Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
299. Guna-guna?


__ADS_3

Rayyan tersenyum dengan wajah cerah setelah melakukan pergulatan panas dengan istrinya sore itu. Rasa penat dan capeknya selama seharian ini bekerja lenyap sudah setelah bercinta dengan istrinya. Rayyan mengecup bibir Aurora beberapa kali setelah mendapatkan pelepasan.


"Kita mandi bersama, yuk!"ajak Rayyan yang masih berada di atas tubuh Aurora dengan tubuh yang masih menyatu.


"Kamu tidak berniat melakukannya di kamar mandi, 'kan?"tanya Aurora memicingkan sebelah matanya menatap suaminya curiga.


"Jika nyonya ku tersayang menginginkannya, aku akan melakukannya,"sahut Rayyan seraya mengusap pipi Aurora yang terasa halus dengan senyuman lembut menatap Aurora.


Aurora menghela napas panjang mendengar jawaban suaminya itu. Rayyan memang tidak lelah jika sudah berhubungan dengan urusan ranjang.


"Kamu mandi duluan saja. Aku masih capek,"ujar Aurora beralasan.


"Jika kamu capek, aku akan menggendong mu,"ujar Rayyan kemudian turun dari atas tubuh istrinya.


Rayyan menggendong wanita yang dicintainya itu menuju kamar mandi. Aurora hanya pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya itu. Rayyan mendudukkan Aurora di tepi bathtub dan mengisi bathtub dengan air hangat.


"Ray, aku bisa sendiri,"ujar Aurora saat Rayyan memasukkan Aurora ke dalam bathtub, kemudian ikut masuk ke dalam bathtub itu.


"Sayang, sebenarnya kamu tadi siang mau kemana? Aku tidak percaya jika kamu sedang gabut dan berkeliling dengan mobil sampai ke kantor ku?"tanya Rayyan yang duduk di belakang Aurora seraya menggosok tubuh Aurora dengan lembut.


"Kamu, kan, sudah menanyakan tentang hal itu padaku tadi siang. Kenapa bertanya lagi?"tanya Aurora.sambil menggosok tubuhnya.


"Kamu mengantarkan makan siang untukku, 'kan? Kenapa kamu tidak menjawabnya dengan jujur?"tanya Rayyan sambil memeluk Aurora dari belakang.


"Dari mana kamu tahu?"tanya Aurora yang menghentikan aktivitasnya menggosok tubuhnya dan melirik Rayyan yang meletakkan dagunya di pundaknya.


"Aku melihat rantang yang di sembunyikan Nala,"sahut Rayyan berbohong.


Rayyan tidak percaya, jika Aurora berada di sekitar kantornya hanya karena gabut. Karena, setahu Rayyan, Aurora bukanlah wanita yang suka berdiam diri. Istrinya itu selalu memiliki kegiatan. Mengurus toko kue dan kafenya dan juga mengurus putra mereka. Sebab itu, tadi Rayyan sengaja menghubungi Nala dan bertanya pada Nala kenapa istrinya ada di dekat kantornya. Rayyan sempat terkejut sekaligus bahagia saat mengetahui bahwa Aurora sengaja datang ke kantornya karena ingin mengantarkan makan siang untuk Rayyan.


"Maaf! Selama menjadi istri mu, aku kurang perhatian padamu. Aku merasa tersentil ketika kamu mengatakan bahwa saat berpacaran dengan Dila, dia selalu membawakan makan siang untuk mu. Sedangkan aku... Jangankan membawakan makan siang untuk mu, bahkan baru kemarin aku tahu dimana tempat kamu bekerja,"sahut Aurora dengan wajah tertunduk.


"Hei! Kenapa kamu jadi sensitif sekali karena cerita ku itu?"ucap Rayyan seraya memegang pipi Aurora agar menatap dirinya. Aku tidak ingin terlalu banyak menuntut darimu. Aku tidak ingin kamu melakukan apa yang tidak kamu suka. Selama kamu mencintaiku dan tetap berada di sisiku, itu sudah cukup bagiku,"ucap Rayyan tulus.

__ADS_1


"Terimakasih! Kamu selalu mengerti aku,"ucap Aurora membalikkan tubuhnya memeluk Rayyan.


Aurora sangat bersyukur memiliki suami seperti Rayyan. Sejak mereka menikah, Rayyan memang tidak pernah banyak menuntut Aurora melakukan banyak hal. Selalu memaklumi apapun kekurangan Aurora. Rayyan hanya ingin di layani di atas ranjang dan ingin Aurora tetap berada di sisinya. Selain itu, Rayyan tidak pernah menuntut banyak hal dari Aurora.


Mungkin karena itu pula Aurora menjadi kurang perhatian pada Rayyan. Namun, semakin lama usia pernikahan mereka, Aurora sedikit demi sedikit mencoba berubah dan mencoba memberikan perhatian lebih untuk Rayyan. Berusaha menjadi istri dan ibu yang baik untuk suami dan putranya. Dan tentu saja hal itu membuat Rayyan semakin bahagia.


"Apa kamu sengaja menggoda ku dan ingin melakukannya di sini?"bisik Rayyan yang membalas pelukan Aurora.


"Ray! Jangan nakal! Apa dalam otakmu itu hanya ada itu saja?"Aurora mencubit tangan Rayyan yang mulai bergerak nakal di tubuhnya.


"Auwh! Sakit, sayang,"keluh Rayyan dengan ekspresi manja, berpura-pura sakit. Padahal Aurora tidak mencubit terlalu kuat.


"Makanya, jangan jahil!"ucap Aurora bersungut-sungut.


"Ishh.. Bikin gemas saja,"ujar Rayyan kemudian mengecup bibir Aurora.


"Sudah, aku mau mandi. Kamu jangan jahil lagi,"ucap Aurora kembali membalikkan tubuhnya dan melanjutkan aktivitas mandinya. Sedangkan Rayyan tersenyum menatap Aurora.


"Tapi... Aku tidak akan keberatan jika kamu mau mengantarkan makan siang untuk aku. Apalagi kalau kamu mau makan siang bareng aku. Aku malah akan merasa semakin bahagia,"ucap Rayyan kembali memeluk Aurora dari belakang.


Sudah banyak yang dilakukan Rayyan untuk dirinya dan keluarganya. Aurora tidak bisa membalasnya selain dengan cinta, kasih sayang dan perhatian.


"Terimakasih!"ucap Rayyan tulus.


"Hum. Ray.. Dila tadi ngapain nyamperin kamu?"tanya Aurora yang penasaran dengan kejadian tadi siang. Aurora tidak ingin ada yang mengganjal di hatinya, apalagi Rayyan sudah berjanji untuk selalu jujur padanya. Jadi Aurora berani menanyakan hal itu pada Rayyan .


"Dia meminta tolong padaku,"


"Meminta tolong? Meminta tolong apa?"tanya Aurora semakin penasaran.


"Sepertinya dia ingin meminta perlindungan dari ku,"


"Perlindungan dari apa?"

__ADS_1


"Aku sendiri juga kurang jelas. Tapi, sepertinya dia sedang ada konflik dengan suaminya,"


"Suaminya? Dia sudah menikah?"tanya Aurora yang nampak terkejut.


Aurora berpikir jika Dila masih singel. Pasalnya Aurora merasa Dila ingin kembali pada Rayyan dengan cara memprovokasi dirinya. Aurora tidak menyangka jika mantan pacar suaminya itu ternyata sudah bersuami.


"Menurut penyelidikan Andi, sih, memang begitu. Dan saat aku bertanya pada pria asing itu, dia juga mengakui jika Dila adalah istrinya. Dila juga tidak menampik pengakuan pria asing itu,"


"Kalau ada konflik dengan suaminya, kenapa meminta perlindungan dari kamu?"


"Menurut penyelidikan Andi, suaminya itu adalah seorang pimpinan mafia. Dan Dila kabur membawa harta suaminya saat mendengar kabar bahwa suaminya meninggal. Tapi, ternyata suaminya masih hidup,"


"Kenapa harus kabur?"


"Menurut pengakuan Dila, suaminya memiliki kelainan dalam melakukan hubungan suami-istri. Aku tidak tahu apakah itu benar atau tidak. Tapi, yang pastinya dia sudah menikah dan sudah menjadi tanggung jawab suaminya. Kalaupun mereka ada konflik, biar mereka sendiri yang menyelesaikannya. Aku tidak mau ikut campur dalam urusan mereka. Apalagi suaminya seorang mafia. Aku tidak ingin membahayakan diriku dan keluargaku dengan menyinggung seorang mafia, hanya karena terlibat dengan urusan Dila,"


"Kenapa kedengarannya mengerikan sekali?"gumam Aurora.


"Namanya juga mafia, sayang. Mereka hidup di dunia hitam. Mereka tidak peduli hukum dan peraturan. Soal bunuh membunuh sudah lumrah bagi mereka. Nyawa manusia di mata mereka tidak ada artinya. Karena itu, aku tidak ingin berurusan dengan mereka. Menolong Dila hanya akan membuat aku terseret dalam bahaya. Dan bukan tidak mungkin, keluarga ku juga terkena imbasnya. Jadi, aku memutuskan untuk menjauh dari Dila,"jelas Rayyan panjang lebar.


"Lalu, kenapa kamu menyelidiki tentang Dila?"


"Aku tidak menyelidiki Dila. Andi yang melakukanya tanpa sepengetahuan ku. Hanya karena Andi takut aku tergoda pada Dila dan meninggalkan kamu. Sebenarnya, kenapa sejak dulu Andi begitu peduli dan membelamu? Guna-guna apa yang sudah kamu berikan padanya?"tanya Rayyan yang benar-benar penasaran dengan alasan Andi yang begitu membela Aurora.


"Dia, 'kan, anak buah kamu? Kenapa kamu malah bertanya padaku?"tanya Aurora tanpa menjawab pertanyaan Rayyan.


Rayyan dan Aurora tidak pernah tahu, Andi begitu takut jika Rayyan sampai berpisah dari Aurora. Karena Andi meyakini bahwa Rayyan tidak bisa bahagia jika hidup tanpa ada Aurora di sisi Rayyan. Sedangkan bagi Andi, kebahagiaan Rayyan adalah kebahagiaannya juga.


...❀️🌸❀️...


Awalnya, arti gabut merupakan kependekan dari gaji buta. Namun, oleh generasi milenial dan generasi Z, istilah ini mengalami perkembangan makna yang beragam. Selain diartikan sebagai seseorang yang makan gaji buta. Arti gabut juga kerap dipahami untuk mewakili perilaku seseorang yang dideskripsikan sebagai kondisi seseorang sedang tidak memiliki kegiatan atau aktivitas tertentu di mana pun mereka berada. Biasanya orang yang dilanda rasa gabut pasti akan merasa bosan dan berujung pada badmood.


Maaf terlambat update. Aku masih repot menyusun perabotan dan pakaian. Banyak saudara juga yang datang. Jadi baru sempat nulis. Kalau ada typo spill aja.πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


. To be continued


__ADS_2