimakasih karena saya telah menolong putra anda?"


Rayyan belum ingin membongkarnya jati dirinya. Pria itu ingin tahu di mana selama ini istrinya tinggal. Bersama siapa dan kenapa tiba-tiba menghilang begitu saja?


Aurora memicingkan sebelah matanya mendengar permintaan pria di depannya itu. Aurora merasa pria di depannya itu sedang melancarkan modus untuk mendekati dirinya. Dan mencari tahu dimana rumahnya.


Namun, bukankah dirinya menjadi orang yang tidak tahu berterima kasih jika menolak keinginan pria brewok di depannya itu? Apalagi, permintaan pria yang telah menyelamatkan putranya itu tidak berat. Hanya menjamu makan malam untuk berterimakasih.


"Baiklah. Kalau begitu, nanti malam kita bertemu di restoran. Saya akan mentraktir anda makan malam di restoran terkenal di kota ini sebagai ucapan terimakasih saya pada anda,"ucap Aurora yang tidak ingin bertambah banyak pria yang mendatangi rumahnya.


"Anda yakin tidak ingin membawa saya ke rumah anda? Lalu, bagaimana dengan putra anda yang menempel pada saya ini?"tanya Rayyan menunjuk pada putranya yang masih mencengkram erat kemejanya, memeluknya dengan tangan kecilnya.


"Kenapa Zayn seperti itu? Dia tidak pernah menempel pada siapapun seperti itu. Bima yang sering datang membawakan mainan saja selalu di acuhkannya. Tidak pernah mau di gendong Bima. Bahkan dengan bapak yang setiap hari menggendongnya saja tidak menempel seperti itu,"gumam Aurora dalam hati. Merasa heran dengan putranya yang menempel pada pria yang di anggapnya orang asing itu.


"Bagaimana? Anda tetap tidak ingin mengundang saya ke rumah anda?"tanya Rayyan yang melihat Aurora terdiam.


"Baiklah,"sahut Aurora pasrah, tidak memiliki pilihan lain.


Aurora melangkah lebih dulu keluar dari kantor polisi itu. Sedangkan Rayyan memberi isyarat kepada kedua anak buah Andi untuk mendekat.


"Kamu selidiki kasus penculikan putraku ini. Aku akan memberikan pelajaran yang tidak terlupakan pada orang itu,"ujar Rayyan kemudian beralih menatap anak buah Andi satunya,"Kamu ikuti kami dari jauh,"pinta Rayyan.


"Baik, Tuan,"sahut kedua anak buah Andi itu.

__ADS_1


Akhirnya satu orang anak buah Andi tetap tinggal di kantor polisi untuk mengusut kasus penculikan itu. Dan satunya lagi mengikuti Rayyan yang satu mobil dengan Aurora menggunakan mobil yang mereka pakai tadi.


Taksi online yang ditumpangi Rayyan dan Aurora akhirnya sampai juga di rumah Aurora. Rayyan yang menggendong Zayn yang tertidur di dekapannya, menatap rumah minimalis didepannya itu dan mengikuti Aurora masuk ke rumah melewati halaman yang terlihat asri. Sedangkan anak buah Andi memantau dari luar rumah Aurora.


"Tinggal bersama siapa anda di rumah ini?",tanya Rayyan menyelidik.


"Kedua orang tua saya,"


"Suami anda?"tanya Rayyan seraya melirik kearah Aurora.


"Sedang berada di luar kota. Jadi, sebaiknya anda segera pergi setelah makan malam selesai. Saya tidak ingin suami saya berpikir macam-macam tentang saya. Suami saya tipikal suami pencemburu,"


Rayyan memicingkan matanya mendengar jawaban dari Aurora,"Dia tidak menikah lagi dengan pria lain, 'kan?"gumam Rayyan dalam hati.


"Sayang sekali, wanita secantik anda tinggal di rumah minimalis seperti ini. Seharusnya anda mencari suami yang kaya yang bisa memberikan anda tempat tinggal yang layak. Jika anda mau meninggalkan suami anda yang miskin itu, saya tidak keberatan untuk menikahi anda,"ujar Rayyan membuat Aurora geram.


"Siapa bilang suami saya miskin? Suami saya tampan dan kaya raya. Saya tidak akan pernah bercerai dari suami saya. Dan saya tidak punya niat menikah lebih dari sekali dalam hidup saya,"sahut Aurora sewot.


Tapi jawaban Aurora itu malah membuat Rayyan merasa senang. Rayyan jadi merasa yakin, jika istrinya masih setia padanya.


"Ohh.. Begitu, ya?"sahut Rayyan. Rayyan menjadi gemas melihat respon Aurora itu.


"Dimana saya harus membaringkan bayi ini?"tanya Rayyan setelah mereka berada di dalam rumah.


Rumah itu terlihat sepi. Karena Pak Hamdan sedang berada di kamar dengan Bu Ella. Mastuti dan pelayan yang lain sedang berada di dalam dapur. Hanya seorang pelayan yang melihat kedatangan Aurora dan Rayyan.


Pelayan itu bergegas masuk ke dalam dapur dan memberitahu Mastuti bahwa Aurora sudah pulang bersama putranya dan seorang pria brewok. Mastuti pun merasa senang dan bergegas membuat minuman. Namun saat membuat minuman, Mastuti kembali memikirkan apa yang dikatakan pelayan muda tadi.


"Nyonya pulang bersama seorang pria brewok? Siapa lagi pria itu? Berapa banyak lagi pria yang akan mengejar-ngejar nyonya?"gumam Mastuti dalam hati. Merasa sangat penasaran dengan pria yang kata pelayan tadi pulang bersama Aurora.


...🌸❤️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2