Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
88. Tulus


__ADS_3

Dengan handuk yang melilit di pinggangnya, Rayyan menggendong Aurora yang tubuhnya juga hanya berbalut handuk dari dada hingga paha. Rayyan membaringkan Aurora di atas ranjang, tapi Aurora beranjak bangkit.


"Mau kemana?"tanya Rayyan menghalangi Aurora untuk bangkit dari tempatnya berbaring. Meletakkan tangan kanan dan kirinya di samping tubuh Aurora.


"Aku mau pakai baju, Ray,"ujar Aurora mendorong dada Rayyan pelan.


"Tidak boleh! Aku tak ingin kamu memakai baju,"ucap Rayyan yang malah menindih tubuh Aurora.


"Ray! Kamu mau apa lagi?"tanya Aurora kembali berusaha mendorong dada Rayyan. Namun tidak sedikit pun membuat Rayyan menjauh dari dirinya.


"Mau apapun sah-sah saja, bukan?"sahut Rayyan seraya mengusap bibir Aurora dengan jari jempolnya.


"Ray, kita baru saja selesai melakukannya. Aku lelah. Apa kamu ingin aku mati di atas ranjang karena kelelahan melayani mu,"ujar Aurora bersungut-sungut.


"Tentu saja tidak. Aku masih ingin meniduri mu sampai kita menua nanti,"sahut Rayyan tersenyum tipis menatap manik mata Aurora lekat.


"𝘼𝙨𝙩𝙖𝙜𝙖𝙖𝙖..! 𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙩𝙖𝙢𝙥𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙡𝙞, 𝙨𝙞𝙝? 𝙒𝙖𝙡𝙖𝙪𝙥𝙪𝙣 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙨𝙚𝙣𝙮𝙪𝙢 𝙩𝙞𝙥𝙞𝙨,"gumam Aurora dalam hati, tidak bosan menatap wajah tampan pria yang sudah menjadi suaminya itu.


"Kenapa kamu mengatakan pada ibu, jika kita sudah menikah?"tanya Aurora mengalihkan pembicaraan. Masih menatap dan mengagumi wajah tampan Rayyan yang begitu dekat dengan wajahnya.


"Agar aku bisa meniduri mu kapan pun aku mau,"sahut Rayyan seraya mengelus pipi Aurora dengan jari jempolnya.


"Ray! Aku serius! Kenapa di otakmu hanya itu saja yang kamu pikirkan?"ketus Aurora terlihat kesal. Rayyan selalu saja bicara yang menjurus ke urusan ranjang.


"Aku serius. Memangnya aku harus mengatakan apa? Kita memang sudah menikah, 'kan. Bahkan kita bercinta setiap hari,"sahut Rayyan enteng.


Aurora membuang napas kasar mendengar jawaban Rayyan yang lagi dan lagi ada bau-bau ranjangnya.


"Seharusnya kamu mengatakan bahwa kamu adalah pacar aku, Ray! Memalukan sekali mengatakan jika menikah karena di gerebek warga,"gerutu Aurora masih bersungut-sungut.

__ADS_1


"Untuk apa kita berbohong, dengan mengatakan bahwa hubungan kita adalah pacar? Lagi pula, jika aku mengatakan kita hanya pacaran, aku tidak akan bisa meminta hakku sebagai seorang suami dari mu. Apa kamu ingin menghindari tugas mu melayani aku sebagai seorang istri?"ujar Rayyan yang jemarinya masih terus menyusuri wajah Aurora.


"CK, selalu itu saja yang kamu pikirkan,"sahut Aurora berdecak kesal.


"Walaupun ide Andi konyol, dan sedikit memalukan, tapi itu lebih baik dari pada kita mengatakan bahwa kita awalnya hanya nikah kontrak karena balas budi, bukan? Orang tuamu akan meragukan ketulusan ku jika kita berkata jujur kenapa kita menikah tanpa memberitahu mereka,"ujar Rayyan yang tetap berada di atas tubuh Aurora.


"𝘽𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙠𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙤𝙡𝙚𝙝 𝙍𝙖𝙮𝙮𝙖𝙣. 𝙅𝙞𝙠𝙖 𝙗𝙖𝙥𝙖𝙠 𝙙𝙖𝙣 𝙞𝙗𝙪 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙜𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙩𝙪𝙡𝙪𝙨𝙖𝙣 𝙍𝙖𝙮𝙮𝙖𝙣, 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙝𝙪𝙗𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙪 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙍𝙖𝙮𝙮𝙖𝙣. 𝙎𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙧𝙖𝙜𝙪 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙪𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙖𝙣𝙮𝙖𝙠 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙟𝙪𝙙𝙞 𝙤𝙣𝙡𝙞𝙣𝙚. 𝙈𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙝𝙚𝙣𝙩𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙣𝙮𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙤𝙖𝙡 𝙞𝙩𝙪 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙠𝙪,"gumam Aurora dalam hati.


"Lalu, kenapa kamu memutuskan untuk mengadakan resepsi pernikahan kita berdua dua bulan lagi tanpa berdiskusi dengan aku?"tanya Aurora yang lebih terdengar seperti protes.


"Kamu tahu sendiri, aku sangat sibuk, Ra. Aku mencari waktu yang longgar untuk acara resepsi pernikahan kita. Dan dua bulan lagi aku baru punya waktu longgar, Ra. Kamu, 'kan tidak bekerja, jadi tidak masalah, 'kan, buat kamu, kapanpun kita menggelar resepsi pernikahan kita? Kalau masalah konsep pernikahan, kamu bisa bicara dengan Nola. Katakan saja konsep seperti apa yang kamu inginkan!"ujar Rayyan panjang lebar.


Aurora hanya bisa menghela napas panjang. Semua yang dikatakan oleh Rayyan memang benar. Jika mendiskusikan tentang kapan mereka menggelar resepsi pernikahan, pasti harus menyesuaikan dengan jadwal pekerjaan Rayyan yang super sibuk.


Setidaknya, Aurora merasa lega karena hari ini Rayyan berinisiatif meluangkan waktunya yang padat dengan jadwal pekerjaan hanya untuk menghadap kepada kedua orang tuanya. Memberitahukan tentang hubungan mereka berdua. Aurora sangat menghargai inisiatif Rayyan itu.


"Ray! Apa yang ingin kamu lakukan?"tanya Aurora seraya memegang tangan Rayyan yang ingin membuka handuk yang melilit di tubuhnya.


"𝘼𝙨𝙩𝙖𝙜𝙖𝙖..! 𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙨𝙖𝙣𝙜 𝙬𝙖𝙟𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙢𝙚𝙡𝙖𝙨 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙞𝙩𝙪? 𝘼𝙠𝙪, '𝙠𝙖𝙣, 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙩𝙚𝙜𝙖,"gumam Aurora dalam hati.


"Ray, kita baru saja selesai melakukannya beberapa menit yang lalu. Apa kamu tidak lelah?"tanya Aurora masih memegang tangan Rayyan di atas dadanya.


"Kamu tahu? Melakukan hubungan suami-istri itu banyak sekali manfaatnya. Aku tidak pernah menganggap kamu sebagai pemuas kebutuhan biologis ku, Ra. Aku melakukannya karena aku menyukai mu. Karena stres, rasa penat dan rasa lelahku setelah bergelut dengan pekerjaan ku yang tidak ada habisnya menjadi hilang setelah kita melakukannya. Dan aku hanya ingin melakukannya dengan kamu saja, bukan dengan wanita lain. Karena aku tidak memiliki hasrat untuk bercinta dengan wanita lain, selain dengan kamu. Bahkan sebelum aku menikah dengan kamu, aku mengalami insomnia. Aku kesulitan tidur dan sering mengkonsumsi obat-obatan agar bisa tidur. Tapi semenjak bersama mu, aku tidak pernah mengkonsumsi obat apapun agar aku bisa tidur. Aku hanya butuh kamu, agar aku bisa tidur dengan nyenyak,"ujar Rayyan panjang lebar seraya memegang pipi Aurora.


Aurora terdiam mendengar penuturan Rayyan. Selama ini Aurora hanya menganggap Rayyan hanya menjadikan dirinya sebagai pemuas kebutuhan biologis Rayyan. Tidak menyangka jika Rayyan melakukannya agar bisa menghilangkan stres, lelah, penat, dan menghilangkan insomnia nya. Karena Rayyan menyukai dirinya dan hanya ingin melakukannya dengan dirinya.


"Kamu menyukai aku?"tanya Aurora yang hatinya menjadi berbunga saat Rayyan mengatakan menyukai dirinya.


"Untuk apa aku ingin menua bersama mu, jika aku tidak menyukai mu? Aku sudah jatuh cinta pada mu. Apakah kamu mencintai aku?"Rayyan malah balik bertanya.

__ADS_1


"Deg"


Aurora terkejut mendengar pertanyaan cinta Rayyan. Untuk sesaat Aurora terdiam, tidak bisa berkata apa-apa.


"Ka.. kamu punya penyakit insomnia?"tanya Aurora mengalihkan pembicaraan. Belum bisa mengatakan cinta pada Rayyan.


"Hum. Itu sebelum aku menikah dengan mu. Sekarang, aku tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan apapun agar bisa tidur. Karena kamulah obatku,"sahut Rayyan dengan seulas senyum lembut di bibirnya seraya membelai wajah Aurora.


Aurora tertegun menatap Rayyan dengan seulas senyum lembut di bibirnya itu. Senyuman yang baru beberapa kali di lihat Aurora. Wanita itu nampak terpesona melihat Rayyan yang tersenyum padanya. Hingga tanpa disadari nya, Rayyan membuka handuk yang melilit di tubuh Aurora.


Perlahan Rayyan menundukkan kepalanya dan memagut bibir Aurora. Lembut, sangat lembut, hingga Aurora memejamkan matanya menikmati setiap kecupan, hisapan, dan kulum man bibir Rayyan yang kali ini sangat lembut, tidak seperti biasanya. Perlahan Aurora membalas apa yang dilakukan Rayyan hingga ciuman yang awalnya lembut itu menjadi agresif. Jemari tangan mereka saling terpaut menikmati pergulatan bibir mereka.


Entah mengapa setelah mendengar kata-kata Rayyan tadi, hati Aurora menjadi lembut. Hingga kali ini dirinya tidak pasrah seperti biasanya. Dan hal itu tentu saja membuat Rayyan sangat bahagia dan semakin bersemangat.


Di dalam kamar yang tidak begitu luas dengan dekorasi yang sederhana tapi terlihat nyaman itu, mereka kembali bergulat di atas ranjang yang tidak terlalu besar milik Aurora. Menyatukan tubuh mereka mencari kenikmatan yang tidak pernah bosan untuk digapai.


Rayyan membungkam mulut Aurora dengan bibirnya agar Aurora tidak terlalu keras mengeluarkan suaranya. Karena Rayyan tahu jika kamar itu tidak kedap suara seperti kamarnya.


Entah kenapa setelah melakukannya kali ini, Rayyan merasa sangat bahagia. Entah karena sudah direstui ibu mertuanya, atau karena kali ini Aurora nampak tulus melayani dirinya. Bahkan mencoba mengimbangi permainan nya. Padahal selama mereka menikah, Aurora selalu terlihat terpaksa atau pasrah saat melayani dirinya. Baru kali ini Aurora terlihat tulus saat melayani dirinya.


"Terimakasih!"ucap Rayyan tanpa sadar karena merasa begitu bahagia dan puas dengan pelayanan Aurora kali ini. Senyuman lembut terpatri di bibir pria itu. Wajahnya terlihat sangat bahagia. Aurora tidak menyahut, tapi tersenyum tipis dengan wajah yang terlihat lelah.


...🌟"Semuanya akan terasa jauh lebih indah dan bermakna saat kita melakukannya dengan hati yang tulus dan ikhlas tanpa ada rasa terpaksa."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2