
Rayyan menutup laptopnya dan bangkit dari duduknya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Tu.. Tuan, jika Tuan tidak pulang dan menyelesaikan masalah, Tuan, maka.. maka masalah Tuan tidak akan pernah selesai. Sam.. sampai kapan Tuan akan membiarkan masalah Tuan berlarut-larut?"ujar Andi yang menjadi gagap karena takut melihat ekspresi wajah majikannya.
"Kita pulang sekarang!"ucap Rayyan melangkah meninggalkan ruangannya.
"Yes! Yes! Yes! Akhirnya aku akan tidur di ranjang juga,"gumam Andi yang tadinya ketakutan langsung berubah merasa senang.
Rayyan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil yang di kendarai oleh Andi. Pria itu nampak memejamkan matanya seraya memijit pelipisnya sendiri.
"𝘽𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙚𝙡𝙚𝙨𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙞𝙣𝙞? 𝘼𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙖𝙠𝙪 𝙠𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙣𝙖𝙣𝙩𝙞?"gumam Rayyan yang memang tidak pernah membujuk perempuan.
Selama berpacaran dengan Dila, Rayyan hanya perlu mentransfer uang untuk membujuk Dila agar tidak marah atau merajuk lagi. Setelah di transfer uang, masalah pasti langsung selesai. Tapi dengan Aurora, bahkan sampai saat ini black card yang diberikan oleh Rayyan belum pernah dipakai sama sekali oleh Aurora.
Andi melirik majikannya dari kaca spion dalam mobil, kemudian menghela napas panjang.
"Tuan harus minta maaf pada nyonya! Katakan kalau Tuan berjanji akan memperbaiki kesalahan Tuan. Tapi jangan cuma berjanji doang! Jika Tuan tidak benar-benar memperbaiki kesalahan Tuan, maka nyonya akan semakin marah dan benci pada Tuan,"ujar Andi yang tahu bagaimana kakunya Tuan nya itu. Majikannya itu memang pintar jika bicara soal bisnis. Tapi tidak punya pengalaman jika harus bicara dengan wanita, apalagi membujuk wanita.
Rayyan hanya diam, tapi pria itu menyimak apa yang dikatakan oleh Andi. Beberapa menit kemudian, Rayyan dan Andi sudah sampai di rumah. Rayyan menghela napas berkali-kali, melirik arloji di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Rayyan kemudian keluar dari dalam mobil. Pria itu melangkahkan kakinya memasuki rumahnya dan kembali menghela napas berkali-kali saat tangannya memegang handle pintu kamarnya.
"Ceklek"
Rayyan membuka pintu kamarnya yang dikunci Aurora dari dalam itu dengan kunci yang dibawanya. Rayyan kembali menutup dan mengunci pintu kamarnya, menatap wajah Aurora yang sudah terlelap. Wajah yang hampir empat malam ini dirindukannya. Rayyan melepaskan kemejanya dan berjalan menuju kamar mandi.
"Bagaimana aku bicara padanya, jika dia sudah tidur?"gumam Rayyan yang berdiri di depan cermin yang ada di dalam kamar mandi. Pria itu membuang napas kasar dan mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
Rayyan melepaskan celana panjangnya hingga saat ini hanya memakai celana boxer saja. Perlahan pria itu naik ke atas ranjang tanpa berani melirik, apalagi menatap Aurora. Takut tergoda jika melihat tubuh Aurora. Apalagi sudah beberapa malam Rayyan tidak menyentuh Aurora. Rayyan mengambil guling yang ada di samping Aurora, kemudian melemparkannya asal. Pria itu ikut masuk ke dalam selimut yang dipakai Aurora. Perlahan Rayyan beringsut mendekatkan tubuhnya ke tubuh Aurora, menggantikan posisi guling tadi, agar bisa mencium aroma tubuh istrinya itu. Entah mengapa, Rayyan merasa tenang jika mencium aroma tubuh Aurora.
Setelah mencium aroma tubuh Aurora yang ada di dekatnya, akhirnya Rayyan akhirnya terlelap. Sudah hampir empat malam ini insomnia nya kambuh. Aurora yang tadinya tidur terlentang, tiba-tiba membalikkan tubuhnya. Tanpa sadar, wanita itu memeluk tubuh Rayyan yang posisinya berada di tempat gulingnya tadi berada. Aurora terbangun saat merasa ada yang aneh dengan gulingnya.
"Ak.. emp! Aurora menutup mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara. Aurora sangat terkejut saat menyadari yang dipeluknya bukan. guling, tapi suaminya.
,"Se.. sejak kapan dia pulang?"gumam Aurora melihat Rayyan yang bertelanjang dada sudah terlelap di sampingnya.
Aurora beringsut duduk, menatap wajah Rayyan dengan tatapan memuja. Wajah tampan dengan rahang tegas, bulu mata panjang dan lentik, hidung mancung dan bibir bervolume.
"Tampan sekali!"gumam Aurora tanpa sadar,"Haiss.. dasar mulut lancang!"umpat Aurora memukul mulutnya sendiri,"Walaupun dia tampan, tetap saja dia itu kasar dan kaku. Tapi tubuhnya sangat seksi,"gumam Aurora menatap dada bidang dan perut berotot Rayyan.
"Huff.. sebaiknya aku tidak membangunkan macan tidur, jika aku tidak ingin diterkamnya,"gumam Aurora menahan diri untuk tidak menyentuh Rayyan. Kemudian membaringkan tubuhnya di samping Rayyan dan melanjutkan tidurnya.
"Argh,! Sial!"gumam Rayyan yang menyadari, jika tubuh bagian bawahnya mulai bereaksi.
"Ra!!"panggil Rayyan dengan suara berat.
"Hum,"gumam Aurora yang sepertinya belum sepenuhnya sadar.
"Aku.. aku menginginkanmu,"ujar Rayyan dengan suara yang semakin berat. Mengeratkan pelukannya, menggigit bibirnya sendiri, menahan hasratnya yanh tiba-tiba muncul dan semakin lama semakin naik.
Aurora yang tubuhnya di peluk begitu erat pun akhirnya benar-benar terbangun. Karena semakin lama Rayyan memeluknya semakin erat, hingga Aurora merasa napasnya terasa sesak.
"Ray.. Ka.. kamu membuat aku kesulitan bernapas,"ucap Aurora terbata-bata. Aurora merasa tubuh Rayyan semakin panas, bahkan Aurora merasa ada sesuatu di bawah sana yang terasa mengganjal.
__ADS_1
Rayyan merenggangkan pelukannya, kemudian memegang pipi Aurora dan mengangkat wajah Aurora hingga Aurora menatap wajahnya. Aurora melihat kabut hasraat di mata Rayyan, pria itu sepertinya sangat menginginkan dirinya.
"Aku tidak bisa menahannya lagi,"ucap Rayyan langsung meraup bibir Aurora. Rayyan berusaha mengendalikan dirinya agar tidak kasar pada Aurora. Walaupun tubuhnya sudah sangat menginginkan tubuh Aurora.
Aurora hanya bisa pasrah ketika Rayyan memulai aktivitas panas di atas ranjang pagi itu. Selama beberapa hari Rayyan tidak pulang, Aurora merenungi semuanya. Sumi benar, bahwa apa yang di dapatkannya saat ini adalah karena doanya yang di kabulkan Tuhan. Maka Aurora akan berusaha menjalaninya dengan ikhlas. Mungkin benar kata Andi, dirinya harus mengahadapi Rayyan yang keras dengan kelembutan.
"Maaf! Aku benar-benar tidak bisa menahannya. Aku tidak tahu kenapa, tapi setiap aku melihat mu, aku selalu menginginkan kamu. Aku bersumpah, aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini selain padamu. Aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan berusaha untuk tidak berbuat kasar lagi padamu,"ucap Rayyan yang masih berada di atas tubuh Aurora setelah mendapatkan pelepasan beberapa saat yang lalu. Menahan berat badannya dengan kedua sikunya agar tubuhnya tidak menimpa tubuh Aurora.
Pria itu memegang kedua pipi Aurora, menatap lekat mata Aurora dengan tatapan yang terasa begitu hangat dan penuh ketulusan. Tiba-tiba kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Padahal semalam Rayyan bingung, bagaimana caranya meminta maaf pada Aurora.
Aurora tertegun mendengar apa yang baru saja dikatakan Rayyan. Menatap Rayyan yang masih berada di atas tubuhnya tanpa berkedip. Tidak menyangka jika pria yang biasanya bersuara dan berwajah datar serta dingin itu bisa memiliki ekspresi hangat dan tulus seperti saat ini.
"Apa kamu mau memaafkan aku?"tanya Rayyan karena tidak mendapatkan respon apapun dari Aurora.
"Hum,"sahut Aurora mengalihkan pandangannya dari Rayyan. Tiba-tiba jantung nya berdegup kencang saat melihat wajah, mata dan ekspresi tulus yang ditunjukkan oleh Rayyan.
"Aku masih ingin,"ucap Rayyan dengan ekspresi wajah yang berangsur berubah menjadi penuh hasrat. Aurora hanya bisa menghela napas menghadapi Rayyan yang hiper dalam urusan ranjang itu.
...🌸❤️🌸...
Nb : Untuk sementara, aku cuma bisa up satu kali dalam sehari. Insyaallah tanggal satu nanti akan normal lagi, update dua kali sehari. Apalagi kalau pada nempelin jempolnya dan ngasih komentar.😄 🙏🙏🙏🙏🙏
.
To be continued
__ADS_1