Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
256. Emosi


__ADS_3

"Jangan bilang kalau kamu cemburu pada Bima,"tebak Aurora seraya memicingkan sebelah matanya.


"Kamu tidak tahu, apa pura-pura tidak tahu? Dari tatapan matanya, jelas-jelas orang yang bernama Bima itu menyukai kamu, Ra!"


"Kita bicarakan ini di dalam kamar,"ujar Aurora menghela napas panjang kemudian beranjak menuju kamarnya.


Rayyan menghela napas panjang mendengar kata-kata Aurora. Jujur, Rayyan memang merasa cemburu pada Bima. Karena menurut Rayyan, Bima terlalu perhatian pada Aurora, dan tatapan matanya menunjukkan pria itu ada rasa pada Aurora. Rayyan nampak memijit batang hidungnya sendiri.


"Tuan, apa anda ingin saya buatkan sesuatu? Sepertinya Tuan sedang pusing. Atau mungkin, Tuan ingin saya pijit?"tanya pelayan yang paling muda di rumah itu tersenyum manis malu-malu seraya menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya.


Rayyan menatap pelayan itu dengan tatapan dingin dan tajam. Pria itu kemudian beranjak menyusul Aurora ke kamar. Dan hal itu sukses membuat pelayan itu ketakutan.


"Kenapa Tuan menatap aku seperti itu? Tuan tidak marah padaku, 'kan? Tidak. Tuan tidak mungkin marah padaku. Tuan hanya sedang marah pada nyonya,"gumam pelayan itu ketakutan. Pelayan itu sejak tadi memang menguping pembicaraan majikannya.


Aurora duduk di tepi ranjang, menunggu Rayyan. Tak lama kemudian, Rayyan pun masuk ke dalam kamar itu.


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu,"ucap Aurora yang ingin menjelaskan pada Rayyan tentang siapa sebenarnya Bima.


Aurora merasa percuma menyembunyikan tentang hubungannya dengan Bima di masa lalu. Karena Aurora yakin, cepat atau lambat Rayyan pasti akan tahu bahwa Bima adalah mantan pacar Aurora. Dan Aurora takut akan terjadi salah paham di kemudian hari jika dirinya terus menyembunyikan hal itu dari Rayyan. Karena itu, Aurora berniat menceritakan semuanya pada Rayyan.


"Katakan padaku!"pinta Rayyan seraya berjalan menghampiri Aurora.


"Tok! Tok! Tok!"


Suara ketukan pintu itu membuat atensi sepasang suami-isteri itu berpindah ke arah pintu.


"Biar aku saja,"ucap Rayyan yang mengurungkan niatnya untuk menghampiri Aurora, kemudian berbalik untuk melihat siapa yang mengetuk pintu.


"Ada apa?"tanya Rayyan setelah membuka pintu. Suara pria itu terdengar datar dan tatapan matanya menunjukkan rasa tidak suka pada pelayan yang sekarang berdiri di hadapannya itu. Pelayan yang selalu mencuri pandang padanya itu.


"Ada.. Ada seorang wanita paruh baya yang mencari nyonya,"


"Bugh"

__ADS_1


Rayyan menutup pintu kamarnya tanpa mengatakan apapun pada pelayan itu. Membuat pelayan itu tertegun di depan pintu kamar majikannya itu.


"Kenapa.. Kenapa Tuan bersikap seperti itu padaku?"gumam pelayan itu terlihat bingung.


"Aku akan menemui orang itu,"ujar Aurora yang mendengar apa yang di katakan pelayan di rumahnya tadi.


"Hum,"sahut Rayyan kemudian duduk di tepi ranjang seraya mengambil handphonenya dari atas nakas, bermaksud untuk menghubungi Andi.


"Siapa lagi yang datang ke sini malam-malam begini?"gumam Aurora dalam hati.


Setelah sampai di ruangan tamu, Aurora nampak terkejut melihat siapa orang yang berkunjung ke rumahnya.


"Dasar perempuan jalangg! Sudah aku bilang, jangan menganggu putraku lagi! Kenapa kamu masih juga menggoda putraku?"sergah wanita paruh itu saat melihat Aurora baya yang tidak lain adalah ibu Bima, saat melihat Aurora. Suara perempuan itu begitu keras hingga mengundang atensi penghuni rumah itu.


Saat handphone Bima tertinggal di rumahnya tadi, ibu Bima mendengar handphone Bima terus menerus berdering. Karena penasaran, ibu Bima pun melihat siapa yang sudah menghubungi putranya berulang kali. Dan wanita paruh baya itu merasa sangat geram setelah mengetahui jika yang sedang menghubungi putranya berulang kali adalah Aurora.


Karena itu, saat Bima buru-buru pamit pulang tadi, ibu Bima pun mengikuti Bima dari jauh. Setelah melihat Bima pergi agak jauh dari rumah Aurora, ibu Bima pun langsung keluar dari persembunyiannya untuk melabrak Aurora.


"Ibu jangan sembarangan menuduh saya. Saya tidak pernah menggoda putra i... "


"Kamu pikir aku akan menerima kamu menjadi menantu ku? Jangan bermimpi! Sejak Bima memperkenalkan kamu sebagai pacarnya dulu, aku sudah menolak kamu. Kenapa kamu masih terus mengejar-ngejar putraku sampai ke pulau ini? Suamimu saja mencampakkan kamu, berarti kamu itu perempuan nggak benar, nggak punya akhlak. Perempuan rendahan, bodoh, tidak berpendidikan! Jalangg yang hanya bisa mengandalkan kecantikan untuk menggoda dan memanfaatkan laki-laki. Perempuan murahan!"sergah ibu Bima memotong kata-kata Aurora.


"Atas dasar apa anda menuduh istri saya seperti itu?"tanya Rayyan yang tiba-tiba muncul, dengan suara dan tatapan dingin pada ibu Bima.


Rayyan mendengar suara ibu Bima yang keras walaupun tanpa menggunakan Toa. Sehingga Rayyan pun bergegas mengakhiri pembicaraannya dengan Andi melalui sambungan telepon dan bergegas ke ruang tamu.


Pak Hamdan dan para pelayan juga nampak berdatangan ke ruangan itu karena mendengar suara ibu Bima yang begitu keras.


"Ohh.. Kamu suaminya? Didik Istri kamu itu dengan benar. Jangan membiarkan dia menganggu suami orang. Suami macam apa kamu, yang membiarkan istrinya menggoda pria lain? Dimana harga diri kamu sebagai laki-laki? Apa kamu tidak sadar, jika harga dirimu telah diinjak-injak perempuan, rendahan, murahan, tidak punya akhlak dan jalangg..."


"Plak"


"Akhh!"

__ADS_1


Rayyan yang tidak dapat menahan emosinya karena mendengar perkataan ibu Bima pun menampar ibu Bima dengan keras. Bahkan bibir wanita paruh baya itu terlihat berdarah.


Pak Hamdan juga merasa emosi mendengar perkataan ibu Bima itu. Pria paruh baya itu terlihat mengepalkan kedua tangannya. Begitu pula dengan Mastuti yang juga terlihat emosi.


"Ingin rasanya aku merobek mulut nenek lampir ini. Aku tidak menyangka, ada orang yang bermulut racun seperti itu. Kata-katanya benar-benar membuat aku naik darah,"gumam Mastuti dalam hati dengan tangan yang terkepal dan wajah penuh amarah.


Sedangkan Ella yang ada di dalam kamar pun nampak marah mendengar semua kata-kata pedas ibu Bima.


"Seharusnya Aurora tidak berhubungan lagi dengan Bima. Aku benar-benar tidak tahan dan tidak suka dengan ibu Bima yang mulutnya seperti cabai setan itu,"gumam Bu Ella dalam hati.


"Kau! Berani sekali kamu menampar ku. Apa kamu tahu, semua keluarga ku adalah tentara dan polisi. Aku akan melaporkan kamu atas tindakan penganiayaan,"ancam ibu Bima yang merasa sakit hati karena ditampar oleh Rayyan.


"Silahkan! Laporkan saja! Saya ingin melihat bagaimana anda bisa menggunakan kekuasaan keluarga anda untuk menuntut saya. Dan saya juga akan melaporkan anda karena telah menghina dan memfitnah istri saya. Anda datang malam-malam ke rumah kami untuk membuat keributan, menghina dan memfitnah istri saya. Apa anda pikir wanita yang berpendidikan akan berbuat seperti apa yang anda lakukan? Mulut anda melebihi orang yang tidak berpendidikan,"ujar Rayyan dengan tatapan tajam dan aura dingin.


"Kau.."


"Seret perempuan tidak waras ini keluar!"teriak Rayyan memotong kata-kata ibu Bima.


"Baik!"sahut kedua orang anak buah Andi yang selalu siap sedia.


"Beraninya kamu! Aku pasti akan membalas kamu! Besok kamu pasti mendekam di penjara. Kamu akan menyesal karena berurusan dengan aku!"teriak ibu Bima yang di seret keluar oleh dua orang anak buah Andi keluar dari rumah itu.


Pak Hamdan hanya bisa membuang napas kasar melihat dan mendengar apa yang terjadi. Aurora pun hanya bisa tertunduk diam


Tanpa berkata apapun lagi, Rayyan meninggalkan tempat itu menuju kamar Aurora. Wajah pria itu nampak suram.


"Sebaiknya kamu susul suami kamu dan jelaskan semuanya pada suamimu. Bicarakan dan selesaikan semuanya secara baik-baik,"ujar Pak Hamdan menasehati putrinya.


"Iya, Pak,"sahut Aurora,. kemudian menyusul suaminya ke kamar.


...🌸❤️🌸...


Notebook :

__ADS_1


Megafon (kadang disebut sebagai Toa karena berasal dari merek bernama TOA) adalah pengeras suara genggam yang menggunakan pengarah suara berbentuk corong untuk meningkatkan efisiensi elemen-elemen pengirim suara, khususnya elemen diafragma yang digerakkan oleh sebuah electromagnet.


To be continued


__ADS_2