Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
45. Sumi Pamitan


__ADS_3

"Wah, sepertinya suamimu memang orang tajir. Tapi Ra, sekarang kamu harus berhati-hati,"ujar Sumi terlihat serius.


"Kenapa?"tanya Aurora seraya mengernyitkan keningnya.


"Kamu tahu, 'kan, semenjak kita bekerja sama menjadi kupu-kupu malam, Mami juga mendapatkan uang yang banyak dari kita. Dan semenjak kita berhenti, pendapatan Mami juga turun drastis. Aku dengar, Mami menyuruh anak buahnya untuk mencari kamu. Mami ingin kamu kembali lagi,"sahut Sumi serius.


"Bukannya dia sudah sepakat, hitam di atas putih, bahwa aku boleh berhenti kapanpun aku mau?"tanya Aurora yang waktu itu memang sudah membuat perjanjian dengan Mami.


"Iya, itu memang benar. Tapi kamu tahu sendirilah, keuntungan yang di dapatkan Mami dari kita sangat besar. Jadi wajar saja jika dia tidak rela kita berhenti,"sahut Sumi.


"Aku sudah mengganti nomor telepon ku, agar Mami tidak bisa menghubungi aku lagi,"sahut Aurora.


"Mami berkali-kali bertanya padaku tentang kamu, alamat rumah, dan juga nomor telepon kamu. Tapi aku tidak memberikannya. Bahkan Mami sempat merampas handphone aku untuk mencari petunjuk tentang kamu. Untung saja setiap selesai chatting sama kamu langsung aku hapus. Nama kamu juga beda dari yang dia ketahui. Jadi, dia tidak menemukan informasi apapun di handphone aku. Saat di tanya pun, aku mengatakan sudah lama tidak bertemu dengan kamu. Tapi itu nggak menjamin kalau Mami nggak bakal nemuin kamu, Ra. Aku takut jika sampai Mami menemukan kamu, Ra. Bisa saja perempuan haus uang itu berbuat nekat dan melakukan sesuatu di luar prediksi kita, Ra. Karena itu, mulai sekarang, kamu harus hati-hati, Ra,"ujar Sumi panjang lebar dan terdengar serius.


"Baiklah. Aku akan berhati-hati. Tapi, ngomong-ngomong, dari mana kamu tahu kalau Mami sedang mencari aku?"tanya Aurora.


"Sejak kamu dibawa pulang secara paksa sama suami kamu waktu itu, aku mencoba kembali ke dunia malam. Tapi tidak mendapatkan uang terlalu banyak. Penghasilan aku satu minggu menjadi kupu-kupu malam hanya sekitar tujuh belas jutaan,"sahut Sumi terlihat lesu.


"Kamu membuat para pelanggan kamu terkapar lagi?"tanya Aurora.


"Najis! Mereka cuma berani membayar aku sekitar dua sampai dua setengah juta saja. Buat apa aku memuaskan mereka. Ogah aku,"sahut Sumi kesal.

__ADS_1


"Ah, yang benar? Bukannya kamu kecanduan bercinta, ya? Masa iya, kamu tidak bersemangat melayani mereka,"cibir Aurora tidak percaya.


Selama satu tahun menjadi partner Sumi sebagai kupu-kupu malam, tidak satupun pelanggan mereka yang tidak terkapar oleh Sumi. Bahkan dalam semalam, Sumi bisa membuat dua sampai tiga orang pelanggan terkapar. Bahkan tiap malam tidak pernah absen kecuali sedang datang bulan. Jadi rasanya nggak mungkin pakai banget kalau Sumi tidak bersemangat melayani pelanggan.


"Aku memberikan full servis pada para pelanggan kita karena mereka membayar kita dengan nominal yang besar, Ra. Jangan samakan dengan pelanggan ku, yang hanya berani mengeluarkan sedikit uang tapi menginginkan kepuasan. Ogah aku memberikan mereka full servis. Aku nggak mau bekerja keras memuaskan mereka yang hanya memberikan sedikit cuan. Tinggal tiduran saja, terserah mereka gimana caranya cari kepuasan dari aku. Aku nggak perduli,"sahut Sumi jujur adanya.


"Beneran kamu seperti itu?"tanya Aurora tidak percaya.


"Ra, naik kereta api aja ada kelasnya. Ada kelas Luxury, Eksekutif, Bisnis, dan Ekonomi. Setiap kelas memiliki fasilitas yang berbeda. Semakin banyak kita mengeluarkan uang, semakin nyaman dan lengkap pula fasilitas yang kita dapatkan. Jangan samakan yang satu malam cuma dua sampai dua setengah juta dengan yang satu malam sampai hampir ratusan juta,"ujar Sumi.


"Aku jadi bingung, sebenarnya kamu ini maniak bercinta atau maniak uang, sih?"tanya Aurora menjadi bingung dengan perilaku temanya ini.


"Aku maniak bercinta kalau dapat uang yang banyak. Tapi kalau cuma dapat uang sedikit, aku nggak nafsu. Melayani mereka yang cuma memberikan sedikit cuan tu cuma terhitung sebagai pekerjaan karena terpaksa,"sahut Sumi membuang napas kasar.


"Eh, Ra. Sebenarnya aku meminta kamu ke sini bukan cuma buat bahas tentang Mami doang. Tapi aku pengen pamit sama kamu,"ucap Sumi.


"Mau pamit? Memangnya kamu mau kemana?"tanya Aurora seraya mengernyitkan keningnya.


"Sementara waktu, aku mau pulang kampung dulu. Aku tidak tahu pasti, kapan akan kembali kesini,"ujar Sumi seraya memegang tangan Aurora.


"Bukannya kamu sedang mencari lokasi untuk membuka restoran, ya? Kenapa tiba-tiba mau pulang?"tanya Aurora yang semakin bingung dengan sikap temannya itu.

__ADS_1


"Aku istirahat dulu. Siapa tahu setelah aku kembali dari kampung dan meminta restu dari ibu, aku bisa dengan mudah mendapatkan lokasi untuk membuka restoran yang strategis. Dan nantinya usaha aku bisa lancar dan membawa keuntungan yang besar,"sahut Sumi antusias.


"Itu bagus juga. Aku dukung rencana kamu itu. Kira-kira, berapa lama kamu akan pulang kampung?"tanya Aurora.


"Aku belum bisa memastikan berapa lama aku akan pulang kampung, Ra.Tapi, Ra. Aku benar-benar minta kamu berhati-hati. Aku takut Mami akan melakukan hal nekat untuk membawa kamu kembali. Sudah banyak aku dengar, beberapa orang yang bekerja dengan Mami tidak diijinkan Mami untuk berhenti. Mami melakukan berbagai macam cara agar anak buahnya tetap bekerja padanya. Apalagi kalau anak buah yang bisa menghasilan banyak cuan seperti kamu. Mami tidak akan melepaskan nya begitu saja,"ujar Sumi serius.


"Kamu jangan menakut-nakuti aku, Sum!"ujar Aurora yang memang jadi agak takut mendengar peringatan dari Sumi.


Memang bukan rahasia umum lagi, orang yang masuk dunia malam, atau dunia hitam akan sulit untuk keluar dari dunia itu. Kecuali sudah cacat seperti Sumi waktu itu. Maka mereka akan dengan mudah membuangnya.


"Aku tidak menakut-nakuti kamu, Ra. Bagaimanapun, kita sudah seperti saudara. Kita pernah terpuruk bersama dan juga bangkit dan berjuang bersama-sama. Aku pasti sudah mati jika waktu itu kamu tidak mencegah aku untuk bunuh diri. Entah bagaimana nasib ibu dan adik-adik ku saat ini jika waktu itu aku bunuh diri. Kamu sangat berjasa bagi aku, Ra. Aku tidak akan rela jika ada yang menyakiti kamu. Ra, suami kamu sepertinya orang kaya. Gimana kalau kamu minta bantuan sama suami kamu saja? Mungkin saja suami kamu bisa membantu kamu,"ujar Sumi menemukan ide.


"Meminta bantuan dari dia?"


...🌟"Berpikirlah sebelum melangkah! Jangan sampai salah langkah yang akhirnya membuat hidup menjadi susah."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2