
"Brak"
"Ra!"
Rayyan melihat Aurora yang memejamkan mata, seraya bersandar di pinggir bathtub. Wajah wanita itu terlihat pucat. Dengan langkah lebar Rayyan menghampiri Aurora.
"Ra!"panggil Rayyan mengusap pipi Aurora.
"Astaga..! Badannya panas sekali!"gumam. Rayyan bergegas mengangkat tubuh Aurora dari dalam bathtub. Rayyan membaringkan tubuh polos Aurora di atas ranjang, kemudian menyelimutinya.
"Ra!"panggil Rayyan merapikan anak rambut Aurora yang menutupi wajah Aurora.
Rayyan melepaskan celana panjang nya hingga hanya tersisa celana boxer saja yang melekat di tubuhnya. Rayyan masuk ke dalam selimut, kemudian merengkuh tubuh Aurora dalam dekapannya.
"Apa yang terjadi padamu?"gumam Rayyan yang merasa khawatir pada Aurora.
Rayyan teringat saat dirinya merenggut kesucian Aurora. Saat Rayyan meninggalkan Aurora ke kantor, Aurora pingsan di kamar mandi di bawah shower yang mengucur. Dalam keadaan pingsan dan tubuh demam seperti saat ini.
"Apa kamu tidak bisa belajar untuk mencintai aku, Ra? Apa hidup bersama ku begitu membuat mu merasa tersiksa? Aku bahagia bisa hidup bersama mu, memilikimu. Tapi jika hanya aku yang merasa bahagia dalam hubungan ini, sedangkan kamu merasa tersiksa, untuk apa kita melanjutkan hubungan ini?"gumam Rayyan yang tanpa terasa menitikkan air matanya.
Rayyan sudah berusaha menuruti semua keinginan Aurora dan berusaha membuatnya bahagia. Tapi sepertinya Aurora tetap tidak bisa menerima dirinya. Karena itu, sebelum cintanya pada Aurora semakin dalam, Rayyan memutuskan untuk melepaskan Aurora.
Pagi harinya, Rayyan terbangun dan merasa tubuh Aurora sudah tidak demam lagi. Rayyan membelai lembut rambut Aurora. Ada rasa tidak rela untuk melepaskan Aurora dari hubungan pernikahan itu. Namun untuk apa mempertahankan hubungan mereka, jika Aurora tidak bahagia dan tidak bisa menerima dirinya? Itulah yang ada dalam hati Rayyan.
"Rayy.. gumam Aurora tanpa membuka matanya, saat Rayyan melepaskan pelukannya dan ingin beranjak dari tempatnya berbaring. Aurora malah memeluk Rayyan.
"Kenapa? Apa ada yang sakit, hemm?"tanya Rayyan, namun Aurora tidak menyahut dan masih memeluk Rayyan.
Rayyan menghela napas panjang, mengusap lembut punggung Aurora. Namun beberapa menit kemudian, Aurora tiba-tiba melepaskan pelukannya dan beranjak bangun. Aurora sempat terkejut saat melihat tubuhnya polos tanpa sehelai benang yang melekat di tubuhnya. Namun dengan cepat Aurora memakai selimut untuk menutupi tubuhnya dan bergegas ke kamar mandi.
"Ra! Kamu kenapa?"tanya Rayyan yang sempat tertegun melihat tingkah Aurora. Rayyan pun bergegas menyusul Aurora ke kamar mandi.
__ADS_1
"Huek.. huek.. huek..."
Aurora merasa perutnya sangat mual, namun tidak ada yang bisa di muntahkan nya selain cairan kuning yang terasa pahit. Hal itu karena dari kemarin Aurora cuma makan sedikit. Rayyan Mencoba memijit tengkuk Aurora, kemudian mengusap lembut punggung Aurora.
"πππ£ππ₯π πππ π’πͺπ£π©ππ-π’πͺπ£π©ππ? πΌπ₯π πππ πππ’ππ‘?"gumam Rayyan dengan hati dag dig dug. Berharap Aurora mengandung darah daging nya.
Melihat Aurora yang nampak lemas setelah muntah, Rayyan pun menggendong Aurora keluar dari kamar mandi dan merebahkan tubuh Aurora ke atas ranjang.
"Aku akan memanggil dokter untuk memeriksa kamu,"ujar Rayyan seraya meraih handphonenya.
"Tidak perlu, Rayy... aku hanya masuk angin saja,"cegah Aurora.
Namun Rayyan tetap menghubungi seorang dokter untuk memeriksa Aurora. Setelah itu, Rayyan berjalan menuju walk-in closet.
Sejak Rayyan menelpon, Aurora menelan salivanya dengan kasar, karena menatap dada dan perut Rayyan yang terekspos sempurna. Hingga akhirnya Rayyan masuk ke dalam walk-in closet untuk mengambil pakaian Aurora, dan tidak lama kemudian, Rayyan sudah kembali.
"Aku bantu kamu memakai pakaian,"ujar Rayyan, kemudian memakaikan pakaian untuk Aurora.
"Sambil menunggu dokter nya datang, kamu berbaring saja dulu. Aku akan membersihkan diri,"ujar Rayyan seraya membantu Aurora berbaring. Kemudian pria itu bergegas untuk membersihkan diri.
Beberapa menit kemudian, Rayyan sudah selesai membersihkan diri. Pria itu keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk di pinggangnya. Aurora kembali menelan salivanya kasar melihat Rayyan dengan rambut setengah basah serta tubuh bagian atas yang terlihat berotot. Menampilkan otot-otot dada dan perut yang tercetak sempurna.
"Astaga.. kenapa tubuhnya terlihat sangat menggoda? Aku tadi di peluknya, kenapa aku tidak kepikiran untuk meraba tubuhnya, ya? Astagaaa... tubuhku lemas begini, tapi kenapa otakku malah menjadi mesum,"gerutu Aurora merutuki dirinya sendiri.
Rayyan sudah siap dengan pakaian kantor nya. Terlihat tampan dan maskulin. Saat Rayyan ingin menghampiri Aurora, terdengar suara ketukan di pintu kamar. Rayyan pun bergegas membuka pintu.
"Silahkan masuk! Tolong periksa istri saya!"ucap Rayyan pada dokter wanita paruh baya yang menggantikan Fina untuk sementara waktu.
Dokter itu itu menanyakan keluhan Aurora, kemudian memeriksa Aurora dengan seksama. Dan tak lama kemudian, dokter itu pun selesai memeriksa Aurora.
"Bagaimana, dok?"tanya Rayyan yang sudah tidak sabar ingin tahu hasil pemeriksaan.
__ADS_1
"Kemarin hanya makan sedikit dan kurang tidur, hingga menyebabkan tubuh lemas, asam lambung naik, dan juga demam karena kelelahan dan stress. Saya akan meresepkan obat, dan saya sarankan agar makan dan istirahat teratur dan jangan terlalu banyak pikiran,"ujar dokter itu sambil menuliskan resep.
"πΌπ₯π πππ πππππ©πͺ π©ππππ πππππππ ππππͺπ₯ πππ§π¨ππ’π π πͺ, πππ£πππ πππ π©ππ§π©ππ ππ£ πππ£ π’ππ£πππ‘ππ’π π¨π©π§ππ¨?"gumam Rayyan yang merasa semakin bersalah pada Aurora.
Awal mula hubungan mereka adalah karena Rayyan memaksa Aurora untuk menikah kontrak dengan dirinya dengan alasan balas budi. Pernikahan yang awalnya hanya kontrak selama satu tahun tanpa kontak fisik. Namun Rayyan khilaf dan merenggut kesucian Aurora. Bahkan membatalkan kontrak secara sepihak dan memaksa Aurora untuk tetap berada di sisinya. Rayyan melakukan itu karena mulai menyukai dan mencintai Aurora. Dan berharap dengan seiring berjalannya waktu, Aurora juga bisa menyukai dan mencintai dirinya. Namun nyatanya, sampai saat ini Rayyan merasa jika Aurora tidak bisa mencintai dirinya dan bahkan sekarang dokter mengatakan jika Aurora sakit karena stres. Kenyataan itu membuat Rayyan merasa sangat bersalah pada Aurora.
Rayyan tidak tahu jika Aurora stres karena mengira jika Rayyan berselingkuh. Belum lagi kata-kata Bu Ella yang mengatakan jika sampai Aurora bercerai dengan Rayyan karena kesalahan Aurora, maka ibunya tidak ingin Aurora menemuinya lagi. Dan hal ini memang benar-benar murni kesalahan Aurora yang selalu menolak melayani Rayyan dan tidak mau melakukan apa yang di sarankan dan dipesankan oleh ibunya. Karena itulah Aurora menjadi stres.
Setelah dokter pamit dan keluar dari kamar itu, Rayyan mendekati Aurora. Pria itu berdiri di samping ranjang tempat Aurora berbaring.
"Sebaiknya kamu istirahat di rumah dulu. Aku ada pekerjaan di luar kota untuk beberapa hari. Setelah aku pulang dari luar kota, kita bicarakan tentang hubungan kita. Jaga dirimu baik-baik! Aku pergi,"pamit Rayyan tanpa menyentuh Aurora sedikitpun. Berjalan keluar dari kamarnya dengan dada yang terasa sesak.
Rayyan berharap jika Aurora mengandung darah daging nya. Sehingga bisa membuat Aurora tinggal di sisinya dan mungkin bisa sedikit demi sedikit membuat Aurora mencintai dirinya. Namun malah merasa tertampar saat dokter bukannya mengatakan Aurora mengandung, tapi malah mengatakan bahwa Aurora stres. Dan Rayyan merasa jika Aurora pasti stres karena dirinya.
Aurora menatap Rayyan yang akhirnya menghilang di balik pintu kamar dengan mata yang berkaca-kaca.
"Keluar kota? Apakah kamu mencari alasan agar tidak pulang ke rumah selama beberapa hari? Kamu ingin menghabiskan waktu dengan selingkuhan kamu? Lalu.. kamu ingin membicarakan soal hubungan kita setelah pulang dari luar kota, apa maksud kamu? Apa kamu ingin menggugat aku ke pengadilan dengan alasan aku tidak mau melayani kamu? Kamu ingin menceraikan aku karena masalah itu?"gumam Aurora dengan pipi yang basah oleh air matanya.
Aurora merasa menyesal karena selama ini tidak mendengarkan apa kata ibunya. Aurora menyesal karena selama ini tidak mau berusaha menyenangkan hati suaminya dan malah selalu menolak menjalankan kewajibannya untuk melayani suaminya.
Memang benar, seseorang baru menyadari betapa berharganya apa yang dimilikinya saat dia sudah tidak lagi memilikinya.
...π"Saat merasa tidak di harapkan dan tidak di hargai, orang yang sangat mencintai mu pun akan memutuskan untuk pergi."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
To be continued
__ADS_1