Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
183. Masih Cinta


__ADS_3

Aurora berjalan menuju saung tempat Rayyan berada. Aurora sungguh merasa kesal karena harus bertemu dengan ibu Bima.


"Dasar Mak lampir! Sial sekali bertemu dengan dia. Bikin aku jadi bad mood aja. Padahal aku tadi senang sekali bisa makan malam di tempat ini bersama Rayyan dan yang lainnya. Tapi dia malah muncul seperti jelangkung. Datang tak di undang, pergi tak di antar. Mana mulutnya macam sambal setan lagi. Pedesnya nggak ketulungan. Mungkin emaknya dulu pas mengandung dia ngidam makan cabai kali. Makanya mulutnya itu pedesnya nggak ketulungan. Aku jadi pengen liat, siapa calon menantunya itu. Kasihan sekali gadis yang jadi menantunya. Seandainya aku cinta mati sekalipun sama Bima, kalau emaknya modelan begitu, sorry dori kanan kiri, aku mending mundur teratur dari pada mati tersiksa karena makan hati,"gerutu Aurora yang tidak terlalu jelas di dengan oleh Nala, hingga membuat Nala mengernyitkan keningnya.


Saat akan sampai di saung tempat Rayyan berada, Aurora membalikkan tubuhnya menatap Nala yang sedari tadi mengekor di belakangnya..


"La, kamu jangan bilang soal kejadian tadi pada siapapun. Apalagi pada Andi dan suamiku!"ucap Aurora memperingati.


"Tapi, nyonya.."


"Jangan membantah!"ucap Aurora memotong kata-kata Nala,"Hampir semua keluarga mereka adalah orang-orang militer. Aku tidak ingin Rayyan berurusan dengan keluarga mereka. Lagi pula, Bima itu orangnya baik. Cuma emaknya aja yang kayak Mak Lampir. Untung saja aku nggak jadi menantunya. Kalau aku jadi menantunya, aku bisa gila karena Mak Lampir itu,"ucap Aurora merasa bersyukur karena tidak jadi menjadi istri Bima, hingga tidak perlu memiliki mertua seperti ibunya Bima.


"Baiklah. Asal mereka tidak menyakiti fisik nyonya, saya akan diam,"sahut Nala yang mengerti jika Aurora mengkhawatirkan Rayyan.


"Sayang! Kenapa lama sekali ke toiletnya? Sampai-sampai pesanan kamu sudah diantarkan,"ujar Rayyan yang tiba-tiba sudah berada tidak jauh dari Aurora dan Nala. Membuat kedua wanita itu terkejut.


"Ah, aku tadi dari berkeliling dengan Nala, Ray. Ternyata di sekitar sini pemandangannya indah,"sahut Aurora beralasan,"Dia tidak mendengar pembicaraan ku dan Nala, 'kan?"gumam Aurora dalam hati.


"Ya, sudah. Ayo, kembali ke sana!"ajak Rayyan seraya memeluk pinggang Aurora. Membawa istrinya itu kembali ke saung mereka tadi.


Saat kembali ke saung, Aurora tersenyum lebar melihat semua makanan yang tersaji. Aurora pun segera duduk. Bertepatan dengan itu, rombongan Bima melewati saung yang ditempati oleh Aurora.


"Sayang, kamu mau makan apa dulu?"tanya Rayyan lembut.


"Aku ingin makan ayam bakarnya lebih dulu, Ray,"ucap Aurora antusias.


Bima dan ibunya yang merasa mengenali suara Aurora pun menoleh ke arah saung tempat Aurora berada. Keduanya nampak terkejut saat melihat Aurora sedang duduk di sebelah seorang pria tampan. Kebetulan pula, rombongan Bima itu akan duduk di saung yang ada di sebelah saung Aurora.


"Sayang, makan sayur yang banyak, ya!"ucap Rayyan seraya meletakkan sayuran di piring Aurora.


"Sudah, Ray! Jangan terlalu banyak! Kalau terlalu banyak, aku tidak akan bisa memakan yang lainnya,"ujar Aurora dengan suara manja.


Bima dan ibunya yang duduk menghadap ke arah Aurora pun terdiam melihat Aurora yang nampak mesra dengan pria di sebelahnya itu.


"Siapa pria itu? Apa dia suaminya Aurora?"gumam Bima dalam hati.


"Dasar jalangg! Dia pasti menjadi simpanan pria itu. Pantas saja pakaiannya branded,"gumam ibu Bima dalam hati. Menatap benci pada Aurora.


"Kamu mau ambil apa?"tanya Rayyan saat Aurora mengulurkan sebelah tangannya ingin mengambil sesuatu.

__ADS_1


"Satai,"sahut Aurora.


"Ah, kenapa nyonya tidak bilang. Ini, nyonya,"ucap Andi segera mengulurkan wadah yang berisi satai di dekatnya pada Aurora, dengan senyuman manis di bibirnya.


"Tidak usah tebar pesona di depan istri ku!"ketus Rayyan pada Andi.


"Pria itu suami si jalangg itu? Pintar sekali dia menjerat pria. Sepertinya pria itu pria yang kaya. Tampan, lagi,"gumam ibu Bima dalam hati.


"Jadi dia benar-benar suami Aurora? Pantas saja Aurora begitu cepat melupakan aku. Suaminya tampan dan sepertinya orang kaya,"gumam Bima dalam hati.merasa kalah telak dari Rayyan.


"Haiss.. Tuan ini. Masa gitu aja Tuan cemburu pada saya,"gerutu Andi.


"Apa kamu ingin lembur?"ketus Rayyan.


"Saya sudah setiap hari lembur, Tuan. Masa di suruh lembur lagi?"protes Andi.


"Itu salah kamu sendiri! Apa kamu tidak sadar, kalau kamu itu adalah workaholic. Kamu menerima job ( pekerjaan ) yang begitu banyak, hingga aku pun terpaksa harus lembur juga. Terkadang, aku merasa kamu itu bertindak sebagai CEO dan aku asisten kamu. Kamu membuatkan jadwal yang padat untuk ku hingga aku tidak punya waktu senggang sama sekali,"


"Kalau tidak begitu, bagaimana perusahaan kita bisa sebesar sekarang, Tuan? Kalau anda kebanyakan waktu luang, Tuan akan membuat nyonya kelelahan. Karena setiap ada waktu luang, Tuan pasti akan menempel pada nyonya sepanjang waktu,"sahut Andi yang mulutnya ceplas-ceplos.


"Dasar asisten sialan!"umpat Rayyan.


"Aduh! Sakit, Tuan! KDRT ini namanya,"protes Andi karena dilempar mentimun oleh Rayyan.


"Cih! Lebay!"cibir Rayyan,"Pulang makan nanti, kamu catat nama-nama karyawan yang pantas di beri bonus,"titah Rayyan.


"Haiss, Tuan menghukum saya dengan lembur tanpa di gaji. Itu namanya pelanggaran hak azasi manusia, Tuan,"sahut Andi.


"Tapi aku selalu memberikan bonus yang besar padamu di akhir tahun,"kilah Rayyan.


"Itu, 'kan, karena prestasi saya yang bisa mendapatkan job yang banyak untuk perusahaan kita, Tuan,"sahut Andi.


"Sudah! Sudah! Kenapa kalian ini senang sekali berdebat? Kalau kalian.masih ingin berdebat, jangan di sini! Kalian membuat nafsu makan ku hilang,"ujar Aurora menengahi. Sudah terbiasa melihat dan mendengar atasan dan bawahan itu berdebat. Dan jika tidak di stop, maka akan lama mereka berhenti berdebat.


Sedangkan Nala dan supir pribadi Rayyan hanya diam seperti biasanya. Sungguh-sungguh dua orang yang benar-benar irit bicara.


"Maaf, nyonya!"ucap Andi menunduk, kemudian melanjutkan makannya.


"Jangan marah, sayang! Kamu ingin makan apalagi, hemm? Biar aku ambilkan"tanya Rayyan lembut.

__ADS_1


"Tidak usah. Aku bisa mengambilnya sendiri,"sahut Aurora terlihat kesal.


"Maafkan aku, sayang! Jangan marah, ya? Tidak baik kalau bumil marah-marah. Makan ikan, ya? Biar aku buangin tulangnya,"ujar Rayyan kemudian mengambil ikan dan dengan telaten membuang durinya sebelum memberikannya pada Aurora.


Bima dan ibunya yang dari tadi memasang telinga mendengarkan pembicaraan di saung tempat Aurora berada pun terkejut.


"Dia sedang mengandung?"gumam ibu Bima dalam hati.


"Bahkan dia sudah akan memiliki anak dari pria itu,"gumam Bima dalam hati tertunduk lesu.


Dusta jika Bima mengatakan tidak cemburu melihat Aurora bersama pria lain. Apalagi saat mendengar Aurora sedang mengandung benih pria lain. Walaupun sudah mencoba melupakan Aurora, tapi nyatanya rasa cinta di hati Bima untuk Aurora masih ada hingga saat ini.


...Melupakan...


...Cinta itu buta, sulit ditemukan, sulit didapatkan, dan tidak mudah dilupakan....


...Aku berharap aku bisa melupakanmu semudah aku mencintaimu....


...Tapi nyatanya aku tak mampu....


...Ada bagian dari diriku yang selalu merindukanmu....


...Hal tersulit yang tak bisa aku lakukan adalah menjauh dari mu. Dan hal mustahil bagiku adalah melupakanmu....


...Sekeras apa pun aku melupakanmu, aku tetap mencintaimu....


...Aku akan menunggumu, sampai datang hari, dimana aku bisa melupakanmu....


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❤️🌸...


Notebook :


•Workaholic / Workaholism adalah kondisi di mana seseorang merasakan paksaan atau kebutuhan dari dalam diri untuk terus bekerja yang tak dapat dikendalikan. Dalam kata lain, kecanduan untuk terus menerus bekerja yang diciptakan dari dalam diri sendiri, bukan karena faktor lainnya.


•Lebay berarti berlebihan, norak (dalam gaya berbusana, berbahasa dll.).


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2